
Devano terus terdiam, pikirannya masih menimang-nimang untuk pergi atau tetap berada di samping Ciara.
"Dev," panggil Ciara yang berhasil menarik perhatian Devano kembali. Devano menatap teduh kearah Ciara.
"Pergi saja jika memang sangat genting," ucap Ciara yang seakan tau kegusaran dari Devano bahkan hatinya sekarang merasa tak tenang.
Devano mengelus pipi Ciara untuk sesaat sebelum mendaratkan bibirnya di kening Ciara cukup lama.
"Aku tinggal ke ruang kerja dulu. Nanti kalau ada apa-apa telepon aku," ujar Devano dengan cemas. Ciara tersenyum dan mengangguk.
Devano pun segera berlari menuju ruang kerjanya. Sesampainya di sana, Devano langsung menghubungi nomor anak buahnya yang benar-benar ia percayai dan sembari menunggu panggilan dijawab, tangan Devano satunya yang tak ia gunakan untuk menahan ponsel di telinganya pun dengan gesit mengotak-atik laptopnya dan mencari titik dimana Al berada saat ini. Devano mengepalkan tangannya saat melihat titik itu semakin menjauh dari sekolah maupun mansionnya.
📞 : "Halo, selamat siang tuan. Ada yang bisa saya bantu?" suara bariton dari seseorang dari seberang telepon pun menyadarkan Devano.
"Bantu saya cari keberadaan Al disekitar hutan diujung kota. Dan kita akan ketemu di titik lokasi keberadaan Al, nanti saya akan kirim ke kamu. Bergeraklah sekarang ajak semua yang merasa bahwa dia anak buah saya!" perintah Devano dengan tegas.
📞 : "Baik tuan. Kami akan segera bergerak menuju hutan di ujung kota," ucap kepala anak buah Devano itu. Setelah mendengar persetujuan dari anak buahnya tadi, Devano langsung mematikan sambungan telepon keduanya. Lalu ia segera mengirim titik sinyal yang terus bergerak ke anak buahnya.
Setelah berurusan dengan anak buahnya selesai, Devano segera menelepon Mommynya. Panggilan pertama tak diangkat oleh sang empu dan hal itu membuat Devano geram seketika.
Devano mencoba lagi untuk yang kedua kalinya dan akhirnya Mommy Nina mengangkat telepon dari anaknya yang tengah dilanda khawatir akan keselamatan Al dan juga Ciara secara bersama.
📞 : "Halo, assalamualaikum. Ada apa sih Dev? kamu tuh ganggu Mom sama Dad lagi berduaan aja," geram Mommy Nina. Devano yang mendengar hal itu pun hanya memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya orangtuanya itu bermesraan saat anaknya kalut seperti ini.
"Waalaikumsalam. Jangan ngomel dulu Mom. Anakmu ini lagi bingung sekarang dan butuh bantuan Mom sama Dad," tutur Devano tak menatapi omelan dari Mommy Nina tadi.
📞 : "Kamu bingung kenapa? Dan gak seperti biasanya kamu butuh bantuan Mom sama Dad. Biasanya juga kalau ada apa-apa dan Mom sama Dad mau bantu kamu pasti kamunya selalu nolak dengan berbagai alasan yang tak masuk diakal." Devano memijit pangkal hidungnya.
"Mom, please dengerin Dev dulu. Jangan cerewet mulu," geram Devano.
📞 : "Heh anak kurang ajar. Bisa-bisanya nagatain Mommynya sendiri cerewet."
"Astaga. Mom!" ucap Devano frustasi.
📞 : "Baiklah-baiklah Mom gak akan cerewet lagi. Karena dari suara kamu kelihatan kamu memang sangatlah frustasi dan butuh bantuan." Devano menghela nafas kasar.
"Dev butuh bantuan buat jagain Ciara yang lagi proses pembukaan melahirkan."
__ADS_1
📞 : "Hah? Apa? Ciara mau melahirkan? kenapa gak bilang dari tadi," teriak Mommy Nina heboh.
"Mom stop buat heboh dan teriak-teriak. Anakmu ini sedang pusing memikirkan dua kesayangannya yang lagi dalam bahaya sekarang." Devano benar-benar geram dengan sikap Mommynya itu.
📞 : "Dua kesayangan? apa maksudmu?"
"Dev bingung harus bagaimana sekarang, pasalnya Ciara tengah merasakan kontraksi dan katanya baru pembukaan kedua. Devano gak mau ninggalin Ciara buat melewati proses persalinan kali ini Mom. Tapi ada satu hal yang buat hati Dev juga tak tenang pasalnya Al sekarang tengah dalam bahaya. Dev menyimpulkan kalau Al sekarang tengah diculik karena jam tangan yang Dev desain sendiri khusus buat Al tadi ngasih sinyal bahaya ke Dev. Dev harus gimana Mom," tutur Devano gusar.
📞 : "Astaga kenapa bisa dalam waktu bersamaan seperti ini sih. Huh, tapi kamu tenang saja. Mom sama Dad segera kesana. Kamu kerahkan dulu anak buah kamu, Dad juga sudah hubungi anak buahnya buat cari Al. Jadi kamu coba tenang ya. Yakinlah Al tak akan kenapa-napa begitu juga dengan Ciara," ucap Mommy Nina dengan sebisa mungkin menenangkan putra satu-satunya itu dengan suara terengah-engah seperti sedang berlari.
