
Kini acara resepsi itu telah selesai dan para tamu undangan satu persatu telah meninggalkan tempat acara tersebut. Begitu juga dengan keluarga kecil Devano, tapi saat mereka ingin beranjak dari duduknya, tiba-tiba Magi datang menghampiri mereka bertiga.
"Ci," panggilnya.
Ciara yang sudah menggandeng tangan Devano dengan raut wajah kecapekan pun menoleh kearah belakang begitu juga dengan Devano.
"Eh, Magi," ucap Ciara.
"Oh iya kenalin Ma. Ini Devano, suami Ciara," sambung Ciara memperkenalkan Devano dengan Magi. Dengan sopan Devano mengulurkan tangannya sembari tersenyum kemudian dengan cepat Magi membalas uluran tangan tersebut.
"Oalah ini toh suami kamu Ci. Pantesan Al tampan orang dari bibit berkualitas dan unggul," ucap Magi dengan menatap kagum Devano sesaat, yang hanya di balas dengan cengiran oleh Ciara maupun Devano.
Setelah itu Magi tampak menyadari apa yang akan ia lakukan tadi hingga menghampiri keluarga kecil tersebut.
"Oh ya, Magi hampir lupa. Kalian hari ini menginap di sini aja ya. Magi lihat-lihat Ciara udah lelah. Kasihan juga baby-nya yang dari tadi pasti kalian ajak kesana kemari. Al juga kayaknya udah ngantuk banget itu." Ciara dan juga Devano menatap Al yang justru anak itu terlihat masih segar dan sangat enggan untuk beristirahat. Untung saja besok adalah weekend jadi Al bisa tidur dengan sepuasnya.
Al yang merasa dirinya di sangkut pautnya dengan percakapan para orang dewasa pun, menatap satu persatu wajah mereka.
"Al belum ngantuk Magi," ucap Al untuk menyangkal ucapan dari Magi tadi.
"Tapi Al gak mau pulang. Pengen bobok disini," sambung Al dengan mata berbinar.
Magi yang tadinya sudah cemberut karena pernyataannya tadi disangkal oleh Al pun kini mulai tersenyum lebar saat mendengar ucapan Al yang ingin menginap di hotel ini.
"Tuh, Al juga mau menginap disini. Magi benar-benar gak tega lihat wajah kamu kecapekan gitu Ci. Kalian mau ya, untuk biaya, kalian gak usah bayar. Biar Magi yang nanggung semuanya. Hitung-hitung sebagai hadiah Magi buat pernikahan kalian yang tak sempat Magi datangi," ucap Magi penuh harap. Ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Ciara dan baby di dalam perut teman anaknya itu. Ia sudah sangat tau bagaimana susahnya menjadi wanita hamil, apalagi hamilnya sudah besar dan bagaimana capeknya Ciara saat ini. Pasalnya dari tadi pagi hingga sekarang pukul 11 malam, Magi yakin Ciara belum istirahat sedikitpun.
Devano yang sedari tadi memang memaksa Ciara untuk menginap di hotel tersebut sebelum Magi datang pun dan terus di tolak sang empu lalu berakhir ia mengalah, kini menoleh kearah Ciara yang tampak menimang-nimang tawaran dari Magi. Devano sudah sangat hafal sifat keras kepala istrinya itu.
Tak berselang lama, terlihat wanita yang seumur dengan Magi juga menghampiri mereka berempat.
"Lho Dev, masih disini?" tanyanya saat sudah bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Devano kini mengalihkan pandangannya kearah samping Magi.
"Hehe iya Tan."
"Ini Ciara kan?" tanyanya kepada Devano, pasalnya saat Devano dulu menikah dia juga tak bisa menghadirkan pernikahan tersebut karena terhalang jarak antar negara.
Ciara tersenyum canggung dan menyalami wanita tersebut.
"Ciara, tante," ucap Ciara memperkenalkan dirinya.
"Saya Mamanya Zidan. Panggil aja Tante Jihan," tutur Tante Jihan dengan senyum ramahnya dan dibalas senyum juga oleh Ciara.
"Kamu mau bawa istri kamu pulang Dev? gak nginep disini aja? kasihan dia kayak udah kecapekan gitu. Apalagi dia juga lagi hamil lho Dev." Devano menghela nafas.
