
Mereka berdua terus saja berpelukan seakan-akan tak mau berjauhan sedetik pun hingga suara Ciara terdengar.
"Al," panggil Ciara dengan lembut.
Al pun perlahan melepaskan pelukannya dari Devano dan menatap kearah Mamanya.
"Al belum bersiap buat berangkat ke sekolah kan?" tanya Ciara dan dijawab dengan anggukan Al.
"Kalau belum kita bersiap sekarang yuk. Takutnya nanti Al telat pergi ke sekolahnya," tutur Ciara dengan senyum lembut yang hanya ia berikan ke putra semata wayangnya itu.
"Ayo Ma," ucap Al.
"Al duluan ke atas ya, nanti Mama susul," tutur Ciara.
Al lagi-lagi mengangguk patuh dengan ucapan dan perintah dari Ciara. Namun sebelum ia beranjak dari depan Devano, ia kembali menatap Devano.
"Uncle, Al keatas dulu ya karena Al mau bersiap kesekolah," pamit Al. Setelah itu tanpa Devano duga, Al mencium pipinya.
Devano yang mendapatkan ciuman dari sang anak pun tersenyum bahagia.
"Sekolah yang pintar ya sayang," tutur Devano dengan membalas ciuman di pipi Al.
"Tentu," timpal Al, kemudian ia mulai berjalan meninggalkan Devano dan Ciara dengan lambaian tangan yang ia berikan ke Devano.
Setelah kepergian Al dari hadapan mereka berdua. Kini suasana dalam ruangan tersebut kembali menegangkan.
"Pergi dari sini dan jangan pernah menunjukan wajahmu dihadapan ku maupun Al," ucap Ciara dengan kilatan kekecewaan pada matanya.
Devano perlahan mendekati Ciara.
"Oke aku sekarang pergi dari sini. Tapi aku pasti akan kembali lagi. Aku tak akan menyerah untuk kembali mendapatkanmu dan juga Al. Apapun yang terjadi. Kamu dan Al selamanya akan menjadi milikku. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ingat dan dengarkan kalau aku sangat mencintaimu, sayang," tutur Devano sembari merengkuh tubuh Ciara kemudian ia meninggalkan ciuman di kening wanitanya itu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Sedangkan Ciara yang mendengar ucapan Devano dan juga mendapat perlakuan yang tak terduga dari laki-laki itu pun merasakan ada sesuatu yang aneh di dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Masih dalam keadaan syok tadi, Ciara sampai tak mengetahui jika Devano sudah pergi dari hadapannya. Namun sesaat kemudian ia mengerjabkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya.
Ia menghela nafas setelah melihat Devano tak lagi di sekitarnya. Ia benci dengan dirinya sendiri yang merasakan kembali masa-masa yang dulu pernah ia rasakan kepada Devano.
"Bukan, ini bukan rasa suka lagi, tapi memang jantungku lagi gak normal aja. Nanti akan aku periksakan ke dokter spesialis jantung," gumam Ciara meyakinkan dirinya sendiri dan menangkis semua pikirannya. Ia harus ingat jika Devano mungkin hanya memanfaatkan dirinya untuk mendekati Al saja setelah ia berdekatan dengan Al, ia akan mulai merebut anak laki-laki itu dari genggaman tangan Ciara.
"Gak itu tidak akan pernah terjadi," sambungnya. Setalah itu ia menuju ke lantai atas untuk membantu Al menyiapkan segala keperluannya di sekolah.
...*****...
Setibanya di kantor, Devano tanpa ragu melebarkan senyumnya. Senyum yang selalu ia sembunyikan kini merekah dan dengan senang hati ia memperlihatkannya ke karyawan yang menyapanya dan yang ia lewati. Hal itu pun langsung membuat gempar para karyawan yang dibuat terpana dengan senyum manis seorang Devano.
__ADS_1
"Ya ampun ganteng banget."
"Pak Dev manis banget."
