Young Mother

Young Mother
Memberitahu Al


__ADS_3

Kini keluarga kecil Devano telah kembali ke rumah pribadi mereka setalah memberitahu kepastian kandungannya dan memperlihatkan hasil USG pertama janin di dalam perut Ciara ke Mommy Nina juga Daddy Tian.


Ciara dan Devano telah masuk kedalam kamarnya, begitu juga dengan Al yang katanya ia ingin membersihkan dirinya karena badannya sudah lengket dengan keringat.


Ciara menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk kamar tersebut.


"Sayang," panggil Devano yang ikut merebahkan tubuhnya disamping Ciara.


Ciara yang tadinya menutup mata kini terbuka kembali dan menoleh kearah Devano.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku boleh meluk kamu?" Izin Devano. Ia takut jika saat dirinya tiba-tiba memeluk tanpa izin, Ciara akan marah dan merajuk kepadanya. Dan sekarang ia paham perubahan sikap dari Ciara itu disebabkan karena ada janin didalam perut istrinya dan dia akan memaklumi itu.


Ciara tersenyum, kemudian ia memiringkan tubuhnya, menghadap kearah Devano. Lalu ia merentangkan kedua tangannya.


"Boleh?" tanya Devano memastikan. Ciara menganggukkan kepalanya.


Mata Devano kini berbinar dengan senyum yang merekah di bibirnya ia memeluk tubuh Ciara yang sudah lama tak ia sentuh dengan menyembunyikan wajahnya di dada Ciara yang terasa empuk.


"Rindu," ucap Devano sembari mendangakan kepalanya menatap wajah Ciara yang sekarang tengah menunduk dan menatapnya.


"Maaf," tutur Ciara yang merasa bersalah telah mengabaikan suaminya beberapa minggu terakhir ini.


Devano melepaskan pelukannya saat menatap mata Ciara yang sudah siap mengeluarkan air mata itu.


"Hey kenapa minta maaf? dan kenapa kamu jadi melow gini?" Devano menangkup kedua pipi Ciara dan menghapus air mata istrinya yang sudah mulai menetes lewat samping mata indah itu.


"Aku salah karena udah cuekin kamu beberapa minggu terakhir ini hiks... maaf aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu hiks," tutur Ciara dengan sesenggukan. Devano menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Dulu saat ia tak mengerti alasan Ciara berubah memang ia akuin, ia merasa jengkel dengan Ciara tapi setelah mengetahui alasan dibalik itu semua, Devano mencoba memahaminya.


Devano kini membawa Ciara kedalam pelukannya.


"Kata siapa kamu belum bisa jadi istri yang baik? dimataku kamu wanita yang paling sempurna. Mengurus Al juga aku tanpa mengeluh sedikitpun ditambah kamu juga mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Itu sudah membuktikan kalau kamu istri yang sangat sempurna untukku. Sikap kamu minggu-minggu lalu juga bukan karena mau kamu tapi mau dedek bayi di perut kamu ini," tutur Devano sembari melepaskan pelukannya tadi kemudian mengelus perut Ciara yang masih tampak rata.


"Tapi aku udah keterlaluan hiks." Devano kembali menatap wajah Ciara yang sudah mulai memerah.


"Sudah-sudah tak apa sayang. Please jangan nangis lagi ya. Kalau kamu nangis gini, dedek bayinya juga ikut nangis lho," bujuk Devano.


Ciara tampak menghentikan tangisnya yang langsung membuat Devano tersenyum kemudian ia mencium kening Ciara.


"Nah kalau gak nangis gini kan jadi tambah cantik." Ciara kini mencebikkan bibirnya.


"Rayuan gombal kamu itu perlu di upgrade sayang," tutur Ciara sembari bangkit dari tidurnya.


Devano yang melihat Ciara kembali menjauh dari tubuhnya pun segera bertanya.


"Kamu mau kemana? Aku belum puas manja-manja sama kamu lho ini."


Ciara membalikan badannya setelah selesai mencempol rambutnya yang kini memperlihatkan leher jenjangnya.


"Mau mandi, matahari udah mau tenggelam. Kalau ditunda-tunda lagi takut masuk angin. Kalau sakitnya sendiri sih gak papa tapi ini udah ada kehidupan di perut aku jadi sebaiknya mencegah dari pada mengobati," ucap Ciara.


Devano kini ikut bangkit dari tidurnya dan langsung berlari mendekati Ciara.


"Mandi bareng yuk." Devano mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Enggak ya. Mandi sendiri-sendiri," tolak Ciara.

__ADS_1


"Ck, ayo lah sayang. Cuma mandi doang bukan minta yang lainnya," rayu Devano sembari menunjukkan wajah memelasnya.


Ciara tampak menghela nafas panjang.


