Young Mother

Young Mother
Tamu Spesial


__ADS_3

Devano kini menatap wajah Ciara kala ia sudah membuka pintu mobil disamping sang empu.


"Tenaga lah, ada aku yang disini," ucap Devano sembari mengelus rambut Ciara.


Ciara yang tadinya menatap kosong ke depan kini mendangakan kepalanya menatap mata teduh milik Devano. Ia kini tampak menghela nafas berat kemudian dia mengangguk dan mengangkat tubuh Al agar keluar dari mobil tersebut sebelum dirinya.


"Al mau jalan atau digendong Papa?" tanya Devano setelah ia menutup kembali pintu mobil tadi.


"Al, mau digendong Papa," ucapnya manja sembari merentangkan kedua tangannya keatas. Devano tersenyum kemudian ia meraih tubuh mungil Al dan menggendongnya. Setelah Al berada di dalam gendongannya, Devano menoleh ke arah Ciara yang sedari tadi menghela nafas berkali-kali.


"Mau minum dulu? di mobil ada air mineral yang masih baru," tawar Devano yang melihat keresahan dari Ciara. Mungkin kalau Ciara minum terlebih dahulu bisa mengurangi rasa gugupnya, pikir Devano.


"Emangnya ada?" Devano mengangguk.


"Di samping car seat Al," ujar Devano. Ciara pun kini bergegas membuka pintu bagian belakang mobil tersebut dan mencari keberadaan air mineral ditempat yang sudah di sebutkan oleh Devano tadi.


Setelah menemukannya, Ciara langsung membuka botol air mineral tersebut dan meneguk isinya hingga sisa setengah.


"Udah ketemu apa belum?" tanya Devano karena Ciara tak kunjung keluar dari dalam mobil.


"Udah kok, tunggu bentar lagi," jawab Ciara sembari mengontrol detak jantungnya. Saat dirasa sudah tak terlalu gugup, Ciara keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Devano yang tengah bercanda gurau dengan Al yang masih setia di gendongan Devano.


"Udah siap?" tanya Devano sembari menolehkan wajahnya kearah Ciara berada.


Ciara tampak mengangguk ragu yang membuat Devano ingin sekali menggodanya. Tapi sepertinya ia masih ingin selamat saat ini karena jika ia melakukan aksinya kepada Ciara di waktu yang menegangkan seperti ini, sudah dipastikan Ciara akan mengamuk dan berakhir wanitanya itu akan mendiaminya sampai berhari-hari atau bahkan berakibat lebih fatal lagi seperti dia sudah tidak diperbolehkan untuk berdekatan dengan Al dan Ciara seperti dulu lagi. Dibayangkan saja sudah membuat dirinya frustasi apalagi sampai kejadian, bisa gila dia nanti.


Devano kini meraih tangan Ciara yang masih terasa dingin, lalu menggenggam tangan tersebut cukup erat kemudian ia membawa dua orang kesayangannya itu menuju pintu utama rumah tersebut.


Saat sudah berada di depan pintu tadi, tangan Devano terasa dicengkeram begitu kuat oleh Ciara.


"Al, bisa tolong ketukan pintu ini?" tanya Devano kepada Al.


"Oke Papa," jawab Al dan tangan mungil tersebut perlahan menjulur, lalu mengetuk pintu tersebut cukup keras.


Tok tok tok!!

__ADS_1


Satu ketukan belum ada yang membuka pintu tersebut.


"Coba lagi Al." Al mengangguk dan mencoba mengetuk pintu itu kembali.


Tok tok tok!!


Tak berselang lama dari ketukan pintu tadi, seseorang tampak membukakan pintu tersebut dengan cukup lebar.


"Eh tuan muda sudah pulang. Kenapa pakai ketuk pintu segala, bisanya juga nyelonong masuk, tuan," tutur mbok Reti, selaku art yang paling lama di rumah tersebut.


"Hehehe iya mbok. Tapi kan sekarang Dev lagi bawa tamu spesial jadi harus berlagak sopan walaupun dirumah sendiri," ucap Devano dengan kekehan kecil.


Mbok Reti tampak mengalihkan pandangannya menatap kearah Ciara yang tengah tersenyum kepadanya yang dibalas senyum ramah olehnya kemudian ia mengalihkan lagi pandangannya kearah Al yang berada di gendongan Devano.


