
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu karena ditengah perjalanan tadi mereka sempat terjebak macet tapi pada akhirnya kini mobil yang di tumpangi sepasang suami istri itu telah masuk kedalam area markas Devano.
Saat mesin mobil telah mati, Devano bergegas turun dari mobil terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Ciara.
"Terimakasih," ucap Ciara sembari tersenyum yang dibalas senyuman pula oleh Devano. Dan kini keduanya mulai memasuki markas tersebut dengan menyatukan tangan mereka.
"Selama pagi, Tuan bos dan Nyonya bos," sapa beberapa anak buah Devano yang tengah berbaris rapi di balik pintu markas tadi menyambut kedatangan kedua bos mereka.
Ciara yang tak menyangka akan di sambut oleh para anak buah Devano, tadi sempat terkejut apalagi saat melihat jumlah anak buah Devano yang tak sedikit ditambah proporsi tubuh orang-orang itu bisa dikatakan sangat perfect.
"Se---selamat pagi juga," balas Ciara dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Devano yang merasakan ke tegangan dari diri Ciara pun dengan lembut jari jempolnya ia gerakan untuk mengelus punggung tangan Ciara.
"Gak usah takut. Mereka semua jinak. Gak ada yang berani nyakitin kamu. Kalau sampai berani maka urusannya sama aku," bisik Devano yang membuat genggaman erat dari Ciara tadi perlahan berkurang.
"Mau langsung lihat Tiara apa istirahat dulu?" tanya Devano.
"Langsung aja," jawab Ciara walaupun dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia belum siap untuk melihat keadaan Tiara yang sudah bisa ia bayangkan tapi disisi lain ia tak bisa meninggalkan Al dan Kiya lebih lama lagi. Terlebih Kiya yang baru pertamakali jauh darinya mungkin anaknya itu kini tengah rewel dan membuat semua orang yang menjaganya kerepotan sendiri.
"Kamu yakin?" tanya Devano memastikan dan diangguki oleh Ciara.
"Tapi saat kamu lihat keadaan perempuan itu, kamu jangan takut dan berpikir negatif tentang suamimu ini. Karena apa yang aku lakukan itu sudah sangat pantas untuk dia," tutur Devano.
Setelah itu ia melangkahkan kakinya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Ciara hingga mereka memasuki lorong di bawah tanah di markas tersebut diikuti oleh beberapa anak buah Devano di belakang mereka.
Ciara yang baru melihat lorong itu pun menatap setiap inci lorong yang dominan dengan warna gelap dan sangat minim penerangan itu. Mungkin jika lorong itu digunakan untuk uji nyali seperti sangat cocok, pikir Ciara.
Langkah Ciara dan Devano terhenti saat mereka sampai di depan salah satu pintu di bagian ujung lorong tersebut.
__ADS_1
"Siap?" tanya Devano yang langsung mendapat tatapan mata oleh Ciara kemudian istrinya itu menganggukkan kepalanya.
Lalu barulah pintu didepan mereka berdua terbuka. Dan dengan langkah berat Ciara menginjakkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan itu dengan Devano disampingnya.
Dan saat dirinya sudah masuk dan lampu di ruangan tersebut menyala, tubuh Ciara menengang, matanya melebar sempurna bahkan bibirnya sangat sulit untuk mengucapkan satu kata pun. Ia benar-benar syok akan pemandangan didepannya itu.
Devano yang melihat hal itu pun tangannya bergerak untuk mengelus kepala Ciara.
"Are you oke?" tanyanya dengan lembut.
Ciara perlahan menggerakkan kepala untuk menoleh kearah Devano.
"It---itu Tiara?" tanyanya dengan terbata.
"Iya sayang, itu Tiara," jawabnya.
Tiba-tiba saja kaki Ciara terasa lemas tapi sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, Devano dengan sigap meraih pinggang Ciara dan memeluknya sangat erat.
Kini Devano dan Ciara sudah berada di ruang santai di markas tersebut.
"Kamu tunggu disini jangan kemana-mana. Aku ambilin minum dulu," ucap Devano setelah mendudukkan tubuh Ciara disalah satu sofa disana. Setelahnya ia bergegas menuju dapur untuk mengambilkan air putih untuk Ciara lalu ia segera kembali setelah mendapatkan apa yang ia cari tadi.
