Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 56


__ADS_3

Sesampainya Devano dan keluarga di rumah, baru juga mereka melangkah kakinya masuk kedalam rumah tersebut, mereka sudah disambut dengan kehebohan dari para art yang tengah lari kocar-kacir.


"Ada apa ini?" tanya Devano yang sama sekali tak mendapat jawaban dari siapapun. Hingga akhirnya pertanyaannya tadi terjawab saat ia melihat ke salah satu art yang tengah naik ke atas sofa di ruang tamu dan di bawahnya ada Kiya yang tengah tertawa cekikikan.


"Kiya, buang sekarang. Jangan kesini hih," ucap art tadi sembari mengibas-ibaskan tangannya kearah Kiya.


"Kenapa harus di buang sih aunty, ini tuh lucu tau. Nih lihat lucu kan?" ujar Kiya sembari menyodorkan sesuatu kearah art tadi.


"Aaaaaaaa menjauh. Jangan dekat-dekat aunty. Buang sekarang!" teriak heboh art tadi. Tapi sayangnya setiap ucapannya tadi hanya di abaikan begitu saja oleh Kiya. Dan justru anak itu terus saja menakut-nakuti para art disana.


Devano, Ciara dan juga Al yang kepo akan apa yang di bawa oleh Kiya pun dengan cepat mereka bertiga kini bergerak menuju kearah Kiya. Lalu saat mereka berada di dekat Kiya, Devano langsung mencekal lengan Kiya untuk melihat sesuatu yang dipegang anaknya itu.


"Astaga," kaget Devano sembari melepaskan tangannya tadi dari lengan Kiya saat ia sudah melihat jelas apa yang di pegang Kiya.


"Apa yang di bawa tuh anak?" tanya Ciara penasaran.


"Dia bawa ulat," jawab Devano yang membuat Ciara melebarkan matanya dan dengan cepat ia berpindah tempat ke belakang Devano.


Devano yang tau Ciara sangat takut dengan hewan itu pun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kembali kearah Kiya yang sekarang juga tengah menatapnya.


"Kiya, Papa boleh minta tolong sebentar?" tanya Devano yang diangguki oleh Kiya.


"Papa minta tolong, bawa hewan itu keluar dari rumah ini dan taruh dia di luar sebentar saja, boleh?" ujar Devano.


"Tidak. Kiya tidak mau menaruh dia di luar. Kalau Kiya membebaskan dia main di luar, nanti dia tidak balik lagi ke Kiya, dia akan hilang Papa," ucap Kiya dengan mengelus ulat yang menempel di telapak tangannya dengan sayang. Dan hal itu membuat siapa saja bergidik ngeri tak terkecuali dengan Devano.


"Begini sayang. Ulat itu bukanlah hewan yang bisa Kiya pelihara. Kalau Kiya mau pelihara hewan mending hewan yang lainnya saja sayang jangan ulat. Dan apa Kiya juga tidak kasihan sama ulat itu yang menginginkan kebebasan agar suatu saat berkembang menjadi kupu-kupu yang cantik. Ulat itu juga akan mati dan tidak menjadi kupu-kupu kalau Kiya pelihara dan dijadikan mainan Kiya untuk menakut-nakuti orang lain seperti tadi," tutur Devano sebisa mungkin memberikan pengertian kepada Kiya.

__ADS_1


"Dan apa Kiya tau, menakut-nakuti orang itu tidak boleh Kiya lakukan karena saat Kiya menakut-nakuti mereka, bisa saja mereka terkena serangan jantung mendadak dan berakhir akan meninggal. Emang Kiya mau di tuduh pembunuh gara-gara menakut-nakuti orang hmmm?" Kiya tampak langsung menggelengkan kepalanya.


"Nah Kiya juga tidak mau kan. Makanya mulai sekarang, Kiya jangan menakut-nakuti orang lain lagi ya sayang dan sekarang taruh ulat itu di luar. Biar dia hidup bebas dan nanti menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa Kiya lihat," ujar Devano yang membuat Kiya terdiam sesaat, sepertinya dia tengah mempertimbangkan ucapan Devano tadi.


Dan beberapa saat setalahnya, Kiya kini berjalan menuju pintu keluar rumah tersebut. Dan tak berselang lama ia kembali lagi mendekati semua orang yang ada disana.


"Kiya udah naruh ulatnya di luar, Papa," ujar Kiya yang membuat para art dan juga Ciara kini bisa bernafas dengan lega. Bahkan art yang tadinya naik ke atas sofa kini ia sudah berani turun ke bawah lagi.


