
"Zi---Zidan," ucap Rahel gagap.
Tanpa banyak bicara, Zidan langsung menarik tangan Rahel keluar dari rumah tersebut.
"Sakit, Zi. Lepasin," tutur Rahel.
Zidan tak menanggapi ucapan dari Rahel tadi ia terus saja membawa tubuh Rahel hingga mereka berdua sampai di kolam renang dan dirasa cukup aman, Zidan melepaskan tangannya.
"Aku tau kamu gak suka sama aku, Hel. Tapi bisa gak kamu ngerima perjodohan ini?" tanya Zidan.
Rahel kini menundukkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.
"Maaf Zi. Aku gak bisa," ucap Rahel lirih.
"Kenapa hah? kenapa kamu gak bisa nerima perjodohan ini? Apa kamu sudah ada orang lain yang kamu cintai? katakan Hel!" gertak Zidan.
"Ak---aku aku."
"Aku apa? Hel, kalau alasan kamu belum sayang, nyaman dan cinta sama aku. Kenapa kita gak coba dulu? Rasa sayang, cinta, nyaman dan sebagainya akan tumbuh secara perlahan. Jika alasan kamu kita beda kasta dan segala hal yang seperti kamu ucapkan dulu. Aku gak perduli! toh orangtua kita tak mempermasalahkan itu, aku pun juga gak mempersalahkan hal itu!" ucap Zidan.
__ADS_1
Yap, orang yang akan dijodohkan dengan Rahel adalah Zidan. Entah bagaimana orangtua mereka saling kenal satu sama lain hingga lahirlah ide perjodohan itu. Awalnya ia kaget saat mengetahui bahwa dirinya akan di jodohkan, apalagi orang itu adalah Zidan. Yang merupakan seorang CEO di perusahaan dimana perusahaan itu adalah tempatnya bekerja 3 tahun yang lalu. Awalnya, ia dulu tak tau jika CEO asli perusahaan itu adalah Zidan karena sang empu baru beberapa bulan ini menetap di perusahaan itu, sebelumnya Zidan sering bolak-balik ke luar negeri untuk mengurusi perusahaannya disana. Maka dari itu keduanya tak saling tau jika mereka berdua bekerja di dalam naungan perusahaan yang sama. Mereka baru di pertemukan saat di mall, dimana insiden saat Al menabrak Tiara dan beberapa hari setelahnya, mereka berdua baru di beritahu bahwa keduanya ada dijodohkan. Zidan tak masalah dalam perjodohan itu, toh Rahel dulu juga sempat ia sukai tapi karena sikap jutek Rahel, membuat dirinya mundur perlahan. Dan saat mendapat kesempatan ini, Zidan masih saja di tolak oleh Rahel. Dan untuk masalah Ciara, ia dulu tak benar-benar menyukai istri dari sahabatnya itu. Ia melakukan hal itu hanya untuk mengelabuhi para sahabatnya agar mereka tak tau perasaan asli didalam hatinya.
Rahel mendongakkan kepalanya menatap wajah Zidan yang terlihat tengah menahan emosi.
"Maaf, tapi aku gak bisa. Menjalin komitmen dalam ikatan pernikahan tanpa di dasari oleh rasa sayang satu sama lain. Hal itu akan sangat sulit dilewati Zi. Dan kita berdua gak punya rasa itu," ucap Rahel.
"Kata siapa hah? Apa kamu tau perasaan aku ke kamu seperti apa? kenapa kamu selalu berasumsi sendiri seperti itu tanpa memiliki bukti apapun!" geram Zidan.
"Udahlah Zi. Aku juga tau kamu sudah mempunyai wanita yang kamu sukai dan kamu menerima perjodohan ini karena semata-mata kamu menghormati orangtuamu. Jangan bohongi diri kamu sendiri Zi. Aku gak mau jadi beban dalam hubungan antara kamu dan wanitamu itu. Jika kamu tanya aku berbicara seperti ini apakah ada bukti? aku akan jawab, ya, aku punya bukti bahkan bukti itu terekam jelas di memori otak ku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu jalan dengan wanita itu. Sudahlah Zi, aku juga gak mau menyakiti hati dia," tutur Rahel yang meluapkan semua kegelisahan selama ini bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Wanita? Dimana kamu lihat hal itu?"
"Jawab Hel!" perintah Zidan dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia cukup bersabar menghadapi Rahel tadi. Untuk sekarang emosinya benar-benar sudah membeludak keluar dari tubuhnya.
