
Sudah lebih dari 5 menit Al menunggu di depan rumah tersebut dengan sesekali ia membunyikan bel rumah tersebut bahkan ia juga berteriak memanggil nama Yura, tapi semua yang ia lakukan itu tak ada satu orang yang meresponnya. Hingga akhirnya Al memilih untuk pulang lagi dengan wajah yang ia tekuk.
Dan hal tersebut membuat Ciara panik seketika saat ia melihat Al yang sudah memasuki pekarangan rumah tersebut.
"Aku tidak tega melihat dia sedih begitu. Apa kita nantinya sanggup memberitahu Al yang sebenarnya tentang Yura?" ucap Ciara dengan suara lirihnya.
Devano yang juga tak tega melihat kesedihan anak laki-lakinya itu pun, ia menghela nafas panjang.
"Sanggup tidak sanggup kita harus memberitahunya jika ia bertanya," ujar Devano.
"Anaknya sudah mendekat. Jangan pasang wajah sedih kamu. Nanti dia tambah sedih lagi jika melihatnya," sambung Devano yang kini sudah tersenyum kearah Al saat anak laki-lakinya itu melihat kearahnya dan juga Ciara.
Ciara yang juga melihat tatapan itu pun dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya.
Sedangkan Al yang melihat kedua orangtuanya yang tengah berdiri di depan pintu utama rumah tersebut pun ia kini berlari kearah Ciara.
Karena Ia sekarang benar-benar butuh sadaran akan kesedihan yang tengah ia rasakan saat ini.
"Mama!" teriak Al disela larinya.
Ciara yang sudah tau jika Al menuju kearahnya pun, ia dengan segera memasang tubuhnya agar tak jatuh jika Al memeluknya nanti.
"Mama, hiks," ucap Al saat dirinya sudah memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat. Bahkan tangisan yang ia tahan sedari tadi pecah begitu saja.
"Lho lho lho kenapa nangis hmmm?" tanya Ciara hanya sekedar basa-basi saja dengan lirikan mata yang ia arahkan ke Devano.
"Yura, Ma hiks," ucap Al dengan sesegukan.
"Yu---Yura kenapa sayang?" tanya Ciara dengan suara yang tiba-tiba tercekat.
"Yura sudah tidak mau bertemu dengan Al lagi," jawab Al.
__ADS_1
"Dia sudah tidak mau berteman dengan Al lagi. Dia marah sama Al, Ma. Karena saat Al kesana tadi, tak ada satupun orang yang mau membukakan pintu untuk Al. Bahkan Al sudah teriak-teriak sekalipun. Hiks," sambung Al.
Ciara yang mendengar cerita dari Al pun ia hanya bisa mengelus punggung Al dengan sesekali ia mencium kepala anaknya itu.
"Al tenang dulu ya nak. Kita masuk dulu sekarang ya," ujar Ciara dan tanpa menunggu persetujuan dari Al. Dengan langkah tertatih ia membawa tubuh Al masuk kedalam rumah tersebut diikuti Devano di belakangnya.
"Al mau minum?" tanya Ciara saat mereka sudah sampai di ruang tamu dan juga sudah duduk di sofa tersebut.
Al tampak menggelengkan kepalanya dan justru anak laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Nak, Mama dan Papa dulu memang menginginkan kamu manja seperti ini ke kita berdua. Tapi bukan dengan alasan seperti ini yang kita mau," batin Ciara.
"Ma," panggil Al yang sudah mulai tenang.
"Iya sayang. Kenapa hmmm?" tanya Ciara dengan lembut.
Al kini melepaskan pelukannya tadi dan ia berubah menatap manik mata Ciara dengan sangat dalam.
Dan hal tersebut sontak membuat Ciara gelisah.
"Ma, jawab. Dan kenapa rumah Yura tidak sama dengan rumah Yura yang dulu? Rumah Yura sekarang kosong, seperti tak berpenghuni," ujar Al lagi.
Tapi setiap ucapan dari Al tadi sama sekali tak di respon sedikitpun oleh Ciara. Dan hal tersebut membuat Al semakin curiga. Hingga ia kini mengalihkan tatapan matanya kearah Devano.
"Pa, Al mohon kasih tau Al dimana Yura sebenarnya. Karena Al benar-benar ingin melihat kondisinya saat ini," mohon Al.
