
Kini Al tertidur disamping Devano setelah dirinya menyelesaikan makan siangnya tadi. Dan kini tinggallah Devano dan Ciara yang tengah berbincang-bincang.
"Kamu gak lanjutin makan siang kamu?" tanya Devano saat melihat makanan di nakas samping masih tersisa sangat banyak.
"Udah kenyang. Nanti kalau udah lapar lagi baru akan aku makan kembali," jawab Ciara.
"Yang benar saja kamu udah kenyang, padahal jika dilihat-lihat kamu baru makan 2 atau 3 sendok saja," tutur Devano.
"Aku kenyang karena lihat kamu dan Al makan tadi."
"Itu mah cuma alasanmu aja kan. Buruan makan gih. Atau kamu sedang diet sekarang?" tanya Devano penuh selidik. Ciara yang ditatap seperti itu pun menyunggingkan senyumnya.
"Ck, diet itu buat apa sih? berat badan kamu juga gak obesitas. Normal-normal aja, pas banget malah. Jadi kamu gak perlu yang namanya diet-diet segala. Kamu sangat cantik dengan semua yang kamu punya saat ini," ucap Devano.
"Lanjutin makannya ya. Aku gak mau lihat kamu sakit," sambungnya.
"Tapi Dev---"
"Gak ada tapi-tapian. Makan sekarang!" perintah Devano tanpa bantahan.
"Ck iya-iya aku lanjutin makannya," ucap Ciara. Setelah itu ia meraih makan siangnya tadi dan langsung melahapnya di depan Devano.
Devano yang melihat pipi Ciara penuh dengan makanan itu tersenyum gemas. Ingin sekali ia mencubit pipi itu tapi ia urungkan karena bisa-bisa makanan di mulut Ciara menyembur keluar semua.
Saat ditengah-tengah makan siang Ciara ditemani dengan tatapan mata teduh Devano, tiba-tiba pintu kamar inap Devano terbuka dan membuat kedua orang yang ada didalam pun menoleh kearah pintu tersebut.
Saat Devano telah melihat siapa gerangan yang tengah berkunjung di kamar inapnya itu, tubuhnya seketika menegang, pikiran negatifnya kini memenuhi otaknya. Sedangkan Ciara, ia tampak memasang raut wajah kekecewaan. Kemudian ia meletakkan makanannya yang masih tersisa sedikit itu kembali keatas nakas dan setelahnya ia menoleh kearah Devano yang masih menatap dua orang yang perlahan menghampiri mereka.
Ciara tau kekhawatiran yang ada di benak Devano saat ini dan dengan segera ia meraih tangan Devano kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. Saat Devano merasakan genggaman tangan itu, ia langsung melihat wajah Ciara yang tengah tersenyum kepadanya seakan-akan ia tengah mengatakan "Semua akan baik-baik saja," lewat tatapan mata cantik itu.
Devano kini sedikit merasa tenang. Dia bukan takut akan kejadiannya yang kemarin terulang lagi tapi ia hanya takut jika dirinya akan dipisahkan dengan Ciara dan juga Al, separuh nyawanya, dunianya dan hidupnya itu.
__ADS_1
"Selamat siang Om dan Tante," sapa Devano sembari memberikan senyum terbaiknya.
"Selamat siang juga tuan Devano," sapanya balik.
"Ehemmm," dehem Ciara untuk memecahkan suasana yang semakin canggung.
"Papa sama Mama ada apa kesini?" tanya Ciara kepada dua orang yang tengah berkunjung tersebut yang tak lain adalah kedua orangtuanya.
"Ci," panggil Devano yang tak mengizinkan Ciara berbicara bergitu ketus kepada orangtuanya sendiri.
Tapi Ciara hanya mengabaikan panggilan dari Devano tadi dan masih menatap kedua orangtuanya. Bohong jika dirinya tak marah kepada orangtuanya khususnya kepada Papa Julian yang membuat Devano hampir kehilangan nyawa untuk selamanya.
"Bolehkah saya duduk disitu?" tanya Papa Julian yang mengabaikan pertanyaan dari Ciara tadi sembari menujuk kursi yang sedang di pakai oleh anak pertama itu.
"Ah silahkan Om," ucap Devano.
