Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 80


__ADS_3

Setelah obrolan panjang yang dilakukan oleh Devano dan dokter yang menangani Al untuk mencari solusi dari permintaan Al sebelumnya, akhirnya dokter dan Devano sepakat untuk menahan Al di rumah sakit tersebut 3 hari lagi dan sisanya Al hanya perlu mendapat perawatan di rumah yang setiap pagi dokter tersebut akan mengunjungi dan mengecek kondisi Al hingga anak itu benar-benar pulih.


Pada awalnya, Al terus merengek kepada kedua orangtuanya tapi perlahan Devano maupun Ciara mampu membujuk Al hingga anak laki-laki itu terpaksa menjalankan apa yang sudah disepakati oleh Devano dan dokter tersebut.


Dan 3 hari yang Devano janjikan itu akhirnya selesai juga. Kini Al, Devano dan Ciara baru saja tiba di rumah yang sudah lama Al tak tempati itu.


"Abang!" teriak Kiya saat melihat Al masuk kedalam rumah tersebut.


Al yang melihat adik kecilnya tengah berlari kearahnya pun ia kini tersenyum dan bersiap untuk menyambut pelukan hangat dari Kiya.


"Uhhhh, Kiya kangen," ucap Kiya saat tubuhnya sudah memeluk tubuh Al.


"Baru juga 3 hari lalu kita ketemu, masak Kiya sudah kangen saja," ujar Al sembari melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Kiya.


"Iya dong, kan kalau orang kangen tuh tidak diukur seberapa lama kita tidak bertemu tapi diukur seberapa pentingnya orang itu di hidup kita," ucap Kiya yang berubah menjadi dramatis.


Al yang mendengar ucapan Kiya pun kini ia mencubit gemas pipi Kiya.


"Iya-iya, Abang percaya sama Kiya. Tapi Abang boleh kan sekarang ke kamar? Abang belum kuat lama-lama berdiri. Bawaannya pusing soalnya," ujar Al dengan jujur.


Kiya yang tadinya berada di depan Al, ia langsung menggeser posisi berdirinya.


"Silahkan istirahat Abang. Cepat sembuh," tutur Kiya yang membuat Al kini mengacak rambut Kiya sebelum dirinya beranjak dari hadapan anak perempuan tersebut.


Sedangkan Ciara dan Devano yang melihat langkah Al menjauh dari mereka pun kini tampak senang saat melihat senyum di wajah Al, tapi walaupun begitu, mereka juga masih harap-harap cemas dengan Al yang sewaktu-waktu akan bertanya lagi tentang keberadaan Yura.


Al kini telah sampai di kamarnya dengan senyum yang mengembang.


"Akhirnya aku pulang juga," gumam Al sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang dikamarnya.

__ADS_1


Bahkan kini matanya tertutup sesaat sebelum ia membuka matanya kembali dengan tubuh yang sudah terduduk.


Dan dengan cepat ia meraba lehernya.


"Kalung. Dimana kalung dari Yura?" tanya Al yang sudah mulai panik sendiri mencari-cari keberadaan kalung yang sudah tak ada di lehernya itu.


"Jangan-jangan kalung itu hilang saat kejadian itu. Gak, gak mungkin. Aku yakin saat terakhir kali aku sadar, aku masih memakainya. Ahhhh mungkin kalung itu di simpan Mama. Aku harus tanya ke Mama sekarang karena aku tidak mau terlambat untuk menemukan kalung itu. Kalau aku terlambat dan keburu kalung itu benar-benar hilang, aku takut Yura nanti akan kecewa sama aku. Ya, aku harus mendapatkan kalung itu kembali sebelum aku bertemu dengan Yura nanti," tutur Al.


Kemudian setelah mengucapkan hal tadi ia kini berlari keluar dari kamarnya itu.


"Ma, Mama!" teriak Al sembari menuju ke kamar orangtuanya.


Tok tok tok!


Al kini mengetuk pintu kamar tersebut.


