Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 15


__ADS_3

Sesuai dengan perkiraan Ciara tadi malam jika pagi ini dirinya benar-benar dibuat remuk oleh Devano. Pasalnya mereka melakukan kewajiban suami istri hingga Devano puas juga ia merasa kasihan dengan Ciara yang sudah tepar di atas ranjang tersebut. Tapi sayangnya Devano tak peka akan kelelahan Ciara saat waktu sudah memasuki pukul 2 pagi.


Dan Ciara akui semakin suaminya tua maka stamina laki-laki itu semakin besar saja. Bahkan wajah Devano tak menunjukkan kata lelah sedikitpun setelah menghabiskan beberapa ronde tadi malam. Devano juga sudah memutuskan untuk tak masuk kerja karena sesuai perjanjian mereka, jika Ciara benar-benar tepar maka Devano lah yang akan menggantikan posisi dirinya.


Dan kini laki-laki itu tengah sibuk menyiapkan semua keperluan para anak-anak karena urusan dapur ia serahkan ke art disana.


"Kiya, jangan lari-lari!" teriak Devano saat dirinya baru saja selesai memandikan Kiya dan saat Kiya baru keluar dari bathub, Kiya sudah berlari menuju kamarnya bahkan anak itu belum memakai handuknya juga bagian tubuhnya belum di keringkan oleh Devano. Dan hal itu membuat Devano ketar-ketir sendiri. Takut jika Kiya terpeleset hingga terjatuh ke lantai.


Tapi suara peringatannya tadi tak dihiraukan oleh Kiya, anak itu terus saja berlari hingga saat dirinya ingin menuju ke walk in closed di kamarnya, tubuhnya menubruk pintu yang menghubungkan walk in closed tadi karena dia tak bisa mengerem laju larinya sendiri.


Bruk!!


"Aww!" teriak Kiya sembari memegangi keningnya yang lebih dulu mendarat di pintu tadi.


Devano yang melihat juga mendengar suara nyaring tadi, ia meringis sendiri dibuatnya.


"Pasti sakit dah tuh," batin Devano.


"Nah kan nubruk. Kamu sih dibilangin ngeyel," ucap Devano saat dirinya sudah berada di dekat Kiya. Kemudian ia melihat kening Ciara yang tampak memerah.


Sedangkan Kiya yang mendapat omelan dari Devano pun kini bibirnya mengerucut.


"Apaan sih Papa malah marahin Kiya. Harusnya kan di sayang-sayang biar Kiya gak nangis," tutur Kiya yang membuat Devano mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Lah kan Kiya sekarang gak nangis. Ngapain Papa sayang-sayang Kiya? Toh yang salah Kiya juga," ujar Devano yang membuat Kiya berpikir sejenak tapi beberapa detik kemudian...


"Huwaaaaa Papa jahat. Papa marahin Kiya. Papa udah tidak sayang lagi sama Kiya. Huwaaaaa Mama, Kiya mau Mama," tangis Kiya kini terdengar nyaring walaupun anak itu tak mengeluarkan air matanya sama sekali.


Devano yang sudah tau jika anaknya itu tengah akting pun ia memutar bola matanya malas.


"Akting kamu kurang tau Kiya. Masak orang nangis kok gak ada air matanya," tutur Devano yang membuat Kiya menghentikan aktingnya itu lalu ia menyentuh matanya dan benar saja tak ada setetes air mata yang keluar dari matanya padahal ia sudah sekuat tenaga untuk mengeluarkan cairan bening itu.


Kiya kini berpikir sesaat untuk mencari cara agar aktingnya semakin terlihat nyata. Dan saat idenya muncul, ia segera berlari menuju ke kamar mandi.


"Mau apa lagi tuh anak?" gumam Devano sembari melihat tubuh Kiya yang semakin menghilang dari pandangannya.


Beberapa saat setelahnya terlihat Kiya keluar dari kamar mandi dengan mata yang sudah basah karena air tentunya. Dan setelah dirinya berada di posisi sebelumnya, Kiya kembali menjalankan aktingnya.


