Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 44


__ADS_3

Saat sudah berada di minimarket dekat rumah sakit, Devano langsung menuju ke rak khusus barang yang ia cari diikuti oleh kedua bodyguard tadi. Dan saat mereka sampai di rak tersebut, Doni maupun Toni mengerutkan keningnya dan setalahnya mereka berdua saling tatap satu sama lain.


"Kanapa tuan bos ke sini?" tanya Toni dengan berbisik.


"Mana aku tau. Mungkin disuruh nyonya kali," jawab Doni dengan suara lirihnya.


"Masak sih, kalau benar, hebat banget ya nyonya bisa bikin orang yang kaku seperti tuan bos bisa beliin barang pribadi seperti ini. Hihihi sepertinya tuan bos itu termasuk ke dalam golongan suami-suami takut istri," tutur Toni dengan kekehan kecilnya.


"Sepertinya benar apa yang kamu katakan tadi. Biasalah tuan bos kan bucin hihihi," balas Doni.


Saat kedua bodyguard itu tengah berbisik-bisik mengenai dirinya, Devano justru fokus dengan banyaknya merk barang tersebut hingga membuatnya pusing sendiri.


"Dia pakai yang mana sih?" tanya Devano dengan bingung.


Dan karena dirinya sudah benar-benar frustasi, ia langsung menolehkan kepalanya kearah kedua bodyguardnya tadi. Dan hal itu membuat keduanya yang tadinya masih cengengesan dengan cepat menghentikan kekehan mereka saat melihat mata Devano tertuju ke arahnya.


"Kalian, kesini cepat," ucap Devano yang langsung dituruti oleh keduanya.


"Pilihkan saya barang ini dengan model bersayap sekarang juga," tutur Devano saat kedua orang tadi sudah mendekati dirinya.


"Bersayap?" tanya keduanya secara serempak yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Devano. Tapi bukannya langsung memilihkan satu merk untuknya, kedua bodyguard itu dengan kompak justru menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit minimarket tersebut.


"Sepertinya yang bersayap sudah habis tuan," ujar Doni sembari menegakkan kepalanya kembali.


"Hah? Habis?" tanya Devano yang malah bingung sendiri.


"Iya tuan. Tuh diatas udah gak ada barang yang anda maksud tadi," jawab Toni sembari menunjuk langit-langit minimarket tersebut.


Devano yang sekarang mengerti kalau dua bodyguard itu salah pengertian akan bersayap yang ia maksud itu pun ia hanya bisa menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


"Yang saya maksud bersayap tuh bukan yang bisa terbang. Astaga. Lihat di depan kalian, di kemasan produk barang ini sudah ada tulisannya dan bentuknya. Kalau yang bersayap tuh yang seperti ini bentuknya," ucap Devano sembari menunjukkan bentuk barang yang ia maksud itu.


Dan kedua bodyguard tersebut hanya ber-oh riya yang membuat Devano benar-benar ingin menyentil jantung mereka sekarang juga.


"Kalau kalian sudah tau, pilihkan satu untuk saya," tutur Devano.


"Tuan bos mau pakai beginian?" tanya Toni dengan polosnya.


"Kalau tuan bos pakai ini yang ada nanti jadi hot dog dong," celetuk Doni.


"Bukan untuk saya," tutur Devano yang sudah menampilkan ekspresi wajah datarnya.


"Lah tadi tuan bos bilang kalau kita suruh milih ini buat tuan bos," ucap Toni yang membuat Devano memejamkan matanya sekilas untuk mengontrol emosinya yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dan karena dirinya sudah tak tahan lagi menghadapi dua makhluk aneh di depannya itu pun, ia langsung mengambil acak barang tersebut dan setelahnya ia menyerahkan batang tersebut ke tangan Doni. Dan saat Doni ingin protes, Devano lebih dulu menempelkan uang di bibir laki-laki tersebut.


"Kalian berdua bayar barang ini di kasir. Saya tunggu kalian di depan," ucap Devano dan setelahnya ia beranjak dari tempat tersebut tanpa mau mendengarkan ocehan dari dua bodyguard tadi.


Doni dan Toni kini saling pandang yang berakhir mereka berdua menghela nafas.


"Kok aku?"


"Ya terus siapa? Aku gitu, aku bagian bayarnya. Tangan aku udah keberatan bawa uang dari tuan bos ini," ujar Doni penuh dengan alasan.


"Udah jangan banyak protes. Buruan ke kasir sekarang sebelum tuan bos nanti marah," sambung Doni. Lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya menuju ke tempat kasir berada diikuti Toni di belakangnya.


