
Yura kini mendekati Al yang tengah terduduk di ujung rumah pohon tersebut sembari tangannya membawa sebuah minuman yang sedari tadi ia bawa di dalam tas ranselnya itu. Dan setelah ia sampai di dekat Al, ia langsung mendudukkan tubuhnya di samping anak laki-laki tersebut.
"Nih, minum." Yura menyodorkan minuman yang langsung di terima oleh Al.
"Terimakasih," ucap Al yang diangguki oleh Yura.
"Al kan sudah tau tempat ini, jadi suatu saat nanti kalau Yura tidak bisa menemani Al kesini, Al bisa kesini sendiri," tutur Yura sembari matanya menatap pemandangan di depannya.
Al yang tadinya tengah minum pun hampir saja tersedak akan ucapan dari Yura tadi.
"Memangnya kamu tidak mau menemani aku saat aku mau berkunjung disini?" tanya Al.
"Mau lah. Tapi kan kalau saja Yura saat itu tidak bisa menemai Al karena harus ikut Mama atau Papa pergi, Al bisa pergi sendiri tanpa menunggu Yura buat kembali," jawab Yura.
"Tapi Al maunya sama Yura untuk sama-sama datang kesini. Dan bukannya Yura tadi bilang kalau tempat ini milik kita berdua. Jadi kita juga harus bersama-sama kalau mengunjungi tempat ini. Tidak boleh salah satu dari kita berdua saja yang kesini. Harus berdua," ucap Al kekeuh.
"Tapi---" belum sempat Yura menyelesaikan ucapannya, Al lebih dulu menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Yura.
"Tidak ada tapi-tapian lagi Yura. Ini akan menjadi kesepakatan kita berdua. Kalau ada salah satu dari kita yang tidak bisa kesini, kan bisa di undur dihari berikutnya," ujar Al sembari menjauhkan jarinya tadi dari bibir Yura.
"Tapi kalau Yura pindah rumah?" Al kini menatap lekat wajah Yura tanpa ada senyum yang menghiasi wajahnya. Dan hal tersebut membuat Yura mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Iy---iya deh Yura setuju dengan ucapan Al tadi. Kita akan mengunjungi tempat ini bersama-sama," tutur Yura dengan tatapan mata yang ia alihkan ke sembarang arah. Yang terpenting ia tak saling pandang dengan Al.
Dan beberapa saat setelahnya, Al menyodorkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Yura. Yura yang tadinya mengalihkan pandangannya kini pandangannya itu kembali menatap Al.
"Apa ini?" tanya Yura.
"Kamu tau kan apa maksud dari jari kelingking ini?" tanya Al. Yura menggelengkan kepalanya dan hal itu membuat Al kini menghela nafas kasar.
"Jari kelingking ini menandakan jika kita akan berjanji dengan kesepakatan yang kita buat tadi," jelas Al yang membuat Yura ber'oh riya.
__ADS_1
Al yang tak kunjung dibalas perjanjiannya itu, jari kelingkingnya tadi ia gerak-gerakkan untuk memberi kode kepada Yura.
Yura yang paham akan kode Al itu pun kini jari kelingkingnya ia tautkan di jari kelingking milik Al.
"Yura janji, akan mengunjungi tempat ini sama Al, tidak dengan orang lain selain Al," ujar Yura dengan senyum di bibirnya. Dan senyuman itu juga berhasil membuat Al yang jarang sekali tersenyum, kini anak laki-laki itu tersenyum cukup lebar. Dan hal itu membuat Yura semakin di buat senang saja.
"Al tau tidak," ucap Yura tiba-tiba saat mereka sudah fokus dengan menatap pemandangan di depan mereka.
"Tidak," jawab Al.
"Ck, Al harusnya jawabnya, Tau apa? gitu dong," protes Yura.
"Oke, ulang dari awal," ujar Al yang tak mau mendengarkan omelan Yura saat dirinya tak menuruti apa kemauan anak perempuan itu.
Yura berdehem sejenak sebelum ia mengulang perkataannya sebelumnya.
"Al tau tidak?" ulang Yura.
"Tidak, Al tidak tau. Memangnya Al harus tau apa?" jawab Al.
Al yang sedari tadi memperhatikan Yura pun kini ia kembali tersenyum lalu setelahnya tangannya terulur ke arah Yura.