"Huwaaaaa Papa jahat. Papa marahin Kiya. Papa udah tidak sayang lagi sama Kiya. Huwaaaaa Mama, Kiya mau Mama," ulang Kiya dengan suara yang lebih keras lagi dengan tujuan agar semua orang yang ada di rumah tersebut menghampiri dirinya. Tapi beberapa saat setelah ia melakukan hal itu hingga air mata bohongannya itu hampir kering, tak ada orang yang masuk kedalam kamarnya sama sekali karena semua orang telah tau jika Kiya mengucapkan suatu kalimat berulang kali dengan lantang di campur tangisan maka tangisan itu palsu dan jika anak itu benar-benar menangis, ia tak akan pernah berbicara dalam tangisannya melainkan hanya terdengar tangisan yang cukup keras saja tak lebih dari itu.


"Kok gak ada orang yang kesini sih?" gumam Kiya yang masih bisa didengar oleh Devano. Dan laki-laki yang menyandang sebagai ayah dari Kiya pun sebisa mungkin ia menahan tawanya.


"Papa gak usah ketawa ya. Awas aja Kiya mau laporin ini semua ke Mama sama Abang biar Papa nanti kena marah sama mereka," tutur Kiya, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar tersebut. Tapi sebelum dirinya menggapai kenop pintu, Devano menggantikannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Devano.


"Mau lapor Mama lah," jawab Kiya tanpa menatap kearah Devano dan justru ia sekarang tengah membelakangi sang Papa.

__ADS_1


"Yakin kamu mau lapor Mama?" tanya Devano lagi sembari dirinya mulai mendekati Kiya.


"Yakin lah. Dan Papa stop, jangan mendekati Kiya lagi," ujar Kiya. Devano kini menghentikan langkah kakinya.


"Baiklah Papa gak akan mendekati Kiya lagi. Tapi memangnya Kiya yakin mau keluar dari kamar ini tanpa pakai baju atau setidaknya pakai handuk gitu?" Kiya kini terdiam lalu kepalanya menunduk untuk menatap tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun.


"Ish kenapa bisa lupa sih," gerutu Kiya kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kearah Devano.


"Papa sekarang boleh mendekat. Pakaiin Kiya baju," ucap Kiya.


"Papa gak mau pakaiin Kiya baju. Pakai aja sendiri," tantang Devano sekaligus untuk melatih Kiya mandiri karena anak itu terus saja bersikap manja kepada dirinya, Ciara, Al maupun seluruh orang yang ada di rumah ini. Dia sebentarnya bisa memakai baju sendiri tapi karena rasa malasnya membuat dirinya dibantu oleh orang lain untuk melakukan itu semua.


Kiya kini berdecak lalu dengan cepat ia menuju ke walk in closednya diikuti Devano dari belakang.


"Kok malah baju biasa yang mau kamu pakai? Hari ini kamu sekolah lho kalau kamu lupa," ucap Devano saat melihat Kiya justru mengambil baju santainya.


"Kiya gak lupa. Tapi hari ini Kiya gak mau sekolah karena mood Kiya udah dirusakin sama Papa," ujar Kiya sembari berusaha memakai bajunya.


"Ih kepala Kiya nyangkut, gak bisa masuk lubangnya!" teriak Kiya yang membuat Devano sudah tak tahan lagi untuk menahan tawanya. Hingga kini ia tertawa dengan begitu kencang.


"Papa mah ketawa mulu. Bantuin Kiya!" Devano kini dengan terpaksa menghentikan tawanya kemudian ia mendekati Kiya sembari mengusap air matanya yang keluar gara-gara kebanyakan tertawa.


"Lain kali dipastikan dulu yang sayang. Lubang untuk kepala itu yang mana. Bukan cuma sembarangan yang penting ada lubangnya kamu masukin padahal lubang yang mau Kiya masukin kepala tadi lubang buat tangan," ujar Devano yang membuat Kiya lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Devano kini terus membantu kita memakai bajunya hingga selesai.


"Terimakasih," ucap Kiya dan tanpa mendengar balasan dari Devano, anak itu sudah lebih dulu ngacir keluar dari ruangan tersebut.


__ADS_2