
Para OB dan OG yang berada didalam ruangannya terperanjat kaget saat melihat Devano masuk kedalam ruangan tersebut dengan santainya yang membuat semua orang disana langsung berdiri dan menundukkan kepalanya. Ada apa gerangan? kenapa bos mereka sampai menghampiri ruangan tersebut? Apa ada sesuatu yang di lakukan salah satu OB atau OG disana yang mengakibatkan bos mereka marah tadi? atau ada pengurangan karyawan? Arkh, pikiran semua orang disana sekarang benar-benar kacau dan tak bisa tenang lagi. Merasa takut jika ada yang di keluarkan dari perkejaan ini, pekerjaan yang selalu mereka andalkan untuk menyambung hidup mereka juga keluarga mereka. Jika mereka di kelurakan mau cari pekerjaan dimana? sangat sulit sekarang mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka punya.
Devano menatap datar satu persatu orang-orang di depannya yang masih dalam posisi menundukkan kepalanya. Ia bahkan sempat menghela nafas dan berdecak karena tak ada satu orang pun yang membuka suaranya. Walaupun hanya sekedar bertanya apa yang dia perlukan, para OB dan OG tersebut masih saja menutup rapat mulut mereka hingga membuat Devano jengah dan memulai lebih dulu buka suara.
"Berikan saya kunci toilet disebelah meeting room sekarang!" perintah Devano tak terbantahkan.
Para OB dan OG yang tadinya menundukkan kepalanya kini saling pandang, tak mengerti. Lagi-lagi Devano berdecak kesal.
"Ck, kalian paham tidak apa yang saya katakan tadi? Ambilkan saya kunci toilet disebelah meeting room sekarang!" ulang Devano dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya.
Para OB dan OG tadi seketika langsung berhamburan menuju lemari khusus yang digunakan untuk menggantung berbagai kunci disana. Setelah salah satu OG menemukan kunci yang di butuhkan Devano. Mereka kembali ke posisi semula.
"I---ini Pak kuncinya," ucap salah satu OG sembari menyerahkan kunci tadi di hadapan Devano.
Devano mengambil kunci tersebut dan tanpa berkata sedikitpun ia langsung keluar dari ruang khusus OB dan OG tersebut. Hal tersebut mampu membuat semua orang tadi menghela nafas lega. Pikiran yang tidak-tidak tadi seketika sirna di otak mereka.
Dengan cepat Devano menuju kamar mandi di samping meeting room sesuai apa yang di katakan Ciara tadi.
Saat sudah masuk kedalam kamar mandi tersebut, netranya langsung tertuju ke arah Ciara yang kini tengah menangis. Devano berlari kearah sang istri dan segera memeluk tubuh yang sangat gempal tersebut. Entah apa yang membuat istrinya itu menangis sekarang. Jika itu ulah orang lain, jangan harap orang itu bisa hidup tenang. Akan Devano hancurkan hingga akar-akarnya.
"Sayang kenapa?" tanya Devano saat Ciara sudah berada didalam pelukannya.
__ADS_1
"Hiks, kamu kenapa lama banget hiks," ucap Ciara.
"Maaf sayang. Coba cerita ada apa? Apa ada orang yang mencoba menyakitmu?" Ciara menggelengkan kepalanya.
"Ada orang yang mengancammu?" lagi-lagi Ciara menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tadi sempat jatuh? jika itu benar, katakan dimana yang sakit?" tanya Devano dengan penuh ke khawatiran bahkan pelukannya kini telah terlepas dan kini ia mengamati Ciara dari atas sampai bawah, depan dan belakang. Memastikan jika istrinya itu tak terluka sedikitpun.
"Ck, hiks aku bukan jatuh ih," geram Ciara sembari memukul lengan Devano.
"Ya terus kenapa?" tanya Devano frustasi.
"Kata Hisna, didalam tadi ada kecoa. Dia takut dengan hewan itu. Hiks kasihan dia, sayang. Bukain pintunya cepetan." Devano kini di buat melongo seperti orang bodoh saat mendengar penuturan dari Ciara tadi. Ya ampun kenapa istrinya sekarang sangat dramatis sekali, bikin jantungnya ingin copot saja saat melihat wanita itu menangis sesenggukan.