Tapi lagi-lagi ucapannya itu tak mendapat jawaban dari kedua orangtuanya tersebut.
"Ma, Pa. Tolong jangan sembunyikan apapun di belakang Al. Al mohon," ucap Al penuh dengan permohonan.
Dan hal tersebut membuat Devano menghela nafas sebelum ia mulai angkat suara.
__ADS_1
"Al, rumah yang dulu Yura tempati memang sekarang sudah tak berpenghuni," ujar Devano.
"Hah? berarti Yura sekarang pindah rumah dong?" tanya Al. Dan pertanyaan dari Al itu di angguki oleh Devano.
"Papa tau kan kemana mereka pindahnya?" tanya Al.
"Ya, Papa tau. Mereka pindah ke rumah yang lama sebulan setelah kejadian itu terjadi," jawab Devano.
"Apa Papa tau alasan kenapa mereka pindah rumah?" tanya Al kepo.
"Untuk alasan yang pasti, Papa tidak tau. Hanya saat mereka berpamitan dengan Papa sama Mama mereka hanya bilang jika ingin mengenang masa lalu mereka yang lebih lama mereka habiskan di rumah itu, di banding dengan rumah yang ada disamping rumah kita ini," jawab Devano dengan jujur.
Al yang mendengar penuturan dari Devano pun ia tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kini senyumnya yang tadi sempat hilang kini kembali lagi saat didalam otaknya mempunyai ide agar ia besok mencari keberadaan rumah lama Yura.
Dan senyuman yang Al perlihatkan sekarang justru membuat Ciara dan Devano merasakan sakit yang teramat dalam di dada mereka.
"Terimakasih Pa karena sudah jawab semua pertanyaan dari Al tadi. Dan sekarang Al mau ke kamar dulu," ucap Al yang diangguki oleh Devano.
Kemudian ia kini beranjak dari ruang tamu menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada. Dan kepergiannya tadi langsung membuat Ciara meneteskan air matanya.
"Sakit sekali rasanya, ya Allah," gumam Ciara sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sesak itu.
Devano yang melihat hal tersebut pun ia kini mendekati sang istri lalu memeluk tubuh Ciara dengan usapan lembut dengan tujuan membuat Ciara tenang.
"Sudah jangan nangis lagi. Aku tau rasa sakit yang tengah kamu rasakan tadi, saat melihat tatapan Al yang seakan-akan berharap jika dirinya akan bertemu dengan Yura lagi. Karena aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi aku harus bisa menahannya karena perlu kamu tau, Al sekarang butuh support dari kita berdua. Dan jika kita saja yang merupakan support terkuatnya memiliki mental yang lemah, bagaimana dengan Al nanti? Jadi mulai sekarang kamu harus melatih mental kamu lebih kuat lagi, karena apa yang kamu lihat tadi belum ada seberapanya saat Al nanti tau keadaan Yura yang sebenarnya. Dan kita akan memberitahu Al sedikit demi sedikit tentang masalah ini," ujar Devano dengan diakhiri ia menghapus air mata Ciara saat pelukan keduanya terlepas dan setelahnya ia bergerak untuk mencium kedua mata, kedua pipi dan diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Ciara.
"Sudah ya jangan nangis lagi. Takutnya Al nanti lihat air mata kamu ini dan berakhir dia akan memarahiku karena dia pikir aku jahatin kamu. Dan satu lagi, ini sudah pukul 7 dimana dokter sebentar lagi akan sampai di rumah ini. Jika kamu tidak berhenti menangis, dokter nanti juga akan berpikiran negatif tentangku. Memangnya kamu mau punya suami di cap memiliki reputasi tidak baik oleh semua orang?" Ciara tampak menggelengkan kepalanya.
"Nahkan kamu saja tidak mau jika aku di cap tidak baik oleh semua orang. Jadi sekarang stop nangisnya. Dan kita keluar sekarang untuk menyambut dokter yang sudah sampai," ujar Devano saat telinganya tadi mendengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumahnya tersebut.
Dan setelah ia berdiri dari duduknya, tangannya terulur kearah Ciara yang langsung disambut oleh istrinya itu. Dan setelahnya mereka berdua dengan bergandeng tangan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut untuk menyambut kedatangan dokter yang dimaksud oleh Devano tadi.
__ADS_1