
Selang tiga bulan setalah Devano dan Ciara melangsungkan pernikahan. Hubungan keduanya semakin hari semakin terlihat lengket satu sama lain. Sama seperti pagi ini, Devano sudah bergelayut manja dengan memeluk tubuh Ciara dari samping.
"Kamu gak berangkat ke kantor?" tanya Ciara. Pasalnya setelah mengantar Al kesekolah, Devano malah kembali ke kediamannya tak seperti biasanya yang langsung menuju kantor miliknya.
"Tidak, aku mau menghabiskan satu hari bersamamu tanpa Al," tutur Devano sembari menciumi pipi Ciara.
"Kamu ini. Jangan malas-malasan, kalau kamu malas, gimana nasib aku dan Al nanti. Mau kamu kasih makan apa kita? batu? emangnya kamu kira kita kuda lumping?" cerca Ciara.
"Hey apa kau lupa sayang? Suamimu ini sangat kaya. Aku tak kerja saja uang masih mengalir dari berbagai usahaku yang di pegang orang kepercayaanku. Jadi tak perlu khawatir kalau aku kasih makan kalian dengan batu dan semacamnya. Uangku tak akan habis sampai 10 turunan," sombong Devano.
"Ya ya ya terserah kamu saja lah," tutur Ciara yang lebih baik mengalah dari pada kesombongan Devano nanti semakin bertambah.
Setelah perbincangan tadi, tak ada lagi suara dari mereka berdua yang ada hanya suara televisi di depan mereka. Perlu diketahui bahwa dirumah itu tak ada seorang pun art yang membantu perkejaan Ciara untuk sekedar membersihkan rumah yang cukup besar dan mewah ini. Itu semua adalah ide Ciara yang awalnya mendapatkan penolakan dari Devano tapi setelah Ciara menjelaskan lebih dalam lagi dengan alasan ia akan menjadi sosok istri dan juga ibu yang bisa diandalkan. Toh kenapa harus membutuhkan seorang art jika dirinya saja bisa dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri? membuang-buang uang saja, pikir Ciara. Rencana itu akhirnya Devano setujui dengan satu syarat jika Ciara kembali mengandung buah cinta mereka, pada saat itu pula Devano akan mencarikan art untuk membantu Ciara kalau perlu art itu yang melakukan semua pekerjaan rumah agar Ciara duduk manis tanpa rasa lelah sedikitpun.
"Sayang," panggil Ciara kepada Devano yang malah menutup matanya disandaran bahu Ciara.
"Hmm," gumam Devano untuk menjawab panggilan Ciara tadi.
"Kita belum kasih tau yang sebenarnya dengan Al," ucap Ciara.
__ADS_1
"Kasih tau apa sih? emang ada rahasia yang kita sembunyikan?" tanya Devano tanpa berniat menegakan tubuhnya sedikitpun.
"Haish duduk yang benar dulu lah. Kepala kamu berat banget tau, makanya jangan sombong terus jadi besar kepala kan," tutur Ciara yang membuat Devano berdecak sebal kemudian ia menegakkan tubuhnya.
Ciara kini memiringkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Devano. Devano kini menatap wajah Ciara dengan kerutan di dahinya.
"Kita mau kasih tau apa ke Al?" tanya Devano yang kini kepo dengan rahasia yang disembunyikan istrinya itu.
"Gini. Dulu kan saat Al tanya keberadaan Papanya dan Papanya itu adalah kamu. Aku selalu bilang kalau kamu udah ada di surga," ucap Ciara dengan cengiran kuda di bibirnya.
"Huh, kebohongan macam apa ini. Bisa-bisanya memiliki ide seperti itu. Apa kamu dulu tidak memiliki ide yang bagusan sedikit? Sampai-sampai harus mengatakan kebohongan dengan Al kalau aku udah tiada di dunia ini. Ck, tega sekali," gerutu Devano.
"Kan kamu bisa saja kasih alasan ke dia kalau aku tengah pergi ke luar negeri cari uang buat kalian," tutur Devano yang masih tak terima dengan alasan yang diberikan oleh Ciara ke Al.
