
Setelah menenggak satu gelas air putih, Kiya baru bisa bernafas lega. Sedangkan Devano yang sedari tadi hanya melihat Kiya tanpa berniat membantu anak perempuan itu pun, sekarang ia mendekati Kiya dan setelahnya ia duduk di kursi tepat di samping Kiya dengan tatapan intens. Dan hal itu membuat Kiya menunduk kepalanya.
"Kiya tau apa salah Kiya?" tanya Devano karena ia tau jika Kiya tengah mendudukkan kepalanya berarti anak itu tengah merasa bersalah. Dan beberapa saat setelahnya Kiya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Devano tadi.
"Coba sebutkan kesalahan Kiya apa?" tanya Devano lagi sembari mengkode para artnya untuk kembali ke kerjaan mereka sebelumnya tapi ada salah satu art yang langsung memperbaiki makanan tadi.
"Salah Kiya karena Kiya kasih garam ke makanan itu," ucap Kiya dengan suara lirihnya.
"Apa Kiya tau perbuatan Kiya tadi benar-benar sudah kelewat batas. Papa gak pernah melarang Kiya untuk bereksperimen dengan apapun tapi tidak untuk makanan. Kiya tau, masih banyak teman-teman Kiya diluar sana yang menginginkan makanan yang kita semua makan saat ini. Dan Kiya yang bisa menikmati makanan itu semua, malah Kiya sia-siakan begitu saja. Jika Kiya sudah merasakan makanan tadi dan menurut Kiya rasanya kurang, Kiya tinggal panggil salah satu mbak disini dan biarkan mbak saja yang melakukan perbaikan pada makanan itu. Jangan Kiya langsung. Jika Kiya masih mau melakukannya sendiri maka Kiya ambil secukupnya makanan itu ke piring Kiya dan baru Kiya tambah bumbu yang menurut Kiya kurang. Jangan seperti tadi, karena sama saja Kiya sudah menyia-nyiakan makanan yang justru diinginkan semua orang yang kekurangan makanan. Jadi Papa gak mau lihat ataupun dengar dari Mama atau dari mbak kalau Kiya melakukan hal itu lagi. Kiya mengerti?" Kiya tampak menganggukkan kepalanya.
"Jika Kiya mengerti, tegakkan lagi kepalanya!" perintah Devano yang langsung mendapat gelengan kepala oleh Kiya.
"Kenapa gak mau?" tanya Devano.
"Papa marah sama Kiya. Kiya takut," jawab Kiya yang membuat Devano menghela nafas.
"Papa gak marah sama Kiya. Tapi Papa tadi hanya mengingatkan Kiya supaya tidak melakukan hal seperti tadi yang ujung-ujungnya malah akan membuang-buang makanan. Mubazir sayang dan hal itu juga tak disukai oleh Allah," ucap Devano dengan mengelus rambut Kiya.
Beberapa saat Kiya tak menimpali ucapan dari Devano tadi hingga tiba-tiba saja tubuhnya bergetar.
"Kiya salah Papa. Kiya minta maaf, hiks," ucap Kiya dengan suara gemetar. Dan lagi-lagi hal itu membuat Devano menghela nafas.
__ADS_1
"Baguslah kalau Kiya sudah mengaku bersalah dan jika mau mendapat maaf dari Papa, Kiya lihat Papa dulu," tutur Devano yang langsung membuat Kiya menegakkan kepalanya dan kedua mata sembabnya itu menatap wajah Devano dengan takut.
Devano kini tersenyum sembari tangannya bergerak untuk menghapus air mata Kiya yang berada di pipi anak perempuannya itu.
"Hiks, Kiya minta maaf Pa," ulang Kiya.
"Baiklah Papa maafin Kiya. Tapi Kiya harus janji sama Papa kalau Kiya gak akan melakukan hal seperti tadi," ucap Devano sembari mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Kiya. Dan dengan cepat Kiya langsung menautkan kelingkingnya tadi ke kelingking Devano.
"Kiya janji gak akan ngulaingin kesalahan Kiya lagi," ujar Kiya.
