
"Silahkan di minum tuan," ucap art yang lainnya sembari menaruh gelas berserta cemilan di meja depan Devano.
Devano tersenyum.
"Terimakasih." Art tersebut mengangguk dan segera pergi dari hadapan Devano saat ini.
Setelah kepergian art tadi, terlihat orangtua Ciara menuruni anak tangga dan langsung menuju kearahnya.
Detak jantung Devano semakin berdetak kencang dan telapak tangannya sudah mulai berkeringat. Tapi hal itu tak akan mengurungkan niatnya untuk mengakui kesalahannya dulu. Devano kini berdiri dari duduknya untuk menyambut kedua orangtua Ciara.
"Lho ternyata tuan Devano tamunya. Silahkan duduk," tutur Papa Julian. Devano menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ada rasa heran didirinya saat Papa Julian mengenalinya. Padahal dirinya dan juga beliau baru bertemu sekarang bahkan untuk pertama kalinya. Ah sepertinya Devano lupa kalau dirinya adalah orang ternama yang terkenal dengan sebutan young billionaire yang sangat sukses dan siapapun manusia yang berada di negara yang sama dengannya bahkan yang tak satu negara sebagian besar akan mengenali dirinya.
"Ada keperluan apa ya tuan Devano sampai dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengunjungi gubuk kami?" Tanya Papa Julian.
Devano tampak berdehem dan kini memberanikan dirinya untuk menatap wajah Papa Julian.
"Sebelumnya, saya harap tuan dan nyonya memanggil saya dengan sebutan nama saya saja," tutur Devano yang risih di panggil dengan sebutan tuan oleh orangtua Ciara yang harapnya akan menjadi mertuanya nanti.
"Tapi tak sopan jika kita memanggil tuan Devano dengan sebutan nama saja."
"Tak apa tuan. Saya lebih nyaman di panggil nama saja."
Papa Julian tampak tersenyum sembari mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, tak usah pakai bahasa formal dan cukup panggil kita dengan sebutan Om dan Tante saja. Bagaimana?"
"Baiklah Om. Begini saja lebih nyaman," tutur Devano.
"Jadi apa maksud dan tujuan nak Devano datang kesini?"
Devano tampak mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari Papa Julian.
__ADS_1
"Jadi maksud dan tujuan saya datang kesini untuk mengakui kesalahan saya dan juga meminta maaf atas semua yang saya lakukan dulu kepada Om dan Tante," tutur Devano.
Papa Julian dan Mama Mila tampak saling pandang.
"Kenapa harus minta maaf sama kita? Bukankah ini pertama kalinya kamu dan kami berdua bertemu?" Tanya Papa Julian bingung.
"Mungkin saya memang baru pertama kali ini bertemu dengan om dan tante, tapi sudah sejak lama saya kenal dengan Ciara, anak pertama Om dan Tante." Papa Julian dan Mama Mila semakin bingung dengan ucapan Devano yang tak langsung mengarah ke points penting ucapannya.
"Memangnya kamu punya salah apa? Sampai harus minta maaf ke kita? Dan apa ini ada hubungannya dengan Ciara?"
Devano menganggukkan kepalanya.
"Bukan cuma melibatkan Ciara saja tapi juga melibatkan seluruh keluarga om dan tante," tutur Devano sembari menghirup udara segar beberapa kali sebelum menyambung ucapnya.
"Saya disini ingin meminta maaf atas kejadian yang melibatkan Ciara sekitar 5 tahun yang lalu. Dimana Ciara waktu itu hamil diluar nikah karena kelakuan bejat saya yang sayangnya saya waktu itu lepas tanggungjawab atas kesalahan yang saya perbuat." Mama Mila tampak melongo tak percaya.
"Ja---jadi kamu laki-laki yang menghamili Ciara waktu itu?" Tanya Mama Mila memastikan.
"Benar Tante. Laki-laki yang tak bertanggungjawab itu adalah saya," jawab Devano tanpa ragu.
Sedangkan Papa Julian, ia sekarang tengah menghampiri Devano dengan luapan emosi yang sudah di ujung kepalanya. Dan setelah sampai di depan Devano, ia meraih kerah baju Devano yang membuat sang empu juga turut berdiri dengan pasrah atas apa yang akan Papa Julian lakukan nanti.
Dan tanpa hitungan menit, kepalan tangan Papa Julian mendarat dengan keras di pipi Devano hingga ia tersungkur ke lantai. Bahkan matanya sempat berkunang-kunang dengan pipi yang berdenyut nyeri dan darah segar yang juga turut keluar dari ujung bibirnya.