"Kalau aku tau takdir menemukan kita kembali dan mempersatukan kita. Aku juga akan berpikir seperti itu. Tapi waktu itu aku kan gak tau kedepannya. Jadi jangan salahkan aku kalau mengklaim dirimu sudah tiada. Salahkan saja diri kamu sendiri yang seenak jidat kabur dari tanggungjawab." Devano yang melihat kilatan kekecewaan di mata Ciara kini merengkuh tubuh Ciara dan membawanya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku yang dulu sayang. Baiklah itu semua bukan salahmu tapi salahku. Dan apa rencana kamu kedepannya? mau memberi tahu kebenarannya ke Al?" tanya Devano. Ciara kini melepaskan pelukannya dan menatap lekat mata teduh Devano.
"Aku berencana memberitahu Al bahwa kamu adalah ayah kandung dia. Kalau masalah bercerita seluk beluk masa lalu yang menghasilkan dirinya aku tak akan memberitahunya. Biarkan saja masa kelam itu kita sendiri yang tahu dan kita simpan rapat-rapat." Devano menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi kapan kamu mau memberi tau Al tentang kebenaran diriku yang adalah ayah kandungnya?" Ciara tampak menghela nafas.
"Aku juga gak tau mau kapan. Aku takut jika Al akan marah nantinya dan gak mau bertemu denganku lagi," tutur Ciara lirih.
Devano tersenyum dan lagi-lagi ia memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat.
"Kita akan beritahu Al nanti sepulang dia sekolah. Kamu gak perlu takut. Aku yakin Al anak yang sangat pengertian ke orangtuanya terutama dengan Mamanya yang udah ngerawat dia sejak kecil. Paling-paling kalau Al marah ya marahnya sama aku bukan sama kamu. Jadi kamu tenang lah. Kalau hal ini tidak segera diselesaikan takutnya Al akan tau dari orang lain disaat umurnya sudah dewasa dan hal itu membuat kita kewalahan sendiri nantinya. Kamu tau sendiri gimana mood orang yang baru menginjak usia ABG bukan? jadi memang harus secepatnya Al mengetahui keberadaan ini dan dari mulut kita sendiri yang memberitahunya," ucap Devano menenangkan Ciara
Ciara kini mengangguk dan membalas pelukan Devano.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah telat datang bulan belum?" tanya Devano disela keromantisan mereka berdua.
"Huh, sekarang saja aku lagi datang bulan," jawab Ciara dengan lesu. Mereka berdua tak pernah menunda masalah anak kedua mereka. Kapan pun waktunya mereka akan siap dan menerimanya dengan senang hati.
Devano mengelus rambut Ciara dengan sayang.
"Ya sudah lain kali kita coba lagi. Dan kita coba saat masa subur kamu. Siapa tau langsung jadi." Ciara lagi-lagi menganggukkan kepalanya mensetujui semua ucapan sang suami tanpa melepaskan pelukan mereka.
Beginilah gambaran mereka berdua saat tak ada Al di rumah, sangat romantis dan bisa bermanja-manjaan sesuka hati mereka. Tapi beda cerita kalau Al berada di sekitar mereka berdua, anak tampan itu akan selalu mengacaukan keromantisan mereka berdua dengan berbagai tingkah dan caranya sendiri. Apalagi Al sekarang tampak prosesif dengan Ciara berbeda dengan dulu saat Devano dan Ciara belum menikah, dia dulu akan mencari cara agar orangtuanya terlihat romantis dan berduaan tapi setelah menikah malah tak diizinkan untuk mereka sekedar duduk berdua saja. Tapi jangan salah, Al juga sangat manja kepada Devano. Sebangun dia tidur, orang yang pertama ia cari adalah sang Papa. Jika Devano sudah pergi bekerja tanpa berpamitan dengan Al, anaknya itu akan merengek dan menangis sejadi-jadinya. Sangat membingungkan memang memahami hati seorang Al.
__ADS_1