Devano kini mengusap wajahnya kasar kemudian ia melangkahkan kakinya di depan pintu yang Ciara tunjuk. Dan ia segera membuka pintu tersebut. Tak berselang lama setelah mencocokkan kunci yang pas di pintu tersebut akhirnya pintu itu terbuka lebar dan langsung menampilkan wajah Hisna yang nyengir saat mendapati wajah garang Devano di hadapannya.
Ciara yang melihat pintu sudah terbuka, ia langsung menyingkirkan tubuh suaminya agar menggeser tubuh tersebut.
"Hisna hiks," ucap Ciara kemudian ia berhamburan kedalam pelukan sekertaris suaminya itu.
Devano yang melihat hal itu memutar bola matanya malas kemudian ia beranjak dari kamar mandi tersebut menuju ruangannya kembali. Dan untuk kunci yang ia pinjam tadi, biarkan salah satu OB-nya yang mengambil sendiri di ruangannya.
__ADS_1
Sedangkan Ciara kini masih memeluk tubuh Hisna yang di balas pelukan oleh sang empu.
"Sudah bu, saya tidak apa-apa. Tadi hanya kaget saja lihat kecoa," tutur Hisna menenangkan Ciara.
Ciara kini melepaskan pelukannya dan segera memutar tubuh Hisna sembari menelisik setiap inci tubuh tersebut. Kini Ciara bisa bernafas lega saat ia tak menemukan satu luka pun di badan wanita itu yang kini tengah memegangi kepalanya karena pusing akibat Ciara memutar tubuhnya beberapa kali.
"Huft, aman gak ada luka," ucap Ciara sembari menghapus air matanya yang tersisa di pipi gembulnya.
"Ayo kita keluar dari sini sebelum kita berdua yang di kunci dikamar mandi ini lagi," ucap Ciara dan tanpa canggung ia menggandeng tangan Hisna keluar dari kamar mandi tersebut.
Didalam perjalanan menuju ke ruangan Devano tak ada yang membuka suaranya. Hingga Hisna memberanikan diri untuk berucap.
"Terimakasih telah membantu saya keluar dari kamar mandi tadi, Bu. Maaf sudah merepotkan, ibu," ucap Hisna sembari tangannya yang tak di pegang oleh Ciara, ia gunakan untuk meremas roknya. Ia merasa tak enak karena sudah merepotkan kedua atasannya itu.
Ciara menolehkan kepalanya kearah Hisna dengan senyum yang mengembang.
"Sama-sama. Tak apa Na, saya merasa tak di repotkan oleh kamu sedikitpun, yang penting kamu tidak apa-apa saja sudah cukup buat saya tenang," tutur Ciara kemudian tangan Ciara yang tadi bertengger di lengan Hisna kini terlepas saat langkah kaki mereka sampai di depan ruang kerja Hisna.
"Sudah jangan merasa tak enak seperti itu. Kembali bekerja sana," ucap Ciara dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Hisna mengangguk dan membalas senyum itu.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih, Bu," ucap Hisna sopan. Ciara menganggukkan kepalanya setelah memastikan sekertaris itu kembali bekerja, baru ia masuk kedalam ruangan Devano.
Sedangkan Hisna yang melihat tubuh Ciara yang sudah hilang dari pandangannya, ia kembali menerbitkan senyumnya. Ia sangat bersyukur bisa memiliki atasan yang begitu Hubble kesemua karyawan disana. Walaupun Ciara tak menjabat apa-apa di kantor tersebut tapi ia sering sekali bertegur sapa atau tak segan-segan menolong para karyawan yang tengah kesusahan saat sang empu tengah berkunjung di kantor tersebut. Maka dari itu banyak karyawan yang sangat suka sekali dengan Ciara yang bersifat beda jauh dari istri-istri atasan pada umumnya yang terlihat angkuh, sombong dan selalu ingin menang sendiri. Walaupun begitu masih ada beberapa gelintir karyawan kaum iri dengki yang tak suka dengan Ciara, termasuk dengan Lidya yang selalu saja beringinan tinggi untuk merebut Devano dari istri sahnya itu.