
Setelah para laki-laki tadi ditambah dengan Al juga Yura sudah keluar dari rumah sakit tersebut tak berselang lama, Ciara juga Franda ikut keluar dari sana. Dan untuk salam perpisahan yang terakhir, mereka hanya saling melempar lambaian tangan saja sebelum keduanya masuk kedalam mobil suami mereka masing-masing.
Saat Ciara baru masuk ke mobil tersebut, ia menoleh kearah Devano lalu kearah kursi penumpang.
"Lho Al gak pulang bareng kita?" tanya Ciara saat tak melihat Al berada di mobil tersebut.
"Dia tadi udah aku tawarin biar satu mobil sama kita tapi dia nolak dan bilang kalau mau pakai mobilnya aja," jawab Devano yang mendapat anggukan dari Ciara.
"Terus mobilnya kok gak ada?" tanyanya lagi saat matanya tak mendapati mobil Al di parkiran rumah sakit itu.
"Udah pulang duluan sama bodyguardnya." Lagi-lagi Ciara menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu kita pulang juga. Eh tapi jangan lupa kita harus mampir ke supermarket dulu buat beliin si bocil eskrim," ujar Ciara.
"Gak perlu mampir-mampir lagi. Aku udah beliin pesanan dia tadi di mini market seberang," tutur Devano.
"Bagus deh kalau gitu. Ya udah buruan jalanin mobilnya, aku udah lapar ini." Devano masih terdiam saja tak langsung menuruti perintah dari Ciara tadi.
Ciara yang tak mengetahui penyebab Devano berdiam diri pun, ia mencolek pipi Devano.
"Kok malah diam aja. Kenapa hmm?" tanya Ciara pada akhirnya.
Devano menghela nafas kemudian ia menoleh kearah Ciara.
"Kamu mah selalu gak peka ih," rengek Devano yang membuat Ciara mengerutkan keningnya.
"Gak peka bagian mana sih sayang?" Devano kini mencebikkan bibirnya.
"Tuh kan. Dah lah. Bodoamat," ucap Devano sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ih apaan sih sayang. Kok jadi kayak anak kecil gini sih kamu. Kamu maunya apa sih? tinggal bilang aja gak usah pakai acara merajuk segala," ujar Ciara yang merasa gemas sendiri dengan suaminya itu yang semakin hari semakin manja saja dengan dirinya. Bahkan tingkat manjanya mengalahkan tingkat manja Kiya yang notabenenya masih anak-anak.
__ADS_1
"Gak jadi. Lupakan," tutur Devano dan saat dirinya ingin menjalankan mobilnya tiba-tiba saja tubuh Ciara sudah berpindah berada di pangkuannya.
"Ka---kamu ngapain?" tanya Devano yang kaget dengan aksi sang istri itu.
Pertanyaan dari Devano tadi bukannya langsung dijawab oleh Ciara dengan kata-katanya, justru Ciara menjawab dengan tindakannya yang tak pernah Devano sangka. Karena Ciara sekarang justru mencium bibirnya dengan sangat lembut untuk beberapa saat sebelum dirinya melepaskan ciuman tersebut.
"Sudah kan? jangan ngambek lagi, malu sama Kiya dirumah," ucap Ciara sembari mengusap bibir Devano menggunakan jari jempolnya.
Devano yang sudah terpancing pun, tangannya kini memegang tangan Ciara yang berada diwajahnya.
"Kamu tau sayang apa yang kamu lakukan sekarang sama saja kamu sudah membangunkan si junior. Dan aku mau kamu tanggungjawab sekarang juga," ucap Devano diakhiri dengan mengecup tangan Ciara.
Ciara yang mendengarkan hal itu pun kini ia berusaha untuk kembali ke kursinya tadi, tapi sayangnya Devano justru mengunci pergerakannya dengan tangan kekarnya itu.
"Tanggungjawab dulu baru bisa pindah tempat," bisik Devano tepat di telinga Ciara.
Ciara bergidik saat ia merasakan tiupan Devano menyapu telinganya.
"Kenapa kalau disini?" tanya Devano sembari memainkan rambut Ciara.
"Ck, kalau disini malu di lihatin orang."
"Mereka gak bakal lihat apa yang sedang kita lakukan didalam sini. Lagian kaca mobil ini akan terlihat gelap dari luar ditambah sekarang sudah malam. Jadi kamu gak perlu khawatir kalau kita melakukan hal itu disini akan diketahui oleh orang lain," ujar Devano.
"Ish tapikan gerakan kita didalam akan terbaca dari luar. Udah ah pokoknya aku gak mau ngelakuin hal itu disini. Kayak kita gak punya rumah aja sih, atau kayak gak punya uang buat sewa hotel sampai-sampai ngelukain begituan disini. Nanti pagi bisa-bisa ada berita dengan judul seorang pengusaha terkenal tengah melakukan kewajibannya sebagai suami didalam mobil, diduga pengusaha itu mengalami kebangkrutan sehingga tidak bisa menyewa kamar hotel untuk dirinya juga istrinya tercinta. Ish malu ih kalau sampai hal itu terjadi," tutur Ciara.
