Young Mother

Young Mother
Maimeo and Daideo


__ADS_3

Setelah menunggu 10 menitan akhirnya Mommy Nina dan juga Daddy Tian terlihat sedang menuruni anak tangga. Ciara kini tambah gugup dengan tangan yang bergetar hebat.


Devano melirik sekilas kearah Ciara kemudian ia memeluk tubuh Ciara menggunakan satu tangannya dari samping dan tangan yang satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan Ciara.


"Jangan gugup. Kalau kamu gugup seperti ini malah buat Al juga ikut gugup dan takut lho," bisik Devano.


"Aku takut Dev."


"Jangan takut, aku ada disampingmu," tutur Devano.


Orangtua Devano kini telah sampai di anak tangga terakhir dan menatap kearah ruang tamu yang kebetulan bisa dilihat dari tempat mereka saat ini.


Mommy Nina tampak menegang, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Daddy Tian yang nampaknya juga sama tertegunnya dengan dirinya saat melihat sekilas wajah Al. Itu hanya sekilas bagaimana kalau secara keseluruhan nantinya.


"Kita kesana saja," ucap Daddy Tian dan di angguki oleh Mommy Nina.


Mereka perlahan menghampiri ketiga orang di ruang tamu tersebut tapi wajah Ciara kini malah menunduk dan wajah Al memeluk erat Devano dan menyembunyikan wajah tampannya itu di dada bidang Devano.


"Apakah ini Ciara dan Al, Dev?" Tanya Mommy Nina saat dirinya sudah sampai di ruang tamu.


Ciara kini memberanikan dirinya untuk menegakkan kepalanya dan menatap wajah Mommy Nina dan juga Daddy Tian secara bergantian, kemudian ia berdiri untuk menyalami keduanya.


"Siang Tante, Om," sapa Ciara sembari bersalaman kepada orangtua Devano secara bergantian.


"Apa kamu sakit?" Tanya Mommy Nina saat merasakan telapak tangan Ciara yang begitu dingin.


"Ah saya baik-baik saja kok Tante," jawab Ciara dengan senyum kakunya.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Coba sini duduk sama Mommy," tutur Mommy Nina sembari memukul-mukul sofa yang masih kosong disebelahnya.


"Sa---saya Tante?" Ciara menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh saja.


"Iya kamu, Ciara. Sini duduk samping Mommy." Ciara mengangguk tapi ada hal aneh yang tiba-tiba ia rasakan, kenapa ibunya Devano memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Mommy bukan seperti orang-orang lainnya yang biasa menyebutkan diri mereka dengan sebutan Tante. Ah sudahlah, ia tak akan terlalu memikirkan hal itu.


Ciara kini sudah berpindah tempat duduk disamping Mommy Nina.


Mommy Nina yang paham akan ke gugup dari Ciara, kini perlahan ia mengelus surai hitam milik Ciara.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Mom mau bertanya, apakah kamu wanita yang dulu pernah di lecehkan oleh Devano?" Tanya Mommy Nina.


"Mom apaan sih," timpal Devano tak senang dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Mommy Nina.


"Mom gak tanya kamu, jadi diam saja." Devano mencebikkan bibirnya dan hanya menatap Ciara dengan pasrah.


"Ci, kamu jawab saja tak apa," ucap Mommy Nina.


Ciara tampak menghela nafas.


"Itu sudah menjadi masa lalu Tante dan waktu itu mungkin Devano tengah khilaf. Saya sudah memaafkan kejadian itu dan mencoba melupakannya walaupun terkadang masih sulit," jujur Ciara.


Mommy Nina tersenyum kemudian memeluk tubuh Ciara.


"Maafin Devano ya nak. Laki-laki itu memang tidak tau diri setelah hamilin kamu malah gak mau tanggungjawab. Dulu waktu kamu hamil datang ke mom atau dad, kita pasti akan melindungi kamu dan akan beri pelajaran pria brengsek seperti Devano itu atau kamu mau balas dendam dengan Devano? Tenang, jangan takut. Mom sama Dad ada di pihak kamu. Kamu mau kasih dia pelajaran apa hmmm? Mau Devano di sunat lagi atau sekalian di kebiri?" Tanya Mommy Nina sembari melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Ciara.


Sedangkan Devano, ia memelototkan matanya kala mendengar kata kebiri diucapkan sang Mommy.