"Brengsek, sialan, bajingan. Berani-beraninya kamu menghancurkan masa depan Ciara! Dasar bangsat!" Papa Julian kini mengunci pergerakan Devano, tak memperbolehkan laki-laki yang sekarang berada dibawah kungkungannya itu berdiri dan bergerak sedikitpun.
"Apa kamu tau hah bagaimana menderitanya Ciara waktu itu?"
"Saya benar-benar minta maaf Om."
"Apa maafmu itu bisa mengembalikan Ciara yang dulu? Mengembalikan kesuciannya kembali hah?"
__ADS_1
Devano terdiam, memang benar kata maafnya tak akan pernah mengembalikan Ciara menjadi virgin lagi.
Bugh bugh bugh!!
Beberapa pukulan kembali mendarat di wajah Devano.
"Jawab sialan!"
Bugh!
"Apa kamu tidak punya mulut hah?"
"Apa kamu juga tidak punya pikiran waktu melakukan hal itu kepada anak saya?"
Umpatan dan pukulan terus saja mendarat di wajah Devano bahkan dadanya kini juga terkena amukan dari Papa Julian. Sebelum sang empu pergi dari tubuh Devano yang sekarang tampak lemas.
Devano mencoba untuk tetap menjaga kesadaran walaupun dadanya sudah mulai sesak dan juga kepalanya sudah merasakannya denyutan yang luar biasa.
Papa Julian kini kembali dengan membawa tongkat baseball besinya dan menghampiri Devano yang masih tergeletak lemas di lantai.
Semua orang yang berada dirumah tersebut bergidik ngeri dan saat tongkat itu terhuyung untuk memukul Devano semua orang di dalam rumah tersebut berteriak seakan-akan mereka juga merasakan rasa sakit dari pukulan tersebut. Tapi sayangnya mereka tak berani menghentikan aksi tuan besar di rumah tersebut selain Mama Mila yang sedari tadi mencoba mencegah Papa Julian agar menghentikan pukulannya tersebut. Tapi tenaga Mama Mila untuk merebut tongkat itu tak sebanding dengan tenaga Papa Julian yang terasa semakin kuat.
"Papa stop. Sudah hentikan. Dia bisa mati Papa," teriak Mama Mila sembari menutup telinga dan juga matanya. Ia sudah tak berani melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya.
"Biarkan dia mati sekalian," geram Papa Julian dan kembali memukul tubuh Devano dengan benda besi tersebut. Ia tak peduli jika dirinya nanti bakal masuk kedalam penjara. Ia benar-benar tak peduli dengan hal itu.
"Papa stop! Hentikan!" Teriakan nyaring kini masuk kedalam indra pendengaran semua orang di rumah tersebut tak terkecuali dengan Devano, walaupun matanya sekarang sudah tertutup tapi kesadarannya masih sedikit terjaga.
"Kamu jangan kesini! Menjauh dari Papa dan pria sialan ini," ucap Papa Julian sembari menginjak dada Devano.
Ciara tak memperdulikan ucapan Papa Julian tadi dan sekarang ia malah berlari hingga sampai di hadapan Papa Julian. Ia melihat wajah Papanya itu untuk sesaat dengan mata yang mulai berkaca-kaca sebelum ia menyingkirkan tubuh Papa Julian untuk menjauh dari tubuh Devano.
__ADS_1
Dan saat Papa Julian ingin memisahkan Ciara agar menjauh dari Devano, tangan Mama Mila lebih dulu mengelus pundaknya untuk memberikan ketenangan pada diri Papa Julian.
"Tenang lah Pa. Jangan terbawa emosi seperti ini. Toh dia juga sudah mengakui kesalahannya walaupun sudah terlambat. Dan perlu Papa ingat kalau dia juga ayah dari anak Ciara, cucu kita. Al masih membutuhkan kasih sayangnya. Jadi Mama mohon jangan bunuh dia demi Al," tutur Mama Mila dengan lembut sembari melihat wajah Papa Julian dan perlahan ia menuntun tubuh Papa Julian keluar dari rumah tersebut untuk menghindari serangan membabi buta itu kembali lagi. Sedangkan tongkat yang tadi digunakan untuk memukul Devano, Mama Mila sudah merebutnya dan menyerahkan ke salah satu art disana untuk segera di amankan dari Papa Julian.