Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 40


__ADS_3

Doni yang baru sampai di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian pun langsung bergegas mencari keberadaan saudara kembarnya dan tuan mudanya itu.


"Maaf Sus, mau tanya apa ada pasien atas nama Alsheyrez Devra Rodriguez yang baru masuk kerumah sakit ini beberapa waktu yang lalu?" tanya Doni saat dirinya sudah berada di bagian pendaftaran rumah sakit tersebut.


"Tunggu sebentar ya tuan, saya carikan dulu," ucap suster tersebut yang mendapat anggukan dari Doni dan tak berselang lama suster tadi kembali angkat suara.


"Pasien atas nama Alsheyrez Devra Rodriguez berada di ruang UGD, tuan," ujar suster tadi.


"Baik, terimakasih Sus." Doni kini langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud oleh suster tadi dan saat dirinya sudah melihat ruangan tersebut yang di depannya terdapat Toni yang tengah menenangkan Yura, ia langsung berlari kecil kearah dua orang tersebut.


"Gimana keadaan tuan muda?" tanya Doni saat dirinya baru sampai dihadapan dua orang tersebut.


Toni yang tadinya mengelus rambut Yura pun kini menengadahkan kepalanya.


"Seperti yang kamu katakan tadi. Tuan muda banyak kehilangan darah," ujar Toni.


"Terus bagaimana? Apa sudah ada seseorang yang mau mendonorkan darahnya untuk tuan muda?" tanya Doni yang sudah sangat khawatir dengan kondisi tuan mudanya itu.


"Kamu tenaga saja. Golongan darah yang dimiliki tuan muda tidak langka dan di rumah sakit ini stok darahnya masih banyak," ujar Toni yang seketika membuat Doni menghela nafas lega. Dan setalah itu ia kini mendudukkan tubuhnya disamping dua orang tersebut tapi tatapan matanya terus memandangi Yura yang masih saja setia menatap pintu ruangan itu .


"Apa dia aman?" tanya Doni.


"Aku rasa aman. Gak ada luka sama sekali. Tapi mungkin dia masih syok karena lihat tuan muda yang berlumuran darah tadi," ujar Toni yang mendapat anggukan dari Doni.


Untuk beberapa saat tak ada lagi yang saling bersuara hingga pintu ruangan tersebut terbuka hingga menampilkan seorang dokter perempuan keluar dari ruangan tersebut.


Doni dan Toni yang melihat hal itu langsung berdiri dari duduknya dan setelahnya mereka mendekati dokter yang tengah tersenyum kepada mereka berdua. Sedangkan Yura, anak itu masih tetap duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan tuan muda, Dok?" tanya Toni.


"Tuan muda kalian tidak apa-apa. Tidak ada luka dalam di tubuhnya hanya ada luka luar yang berada di lengannya tadi. Dan kondisinya sudah kembali stabil," ucap dokter tersebut yang membuat dua manusia itu menghela nafas lega.


"Kalau begitu apa tuan muda sudah boleh di pindahkan di ruang inap?" tanya Doni.


"Tentu saja. Bahkan setelah saya keluar ini, tuan muda kalian juga akan di pindah. Tapi berhubung saya di cegah kalian tepat didepan pintu, tuan muda kalian belum bisa dipindahkan sekarang," ujar dokter tersebut sembari melirik kearah brankar dibelakangnya yang terdapat Al di atas brankar tersebut.


Dua orang tadi kini mengikuti arah pandang dari dokter tadi lalu setalahnya mereka hanya bisa melemparkan senyumannya, kemudian setelah itu mereka langsung menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan para suster yang ingin mendorong brankar Al.


Yura yang tadinya terus terdiam pun kini ia berdiri dari duduknya saat melihat brankar Al keluar dari ruangan tersebut.


"Al," gumam Yura dan tanpa mengatakan sepatah katapun kepada kedua bodyguard Al, ia langsung berlari mengejar brankar tadi.


Sedangkan kedua bodyguard itu masih saja berdiri dengan tatapan yang mengarah ke dokter tersebut hingga membuat dokter itu merasa risih sendiri sekaligus salah tingkah.


"Jika sudah tidak ada yang ingin kalian tanyakan, saya permisi dulu," ucap dokter tersebut. Dan saat ia melangkahkan kakinya, langkahnya lagi-lagi harus terhenti saat mereka berdua secara bersamaan memanggilnya.


"Tunggu dulu Dok," ucap Doni dan Toni serempak.


"Ya?" tanya dokter tersebut sembari membalikan badannya.


"Hmmm begini," ucap Toni yang sedikit merasa canggung.


Dokter itu terus menunggu lanjutan kalimat yang akan di ucapkan dari Toni dengan kedua alis yang terangkat.