"Baiklah. Tapi awas ya kalau minta plus-plus."


"Iya enggak, tapi kalau nanti khilaf ya gak tau," tutur Devano yang langsung mendapat pelototan Ciara.


"Ya kan gak ada yang tau sayang. Toh kita udah lama gak berhubungan. Terakhir saat kamu selesai haid bulan lalu sampai sekarang kita belum bercocok tanam lagi. Lihat tubuh kamu tanpa sehelai benang aja udah jarang apalagi berbuat begituan," sambung Devano dengan wajah yang murung.


Ciara tiba-tiba memeluk tubuh Devano. Ia merasa kasihan dengan suaminya ini yang sudah berpuasa mungkin satu bulan lebih.


"Maaf, bukannya aku menolak tapi aku takut saat kita melakukan hubungan akan terjadi hal yang tidak diinginkan dengan calon anak kita nanti."


Devano kini memeluk tubuh Ciara dengan erat.


"Ya sudah tak apa. Aku akan puasa lagi sampai usia kandungan kamu memang sudah cukup kuat buat kita berhubungan. Tapi kalau cuma pegang-pegang dikit bisa kali lah," ucap Devano.


"Kamu ini. Terserah lah. Jadi ikut mandi gak, kalau gak ya udah." Ciara kini sudah masuk kedalam kamar mandi yang langsung di ikuti Devano.


Hampir satu jam lebih satu pasangan itu baru selesai mandi. Dan kini Devano tengah membantu Ciara mengeringkan rambutnya.


"Sayang," panggil Ciara.


"Hmmm."


"Kapan kita kasih tau kabar ini ke Al?" tanya Ciara.


Devano menghentikkan aktivitas tangannya kemudian ia menatap wajah Ciara melalui pantulan cermin didepannya.


"Lebih cepat lebih baik sayang."


Ciara kini memutar tubuhnya tanpa beranjak dari kursi riasnya, lalu menghadap Devano yang langsung menjongkokan tubuhnya di hadapannya.


"Ganti baju dulu sana, rambut kamu juga udah kering setelah itu baru kita ke kamar Al." Ciara mengangguk kemudian ia mencium sekilas bibir Devano sebelum beranjak menuju walk in closet untuk mengganti handuk kimononya dengan baju kesehariannya.


Sedangkan Devano yang sudah berpakaian santai, ia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya sesaat sebelum Ciara siap dengan pakaiannya.


10 menit telah berlalu, akhirnya Ciara sudah keluar dari ruangan khusus itu kemudian ia mendekati Devano yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Mau sekarang atau nanti saja setelah pekerjaan kamu selesai?" tanya Ciara sembari duduk di sofa tepat disebelah tubuh Devano.


Devano menutup laptopnya saat mendengar suara Ciara. Kemudian ia menaruh alat elektronik tersebut di atas meja didepannya.


"Yuk, sekarang aja. Jangan lupa bawa hasil USG tadi buat bukti untuk Al," ucap Devano. Ciara pun mengangguk kemudian ia beranjak menuju nakas di samping tempat tidurnya untuk mengambil hasil USG tadi dan setelahnya ia juga Devano keluar dari kamar mereka menuju ke kamar Al.


Sudah menjadi kebiasaan Ciara juga Devano, sebelum mereka masuk kedalam kamar sang anak, mereka pasti akan mengetuk pintu kamar tersebut terlebih dahulu. Hal itu mereka lakukan agar Al bisa mencontoh perilaku tersebut dan mereka berharap dengan hal itu Al bisa meningkatkan sopan santunnya walaupun dengan hal kecil tapi seperti kata pepatah kalau anak itu akan meniru kelakuan kedua orangtuanya. Dan lebih baik sopan santun dan berbagai etika lainnya, mereka tanamkan sejak dini di diri anak-anak mereka, daripada terlambat nantinya yang membuat mereka akan kesusahan sendiri nanti.


Sedangkan Al yang sudah tau pasti orang yang mengetuk pintunya itu adalah salah satu dari orangtuanya, tanpa melayangkan pertanyaan terlebih dahulu, ia langsung membukakan pintu untuk orangtuannya.


"Mama sama Papa boleh masuk?" izin Ciara. Al pun membuka pintu kamarnya lebih lebar dan mempersilahkan orangtuanya untuk masuk kedalam kamarnya.


"Al udah mandi?" tanya Devano basa-basi terlebih dahulu walaupun didalam hatinya sudah berdisko ria. Ia takut jika Al tak mau menerima keberadaan calon adiknya itu.


"Sudah tadi, Papa," jawab Al sembari duduk di pangkuan Devano yang lebih dulu duduk di lantai yang terlapisi karpet bulu.


Devano mengangguk setelah itu ia menatap istrinya untuk segera memulai topik utama yang akan mereka sampaikan kepada Al.


