
Pagi harinya, Al lebih dulu mengerjabkan matanya dan terbangun dari mimpi indahnya daripada kedua orang dewasa berbeda jenis kelamin itu. Ia tampak terbengong sesaat guna mengumpulkan nyawanya dan saat nyawanya perlahan mulai terkumpul, Al langsung merubah posisi rebahannya yang awalnya menghadap Zidan kini beralih menghadap Rahel yang tidur di sisi kirinya. Ia memandangi wajah cantik Rahel itu tanpa berkedip sedikitpun dan sesekali tangannya ia gunakan untuk menyentuh bulu mata Rahel yang tampak lentik dan indah.
"Bulu mata aunty sama kayak punya Al," gumam Al dengan menyentuh bulu matanya sendiri untuk membandingkan dengan bulu mata Rahel.
Rahel yang mendengar gumaman dan sedikit terusik gara-gara Al terus menyentuh bulu matanya, ia pun menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya. Saat mata itu terbuka lebar hal pertama yang ia lihat bukanlah wajah suaminya melainkan wajah Al yang tengah tersenyum manis di depannya.
"Morning aunty," sapa Al diakhiri dengan mencium pipi Rahel yang membuat sang empu tersenyum manis.
"Morning too boy. Bagaimana tidurnya malam tadi? mimpi indah kan?" tanya Rahel.
"Tentu. Al selalu mimpi indah, apalagi tadi malam tidurnya sama aunty jadi mimpi Al tambah indah deh," jawab Al dengan cengiran di bibirnya.
"Bisa ae anak buaya. Kecil-kecil udah bisa gombal. Pasti turunan dari bapaknya nih. Gak heran lagi dah," batin Rahel.
Rahel kini mendudukkan tubuhnya dan menguncir rambutnya dengan asal.
"Al mau mandi nanti atau sekarang?" tanya Rahel.
Al kini ikut mendudukkan tubuhnya disamping Rahel setelah itu ia tampak terdiam dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di dagunya, seakan-akan ia tengah berpikir keras.
"Kalau Al mau mandi nanti, biar aunty duluan yang mandi," sambung Rahel saat tak ada sahutan dari Al.
"Al mau mandi bareng aunty aja." Rahel yang mendengar hal itu membelalakkan matanya dan beberapa detik kemudian ia mengalihkan tatapannya kearah Zidan yang untungnya masih tidur nyenyak. Jika ucapan Al tadi didengar oleh Zidan bisa bahaya, karena dulu saat dirinya tengah memperdalam pengenalan antara kepribadian keduanya sebelum memutuskan untuk menikah, selama itu pula Rahel bisa mengetahui tingkat cemburu, posesif dan lain sebagainya yang di miliki Zidan. Dan jika suaminya itu tengah cemburu, bisa membuat otaknya ingin pecah karena merajuknya Zidan beda dari yang lainnya. Biasanya orang merajuk pasti tidak mau bertemu, menghilang dan mendiami pasangannya. Lain halnya dengan Zidan, manusia yang langka itu malah justru sebaliknya. Ia akan mengurung Rahel di kamar dan sepanjang hari akan bergelayut manja dengannya. Bahkan untuk keluar dengan alasan ingin makan pun tak di perbolehkan oleh Zidan. Maka dari itu Rahel telah mengantisipasi dirinya agar tak membuat Zidan cemburu.
"Aunty jadi mandi gak?" ucap Al yang memecahkan lamunan Rahel.
"Ah eh. Aduh gini deh Al. Al mandi duluan aja ya. Aunty mandinya nanti aja," tutur Rahel.
__ADS_1
"Kenapa gak bareng aja. Mama sering lho mandi sama Al. Masak aunty gak mau ngerasain mandi sama Al." Rahel menggigit bibir bawahnya.
"Ya kan itu emak kamu, Al. Gak masalah kalau dia mandi bareng sama kamu. Tapi kalau Aunty kan ahhh sudahlah," batin Rahel diakhiri ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aunty gak bisa mandi sama Al. Karena aunty kan bukan Mama Al. Terlebih Al kan juga laki-laki. Kalau laki-laki itu seharusnya tak di perbolehkan untuk mandi bersama dengan perempuan manapun. Kecuali nanti kalau Al sudah besar dan menikah dengan gadis yang di cintai Al. Dan saat itu Al boleh mandi bareng dengan gadis yang Al nikahi. Ingat hanya gadis yang Al nikahi bukan gadis yang lainnya," ucap Rahel menjelaskan sekenanya saja.
Al tampak terdiam namun otaknya berjalan untuk mencerna semua kata-kata dari Rahel tadi.
"Berarti Al tidak boleh mandi dengan perempuan?" Rahel menganggukkan kepalanya.
