
"Ehem," dehem Ciara setelah ia memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Ma, Pa, maaf Ciara harus pulang sekarang," ucap Ciara merasa tak enak.
"Kamu mau pulang kemana nak? bukannya ini juga rumah Cia?" tutur Mama Mila sedih.
Ciara menghela nafas dan menatap wajah Mama Mila yang berada disisi kirinya, lalu ia ulurkan tangannya untuk menggenggam kedua tangan Mama Mila.
"Maafin Cia, Ma, Pa. Anak Mama dan Papa yang dulu sering ngeluh dan sangat manja sekarang sudah berubah Ma, Pa. Cia sekarang sudah mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dari sebelumnya. Cia sekarang punya Al, Al putra Cia, separuh nyawa Cia. Al yang selalu membuat Cia kuat hingga saat ini. Dia hidup dan mati Cia, Ma, Pa. Dia sekarang lagi dirumah nungguin Cia pulang. Tadi siang juga Cia lupa jemput dia karena saking rindunya ke kalian hehehehe. Dan sekarang Cia pamit pulang, tapi Cia janji lain waktu Cia akan datang lagi," ucap Ciara meyakinkan kedua orangtuanya yang sepertinya enggan untuk berpisah dengannya.
Mama Mila tampak tertunduk lesu.
"Kenapa Al tidak kamu aja tinggal disini aja?" tanyanya dengan nada sedih.
Ciara tampak menghela nafas, tangannya yang sedari tadi ia tautkan ke tangan Mama Mila perlahan ia mengelus tangan yang sedikit keriput itu.
"Ma, lihat Cia dong," pinta Ciara agar Mama Mila mau menegakan kepalanya kembali dan ucapan Ciara tadi langsung dituruti Mama Mila.
"Ma, Al masih kecil. Kalau tiba-tiba Cia ajak dia untuk menginap disini tanpa ngasih dia pengertian dan adaptasi terlebih dahulu. Takutnya Al akan rewel dan berakhir ia minta pulang. Cia juga takut kalau Al tidak merasa nyaman karena Cia paksa tinggal dirumah ini, tempat baru dan asing baginya. Tapi Cia akan berusaha untuk membantu Al supaya cepat beradaptasi di lingkungan rumah ini. Cia akan sering-sering ajak Al main kesini agar suatu saat nanti dia sendiri yang minta untuk menginap dirumah ini," tutur Ciara panjang lebar.
Mama Mila dan Papa Julian sempat tertegun sebentar. Ia tak percaya dengan sikap dewasa yang sekarang Ciara miliki. Bangga, haru dan sedih menjadi satu. Sedih karena mereka tak melihat perkembangan dan kisah hidup Ciara selama 5 tahun yang lalu. Andaikan waktu bisa diputar kembali, mereka tak akan pernah berkata hal yang menyakitkan untuk Ciara.
"Ma, Pa," panggil Ciara, membuat kedua orangtuanya yang tadi tengah berada dipikiran mereka masing-masing kini tersadar dan saling beradu tatapan.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu pulangnya hati-hati ya. Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin Papa dan Mama. Oh iya jangan lupa sampaikan salam kita ke Al ya kalau bisa besok pagi kamu ajak Al main kesini," tutur Papa Julian.
"Akan Cia usahakan Pa," timpal Ciara sembari berdiri dari duduknya.
"Ciara pamit pulang dulu Ma, Pa, Ki," pamit Ciara sembari mencium kedua telapak tangan orangtuanya dan memeluk tubuh Kiara.
"Jaga Mama sama Papa," pinta Ciara kepada adiknya di sela pelukan mereka.
"Pastinya Kak," ucap Kiara setelah melepas pelukannya dengan senyum manisnya.
Ciara membalas senyum tersebut.
__ADS_1
"Sudah dulu ya. Assalamualaikum," tutur Ciara sembari bergegas keluar dari rumah tersebut.
"Waalaikumsalam," ucap mereka bertiga berbarengan dan mengantar kepergian Ciara sampai di depan pintu utama rumah tersebut.
"Jangan lupa sering-sering main kesini bawa Al," teriak Mama Mila saat Ciara sudah duduk manis di dalam mobil yang dulu sering ia pakai untuk kuliah dan sopirnya pun masih sama seperti dulu.