Sedangkan Devano kini ia tersenyum lebar lalu tangannya juga bergerak untuk mengacak rambut Kiya.


"Good girl," ucap Devano.


"Tapi Kiya mau minta sesuatu sama Papa," ujar Kiya.


"Mau minta apa sayang? Katakan, Papa akan turuti apa yang Kiya mau," tutur Devano sembari membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan tinggi Kiya.


"Boleh dong sayang. Kiya mau melihara apa?" Kiya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia kembali angkat suara.


"Kiya mau memelihara harimau," ujar Kiya dengan antusias. Devano dan Ciara yang tadinya tersenyum pun kini senyum itu luntur seketika saat mereka mendengar keinginan yang tak pernah mereka pikirkan sama sekali.


"Harimau? yang benar saja, belum ada sehari kamu melihara hewan itu yang ada kamu udah di makan dulu sama harimau itu," ujar Al yang tak habis pikir dengan keinginan adiknya itu.


"Tidak juga. Kiya sering lihat di video, sekarang banyak orang yang melihara harimau tapi orangnya juga baik-baik saja tuh. Bahkan mereka masih hidup sampai sekarang," tutur Kiya.


"Mereka masih hidup karena mereka bisa mengendalikan harimau itu. Mereka udah profesional dalam mengurus hewan buas itu Kiya bukan seperti kita yang mengurus diri sendiri saja belum becus, sok-sokan mau ngurus hewan begituan. Kalau kamu mau melihara hewan tuh kayak kucing atau ikan. Jangan yang aneh-aneh," omel Al yang membuat Kiya kini mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan.


"Tapi Kiya maunya melihara harimau, bukan hewan lainnya," ujar Kiya.

__ADS_1


Devano kini menghela nafas, lalu setelahnya ia membawa tubuh Kiya kedalam gendongannya.


"Sayang, dengar apa yang Papa katakan ya. Harimau itu adalah hewan buas, hewan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawa kita walaupun kita memelihara hewan itu dari kecil tapi insting hewan buasnya tetap melekat di diri hewan itu. Dan untuk memelihara hewan tersebut harus memiliki ilmu yang cukup tentang mengurus hewan itu dan kita juga harus mendapat izin resmi dari berbagai pihak jika ingin memeliharanya. Dan jika boleh Papa sarankan, Kiya jangan memelihara hewan itu ya nak, karena hewan itu merupakan hewan yang di lindungi. Dan tidak baik jika di urus oleh orang awam seperti kita. Jika Kiya mau lihat harimau setiap hari, Papa akan ajak Kiya ke kebun binatang," ujar Devano berusaha untuk membujuk Kiya.


"Tapi Kiya mau memelihara hewan Papa," ujar Kiya.


"Iya sayang, Papa tau. Bagaimana kalau Kiya memelihara hmmm kucing saja?" Kiya tampak menggelengkan kepalanya menolak saran dari Devano.


"Kalau ikan?" Kiya tetap menggelengkan kepalanya lagi.


"Hmmmm, burung mau?" lagi-lagi Kiya menggelengkan kepalanya.


"Kiya tidak mau itu semua Papa. Kalau Kiya tidak boleh memelihara harimau, ya sudah Kiya mau memelihara bebek saja," ujar Kiya yang membuat Devano, Ciara maupun Al kini melongo tak percaya.


"Gimana?" tanya Devano berbisik kepada Ciara.


"Iyain ajalah. Daripada melihara harimau lebih baik bebek aja yang lebih aman," jawab Ciara yang diangguki oleh Devano. Lalu setalah berdiskusi dengan sang istri, Devano kini kembali menatap kearah Kiya.


"Baiklah, Papa besok akan carikan bebek untuk kamu," ujar Devano.


"Kiya maunya sekarang Papa," tutur Kiya.


"Oke-oke. Papa setelah ini suruh Om bodyguard buat cariin Kiya bebek," ucap Devano yang membuat Kiya kini tersenyum.


"Terimakasih Papa," ujar Kiya sembari mencium pipi Devano.


"Sama-sama sayang," ucap Devano lalu setalahnya ia kini menurunkan tubuh Kiya dari gendongannya, sebelum akhirnya ia bergegas menuju ke salah satu bodyguard di rumah tersebut untuk segera mencarikan apa yang di inginkan oleh Kiya tadi.

__ADS_1


__ADS_2