
Al kini menghela nafas lalu ia mengambil earphone tadi dari tangan Kiya. Kemudian untuk memastikan jika ucapan dari Kiya tadi tidak mengandung kebohongan. Dan Al mencoba mendekatkan earphone tadi ke telinganya dan benar saja earphone tersebut masih berbunyi bahkan sangat keras hingga membuat Al menjauhkan kembali earphone tadi dari telinganya.
"Mama, apa ini punya Mama?" tanya Al sembari memperlihatkan earphone tadi. Ciara tampak mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Al tadi.
"Apa kalau Mama mendengarkan lagu pakai ini volume suaranya keras seperti ini?" tanya Al lagi. Dan lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh sang Mama.
"Apa Mama tau bahayanya menggunakan alat ini dengan volume suara yang keras begini?"
"Tau, Mama tau kok," jawab Ciara dengan cepat.
"Jika Mama tau coba katakan," perintah Al. Ciara kini tampak menatap Devano sekilas yang hanya dibalas cengiran oleh sang suami. Dan hal itu membuat Ciara berdecak, niatnya untuk meminta bantuan Devano agar sang empu melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Al eh suaminya itu malah nyengir tak jelas.
"Ma," panggil Al.
"I---itu bahaya pakai earphone dengan volume suara keras bisa membuat pendengaran rusak," jawab Ciara.
"Bagus, Mama sudah tau bahaya dari beda ini. Jadi Al mohon untuk kedepannya Mama memperhatikan kesehatan tubuh Mama sendiri. Kalau mau pakai barang ini, pastikan berada di volume sedang dan jangan sampai memakainya lebih dari satu jam. Mama mengerti kan?" Ciara tampak mengangguk patuh dengan perkataan Al tadi. Setelah itu Al mengalihkan pandangannya kearah sang adik yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya.
Al kini memegang kedua pundak Kiya.
"Kiya, lihat Abang dan dengar apa yang Abang katakan, oke," ucap Al yang diangguki oleh Kiya.
"Kiya janji sama Abang, jangan pernah berbuat seperti tadi. Kan Abang tadi sebelum berangkat sekolah juga sudah mengingatkan Kiya agar Kiya tidak berulah atau nakal lagi sama orang-orang disini terutama Mama sama Papa. Tapi kenapa Kiya tetap saja nakal dan tidak mendengarkan perkataan Abang hmm?" tanya Al sembari menatap wajah Kiya yang perlahan menunduk.
"Maaf bang. Tapi Kiya tadi tidak berniat untuk nakal kok," ucap Kiya.
__ADS_1
"Oh ya?" Kiya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kiya tadi hanya penasaran dengan alat itu saja. Dan saat Kiya berjalan ke meja rias Mama, Kiya lihat ada makeup baru. Jadilah Kiya pinjam sebentar. Kiya juga sudah izin sama Mama kok," tutur Kiya yang membuat Ciara mengerutkan keningnya.
"Kapan kamu izin sama Mama?" tanya Ciara yang membuat kedua anaknya itu mengalihkan pandangannya kearahnya.
"Tadi sebelum Kiya pakai makeup Mama," jawab Kiya.
"Masak sih? tapi Mama gak dengar suara teriakan kamu kalau mau izin pakai makeup Mama," tutur Ciara.
"Kiya memang izinnya tidak teriak Mama," ucap Kiya.
"Lha terus?" tanya Ciara penasaran.
"Kiya tadi bilang gini. Mama, Kiya pinjam makeup barunya ya, terus Mama jawab ucapan Kiya kok," ujar Kiya.
"Kiya yakin Mama dengar ucapan Kiya itu dan Kiya yakin suara yang menjawab ucapan Kiya itu suara Mama," ucap Kiya dengan kekeuh.
"Tapi beneran Mama gak dengar suara Kiya tadi."
"Mama dengar lho. Orang jawab Kiya kok." Al dan Devano yang melihat kedua perempuan berbeda usai itu masih dalam argumennya sendiri-sendiri pun Al dan Devano hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Sudah-sudah jangan sampai kalian bertengkar hanya karena perkara sepele seperti ini. Kan gak lucu kalau dilihat orang-orang disini," tutur Devano mencoba menjadi penengah antara istri dan anaknya itu.