"Mom, jangan aneh-aneh deh. Ya kali Dev mau di kebiri nanti kalau Dev gak punya anak lagi gimana padahal cita-cita Dev punya anak satu lusin. Iya kan Ci."


"Ya kan kamu nantinya jadi istriku dan ibu dari anak-anakku."


Mommy Nina terkekeh geli mendengar tingkat kepercayaan diri dari anaknya itu.


"Astaga bukan anak Mommy," tutur Mommy Nina.


"Ish Mom," gerutu Devano yang terus saja di goda oleh Mommynya.


"Ya kan setau Mommy, anak Mommy yang bernama Devano itu orangnya lempeng, kaku, senyum cuma kadang-kadang, kayak kanebo kering pula. Lah ini tiba-tiba jadi bucin parah."


Devano mencebikkan bibirnya, sepertinya Mommy Nina tak pernah merasakan jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun hatinya hancur berkeping-keping dan baru kali ini menemukan orang yang dengan sangat-sangat ia pejuang dan tak akan pernah ia lepaskan.


"Sudah-sudah, kalian ini bertengkar terus gak ada habisnya. Malu tuh di dengar tamu spesial kita," pisah Daddy Tian yang sedari tadi ia hanya diam dan terus menatap kearah Al walaupun cucunya itu tak kunjung menunjukkan wajahnya.


Mommy Nina kini menepuk jidatnya sendiri dan beranjak dari duduknya menghampiri Devano.


"Aku hampir lupa sama cucuku yang tampan ini. Coba sini sayang sama Maimeo dulu."

__ADS_1


Al tampak perlahan menengadahkan kepalanya menatap wajah Devano. Sedangkan Devano yang ditatap polos oleh Al pun tersenyum dan mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Devano tadi, dengan takut-takut Al menolehkan wajahnya kearah Mommy Nina yang tampak tertegun menatap wajah Al dengan teliti.


"Ah memang benar ini anak Devano. Gak perlu tes DNA dan segala macam udah fiks anak Devano, cucuku," batin Mommy Nina.


"Mom, jangan lihat Al seperti itu. Dia bisa takut sama Mom nanti," bisik Devano yang membuat Mommy Nina tersadar dari lamunannya.


"Ya maaf, Mom hanya kagum aja bisa-bisanya Al mirip kamu padahal waktu Ciara hamil Al, kamu gak disampingnya," tutur Mommy Nina dengan berbisik juga.


"Ya kan di tubuh Al ada darah Devano, Mom. Jadi wajar lah kalau dia mirip sama Devano. Ya kali Dev yang nanem bibit, tapi bayi yang keluar malah mirip Daddy."


Mommy Nina memelototkan matanya dan mencubit pinggang Devano.


"Aws sakit Mom."


"Rasain siapa suruh bicara sembarangan kayak gitu. Tapi ya, Daddy tuh mirip sama muka kamu lho Dev." Devano melirik sekilas kearah Daddy Tian dan membayangkan wajahnya jika disandingkan dengan sang Daddy.


"Mirip juga dikit gak kayak Al sama Dev yang jelas-jelas seperti duplikat," bangga Devano.


Mommy Nina memutar bola matanya malas.


"Suka-suka kamu lah Dev. Mommy mau pangku Al sekarang."


Devano kini memindahkan tubuh Al ke dalam pangkuan Mommy Nina. Bertepatan dengan itu pula, Daddy Tian juga ikut mendekat kearah Al.


"Pergi sana," usir Daddy Tian sembari mendorong-dorong tubuh Devano agar sang empu pergi dari sofa di sebelah Mommy Nina dan dia bisa duduk di tempat tersebut.


"Ish, biasa aja kali Dad. Gak usah pakai dorong-dorong segala," cibir Devano. Kemudian ia berpindah kesamping Ciara yang sedari tadi hanya bisa diam dan melihat interaksi di ruangan tersebut.


Saat Devano sudah duduk disamping wanita pujaannya itu, ia kembali meraih tangan Ciara untuk ia genggam sembari melihat dua orangtua yang sekarang sudah menjadi nenek dan kakek tengah mencoba berbincang dengan Al, cucu mereka.


...****************...


Author udah double up nih walaupun likenya belum tembus 500 😭 mengsedih. Kira-kira habis ini mau dikasih apa author sama kalian semua? kasih like, vote dan hadiah aja ya gak muluk-muluk author mah 😂 dan janji ya dua eps hari ini harus tembus 500 semua.


Hayo lho udah janji berarti harus ditepati👻


See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2