
Masih di tempat yang sama, pasangan suami istri yang baru sah beberapa jam yang lalu pun mereka juga akan menghabiskan malam pertama satu ranjang di hotel tersebut.
"Mau aku duluan apa kamu duluan?" tanya Rahel setelah berhasil melepaskan atribut yang menghiasi kepalanya tadi.
Zidan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya pun kini mengalihkan pandangannya kearah Rahel yang masih terduduk di sofa kamar tersebut.
"Apanya yang duluan?" tanya Zidan tak paham.
"Mandi. Kamu tadi bukannya mandi dulu eh malah main hp mulu. Kalau misal kamu tadi mandi, kan saat aku selesai benerin rambut, kamu juga selesai mandi jadi kita gak harus antri dan nunggu lama," ucap Rahel yang sudah bertatapan langsung dengan Zidan yang sekarang sang empu malah menyeringai dan kini ia meletakkan ponselnya tadi ke atas nakas di samping tempat ranjang kemudian dia beranjak menuju ke sofa dimana Rahel berada saat ini.
Setelah sampai ia langsung duduk disamping istrinya dan tanpa permisi ia langsung memeluk tubuh Rahel dari samping.
"Ish lepasin Zi. Badan aku masih lengket ini. Kamu juga mandi sana." Rahel memberontak agar pelukan dari Zidan tadi bisa terlepas.
"Nanti aja mandinya," ujar Zidan yang sudah menyembunyikan wajahnya di leher Rahel yang membuat wanita itu bergidik geli. Bahkan sesekali Zidan juga meniup leher tersebut.
"Zi. Jangan gitu ih. Geli tau. Buruan mandi sana kalau kamu gak mau, ya udah aku dulu yang mandi." Saat Rahel hendak melepaskan tangan Zidan, sang empu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayo lah Zi. Kalau kamu kayak gini terus aku kapan mandinya? keburu tambah malam ini. Emang kamu mau aku mandi tengah malam terus paginya kena rematik?"
Zidan yang sedari tadi anteng sembari menghirup aroma tubuh Rahel, kini ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah istrinya dari samping.
"Ya udah kita mandinya bareng aja. Yuk." Zidan sudah melepaskan pelukannya dan berganti menggandeng tangan Rahel bahkan dirinya sudah berdiri dari duduknya tadi.
Rahel yang otaknya sedikit lola pun terdiam sesaat. Mengolah setiap kata yang keluar dari mulut Zidan tadi. Dan saat semuanya kata-kata tadi masuk ke otaknya, wajah Rahel tiba-tiba menjadi semu kemerah-merahan, menahan malu saat otak kotornya berkerja untuk membayangkan hal yang tidak-tidak.
Zidan yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah istrinya pun kini terkekeh kecil. Ia sepertinya tau apa yang sedang di pikirkan oleh Rahel.
__ADS_1
Dan dengan cepat Zidan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya kini hanya berjarak beberapa jengkal saja dengan wajah Rahel.
Tanpa aba-aba Zidan langsung mengecup bibir Rahel yang sedari tadi tersenyum.
Cup! Cup! Cup!
Tiga kali kecupan mendarat di bibir ranum itu yang membuat detak jantung Rahel seperti sedang lari maraton. Berdetak begitu cepat dan tak normal.
"Aduh. Mohon tenang, kalem, anteng, stay cool. Arkh tapi gak bisa. Mama anakmu jatuh cinta sama suaminya sendiri," jerit Rahel di dalam hatinya.
"Di ajakin mandi bareng kok malah senyum-senyum sendiri gitu sih. Mana tuh pipi udah kayak mochi stroberi, pink-pink gimana gitu. Jadi pengen makan tuh pipi. Gemes banget sih," tutur Zidan dengan mencubit gemas kedua pipi Rahel. Padahal ia tau jika Rahel saat ini tengah salah tingkah karena kelakuannya tadi.
Rasa malu Rahel kini bertambah saat Zidan melihat semburat semu pink itu di pipinya. Ia ingin menjerit saja dan bersembunyi di dasar bumi saat ini karena ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri apalagi dalam bentuk kesalah tingkahan yang tengah melanda dirinya itu.
Karena sudah tak tahan lagi, Rahel menepuk kedua tangan Zidan yang masih setia mencubit pipinya.