Hingga akhirnya Al kini terpaksa membuka pintu kamar orangtuanya itu tanpa seizin mereka. Tapi saat pintu itu terbuka lebar, Al tak melihat atau menemukan keberadaan Ciara maupun Devano disana.


Al kini menutup kembali pintu kamar tersebut lalu setelahnya ia kini berlari menuju lantai satu rumah tersebut.


"Mama!" teriak Al lagi dan teriakan dari Al tadi berhasil membuat Ciara yang tadinya tengah sibuk menyiapkan makanan khusus untuk Al pun kini ia berlari menghampiri Al.


"Mama ada disini sayang. Ada apa?" tanya Ciara yang masih berjalan menghampiri Al.


"Al hanya mau tanya sesuatu ke Mama," ucap Al yang membuat Ciara tiba-tiba tak tenang. Takut jika Al sudah mengetahui keadaan Yura yang sebenarnya.


"Ta---tanya apa?"


"Tanya masalah kalung yang terakhir kali Al pakai. Apa Mama melihat kalung itu?" tanya Al. Dan ucapan dari Al tadi membuat Ciara menghela nafas lega.

__ADS_1


"Ma, Mama tau tidak?" ulang Al.


"Iya sayang. Mama tau kok kalung Al itu karena Mama yang menyimpannya," ujar Ciara.


"Huh, syukurlah kalau kalung itu ada dengan Mama. Al boleh kan minta kalung itu sekarang?" tutur Al.


"Tentu saja. Biar Mama ambilkan di kamar Mama sekarang. Al mau ikut atau nunggu disini saja?"


"Al ikut," ucap Al yang diangguki oleh Ciara.


Dan kini kedua orang tersebut menuju ke kamar Ciara. Hingga saat keduanya sampai di kamar, Ciara bergegas mencarikan kalung yang dimaksud mal tadi.


"Oh ya Al, Mama tidak pernah tau kamu punya kalung ini. Bahkan Mama saat pertama kali menerima kalung ini dari suster, Mama pikir itu kalung milik orang yang nolongin kamu yang tidak sengaja jatuh di brankar kamu dulu. Tapi kata suster itu, kalung ini kamu pakai. Kalau boleh tau kalung ini kapan kamu beli?" tanya Ciara kepo sembari tangannya terulur untuk memberikan kalung tersebut kearah Al yang langsung diambil oleh Al dengan senyum lebarnya.


"Kalung ini bukan Al sendiri yang beli. Tapi kalung ini adalah pemberian dari Yura saat ulang tahun Al," ujar Al.


"Dan apa Mama tidak sadar jika di belakang liontin kalung ini tuh ada nama kita berdua, dan jika liontin ini di buka, didalamnya ada foto kita berdua. Lucu kan, Ma," sambung Al sembari menunjukkan foto tersebut kearah Ciara.


Ciara yang melihat itu semua, tiba-tiba ia merasa kasihan dengan anak laki-laki tersebut. Hingga kini ia bergerak untuk memeluk tubuh Al dengan sangat erat. Bahkan ia kini meneteskan air matanya.


Al yang tubuhnya tiba-tiba mendapat pelukan pun ia tampak terkejut sesaat sebelum dirinya membalas pelukan dari Ciara tadi.


"Are you okey, Ma?" tanya Al dengan ucapan lembut yang ia lakukan di punggung sang Mama.


"Mama gak papa sayang. Mama hanya ingin peluk Al saja. Jadi izinkan Mama untuk peluk Al sebentar saja," ujar Ciara dengan berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan tangisnya itu.


"Mama tidak perlu meminta izin ke Al. Jika Mama mau peluk Al, silahkan karena pemilik raga Al sekarang adalah Mama," tutur Al yang semakin membuat Ciara semakin deras mengeluarkan air matanya.


"Semoga kamu kuat saat suatu hari nanti kamu mengetahui keadaan Yura yang sebenarnya sayang. Dan maafkan Mama sama Papa yang selalu berbohong ke kamu masalah Yura. Maaf sayang, maaf," batin Ciara.

__ADS_1


__ADS_2