"Minum dulu," tutur Devano sembari menyodorkan satu gelas air putih kearah Ciara dan membantu istrinya itu untuk meminum air tadi karena ia tak tega melihat kedua tangan Ciara tengah bergetar.
Ciara dengan segera meneguk air tadi hingga tandas. Setelahnya Devano meraih tubuh Ciara kedalam pelukannya saat gelas yang ada ditangannya sudah berpindah ke atas meja.
Devano semakin mengeratkan pelukannya agar membuat Ciara lebih tenang lagi.
"Tenang sayang," ucap Devano sembari mengelus punggung Ciara.
__ADS_1
"Ke---kenapa kalian nyiksa dia sampai parah begitu?" tanya Ciara dengan suara lirih.
"Itu semua hukuman buat dia sayang karena sudah lancang nyulik Al. Dan kamu tau saat Al diculik dia sempat disiksa oleh anak buah Tiara mungkin Tiara juga melakukan itu saat aku belum datang. Ditambah Al sekarang tampak mengalami trauma setelah kejadian itu. Kamu ingat saat dia nangis didalam kamar kita, nah itu salah satu dari tanda-tanda kalau dia tengah mengalami guncangan mental. Jadi apa yang sedang dialami Tiara saat ini tak sebanding dengan mental Al, sayang," tutur Devano.
Ciara terdiam sembari menyimak setiap ucapan Devano tadi bahkan tubuhnya yang sebelumnya bergetar kini sudah mulai tenang lagi.
"Jadi Al sekarang tengah trauma?" tanya Ciara sembari melepaskan pelukannya.
"Mungkin. Dan lebih baik kita setelah ini bawa Al ke psikiater biar traumanya gak semakin dalam dan bisa langsung ditangani," ucap Devano yang diangguki setuju oleh Ciara.
"Jadi gimana masih mau kasih pelajaran buat Tiara?" tanya Devano setelah beberapa menit mereka hanya terdiam.
Ciara menoleh kearah Devano kemudian menggelengkan kepalanya.
"Gak jadi. Aku gak tega lihat dia udah penuh luka seperti itu," jawab Ciara.
"Beneran gak jadi nih?" Ciara menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu. Tapi kamu gak nyesel kan?"
"Ck, gak sayang. Tapi aku penasaran sama kamu. Kenapa kamu gak langsung bunuh dia aja?" tanya Ciara.
"Kalau aku langsung bunuh dia yang ada keenakan dia dong langsung ke akhirat tanpa merasakan apa yang Al rasakan," jawab Devano.
"Terus sampai kapan kamu mau nyiksa dia? kasihan lho sayang kalau lama-lama kamu siksa begitu." Devano menggedikkan bahunya.
"Sampai dia memohon ke aku atau ke salah satu orang-orang disini untuk membunuh dia. Dan pada saat itu penyiksaan dia selesai," ucap Devano yang membuat Ciara bergidik ngeri.
"Kamu gak ada niatan untuk bebasin dia?" tanya Ciara lagi yang langsung mendapat jawaban dari Devano berupa gelengan kepala.
__ADS_1
"Orang seperti Tiara kalau dikasih hidup dia akan semakin gencar melakukan hal yang diluar nalar sayang. Nyawa dia udah pernah diambang kematian untuk yang kedua kalinya sebelum aku melakukan hal seperti ini. Itu pun juga karena ulah dirinya sendiri yang cari gara-gara orang lain yang notabenenya memiliki akses seperti mafia. Tapi waktu itu dengan tebusan yang sangat banyak nyawanya terselamatkan walaupun sudah diujung tanduk. Tapi dia selalu mengulang hal yang sama terus menerus sampai terakhir ia mencari masalah dengan keluarga kita hanya untuk mendapatkanku lebih tepat mendapatkan kekayaan keluargaku dan untuk kali ini jangan harap dia akan terbebas dengan nyawa yang masih bertahan di tubuhnya," tutur Devano dengan kilatan tajam di matanya. Ciara pun kini mengulurkan tangannya untuk mengelus lengan sang suami. Ia jadi takut sendiri saat melihat tatapan yang dipancarkan Devano saat ini.