"Papa pegang janji Kiya. Jika Kiya melanggar janji Kiya. Papa, Mama ataupun Abang gak akan pernah mau beliin apapun yang Kiya mau. Kiya mengerti?" Kiya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Devano merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan jika dirinya ingin berpelukan dengan Kiya yang untungnya pada saat itu Kiya dalam mode peka dan anak itu langsung berhambur ke pelukan sang Papa.
"Papa juga sayang Kiya," balas Devano yang semakin mengeratkan pelukannya.
Dan saat keduanya masih menikmati pelukan tersebut, berbeda dengan Al yang belum juga turun dari lantai atas bahkan ia juga belum keluar dari ruang bacanya. Walaupun tadi sempat mendengarkan suara heboh dari Kiya tapi sudah dipastikan jika Kiya sekarang tengah melakukan aksinya bukan karena yang lainnya.
Dan kini ia tengah menulis sesuatu di buku diarynya tanpa sepengetahuan dari kedua orangtuanya. Karena Ciara dan Devano yang tak pernah melihat ada buku diary di kamar Al dan anak itu sudah bisa lebih terbuka lagi dengan mereka, sehingga mereka menganggap jika Al sudah bisa lepas dari buku diarynya itu. Tapi nyatanya anak itu masih memerlukan buku itu. Buku yang selalu menjadi tempat menuangkan curahan hatinya entah itu yang sedih atau bahagia sedikitpun karena lagi-lagi Al masih tak bisa menceritakan semua masalahnya kepada orang lain termasuk Ciara dan Devano. Alhasil lebih baik dia mencurahkan semuanya lewat buku itu.
Dan beberapa saat setelahnya, Al telah menutup buku diarynya dengan senyum mengembang karena kali ini yang tengah ia curahkan adalah hal baik dan tentunya hanya dia yang tau.
__ADS_1
Lalu setelahnya ia kembali menyimpan buku tersebut ke dalam laci sebuah meja tak lupa ia juga mengunci laci itu sebelum ia meninggalkan ruangan tersebut.
Saat dirinya baru keluar dari ruang baca tadi, bertepatan saat itu juga Ciara keluar dari kamarnya dengan memeganginya pinggangnya yang masih terasa sakit.
Al yang melihat Mamanya tampak berbeda pun, ia segera menghampiri Ciara.
"Mama sakit?" tanya Al saat dirinya sudah berada di samping Ciara. Ciara kini menolehkan kepalanya dan beberapa detik kemudian ia tersenyum saat melihat Al di sampingnya dengan tampilan yang begitu rapi.
"Gak kok. Tubuh Mama hanya pegal-pegal saja," jawab Ciara yang mendapat anggukan kepala oleh Al.
"Terus Mama sekarang mau kemana?" tanya Al.
"Mau kebawah karena Mama tadi dengar ada keributan di sana."
"Ya udah kalau gitu bareng sama Al aja. Al juga mau ke bawah. Tapi tunggu sebentar, Al ambil tas Al dulu dikamar," ucap Al lalu tanpa mendengar persetujuan dari sang Mama, ia berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Sedangkan Ciara yang melihat hal itu pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Peka banget emang anak bujangku itu," gumam Ciara.
Dan beberapa menit setelahnya, Al sudah kembali keluar dari kamarnya dengan tas yang ia sampirkan di salah satu bahunya saja. Dan tak lupa ia juga mengunci kamar tersebut dan barulah kini ia mendekati Ciara lagi.
"Ayo Ma," ucap Al sembari menggandeng tangan sang Mama dengan hati-hati.
__ADS_1
Sedangkan Ciara, ia menahan tawanya karena menurutnya apa yang dilakukan oleh Al saat ini benar-benar lucu dimatanya.
"Padahal cuma pegal-pegal saja. Tapi ini anak memperlakukanku layaknya aku tengah sakit. Mana pakai di gandeng segala lagi. Duh lucu banget sih anak tampanku ini. Jadi gak pengen lihat dia dewasa dan berujung dia nikah nanti. Kalau dia dewasa mana mungkin dia mau seperti ini lagi sama Mamanya, huh tapi semoga aja masih lah sampa orangtuanya tua nanti," batin Ciara sembari terus menatap kearah Al yang masih menggandeng tangannya dengan mata yang terus fokus dengan jalanan di depannya.