"Begini hmmm," ucap Toni sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Begini dok, apa boleh saya pinjam ponsel dokter sebentar?" bukan Toni yang melanjutkan perkataannya tadi melainkan Doni lah yang meneruskan karena dirinya sudah geram dengan saudara kembar yang tak kunjung mengatakan apa maksud dan tujuannya memanggil dokter itu kembali.


Dokter itu kini mengernyitkan keningnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Dokter tenang saja. Saya tidak akan menggunakan ponsel dokter untuk aneh-aneh kok. Saya pinjam ponsel dokter tuh untuk menghubungi bos saya karena kebetulan ponsel kita semua tadi sudah di hancurkan seseorang. Jadi saya mohon dokter bisa berkenan untuk meminjamkan ponsel dokter ke saya. Dokter tenang saja, pulsanya nanti saya ganti," ucap Doni panjang lebar dengan tatapan mata penuh harap.


Dokter tersebut kini menghela nafas. Bahkan ia sempat berpikir, kenapa mereka tidak pinjam saja di bagian pendaftaran atau kalau tidak di bagian informasi, jika mereka ingin menelepon pihak keluarga pasien? Atau jangan-jangan ini semua hanya akal-akalan mereka berdua supaya bisa modus ke dirinya? pikir dokter tersebut. Tapi setelah ia melihat wajah memelas dari dua laki-laki di hadapannya itu pun, semua pikiran negatifnya ia buang jauh-jauh dan berakhir ia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Saya akan pinjamkan ponsel saya ke kalian. Tapi saat ini ponsel saya berada di ruangan kerja saya. Saya harap salah satu dari kalian bisa ikut dengan saya dan yang satunya menunggu pasien di ruangannya," ujar dokter tersebut yang membuat kedua laki-laki itu kini tersenyum.


"Saya yang akan ikut dokter," tutur Doni yang diangguki oleh dokter tersebut.


"Mari ikut saya," ucap dokter tersebut, lalu setalahnya ia beranjak dari tempat tersebut.


"Aku titip tuan muda sama gadis kecil itu sebentar. Kamu bisa kan jagain mereka berdua?" tanya Doni.


"Bisa lah. Buruan sana pergi. Kalau bisa, panggil sekalian orangtua dari gadis kecil itu. Kasian dia, perasaan hidupnya sial mulu," ujar Toni.


"Kalau masalah orangtua dari gadis kecil itu urusan nanti saja, karena aku juga tidak tau koneksi untuk menghubungi orangtua dia. Yang terpenting sekarang adalah tuan besar harus kesini karena aku juga ada suatu hal yang perlu aku bicarakan ke beliau, biar masalah ini langsung ditangani oleh beliau. Dan untuk masalah orangtua dari gadis kecil itu, biar kan saja nanti kita pikir lagi. Atau kalau gak kamu tanya ke dia, siapa tau dia hafal nomor orangtuanya. Kalau dia hafal nanti, langsung kasih tau ke aku biar aku yang urusan semuanya," tutur Doni yang hanya mendapatkan anggukan kepala oleh saudara kembarnya itu.


"Ya udah kalau gitu aku tinggal dulu," ujar Doni sembari menepuk pundak Toni dan setalah itu barulah dirinya pergi dari hadapan saudara kembarnya yang sekarang tengah menatap kepergiannya itu.


Dan setelah Doni menghilang dari pandangannya, Toni menoleh kearah kursi tunggu yang tadi di tempati Yura.


"Lho kok ilang? Kemana dah tuh bocil?" tutur Toni saat mendapati kursi tadi kosong tak ada lagi Yura disana.


"Apa mungkin dia langsung ikut ke kamar inap tuan muda? Ahhh sepertinya juga begitu. Tidak mungkin juga dia tiba-tiba pergi begitu saja, dia kan gak tau arah jalan pulang. Dan tidak mungkin juga dia diculik, disini kan penjagaannya ketat. Udahlah mungkin memang udah ikut para suster tadi ke kamar tuan muda," ucap Toni yang mencoba tak ambil pusing atas hilangnya Yura dari pantauan.

__ADS_1


Dan kini ia langsung bergegas menuju ke kamar inap Al yang sayangnya ia tak tau pasti dimana kamar Al berada. Karena saking pintarnya dirinya, sampai ia lupa bertanya nomor kamar inap Al. Alhasil dirinya sekarang mau tak mau harus melihat satu persatu kamar inap di rumah sakit tersebut. Karena ia yakini jika dia bertanya ke pihak pendaftaran, kamar inap yang di tempati Al saat ini belum masuk ke daftar pasien di rumah sakit tersebut.


__ADS_2