Mbok Reti yang baru pertama kali melihat wajah Al tampak menganga lebar. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang bahkan matanya kini ia kedip-kedipkan dan ia kucek berkali-kali untuk memastikan apa yang ia lihat itu benar, bukan hanya sekedar halusinasinya saja.


Sedangkan Al yang ditatap intens oleh mbok Reti itu tampak menyembunyikan wajahnya di samping leher Devano.


"Papa, Al takut," ucapnya lirih.


Devano yang paham apa yang diucapkan oleh Al pun kini membuka suaranya kembali.


"Ah maaf tuan. Tuan kecil, mbok minta maaf ya karena sudah bikin tuan kecil takut," tutur mbok Reti.


"Sudah tak apa Mbok."


"Sekali lagi maaf tuan, saya tidak bermaksud tadi. Ah iya saya sampai lupa, silahkan masuk tuan muda, nona muda dan tuan kecil." Devano tersenyum saat mbok Reti membukakan pintu tersebut cukup lebar dan menggeser tubuhnya agar Devano, Ciara dan juga Al bisa masuk kedalam rumah tersebut.


"Mbok izin ke belakang dulu tuan, ambil minum dan cemilan." Devano mengangguk kemudian mbok Reti segera pergi menuju dapur.


"Mau disini apa di ruang keluarga?" tanya Devano.


"Disini aja," jawab Ciara dengan cepat.


"Ya udah kamu duduk dulu disini sama Al. Aku ke atas dulu panggil orangtuaku," ujar Devano.

__ADS_1


Ciara tampak menggigit bibir bawahnya, kemudian ia mengangguk ragu. Walaupun sebenarnya ia takut jika ditinggal sendirian di ruang tamu hanya dengan Al saja tanpa Devano yang menemaninya. Ia takut disaat Devano naik keatas, orangtua Devano justru datang dari arah yang tak sesuai perkiraan dari Devano sebelumnya dan hal itu jika terjadi akan membuat Ciara mati kutu, tak bisa berbuat atau berkata apapun hanya seorang diri tanpa ada Devano disisinya yang saat ia tak bisa menjawab pertanyaan dari orangtua Devano, Devano lah yang akan mewakilinya.


Devano tersenyum kemudian mengurungkan niatnya untuk menghampiri sang orangtuanya di lantai atas.


"Kok gak jadi?" tanya Ciara saat melihat Devano bukannya segera pergi malah duduk disebelahnya.


"Aku tau kalau kamu takut aku tinggal sendiri disini. Jadi lebih baik aku temani kamu dan biar mbok Reti saja yang panggil orangtuaku buat kesini," ujar Devano.


Tak berselang lama, mbok Reti menghampiri mereka dengan membawa minuman seger dan beberapa cemilan untuk tamu majikannya itu.


"Mbok," panggil Devano.


Mbok Reti yang baru selesai menata minuman dan cemilan tadi diatas meja, kini menoleh kearah Devano.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Dev, minta tolong dong buat panggilin Mommy sama Daddy agar turun kebawah. Bilang aja ada tamu spesial gitu," ujar Devano.


"Siap tuan." Mbok Reti kini beranjak dari ruang tamu tersebut dan menuju ke lantai atas untuk mencari nyonya besar dirumah tersebut.


Dan saat dirinya sudah berada dilantai atas, mbok Reti langsung menuju ke kamar milik Mommy Nina dan Daddy Tian, lalu ia mengetuk pintu kamar tersebut.


"Maaf tuan dan nyonya saya mengganggu waktu anda," ucap mbok Reti dan beberapa saat kemudian pintu tersebut terbuka.


"Iya ada apa mbok?" tanya Mommy Nina yang tampak baru selesai mandi.


"Itu nyonya ada tamu spesial yang menunggu nyonya dan tuan dibawah," jawab mbok Reti.


"Tamu spesial? siapa mbok?" tanya Mommy Nina.


"Saya juga tidak tau namanya nyonya tapi tamunya cantik dan tampan." Mommy Nina tampak mengangguk.


"Baiklah, sebentar lagi kita akan turun sampaikan kepada tamunya ya mbok. Dan terimakasih," ucap Mommy Nina. Mbok Reti pun mengangguk kemudian berbalik untuk menunju kembali ke lantai bawah.


...****************...

__ADS_1


Terimakasih untuk 500 likenya kemarin kalau bisa sekarang juga ya 🤭 insyaallah tar author kasih bonus deh 😂 semangat 💪


See you next eps bye 👋


__ADS_2