"Gula di rumah gue insecur sama senyum pak Dev."
"Hati adek meleleh bang."
"Emak gue kalau dapat menantu kayak pak Dev seneng kali ya. Sabi lah pak jadi laki gue."
"Ya Tuhan nikmat mana lagi ini."
"Eh itu beneran pak Dev kan?"
"Ngeri anjir lihat pak Dev kayak gitu."
"Sama weh gue takut tuh bos lagi kesurupan."
"Ya ampun pak Dev nikahin aku cepat. Rahimku sudah menghangat ini."
Begitulah bisikan ngawur dari para karyawan Devano. Namun ia hanya mengabaikannya saja. Ia tak mau hari yang paling indah ini hancur karena ia menanggapi bisikan tadi dan ia juga akan berbaik hati untuk hari ini, meloloskan karyawannya yang dengan terbuka menggosipkan dirinya itu. Tapi mungkin kalau bukan hari indahnya, ia sudah pastikan akan memecat mereka semua tanpa pengecualian.
Devano terus berjalan dan menaiki lift untuk menuju ke ruangannya. Sesampainya dia di ruangannya, Devano segera menelepon Nando, orang yang dulu pernah membantu Devano mencari tahu alamat rumah Olive, sekaligus orang kepercayaan Devano.
"Cari tau mengenai data anak saya, Al. Dia sekolah dimana dan juga nomor ponsel Ciara. Kerahkan semua bodyguard saya untuk memantau semua kegiatan mereka dari jarak jauh ataupun dekat yang terpenting jangan sampai mereka merasa terganggu akan kehadiran kalian. Dan saya tak mau mendengar jika anak saya dan juga Ciara terluka sedikitpun. Paham!" ucap Devano setelah sambungan telepon terhubung.
"Saya tunggu informasi tentang mereka berdua sampai jam istirahat kantor nanti," tutur Devano dan tanpa menunggu jawaban dari Nando, ia mematikan sambungan telepon antara keduanya begitu saja.
Kini Devano mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, matanya kini ia alihkan ke beberapa dokumen yang menumpuk di depannya.
"Ck, kapan sih ini dokumen gak numpuk disini?" gumamnya yang tiba-tiba tak bersemangat menyelesaikan pekerjaan kantornya.
"Dah lah kerjain aja. Mau selesai atau tidak, aku udah gak peduli yang terpenting sekarang adalah Al dan juga Ciara," sambungnya dengan membayangkan kembali wajah Ciara dan juga Al yang memeluk dirinya dengan erat. Tapi sayang itu hanya hayalan dirinya saja.
"Suatu saat hayalanku akan menjadi kenyataan. Ck, persetanan dengan dokumen-dokumen ini, pokoknya nanti siang aku harus jemput Al bagaimana pun caranya," gumamnya lagi bahkan senyumnya kembali terbit.
Tak berselang lama, suara ketukan pun terdengar.
"Masuk!" perintah Devano. Dan kini pintu tersebut terbuka lebar dan langsung menampilkan sosok sekertarisnya yang tak lain dan tak bukan adalah Lidya.
Lidya berjalan melenggak-lenggok menghampiri Devano dengan tampilan seperti biasa yang selalu menggugah gairah para lelaki, yaitu dengan menggunakan rok span setengah paha, kemeja putih yang tembus pandang dan ketat bahkan dua kancing terbuka memperlihatkan belahan dadanya yang menyembul. Ia selalu saja memakai pakaian kurang bahan hanya untuk menggoda seorang Devano, atasannya sendiri. Bahkan jika Mommy Nina datang ke kantor, Lidya akan berperilaku sok kenal dan sok dekat kepada Mommy Nina. Mungkin dengan cara itu Lidya akan mendapatkan lampu hijau dari mommy Nina. Tapi sayang Mommy Nina pun juga muak akan kelakuan Lidya tadi. Apalagi Devano yang menjadi tujuan utama Lidya, ia tak pernah sama sekali tergoda rayuan dan tubuh Lidya bahkan meliriknya saja Devano enggan. Andai saja kinerja Lidya tak bagus, Devano pasti sudah mendepak sekertaris gila itu.