Devano yang mendengar ucapan dari sang istri pun hanya terkekeh geli. Ya kali dia benar-benar ingin melakukan hal itu disembarang tempat. Ia tadi hanya ingin menggoda istrinya saja. Sekaligus saat mereka dirumah nanti, Devano tak perlu merayu Ciara lagi dan langsung tancap gas untuk membuatkan Al dan Kiya seorang adik.
"Baiklah kalau gitu, aku akan minta pertanggungjawaban kamu kalau kita sudah sampai dirumah nanti dengan syarat kita bermain sampai aku puas," ucap Devano dengan senyum liciknya.
Ciara yang awalnya kaget dan ingin menolak pun ia urungkan saat melihat tangan Devano sudah ingin bergerak menerjang tubuhnya.
__ADS_1
"Oke-oke terserah kamu. Tapi sekarang lepasin aku dulu. Dan kita pulang sekarang," tutur Ciara yang membuat Devano langsung melepaskan kuncian tangannya tadi dari tubuh Ciara. Dan hal itu langsung membuat Ciara bergegas menjauh dari Devano dan kembali duduk di kursi samping kemudian. Sedangkan Devano, laki-laki itu tersenyum dalam diamnya dengan teriakan gembira dihatinya.
Dan setelah memastikan Ciara sudah aman dikursinya juga sudah memasang seat beltnya, Devano langsung menancapkan gas mobil tersebut menuju ke rumah mereka. Devano benar-benar sudah tak sabar ingin menghabiskan malam ini dengan olehraga malam bersama Ciara tentunya. Sedangkan Ciara, ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Mau ia beralasan seperti apapun jika itu sudah keinginan sang suami ia tak bisa menolak. Toh itu juga sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi mau tidak mau ia harus mau memuaskan suaminya itu yang sayangnya tak pernah merasa puas dalam masalah bercocok tanam. Dan jika nanti pagi badannya terasa remuk, biarkan Devano yang mengurus anak-anak mereka. Sedangkan dirinya, akan tidur sepanjang hari.
Kini mobil yang ditumpangi oleh Ciara dan Devano telah sampai di rumah mereka.
"Jangan lupa janji kamu tadi," ucap Devano sebelum dirinya keluar dari mobil tersebut untuk mengambil barang belanjaan untuk putrinya tercinta. Dan hal itu membuat Ciara memutar bola matanya malas, lalu kemudian ia menyusul Devano keluar dari mobil tersebut dan kini keduanya melangkahkan kaki mereka masuk kedalam rumah mewah tersebut.
"Assalamualaikum," ucap keduanya serempak.
"Waalaikumsalam," balas Al.
"Mama, Papa," ujar Kiya sembari berlari menuju kearah kedua orangtuanya yang langsung disambut dengan senyum keduanya sembari merentangkan kedua tangan mereka. Tapi saat anak perempuan itu sudah berada di depan mereka, bukannya pelukan yang mereka dapatkan melainkan wajah Kiya yang terlihat tengah mencari sesuatu.
"Es krim Kiya mana?" tanya Kiya yang membuat Devano dan Ciara yang tadinya tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya pun langsung menghilangkan senyuman mereka dengan tangan yang sudah lurus kembali ke samping badan mereka.
"Kiya tanya dimana eskrim Kiya, kenapa Papa sama Mama gak jawab?" ulang Kiya.
"Nih," ucap Devano sembari menyerahkan satu kantung plastik besar kearah Kiya yang langsung membuat anak perempuan itu kegirangan.
"Yes, stok eskrim sama coklat Kiya bertambah. Tadi dari Abang sekarang dari Papa sama Mama. Uhhhh senangnya dalam hati," tutur Kiya sembari membuka kantung plastik tadi untuk melihat-lihat isi didalamnya. Dan setelahnya tanpa sepatah kata pun, Kiya membawa makanan itu menuju dapur. Tanpa memperdulikan kedua orangtuanya yang tengah melongo melihat kepergiannya.
"Ya ampun itu anaknya siapa sih? gemesin, pengen cubit paru-parunya," ucap Ciara sembari tangannya melakukan gerakan tinjuan ke udara.
"Untung anak sendiri. Kalau bukan udah aku buang tuh anak ke laut samudera," gumam Devano.
"Jangan dibuang deh, mendingan di tukar aja sama sawah atau sapi kalau dibuang kan mubasir. Tapi kalau di tukar kita masih bisa dapat untung," timpal Ciara.
"Iya juga ya. Ya udah kapan-kapan deh kita tukar tuh anak sama sapi aja," ujar Devano yang diangguki oleh Ciara.
Saat kedua orangtuanya itu tengah menggerutu sebal akan tingkah Kiya, berbeda dengan Al yang justru terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya. Lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
__ADS_1