"Dan Kiya, coba katakan apa yang kamu dengar saat Mama tadi menjawab ucapan kamu itu," perintah Devano.
__ADS_1
"Mama tadi jawab, iya pakai saja," jawab Kiya.
"Apa Kiya yakin kalau itu suara Mama?" tanya Devano memastikan.
"Yakin Papa. Ih kenapa semua orang tidak percaya sama Kiya sih. Kiya tadi benar-benar dengar suara Mama tau," ujar Kiya yang semakin mengerucutkan bibirnya. Bahkan anak itu hampir menangis jika saja Al tidak memeluk tubuhnya.
"Udah jangan nangis, Abang percaya sama kamu. Kiya sekarang ke kamar ya, mandi lagi biar makeup yang ada di wajah Kiya hilang semua," ucap Al sembari melepaskan pelukannya.
"Kiya sayang Abang," ucap Kiya sembari mencium pipi Al yang hanya dibalas senyuman oleh sang empu sembari tangannya mengacak-acak rambut Kiya.
"Abang juga sayang Kiya. Udah gih sana buruan mandi lagi," perintah Al yang langsung di angguki Kiya. Anak itu kini melangkahkan kakinya menuju pintu yang masih penuh dengan para manusia kepo itu. Dan saat dirinya berada dihadapan kedua orangtuanya, Kiya menghentikkan langkahnya lalu menatap Ciara dan Devano.
"Kiya tidak sayang Mama sama Papa," ucapnya kemudian ia melengos pergi begitu saja tanpa memperlihatkan ekspresi wajah kedua orangtuanya yang tampak sudah gemas ingin mencubit gigi Kiya itu.
Dan setalah Kiya sudah menghilang dari pandangan mereka, Al kini juga berniat untuk pergi dari kamar orangtuanya tadi.
"Ma, earphone Mama, Al kembalikan dan ingat apa yang Al katakan tadi. Jika Mama masih tidak mendengarkan perkataan Al tadi, earphone Mama akan Al sita dan buang," ancam Al yang membuat Ciara dengan reflek menganggukkan kepalanya.
"Satu lagi, Mama sama Papa masih berhutang penjelasan kepada Al tentang izin agar Al bisa pulang sekolah lebih cepat dari biasanya," tutur Al lalu setelahnya ia melenggang pergi menuju kamarnya sendiri.
Sedangkan Ciara dan Devano kini saling bertatapan.
"Kenapa berasa kita jadi anak mereka berdua ya? diomelin Al cuma diam aja atau kalau gak cuma jawab pakai gerakan kepala. Ini sebenarnya kita yang bloon atau anak kita yang terlalu pintar menghipnotis orang agar tak marah kepada mereka?" tanya Ciara yang merasa aneh dengan dirinya sendiri. Apalagi saat dirinya tadi tengah di omeli habis-habisan oleh Al yang merupakan anaknya sendiri dan dia hanya diam tak berkutik. Sebegitu takutkah dia maupun Devano menghadapi Al yang umurnya jauh di bawah mereka? Tapi jika di lihat-lihat lagi Al memang semakin bertambahnya usia, anak itu terlihat lebih garang juga dingin. Dan sifatnya itu lah yang mampu membius semua orang termasuk kedua orangtuanya yang berhadapan atau berdebat langsung dengannya.
"Entahlah aku pun juga sama bingungnya denganmu. Apa mungkin dunia sekarang tengah terbalik? Orangtua akan patuh kepada anaknya sedangkan anaknya akan mendidik orangtuanya. Aduh sebenarnya ini tuh yang aneh keluarga kita saja atau keluarga orang-orang di luar sana sama seperti yang kita alami saat ini sih?" tanya Devano penuh dengan kebingungan.
__ADS_1
Sedangkan para art dan kedua ustadz tadi yang diam-diam memperhatikan percakapan dan tingkah laku dari keluarga tersebut pun dengan serempak mereka menjawab dalam hati pertanyaan Devano tadi.
"Hanya keluarga ini yang somplak, keluarga orang-orang di luar sana masih normal-normal saja," batin mereka semua tak berani mengucapkannya secara gamblang perkataan tersebut karena mereka masih ingin selamat dari amukan sepasang singa itu.