Young Mother

Young Mother
Perjodohan?


__ADS_3

Selama 2 tahun kurang lebih, setelah pertemuannya dengan Ciara di salah satu mall di Malaysia, Devano semakin gencar mengawasi gerak-gerik dari Ciara melalui anak buahnya. Karena setelah kembalinya ia ke Amerika, Devano semakin sibuk dan hanya bisa memantau pergerakan Ciara melalui anak buahnya yang sering mengirim foto Ciara untuknya. Namun setengah bulan yang lalu anak buahnya kembali kehilangan jejak Ciara dan itu membuat Devano murka seketika.


Dan sampai saat ini keberadaan Ciara kembali menghilang dari pantauan yang membuat Devano kembali frustasi bahkan ia sudah turun langsung ke negeri Jiran setelah semua masalah kantor dan kuliahnya selesai. Namun tetap saja Ciara tak dapat ia temukan dan karena dorongan dari orangtuanya untuk segera kembali ke negara kelahirannya, akhirnya Devano menuruti perkataan orangtuanya untuk kembali ke Indonesia. Walaupun anak buahnya masih ia kerahkan untuk selalu mencari keberadaan Ciara di negara Malaysia itu.


Tok tok tok


Ketukan pintu kamar Devano terdengar yang membuat sang empu menggeliatkan tubuhnya dari tidurnya.


"Dev, bangun nak!" teriak Mommy Nina.


Devano mengerjabkan matanya beberapa kali.


"Iya Mom," jawab Devano dengan suara parau khas bangun tidur.


"Kalau udah bangun cuci muka atau mandi dulu setelah itu turun kebawah buat sarapan!" perintah Mommy Nina.


"iya-iya Mom."


Kini tak terdengar lagi suara teriakan dari Mommy Nina yang menandakan bahwa sang Mommy sudah tak berada di depan kamarnya.


Devano mengusap wajahnya saat pikirannya kini mengarah ke perempuan yang mampu membuat dunianya serasa diobrak-abrik.


"Kamu kemana lagi sih sayang? Aku rindu denganmu. Kembalilah sayang," gerutu Devano. Setelah itu ia bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Butuh waktu 20 menit Devano baru keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sangat fresh. Ia menyempatkan dirinya untuk berkaca sebentar guna mengetahui style yang ia pakai cocok atau tidak untuknya. Namun untuk beberapa detik ia menatap tajam pantulan cermin yang sedang menampilkan dirinya.

__ADS_1


"Pria brengsek," umpat Devano yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia sangat sadar bahwa dirinya benar-benar pria yang sangat brengsek karena telah merusak dan menelantarkan wanita yang sangat ia cintai. Bahkan ia sering bertanya-tanya tentang keadaan anaknya yang dulu tak pernah ia anggap. Apakan anaknya itu masih ada di dunia ini atau Ciara benar-benar melakukan apa yang ia katakan dulu untuk melakukan aborsi ke janin yang tak pernah melakukan kesalahan pada dirinya? Entahlah Devano benar-benar dirundung ke frustasi sekarang.


Devano menghela nafas sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menghampiri kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di meja makan.


"Selamat pagi Mom, Dad," sapa Devano sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersebrangan dengan sang Mommy.


"Selamat pagi juga sayang," sapa balik Mommy Nina dengan senyum manisnya.


Setelah acara sapa-menyapa, Devano dan juga kedua orangtuanya langsung melakukan sarapan pagi mereka dengan tenang tanpa ada yang berbicara sedikitpun.


Tak berselang lama, ketiganya telah selesai dengan acara sarapan pagi tersebut. Saat Devano ingin beranjak dari duduknya dan menuju kembali ke kamarnya, suara Mommy Nina menghentikan niatnya.


"Jangan ke kamar dulu Dev. Mom sama Dad mau ngomong sama kamu. Duduk lagi ya," cegah Mommy Nina.


Devano mengerutkan keningnya namun ia segera menuruti perintah dari Mommynya tersebut untuk kembali duduk di kursi yang ia gunakan tadi.


"Gini Dev. Mom mau tanya, umur kamu sekarang berapa?" tanya Mommy Nina basa-basi.


"27," ucap Devano singkat.


Mommy Nina menganggukkan kepalanya.