"Di---di Guestar cafe. Sehari setelah Mama memberitahu aku masalah perjodohan kita," ucap Rahel dengan takut tanpa melihat wajah Zidan yang mungkin sangat menyeramkan, batin Rahel.
Zidan memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya ia memeluk tubuh Rahel.
"Maaf untuk nada suaraku yang tinggi tadi sampai buat kamu takut. Dan untuk masalah wanita yang kamu lihat itu, dia bukanlah kekasih, pacar dan sejenisnya. Dia hanya sebatas partner kerja saat di Singapura dulu. Kita gak punya hubungan spesial apapun, hanya sebatas partner kerja saja. Saat itu dia lagi berlibur kesini dan meminta aku untuk menemani dia ke cafe itu sekalian membahas proyek selanjutnya. Dan kamu tau, semenjak aku kenal kamu dari waktu kuliah hingga sekarang, aku gak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kamu pun juga tau sendiri kalau aku dulu secara terang-terangan ngejar kamu. Dan berhenti saat kamu benar-benar menolak aku secara mentah-mentah. Hal itu udah bisa jadi jawaban dari pertanyaan kamu tadi. Apakah aku sayang, suka, cinta dan lain sebagainya dengan kamu? Aku akan jawab tanpa ragu, kalau aku benar-benar sayang, cinta, suka sama kamu dari dulu. Walaupun kita sempat berpisah setelah lulus kuliah hingga di pertemukan kembali beberapa hari yang lalu. Rasaku ke kamu masih sama Hel, bagaimanapun caranya gak bisa di bohongi dan disembunyikan begitu saja," ucap Zidan kemudian ia melepaskan pelukannya lalu ia menangkup kedua pipi Rahel yang sudah mulai basah oleh air mata.
__ADS_1
Ia tersenyum kemudian menghapus air mata yang berada di pipi Rahel.
"Maaf untuk semuanya Hel. Dan aku gak bisa maksa kehendak kamu lagi. Jika kamu menolak perjodohan ini maka aku akan terima keputusanmu. Aku akan bicara sama orangtuaku juga orangtuamu agar tak lagi mendesak kamu untuk jadi pasanganku seumur hidup. Sekali lagi maaf untuk keegoisanku yang memaksa kehendakmu. Aku gak akan ganggu kamu lagi. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihanmu Hel. Walaupun alasan kebahagiaan kamu bukan aku tapi setidaknya melihat kamu bahagia dan terus tersenyum setiap hari, itu sudah cukup buat hidupku juga ikut bahagia. Terimakasih sudah mengisi hatiku dan sudah hadiri di hidupku walaupun kamu tak membalasnya sama sekali," ucap Zidan tanpa melunturkan senyum palsunya.
Kemudian perlahan ia mencium kening Rahel cukup lama. Biarkan ia melakukan hal itu sebelum benar-benar melupakan wanita yang sejak dulu ia kagumi dari kejauhan.
"Selamat tinggal Hel. Sekali lagi terimakasih dan maaf untuk semuanya. Aku harap kamu selalu bahagia," tutur Zidan setelah melepas ciumannya tadi. Dan sebelum ia pergi ia menyempatkan dirinya untuk menghapus air mata Rahel kembali dan mengacak gemas rambut Rahel. Berat memang harus mengikhlaskan orang yang kita sayang. Tapi mau bagaimana lagi, jika Rahel bukan jodohnya dan bukan orang yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani hidupnya hingga tua, ia bisa apa? hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Urusan gagal move on dan sebagainya akan ia pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang, ia sudah meluapkan unek-unek yang telah ia pendam itu dan menjelaskan semuanya kepada Rahel.
...****************...
Di eps hari ini bukan membahas soal Devano dan Ciara dulu ya hehehe 😝 Buat selingan aja biar kalian gak bosen sama cerita yang hanya membahas soal sepasang suami-istri yang tengah menunggu baby nomor two lahir.
Harap bersabar oke, di next eps besok udah balik lagi kok bahas soal Ciara dan Devano tenang aja🤭
Oh iya kalau ada yang typo dan lain sebagainya. Tolong kasih tau ke author ya, lewat apa aja boleh kok. Mau lewat Komen, DM, Inbox, Wa, Massage, Gojek, Grab terserah mau pilih yang mana aja bebas😅
Jangan lupa juga tinggalkan jejak Like, Komen, Vote dan kasih hadiah. Biar author tambah semangat nulisnya🤭
Happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋
__ADS_1