Yura yang melihat tangan tersebut pun kini ia menatap wajah Al.
"Teman," ucap Al.
"Teman? Kita sekarang berteman? Al mau berteman dengan Yura? Al tidak menolak ajakan Yura tadi?" tanya Yura beruntun.
Al menggelengkan kepalanya sebagai perwakilan dirinya menjawab beberapa pertanyaan dari Yura tadi.
Yura kini tersenyum sangat lebar lalu tanpa menunggu waktu lama, ia membalas uluran tangan Al tadi.
__ADS_1
"Teman," ucap Yura.
"Teman," balas Al.
Mereka berdua saat ini saling melemparkan senyuman dan bahkan Yura yang memang mempunyai kepribadian lebih cerewet dari Al pun kini anak perempuan itu tak merasa canggung lagi saat menceritakan kejadian yang pernah ia alami dari mulai sendih hingga yang membuat mereka berdua tertawa bersama.
Dan kebersamaan mereka berdua terekam jelas dalam memori otak mereka masing-masing dan bukan hanya mereka berdua saja yang merekam itu semua melainkan masih ada dua bodyguard Al yang turut menyaksikan keakraban dua anak-anak itu dari bawah rumah pohon tersebut.
"Akhirnya setelah berkali-kali bulan purnama, aku bisa lihat tawa tuan muda lagi. Terakhir aku lihat tawa lebar dari tuan muda saat dia masih kecil, saat nyonya hamil Kiya. Dan setelah Kiya lahir lebih tepatnya setelah kejadian pada waktu itu yang membuat tuan muda trauma, tuan muda jadi jarang sekali tertawa lepas seperti ini," ucap Toni yang diangguki setuju oleh Doni.
"Haish, kalau mengingat hal itu, aku jadi ingin sekali membalas dendam perbuatan dari orang-orang jahat yang tidak bertanggungjawab itu," sambung Toni.
"Yakin mau balas dendam kamu?" Toni dengan polosnya ia menganggukkan kepalanya.
"Memangnya bisa?" tanya Doni.
"Bisa lah. Tinggal cari orangnya terus hajar mereka sampai masuk liang lahat," ujar Toni menggebu-gebu.
"Tapi sayangnya, orang itu sudah masuk liang lahat terlebih dahulu sebelum kamu punya niatan buat balas dendam seperti sekarang ini," ujar Doni yang membuat Toni kini tersadar lalu ia menepuk keningnya sendiri.
"Eh iya lupa, kalau dalang dari kejadian itu sudah di habisi sama si bos. Aku sendiri juga kan ikut mukul wanita itu. Ya sudah lah ya, anggap saja pukulku waktu itu buat balas dendam atas perbuatannya. Kalau sekarang kan gak mungkin, ya kali aku gali makamnya dan ngajak perang tulang belulang. Yang ada aku dikatain gila sama orang-orang yang lihat nanti," ujar Toni.
"Tapi aku rasa, kamu memang sudah gila sebelum melakukan hal itu," ceplos Doni yang membuat Toni kini menatap kearahnya.
"Heh enak saja kalau ngomong. Aku masih waras 100%. Tingkahku yang emang rada-rada ini aku buat sengaja biar tuan muda terhibur," sangkal Toni.
"Halah alasan. Mana ada sih orang gila ngakuin dirinya sendiri gila," ujar Doni diakhiri dengan ia mencebikkan bibirnya.
"Wahhhhh kamu sepertinya memang ngajak ribut. Kesini kamu, biar aku kasih pelajaran mulut kamu itu," ujar Toni sembari mendekati Doni.
Doni yang terus di dekati oleh Toni, dengan cepat ia selalu menghindar dari jangkauan saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Wleeee tidak kena," ledek Doni yang semakin membuat Toni geram saja. Bahkan sepatu yang tadinya terpasang di kakinya, kini sepatu itu sudah berada di pegangannya.
Dan tanpa aba-aba, ia berlari kearah Doni sembari mengayun-ayunkan sepatu tadi. Doni yang melihat serangan mendadak pun dengan cepat ia selalu menghindari serang tersebut. Sehingga kini tercipta aksi kejar-kejaran yang di lakukan dua bodyguard Al tersebut. Yang justru semakin membuat suasana di tempat tersebut semakin ramai saja di buatnya.