"Siap Ma," jawab Ciara dengan lambaian tangan saat mobil yang ia tumpangi kini perlahan meninggalkan lingkungan rumah tersebut.
...****************...
Setelah acara baku hantam dan Devano yang sudah berganti pakaian beserta mengobati lukanya, ia kembali ke kantornya yang ternyata 4 sahabatnya tadi masih duduk-duduk manis disana.
"Kenapa belum pulang?" tanya Devano saat mendekati para sahabatnya itu.
"Terserah kita dong," jawab Zidan dengan cuek. Ia masih sakit hati kala wanita yang dulu ia incar malah jatuh di tangan sahabatnya sendiri dengan cara yang menjijikkan.
Devano menggedikkan bahunya cuek lalu ia ikut bergabung bersama 4 orang yang sepertinya tak mempunyai pekerjaan itu padahal mereka semua adalah CEO di perusahaan masing-masing.
Mereka tak saling bicara lagi hanya ada diam diantara mereka, Devano juga tak berniat untuk membersihkan ruangannya yang sudah seperti kapal pecah bahkan ia juga tak berniat untuk mengerjakan pekerjaannya. Karena pikirannya sekarang hanya ada Ciara dan Al, tak ada yang lain yang bisa menggantikan mereka berdua.
Dan setelah itu ia kembali terbengong dengan pikiran yang terus berputar diotaknya. Mengabaikan panggilan telepon yang terus menerus mengganggu semua orang di ruangan tersebut.
"Dev," panggil Vino.
"Hmm."
"Nyokap lo dari tadi telpon tuh. Angkat gih siapa tau penting," ucap Vino.
"Males," balas Devano.
"Angkat bangsat. Berisik dari tadi," geram Zidan.
Devano menghela nafas, kemudian ia segera meraih ponselnya kembali dan mengangkat telepon dari Mommy Nina.
"Kenapa Mom?" tanyanya.
__ADS_1
📞 : "Kamu tuh kemana aja sih? Dari tadi Mommy telepon gak kamu angkat-angkat. Buruan pulang sekarang!" perintah Mommy Nina tak terbantahkan dan setelah mengucapkan hal itu, Mommy Nina langsung mematikan sambungan telepon tersebut begitu saja.
"Huh." Helaan nafas berat Devano.
"Gue cabut dulu, kalau kalian masih mau disini terserah tapi gue gak tanggungjawab kalau kalian nanti ke kunci di ruangan ini," tutur Devano dan beranjak untuk keluar dari ruangannya.
"Bangsat," umpat keempat orang tadi sembari berlalu menyusul Devano untuk keluar dari ruangan tersebut.
...****************...
Devano kini telah sampai di rumah mewah keluarganya dan dengan langkah malas ia masuk kedalam rumah tersebut.
"Asssalam---" salam Devano terputus kala ada seseorang yang menubruk tubuhnya cukup kencang.
"Kangen," rengeknya manja dengan memeluk tubuh Devano dengan sangat erat.
Deg!!
Tubuhnya menegang, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya saat telinganya menangkap suara yang sudah lama tak ia dengar.
"Sayang," panggil orang tersebut saat tak ada respon apapun dari Devano.
"Ih kenapa diam aja sih? Balas pelukan aku dong," rengeknya seperti anak kecil.
Devano mengerjabkan matanya tapi bukannya ia menuruti ucapan wanita didepannya itu melainkan ia malah melonggarkan pelukannya dan membuat matanya bertatapan dengan mata cantik gadis itu. Mata yang dulu sangat ia rindukan kini bisa ia pandang lagi. Tatapan yang sangat menenangkan itu kini kembali lagi.
"Hey, sayang kenapa malah bengong kayak gitu sih. Kamu gak kangen aku gitu?" tanyanya masih dengan rengekan manja.
...****************...
Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚 Kalau bisa 500 Like ya 🤠Kayaknya gak bisa deh, masalahnya akhir-akhir ini like turun 😠mengsedih author jadinya. Ya udah lah gak papaðŸ˜
Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗
Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋
__ADS_1