Devano terus menunggu dua bodyguardnya tadi didepan minimarket tersebut hingga setelah berselang beberapa menit saja, orang yang ia tunggu akhirnya keluar juga.


"Nih," ucap Toni sembari menyodorkan kresek yang berisi barang tadi dengan ekspresi wajah yang cemberut.


Devano yang melihat hal itu pun mengerutkan keningnya sembari tangannya mengambil kresek tadi dari tangan Toni.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Devano.


"Gak papa," jawab Toni dengan singkat.


"Kalau gak kenapa-napa, muka kamu kenapa cemberut begitu? Kayak Kiya aja kamu, kalau ada sesuatu yang gak saya belikan pasti begini. Jawab saja kamu kenapa? Jangan seperti anak kecil seperti ini," ujar Devano.


"Minta uangnya tuan. Mau beli eskrim buat naikin mood saya," tutur Toni sembari menengadahkan tangannya dihadapan Devano.


Devano menghela nafas tapi mau tak mau, ia mengeluarkan uang seratus ribuan dan menyerahkan ke tangan Toni tadi.


"Terimakasih tuan," ucap Toni dan setelahnya ia kembali masuk ke dalam minimarket tadi.


"Uang kembalian tadi buat kamu saja. Dan ini tambahnya biar sama seperti kembaran kamu tadi. Kalian silahkan belanja, saya kembali ke rumah sakit dulu," tutur Devano.


"Terimakasih tuan. Hati-hati dijalan," ujar Doni yang diangguki oleh Devano.


Dan tanpa menunggu Devano pergi terlebih dahulu, Doni justru masuk kedalam minimarket setelah mengucapkan perkataan terakhirnya tadi. Dan hal itu membuat Devano menggelengkan kepalanya.


"Al kok bisa ya betah punya bodyguard seperti mereka. Dan kenapa aku dulu bisa rekrut mereka buat jadi salah satu bodyguard yang aku miliki. Haish dulu perasaan mereka tuh sama kayak bodyguard yang lainnya tapi semakin kesini semakin kelihatan tingkahnya. Huft untung saja mereka jago dalam bela diri, jika saja tidak, udah dari dulu aku pecat mereka. Dan sepertinya Ciara memilih mereka sebagai bodyguard pribadi Al bukan hanya mereka jago dalam bela diri dan melindungi Al, tapi Ciara punya tujuan lain yaitu dengan perlahan mencairkan sifat dingin Al melalui karakter dua bodyguard itu. Hmmm bisa jadi begitu. Haish sudahlah, kenapa aku malah mikirin dua orang itu bukannya langsung balik aja ke rumah sakit, dasar," tutur Devano dan setalahnya ia kini mulai beranjak dari depan minimarket tadi meninggalkan kedua bodyguard tadi untuk berbelanja semau mereka.


Butuh beberapa menit saja akhirnya Devano kini telah sampai di depan pintu kamar Al dan saat pintu itu ia buka, Devano langsung bisa melihat bahwa kedua orangtua Yura telah sampai di kamar inap Al tersebut. Tapi sepertinya orangtua Yura itu baru sampai beberapa saat sebelumnya karena terlihat Mama Yura yang tengah merangkul anaknya dengan tangisnya sedangkan Papa Yura tengah menenangkan istri dan anaknya yang tengah menangis itu dengan dekapan eratnya.


Devano menghela nafas, ia sepertinya tau bagaimana khawatirnya kedua orangtua Yura itu. Jadi ia biarkan saja mereka berdua saling menenangkan satu sama lain sebelum dirinya mengajak mereka untuk berdiskusi nanti.


Dan beberapa detik setelahnya, tatapan mata Devano kini beralih kearah Ciara yang juga tengah menatap satu keluarga tersebut. Devano kini melangkahkan kakinya menuju sang istri.


"Nih. Pakai sekarang sebelum bocor kemana-mana nanti," ucap Devano sembari menyerahkan kresek tadi di hadapan Ciara. Ciara yang tadinya fokus kesatu objek yang ia lihat, kini fokusnya itu teralihkan dengan kehadiran satu buah kresek yang menggantung di depannya.


Ciara kini menengadahkan kepalanya lalu tersenyum saat melihat wajah Devano.

__ADS_1


"Terimakasih sayang. Love you," tutur Ciara sembari merebut kresek tadi dari tangan Devano dan setalahnya ia bergegas masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Devano, ia hanya bisa menghela nafas panjang melihat kepergian Ciara.


__ADS_2