Zidan lagi-lagi terkekeh kemudian ia melepaskan cubitannya tadi dan beralih mengelus pipi Rahel.
"Kamu sakit Hel?" tanya Zidan dengan tatapan khawatir. Pasalnya pipi Rahel kini terasa panas.
"Ha? enggak kok," jawab Rahel.
"Tapi kok pipi kamu panas gini? kalau kamu lagi sakit atau demam bilang dari tadi sayang. Dan malam ini kamu jangan mandi dulu," ujar Zidan.
"Zi, aku beneran gak kenapa-napa. Aku gak lagi sakit dan sebagainya. Jadi biarin aku mandi malam ini. Badan aku benar-benar lengket ini."
"Gak sakit gimana sih. Orang pipi kamu panas gini. Mau badan kamu lengket kek mau enggak, tetap aku gak akan izinin kamu mandi disaat badan kamu lagi gak fit gini. Aku gak mau sakit kamu tambah parah lagi sayang. Please dengerin aku ya. Kamu jangan mandi dulu untuk malam ini, ganti baju aja oke. Kalau nanti pagi suhu tubuh kamu udah turun, baru kamu mandi." Zidan kini beranjak dari depan Rahel untuk mencari paper bag yang di berikan orangtuanya tadi dan paper bag tadi berisi pakaian ganti untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Aku beneran gak kenapa-napa lho. Percayalah, aku gak lagi sakit," tutur Rahel.
"Tapi suhu badan aku naik hanya gara-gara salting doang," sambung Rahel di hatinya.
Zidan menghiraukan ucapan dari Rahel, ia masih melihat isi di dalam paper bag tersebut yang membuat dirinya menggertakkan giginya.
"Mama sengaja banget sih kasih baju beginian. Gak tau apa mantunya lagi sakit. Tar dia kalau pakai baju kurang bahan gini sakitnya gak sembuh-sembuh nanti dan berakhir aku gak dapet-dapet jatah. Ya masak aku mau bercocok tanam disaat dia lagi sakit kan gak lucu, Ma. Astaga, Zidan gak sampai hati mau lakuin kayak gitu disaat istri Zidan sakit dan butuh istirahat yang banyak. Keterlaluan emang Mama tuh," gumam Zidan lirih bahkan hanya bisa di dengar olehnya sendiri.
Zidan langsung memasukkan kembali baju tadi kedalam paper bag dan ia langsung menyaut ponselnya untuk menghubungi salah satu anak buahnya untuk membawakan baju tidur untuk Rahel dan dirinya. Ia takut jika pakaian yang disediakan Mamanya tadi juga akan kekurangan bahan sama seperti pakaian untuk Rahel tadi, bisa kedinginan dia nanti.
Sedangkan Rahel yang hanya bisa melihat gerak-gerik Zidan pun mengernyitkan keningnya kemudian ia mendekati suaminya itu yang masih sibuk menelepon orang lain..
"Zi, izinin aku mandi please." Mohon Rahel yang sudah berdiri didepan Zidan.
"Gak," tolak Zidan sembari menutup sambungan teleponnya tadi.
"Ayolah. Emang kamu mau istri kamu gak bisa tidur gara-gara tubuhnya gatal-gatal dan lengket?" Zidan berdecak.
"Tapi kamu lagi sakit sayang. Besok pagi aja ya."
"Gak bisa Zi. Aku harus mandi sekarang juga. Aku gak bisa tidur dalam keadaan tubuh aku kayak gini tau," rengek Rahel.
Zidan tampak menghela nafas.
"Ya sudah kamu tunggu disini sebentar biar aku siapin air hangat buat kamu dulu. Dan kamu harus janji kalau mandi jangan lama-lama. Oke." Rahel hanya menganggukkan kepalanya. Zidan pun tersenyum kemudian dengan gemas ia mengacak rambut Rahel sebelum bergegas menuju kamarnya.
"Perhatian sih perhatian tapi kan aku memang lagi gak sakit dan aku juga bisa nyiapin air hangat sendiri buat aku mandi nanti. Orang saluran kran tinggal di putar, air hangat udah bisa keluar sendirinya. Huh tapi ya sudahlah dari pada berdebat lagi nanti dan ujung-ujungnya gak di bolehin mandi kan bisa berabe," gerutu Rahel sembari menatap kearah kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.
__ADS_1