"Di umur yang segitu seharusnya kamu sudah punya pasangan hidup, Dev. Dan Mom sama Dad berencana untuk menjodohkan kamu dengan anak teman Mom," ujar Mommy Nina.


Devano yang mendengar kata perjodohan dari Mommynya pun langsung melototkan matanya.

__ADS_1


"Gak. Dev bisa cari pasangan buat Dev sendiri," tolak Devano mentah-mentah.


"Kalau kamu bisa cari pasangan sendiri kenapa sampai sekarang masih saja jomblo? Ayolah Dev. Anaknya cantik kok. Baik, pintar dan anggun. Cocok lah buat pasangan kamu," ujar Mommy Nina untuk menyakinkan Devano.


"Mom, mau dia cantik, baik, pintar atau semacamnya kalau Dev gak suka ya berarti Dev gak akan pernah suka dengan dia dan kalau Dev nikah sama dia, sudah Dev pastikan kedepannya hanya akan ada perceraian. Dev cuma mau nikah satu kali seumur hidup Mom karena Dev tau kalau sebuah pernikahan adalah sakral bukan untuk dipermainkan."


"Tapi Dev---" ucapan Mommy Nina belum juga selesai sudah dipotong oleh Devano.


"Mom, Dev hanya akan menikah dengan wanita yang benar-benar Dev suka dan cintai. Dev gak akan pernah menerima perjodohan tak masuk akal ini. Kalian jangan terlalu egois dengan alasan menjodohkan kita berdua dengan tujuan untuk mempererat tali pertemanan kalian berdua. Please itu sudah basi bagi Dev. Dan sampai kapanpun jangan pernah berniat lagi untuk menjodohkan Dev dengan wanita manapun. Kalau Mom masih ngotot ingin perjodohan tetap berlanjut, kenapa gak Daddy aja yang gantiin Dev buat nikahin wanita itu?" tutur Devano yang membuat Daddy Tian dan Mommy Nina membelalakkan matanya.


"Dev!" teriak Mommy Nina tak terima. Enak saja suaminya ingin dijodohkan dengan wanita lain. Ya mana ada istri yang dengan suka rela miliknya dibagi dengan wanita lain. Ia bahkan tak akan pernah mengikhlaskan itu jika semuanya terjadi bahkan sampai ia mati pun tak akan pernah merelakan hal itu.


"Kenapa Mom? Mom gak rela kan? kalau gitu batalin perjodohan ini!" ujar Devano setelah itu ia segera pergi dari hadapan kedua orangtuanya yang tengah menatap kepergiannya.


"Haduh gimana ini?" gerutu Mommy Nina.


Daddy Tian yang sedari tadi terdiam pun kini angkat bicara.


"Ya batalin aja. Anaknya juga gak mau," ujar Daddy Tian.


"Tapi Dad, Mom udah terlanjur janji sama teman Mom buat jodohin anak dia sama Devano," ucap Mommy Nina.


"Ck. Kamu juga kenapa main janji-janji segala sih kalau kayak gini kan bakalan ribet. Udahlah kamu pikir sendiri, dari awal pun Dad juga gak setuju dengan perjodohan ini. Please ya sayang, anak kita tuh udah besar bukan anak kecil lagi yang bisa selalu nurutin apa kemauan orangtuanya. Biarkan dia berpetualang dulu untuk mendapatkan sosok wanita yang nantinya akan menemani dirinya hingga tua dan hanya maut yang memisahkan mereka berdua. Bukan dengan perjodohan kayak gini, emangnya ini jamannya Siti Nurbaya? gak kan, makanya untuk kedepannya jangan pernah main jodoh-jodohan kaya gini lagi," tutur Daddy Tian. Mommy Nina yang merasa bersalah pun menghela nafas dengan bibir yang ia kerucutkan.


Daddy Tian yang melihat itu pun merasa gemas lalu ia gerakkan tangannya untuk mengelus kepala istrinya sembari berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Dad keruang kerja dulu. Dan untuk masalah ini coba Mom kasih pengertian ke mereka dengan perlahan. Pasti mereka akan mengerti. Semangat sayang," ujar Daddy Tian sebelum akhirnya ia meninggalkan istrinya tersebut yang tengah berpikir keras untuk memberitahu ke temannya yang sudah ia janjikan untuk menjodohkan anaknya dengan anak mereka.


__ADS_2