"Dev sudah bilang sama Cia buat menginap disini aja sejak tadi malahan, Tan. Tapi ya gitulah, anaknya keras kepala," tutur Devano.
Tante jihan menganggukkan kepalanya kemudian ia sedikit mengikis jarak antara dirinya dan juga Ciara, kemudian ia merangkul bahu Ciara dengan sangat hangat dan bersahabat.
Devano, Magi dan Tante Jihan tampak menghela nafas lega dengan jawaban dari Ciara.
"Nah gitu dong dari tadi Ci. Bukan cuma kamu saja yang harus di perhatikan tapi baby di dalam perut kamu juga. Magi takut kamu kecapekan dan saat kamu dalam perjalanan pulang eh taunya malah udah keluar tuh baby. Jadi jangan keras kepala lagi ya nak." Magi kini mengelus rambut Ciara yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Maaf Ma, Tan," ucap Ciara penuh penyesalan.
"Sudah tak apa. Yang penting kamu sudah nurutin apa yang kita katakan tadi. Ya sudah kalian ke kamar sana. Kita berdua mau pulang soalnya," tutur Tante Jihan.
"Lho Tante gak menginap disini?" tanya Devano yang di tujukan oleh dua wanita yang sudah menjadi besan itu.
Magi dan Tante Jihan saling pandang kemudian mereka terkekeh kecil sebelum menggelengkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Devano tadi.
"Kita juga mau malam pertama Dev sama seperti Rahel dan Zidan. Walaupun udah malam yang kesekian sih hehehe. Tapi malam ini sepertinya akan jadi malam yang berbeda karena gak ada pengganggu lagi," ucap Tante Jihan dan diangguki setuju oleh Magi. Maklum lah emak-emak yang perlu belaian.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu. Hati-hati di jalan Tan," ucap Devano kemudian ia menyalami tangan kedua wanita tersebut secara bergantian.
"Ya sudah kalian istirahat gih. Nanti bilang aja kalau biaya di tanggung tante gitu ya Dev saat kamu ngambil kunci nanti. Tante juga akan hubungi resepsionisnya nanti. Tante tinggal dulu ya, Om sudah menunggu dari tadi soalnya. Bye." Devano menganggukkan kepalanya.
"Magi juga pulang dulu ya. Kalian segera istirahat." Magi mengelus puncak kepala Rahel sebelum menyusul Tante Jihan pergi dari hadapan pasangan suami istri itu.
Setelah dirasa dua wanita itu tak terlihat dari pandangan mereka, Devano segera menurunkan Al dari gendongannya.
"Al tunggu disini sama Mama dulu ya sayang. Papa kedepan dulu bentar. Jagain Mama ya boy." Al menganggukkan kepalanya. Devano tersenyum dan mengacak rambut Al dengan gemas kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Ciara.
"Jangan kemana-mana. Tunggu disini!" perintah Devano tegas tanpa penolakan.
"Iya. Tapi cepetan dikit ya, aku takut. Udah sepi soalnya." Devano melirik ke sekelilingnya dan memang sudah sangat sepi. Tapi jika ia mengajak Ciara untuk ikut kedepan, nantinya Ciara akan tambah kelelahan tapi kalau meninggalkan mereka berdua disini sendirian ia juga tak tega ditambah khawatir.
Setelah berpikir cukup matang Devano sudah memutuskan untuk membawa Ciara serta Al ikut saja dengannya.
Dan kini ia dengan sigap, tanpa seizin Ciara terlebih dahulu. Devano telah membopong tubuh Ciara ala bridal style.
"Dev, apaan sih?" tanya Ciara yang tampak kaget karena perlakuan Devano.
"Sudah diam saja. Jangan banyak gerak biar gak jatuh," ucap Devano.
"Al." Al menengadahkan kepalanya menatap Devano yang tadi memanggilnya.
"Ya Papa?"
"Al tetap jalan di samping Papa ya. Kalau perlu Al pegangan ujung jas Papa, oke," sambung Devano yang ditujukan kepada Al.
"Oke Papa." Kini tangan Al terulur untuk memegangi ujung jas yang digunakan Devano setelah dirasa Al berada di posisinya. Devano kini mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan agar anak tampannya itu tak kesusahan untuk menyeimbangi langkahnya.
Dan tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik keluarga kecil itu dengan kepalan tangannya.
__ADS_1