"Ada apa?" tanya Devano dingin bahkan senyumnya sudah tak ia tampilkan lagi.
"Emmm saya mau menyerahkan dokumen ini dan sekaligus memberitahu bapak kalau nanti di jam makan siang ada meeting dengan perusahaan Hansen's Corp," ucap Lidya dengan membungkukkan tubuhnya sedikit supaya buah dadanya dapat dilihat Devano. Tak lupa dengan suara yang ia buat secentil mungkin sambil menggigit bibir bawahnya agar terlihat seksi dengan sedikit suara mendesah yang ia keluarkan dari mulutnya.
__ADS_1
Devano menaikan satu alisnya saat mendengar nama Hansen's Corp disebut oleh Lidya.
"Hansen's Corp?" tanyanya memastikan.
"Iya pak, seminggu yang lalu mereka menawarkan kerja sama. Sepertinya bapak lupa, bukankah bapak sediri yang menunjuk saya sebagai perwakilan bapak karena waktu itu bapak memberitahu saya jika bapak kemungkinan tak bisa hadir dalam meeting ini," ucap Lidya menjelaskan.
Devano mengangguk, ia tak akan lupa dengan hal itu, hanya saja ia tadi tengah memastikan saja jika dirinya tak salah dengar.
"Oke, siapkan semua berkas untuk meeting dengan Hansen's Corp!" perintahnya.
"Oh ya, meeting diadakan dimana?" sambung Devano.
"Untuk meeting ini diadakan di Puspa Cafe & Resto, pak."
Devano pun menganggukkan kepalanya paham.
"Apa jadwal saya hari ini cuma itu saja?"
"Tidak pak, nanti sore pukul 3 ada meeting dengan pak Hermawan, selaku pemimpin cabang dari Prancis dan juga pukul 4 nanti akan ada meeting dengan Kilfa Corp," tutur Lidya.
"Kamu handle saja meeting dengan pak Hermawan dan juga Kilfa Corp. Dan untuk Hansen's Corp biar saya sendiri yang menghadiri meeting itu," ucap Devano.
"Tapi pak bukannya---" belum sempat Lidya menyelesaikan ucapannya tadi, tatapan tajam milik Devano menghentikannya.
"Ba---baik pak, saya akan melakukannya," tutur Lidya.
Tanpa merespon lagi, tangan Devano kini ia kibaskan untuk menyuruh Lidya segera pergi dari hadapannya.
Namun Lidya masih saja berdiri di depan Devano yang membuat sang empu merasa jengah dengan tingkah Lidya itu.
"Kenapa masih disini? keluar sekarang!"
"Eh ah maaf pak," ucapnya sembari berjalan meninggalkan Devano.
Namun sebelum Lidya meraih knop pintu, terdengar suara Devano kembali.
"Tunggu!" cegah Devano yang membuat hati Lidya menjerit kegirangan. Mungkin Devano mencegahnya kali ini karena sang bos sudah terperanjat dalam godaannya itu.
Dengan senyum yang mengembang tak lupa tangannya ia gunakan untuk menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, Lidya memutar tubuhnya sehingga bisa menatap Devano.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanyanya basa-basi.
"Tolong mulai besok dan seterusnya, pakaian kamu yang kurang bahan seperti ini diganti. Disini kantor bukan tempat untuk jual diri," tutur Devano yang membuat Lidya seakan tertampar cukup keras bahkan senyum yang tadinya merekah kini memudar. Ia menghentakkan kakinya, sebal. Ia merasa harga dirinya di injak-injak sekarang, bahkan ia juga sangat malu. Dan setalah itu ia bergegas keluar dari ruangan Devano dengan wajah memerah.
...*****...
__ADS_1
Yuk bisa yuk 400 like💪
Happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