"Baiklah aunty kalau gitu Al gak mau mandi bareng sama aunty atau Mama lagi. Mulai sekarang Al mau mandi sendiri," tutur Al sembari berusaha turun dari ranjang tersebut menuju kamar mandi di kamar tersebut.
Rahel yang menatap punggung Al yang kini perlahan tertutup oleh pintu kamar mandi pun akhirnya ia bisa bernafas lega. Setidaknya Al cukup pintar untuk menangkap kata-kata kalau tidak entahlah apa yang akan ia lakukan agar mencegah Al untuk tidak ikut mandi dengan.
Saat kamar mandi tersebut tertutup sempurna dan sudah terdengar suara gemericik air, Rahel mengalihkan pandangannya kearah sang suami yang tak terganggu sama sekali dengan kebisingan yang diciptakan oleh dirinya juga Al tadi.
Zidan yang merasa terganggu dan ia juga tau siapa yang menganggu tidur nyenyaknya pun, ia hanya menggerakkan lengannya untuk segera ia lingkarkan di perut sang istri dan menarik tubuh kecil istrinya hingga mengikis jarak antara mereka berdua.
"Bangun ih," ucap Rahel dengan menepuk-nepuk lengan Zidan yang bertengger di perutnya.
"Bentar lagi sayang," jawab Zidan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tapi ini udah pagi sayang. Udah jam setengah 7."
"Biarin. Mau jam berapa kek, aku gak perduli," tutur Zidan dengan keras kepala. Rahel mendengus kesal tapi ia tetap membiarkan Zidan memeluknya dan membiarkan suaminya itu kembali menutup matanya. Mungkin dia masih lelah dengan acara kemarin, pikir Rahel.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan hingga terdengar ketukan pintu. Rahel sempat mengernyitkan keningnya, siapa orang yang mengetuk pintunya? Orangtua dan mertuanya? gak mungkin mereka. Karena seingatnya, kemarin malam mereka sudah berpamitan kepada dirinya juga Zidan untuk pulang kerumah masing-masing. Jadi sudah di pastikan bahwa orang didepan kamar itu bukanlah orangtuanya. Tapi siapa?
__ADS_1
Tok tok tok!!!
Sudah berkali-kali pintu kamar tersebut di ketuk hingga membuat Rahel berpikir mungkin orang itu adalah pegawai hotel ini.
"Zi, lepasin dulu. Aku mau bukain pintu," ucap Rahel dengan mengelus kepala Zidan.
"Ck, gak usah di bukain lah. Paling orang gak penting," tutur Zidan dengan mata yang masih setia terpejam.
"Tapi dia ngetuk pintu terus Zi. Ayolah cuma bentar dong habis itu aku balik lagi deh," bujuk Rahel.
"Gak. Biarin aja lah sayang." Rahel menghela nafas saat Zidan tak ingin melepaskan dirinya. Padahal hanya untuk membuka pintu sebentar saja.
Ceklekk!!!
Terdengar pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan wajah Al yang kembali segar. Tapi wait, ia lupa kalau didalam kamar ini tak ada baju ganti untuk Al bahkan baju untuk dirinya dan Zidan pun juga tak ada. Jadi Al keluar dari kamar mandi hanya memakai dua handuk yang satu untuk melilit bagian pusar kebawah hingga mata kakinya dan yang satunya ia gunakan untuk menutup pundak juga dadanya. Rahel pun juga berpikir bagaimana anak itu bisa mengambil handuk yang terletak di lemari khusus di kamar mandi tersebut? mengingat tubuh Al yang belum tinggi. Tapi jika dipikir lagi, Al pasti mempunyai cara sendiri untuk mengambil handuk tersebut, secara dia kan anak yang pintar dan cerdas jadi tak perlu heran lagi.
"Al gak punya baju ganti aunty dan baju Al yang tadi udah basah," ucap Al dengan kerucutan bibir yang sangat lucu.
Baru saja Rahel ingin menimpali ucapan Al, suara ketukan pintu lagi-lagi terdengar bahkan lebih keras dari sebelumnya.
"Siapa sih aunty? berisik banget," keluh Al.
"Aunty juga gak tau boy. Gini aja, aunty boleh minta tolong buat bukain pintunya?"
"Boleh dong aunty. Tapi Al cuma pakai handuk. Emang gak papa ya?" Rahel menghela nafas kemudian ia mengangguk.
"Baiklah Al bukain pintu dulu," ucap Al kemudian ia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama kamar tersebut dan saat pintu itu terbuka lebar, Al bisa melihat kedua orangtuanya lah yang sedari tadi mengetuk pintu tersebut.
__ADS_1
Al nampak ingin tersenyum, tapi ia urungkan saat mengingat perkataan dari Zidan tadi malam. Ia saat ini akan memulai acara merajuknya biar orangtuanya itu kapok jika mau berbohong lagi dengannya.