"Mom tolong cepat kesini, bantu Dev buat cari solusi dari ini semua," tutur Devano. Ia memang sudah dewasa tapi jika tengah frustasi seperti ini orang yang selalu mendengar keluh kesah dan orang yang akan memberinya solusi ya hanya orangtuanya atau Ciara. Tapi untuk saat ini ia tak berani untuk bercerita dengan Ciara. Takut-takut nantinya akan berpengaruh dengan kontraksinya.
📞 : "Iya sayang iya. Mom sama Dad udah dijalan ini. Bentar lagi kita sampai." Sambungan telepon itu terus terhubung hingga beberapa menit telah berlalu terdengar suara deruman mobil memasuki lingkungan mansionnya. Devano pun bergegas turun kebawah dan setibanya dirinya di lantai bawah, bertepatan itu pula kedua orangtuanya masuk kedalam. Devano pun berhambur kepelukan sang Mommy.
Mommy Nina membalas pelukan anaknya untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan di diri Devano.
"Tenang lah. Semaunya akan baik-baik saja. Al anak yang cerdas tak akan mudah di manipulasi oleh orang-orang yang menculiknya dan Ciara juga wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati proses persalinan ini hingga waktu baby-nya keluar nanti. Oh ya dimana memantu Mommy itu?"
Devano melepaskan pelukannya.
"Di kamar Mom," ucap Devano dengan lesu.
Mommy Nina tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah itu mereka berjalan menuju ruang tamu untuk memikirkan solusi yang sangat genting itu.
Saat sudah berada diruang tamu, ketiga orang itu mencari tempat duduk mereka sendiri-sendiri.
"Kamu tadi bilang kalau Ciara tengah pembukaan kedua?" tanya Mommy Nina membuka percakapan. Devano menganggukkan kepalanya lemah.
Mommy Nina menghela nafas, ia tau perasaan anaknya itu saat ini. Ia pun sama gusar dan khawatir memikirkan menantu dan cucu kesayangannya itu.
Lagi-lagi hening tak ada yang bersuara. Mereka tengah bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
Hingga terdengar suara langkah kaki memasuki mansion tersebut karena pintu utama lupa tak Devano tutup lagi.
"Ciara dimana Dev?" tanya Mama Mila setelah bergabung dengan mereka bertiga.
"Di kamar Ma," jawab Devano dengan lesu.
__ADS_1
"Baiklah Mama akan menemui Ciara dulu. Oh ya, Mama tadi di beritahu Mommy kamu kalau Al tengah diculik sekarang? benarkah begitu Dev?" Devano hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tampak helaan nafas berat terdengar.
Mama Mila kini mendekat kearah Devano mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Ciara dan setelah tubuhnya terduduk di sofa yang sama dengan Devano, ia langsung memeluk tubuh menantunya itu dengan sangat erat.
"Kamu sekarang selamatkan Al. Masalah Ciara biar Mama dan Mommy tangani. Papa Julian juga sudah mengerahkan anak buahnya buat cari Al. Mama yakin Al gak akan kenapa-napa," ucap Mama Mila.
"Tapi Dev juga ingin menemani Ciara, Ma," ujar Devano.
Mama Mila melepas pelukannya dan mengelus lengan Devano dengan sangat lembut.
"Kamu bisa menemani Ciara melahirkan nanti setelah kamu bawa pulang Al. Toh Ciara juga masih pembukaan kedua nak, masih 8 pembukaan lagi buat baby-nya keluar." Devano menatap manik mata Mama Mila.
"Apa keputusan itu adalah yang terbaik?" tanya Devano. Mama Mila tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mata Devano kini beralih menatap Mommynya yang memberikan respon yang sama persis dengan Mama Mila.
Devano menghela nafas berat kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pamit ke Ciara dulu. Dan Dev mohon masalah Al jangan sampai Ciara tau," ucap Devano dan diangguki oleh dua pasang suami istri itu.
Devano kini bergegas menuju kamarnya dan setelah sampai ia berlari kearah Ciara dan memeluk tubuh istrinya itu sangat kuat.
"Dev, ada apa?" tanya Ciara heran.
Devano tak menjawab ia memilih untuk melepaskan pelukannya dan mencium setiap inci wajah Ciara, tak peduli ada banyak art yang melihat kemesraan mereka berdua.
"Dev, ada apa sih?" ulang Ciara.
"Maafkan aku yang gak bisa berada disampingmu buat nemenin kamu dalam melewati setiap proses persalinan nanti." Ciara mengernyitkan dahinya, tapi sesaat setelahnya ia mengembangkan senyumnya dan mengangguk.
Tangan Ciara kini terulur untuk mengusap rahang tegas suaminya itu.
"Tak apa Dev. Selesaikan masalah yang sedang kamu hadapi itu. Tapi aku mohon tetaplah berhati-hati dijalan atau dimana pun kamu berada," ucap Ciara karena sedari tadi pikirannya tak tenang.
Devano mengambil tangan Ciara yang tadi menyentuh rahangnya dan kini ia mengarahkan tangan itu kearah bibirnya. Ia mengecup tangan Ciara berkali-kali.
"Terimakasih pengertiannya sayang. Aku pergi dulu," tutur Devano diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Ciara. Tapi sebelum dirinya beranjak, Devano mencondongkan tubuhnya hingga berada di depan perut Ciara. Tangan Devano mengelus perut buncit itu dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan nakal baby girl. Jangan buat Mama kesakitan ya cantik. Maafkan Papa kalau nanti Papa gak ada di samping kamu saat kamu pertama kali melihat dunia. Papa sayang kamu," tutur Devano lalu ia mengecup perut Ciara sebelum dirinya benar-benar pergi dari kamar juga mansion itu.