"Hmmm Al." Al menoleh kearah Ciara.

__ADS_1


"Iya."


"Mama mau bicara sama Al."


"Bicara saja Mama. Kan setiap hari memang kita saling bicara satu sama lain," tutur Al dengan polos.


Ciara hanya bisa tersenyum kemudian ia mengelus rambut Al. Lalu merubah posisi duduknya di depan Al agar ia bisa berhadapan langsung dengan wajah Al.


"Sebenarnya Mama sama Papa kesini mau kasih tau Al tentang sesuatu."


"Benarkah? apa itu?" tanya Al saat Ciara memperlihatkan hasil USG tadi di hadapan Al.


"Ini adalah hasil USG di perut Mama," ucap Ciara.


"Al tidak mengerti," tutur Al dengan wajah kebingungan.


"Al coba lihat di foto ini." Al menuruti ucapannya untuk melihat kearah jari telunjuk Ciara yang tengah menunjuk kantung janin di foto USG itu.


"Itu lubang? Astaga, di perut Mama ada lubangnya. Papa coba lihat," heboh Al.


"Mama, apa kondisi Mama baik-baik saja? Coba katakan ke Al, diperut Mama sebelah mana yang sakit?" sambung Al dengan meluncurkan pertanyaan yang membuat Devano dan Ciara hanya bisa meringis saja.


"Hey boy tenang lah. Mama tidak lagi sakit. Mama sehat-sehat saja sayang," ucap Devano.


"Tapi di perut Mama ada lubangnya, Papa." Al mendongakkan kepalanya dan menatap Devano.


"Itu bukan lubang, boy. Melainkan itu adalah kantung janin," jelas Devano.


"Kantung janin itu apa?"


"Kantung janin itu adalah tempat dimana dedek bayi akan tinggal nantinya sebelum lahir ke dunia," jawab Devano dengan setenang mungkin.


"Dedek bayi?" Devano dan Ciara dengan serempak mengangguk.


"Iya sayang. Jadi Mama bukan sakit melainkan ada dedek bayi yang nantinya akan menjadi adik Al didalam pergi Mama sekarang," jelas Devano.


"Al mau punya adik? Al akan jadi kakak?" Lagi-lagi kedua pasangan suami istri itu mengangguk, menjawab pertanyaan dari anak pertama mereka.


Tak mereka sangka, apa yang Devano dan Ciara khawatirkan malah justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Pasalnya setelah Al melihat kedua orangtuanya mengangguk, ia langsung menatap binar kearah Ciara kemudian tanpa mereka duga Al langsung mengelus perut Ciara dengan sayang.


Setelah itu ia memeluk tubuh Ciara.


"Terimakasih Mama. Al nanti ada teman main kalau dirumah. Al senang sekali. Terimakasih," ucap Al.


Ciara tersenyum bahkan air mata bahagianya telah menetes sedari tadi saat Al mengelus perutnya.


"Terimakasih juga sayang, sudah mau menerima dedek bayi yang akan hadir di keluarga kita dengan senang hati," tutur Ciara.


Devano tersenyum melihat kebahagiaan dari kedua orang yang sangat ia cintai itu. Kemudian tangannya terangkat untuk menghapus air mata Ciara sebelum ia mendaratkan kecupan manis di kening sang istri lalu kecupan itu berpindah ke kepala Al kemudian Devano bergabung kedalam pelukan anak dan istrinya itu dengan Al di tengah-tengah antara dirinya juga Ciara.


Kebahagiaan telah terpancar di wajah mereka bertiga yang sebentar lagi akan menambah anggota baru di keluarga kecil mereka. Semoga saja kebahagiaan ini bukan untuk sementara saja melainkan selamanya.


...****************...


Hay Hay Hay para sayang-sayangku semuanya. Bagaimana kabarnya, sehat kan? harus dong. Jangan pada sakit ya, jaga kesehatan kalian baik-baik.


Berhubung author absurd ini baik hati dan tidak sombong, hari ini author kasih bonus up untuk menemani hari libur kalian walaupun sebenarnya author sedih karena semakin hari likenya semakin turun huh. Menyebalkan 😑 Hari ini harus mencapai 500 like buat eps hari ini. Gak mau tau pokoknya, author maksa ini🀭


Maaf kalau masih banyak kekurangan dalam cerita ini πŸ™ Dan jangan lupa yang belum mampir di cerita author yang judulnya "The Triplets STORY" segera meluncur kuy, author tunggu πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa untuk LIKE, KOMEN, VOTE dan KASIH HADIAH 😘 biar author tambah semangat gitu lho hehehe 🀭


Happy reading sayang-sayangku πŸ€— See you next eps bye πŸ‘‹


__ADS_2