"Ci, kamu pindah dulu sebentar," perintah Devano.
"Ci, ayolah sebentar aja."
"Gak mau Dev." Devano menghela nafas.
"Ciara," ucap Devano penuh penekanan. Ciara pun berdecak dan akhirnya ia berdiri dari kursi tadi namun hanya bergeser kesampingnya saja tanpa melepaskan genggaman tangan Devano.
Setelah Ciara berpindah tempat, Papa Julian kini beranjak dan duduk di kursi tepat disamping banker Devano.
"Boleh kita bicara hanya empat mata?" tanya Papa Julian dengan melihat tangan Devano dan Ciara yang seperti sudah diikat oleh tali yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa lepas.
"Kalau Papa mau ngomong ya tinggal ngomong aja. Kenapa harus empat mata segala? toh Cia juga perlu tau apa yang Papa akan bicarakan sama Dev nanti. Terlebih untuk antisipasi," tutur Ciara ketus.
"Cia, jangan gitu. Gak baik," peringat Devano. Lagi-lagi Ciara hanya mencebikkan bibirnya saat Devano selalu menasehatinya.
__ADS_1
"Ciara," panggil Mama Mila sembari menghampiri Ciara yang masih enggan menatap kedua orangtuanya itu.
"Kita keluar dulu yuk sayang," ajak Mama Mila sembari mengelus lengan Ciara.
"Apa susahnya tinggal ngomong gitu aja? Toh kalau itu sangat penting dan sangat rahasia, Cia juga akan tutup mulut dan gak akan membocorkan rahasia kalian," ucap Ciara masih dengan pendiriannya.
"Cia please," mohon Devano.
"Gak Dev."
"Cuma bentar kok. Gak akan sampai satu jam, iya kan om?" ucap Devano dengan akhir bertanya kepada Papa Julian yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"Oke, aku kasih waktu kalian berdua saling bicara empat mata tapi hanya 5 menit saja. Jika sampai lebih Cia akan masuk kedalam lagi. Gak peduli apa yang kalian bicara dan yang akan Cia dengar nanti, bahkan jika rahasia itu sampai bocor ke telinga orang lain jangan pernah salahin Cia," tutur Ciara sembari beranjak keluar kamar tersebut setelah melepaskan genggaman tangannya.
"Astaga anak itu," gumam Mama Mila melihat sikap Ciara seperti tadi. Setelahnya ia bergegas menyusul Ciara untuk keluar dari kamar tersebut membiarkan suaminya dan juga Devano saling mengobrol tanpa gangguan orang lain.
Saat pintu sudah tertutup kembali, Devano berusaha untuk mendudukkan tubuhnya.
"Kamu tetaplah berbaring!" perintah Papa Julian.
Devano kembali membaringkan tubuhnya sama seperti yang dikatakan oleh Papa Julian tadi.
"Maaf sebelumnya Om, tapi disini masih ada Al. Apa perlu Al keluar dari kamar ini juga?" tanya Devano.
"Tak perlu. Biarkan Al disini dan jangan ganggu tidurnya," ucap Papa Julian.
Devano pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu untuk beberapa saat tak ada pembicaraan lagi. Devano ingin membuka suara terlebih dahulu tapi ia masih merasa canggung. Toh tadi Papa Julian yang berniat untuk berbicara kepadanya. Tak sopan juga kalau ia bertanya lebih dulu apa yang akan Papa Julian bicarakan. Ia juga tak tau suasana hati Papa Julian apakah masih terselimuti rasa emosi yang tinggi atau emosi itu sudah hilang. Takut-takut jika ia salah bicara nantinya akan menambah lebam di mukanya yang sudah terasa hancur itu.
"Arkhhhh suasana apa ini? canggung sekali," batin Devano yang sudah mulai gelisah sembari sesekali ia melirik kearah Papa Julian yang tengah menatap wajah damai Al.
"Apa kamu yakin jika kamu Papa kandung dari cucu saya?" tanya Papa Julian tiba-tiba yang membuat Devano kini menoleh, menatap wajah Papa Julian kemudian berpindah ke wajah Al. Setelah itu ia tersenyum.
__ADS_1
"Saya sangat yakin bahwa memang sayalah Papa kandung dari Al," jawab Devano tanpa keraguan sedikitpun.