Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 87


__ADS_3

Ciara yang tadinya masih berdiri kini ia mulai mendudukkan tubuhnya di kursi makan tepat di samping Al dengan tatapan yang masih mengarah ke anak laki-lakinya tersebut.


Dan belum sempat Ciara ataupun Devano mulai angkat suara, Kiya lebih dulu menyahut ucapan dari Al tadi.


"Abang mau kerumah kak Yura?" tanya Kiya.


Al tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Kiya ikut," ucap Kiya penuh dengan keantusiasan.


"Lah bukannya Kiya besok tidak libur sekolah?" tanya Al.


"Memang Kiya besok tidak libur sekolah, tapi bisa lah Kiya meliburkan diri seperti biasa," ujar Kiya sembari menarik turunkan alisnya.


"Tidak bisa!" ucapan tegas dari Devano membuat Kiya dengan seketika menekuk wajahnya.


"Kenapa tidak bisa? Kan izin sekolahnya juga cuma satu hari saja bukan satu minggu," ujar Kiya.


"Satu kali bagaimana? Dalam satu minggu ini kamu hanya berangkat 2 kali saja," tutur Devano.


"Itu kan---"


"Itu apa hmmm? Mau alasan apa lagi kamu? Pokoknya mulai besok sampai satu bulan kedepan, kamu akan terus sekolah tanpa kata meliburkan diri dengan alasan apapun, kecuali tanggal merah," ujar Devano.


"Tapi Pa---"


"Tidak ada tapi-tapian, Kiya. Jika kamu masih mau melanjutkan niat kamu tadi, Papa tidak akan segan-segan mengirim kamu ke luar negeri biar kamu tinggal sama Maimeo dan Daideo," ancam Devano yang langsung mendapat gelengan kepala dari Kiya.

__ADS_1


"Tidak, Kiya tidak mau tinggal sama Mai dan Dai. Kalau Kiya tinggal sama mereka yang ada Kiya nanti di sekolahkan khusus militer lagi. Tidak, pokoknya Kiya tidak mau!" tutur Kiya.


"Kalau Kiya tidak mau tinggal sama Mai dan Dai, makanya Kiya harus nurut sama Mama sama Papa. Jangan bandel lagi dan jangan bantah terus kalau di bilangin. Dan kalau Mama atau Papa sudah memutuskan sesuatu, harus kamu jalani termasuk dengan apa yang di katakan Papa sebelumnya jika mulai besok sampai satu bulan kedepan atau bahkan sampai Kiya dewasa, Kiya tidak boleh bolos dari sekolah. Kiya mengerti?" ucap Ciara dengan suara yang jauh lebih lembut dari suara Devano tadi.


Kiya yang mendengar ucapan dan larangan dari kedua orangtuanya tersebut pun ia hanya bisa pasrah dan dengan wajah yang tertekuk juga bibir yang maju beberapa senti kedepan, ia turun dari kursi makannya.


"Kiya mau ke kamar dulu. Selamat malam," ucap Kiya dengan suara yang sangat tak bersahabat.


Dan setelah mengucapkan hal tadi, dengan langkah loyo Kiya mulai meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu balasan selamat malam dari ketiga orang di sana.


Sedangkan ketiga orang tersebut yang melihat kepergian Kiya yang sesekali menghentak-hentakkan kakinya, mereka hanya bisa menggelengkan kepala mereka.


Dan sesaat setelahnya, tatapan Devano dan Ciara berpindah kearah Al yang masih menatap kepergian Kiya.


"Al," panggil Ciara sembari mengelus rambut Al.


"Apa Al yakin mau pergi ke makam Yura?" tanya Ciara yang diangguki oleh Al.


"Tapi nak, kondisi kamu belum pulih sepenuhnya. Apakah Al tidak mau menundanya sampai beberapa hari lagi?" tanya Ciara lagi yang langsung mendapat gelengan dari Al.


"Tidak Ma. Al tidak mau menunda keinginan Al lagi. Mama tidak perlu khawatir dengan kondisi Al, karena Al baik-baik saja bahkan sudah jauh lebih mendingan dari hari-hari sebelumnya. Al janji, Al besok perginya hanya sebentar saja sekedar untuk menabur bunga dan mendoakannya. Dan setelah itu Al akan langsung pulang. Jadi Al mohon, izinkan Al besok datang ke sana Ma, Pa," ucap Al penuh dengan permohonan.


Ciara yang tak tega pun kini mengalihkan pandangannya kearah Devano, agar suaminya itu yang menentukan apakah Al akan diizinkan pergi atau tidak.


Devano yang melihat tatapan dari Ciara dan Al pun ia hanya bisa menghela nafas panjang dengan otak yang terus menimbang-nimbang keputusannya nanti.


"Pa, Al mohon," ucap Al bahkan kedua telapak tangannya kini sudah menyatu di depan wajahnya.

__ADS_1


"Hasihhhh, baiklah Papa izinkan. Tapi ada syaratnya," ujar Devano yang membuat Al langsung berbinar bahagia.


"Katakan syarat apa yang harus Al lakukan?" tanya Al.


"Syaratnya setelah Al pulang dari makam Al harus cepat pulih, harus rutin minum obatnya bukan malah semua obat-obatan itu Al buang di kamar mandi. Dan satu lagi, Al tidak boleh sedih lagi. Apa Al sanggup memenuhi syarat yang Papa ucapkan tadi?" ujar Devano yang justru membuat Al menghela nafas.


"Kedua syarat sih bisa Al penuhi tapi untuk syarat yang berhubungan dengan obat-obatan itu, Al tidak yakin bisa melakukannya," tutur Al.


"Baiklah, jika Al tidak yakin bisa melakukannya salah satu syarat yang Papa ajukan tadi, maka Papa tidak akan pernah izinkan Al untuk mengunjungi makam Yura sampai kapanpun," ucap Devano.


"Eh eh eh, tunggu sebentar. Al akan berusaha untuk memenuhi ketiga syarat itu, tapi tidak janji," ujar Al yang masih ragu.


"Papa tetap tidak akan mengizinkan," tutur Devano.


"Baiklah-baiklah Al akan memenuhi semua syarat yang Papa ucapakan tadi," ucap Al dengan pasrah.


"Jadi Al besok boleh pergi kan Pa, Ma?" sambung Al.


"Iya, kamu boleh pergi besok. Tapi ingat jangan lama-lama. Kamu harus ingat kondisi kesehatan kamu saat ini. Dan kamu besok akan Mama antar ke makam Yura," ujar Ciara.


"Ah tidak. Mama tidak perlu mengantar Al kesana. Al pergi sama Om Doni sama Om Toni saja. Mama tetap dirumah sekalian ngawasin Kiya, siapa tau tuh anak nanti kabur saat dia sudah sampai disekolahan," tutur Al.


"Ck, Kiya kan punya bodyguard pribadi dan bodyguard bayangan jadi jika Kiya kabur dari sekolah, mereka akan langsung menelepon Mama. Tapi Mama rasa dia tidak bisa kabur dari sekolah itu. Karena disekolahan Kiya banyak pengawasnya dan saat anak murid disana sudah masuk ke halaman sekolah, dia tidak akan bisa keluar lagi dari sana sebelum bel pulang bunyi," ucap Ciara.


"Ck, Mama ini seperti tidak tau watak Kiya saja. Anak Mama yang satu itu memiliki akal negatif yang super duper jenius. Ide licik dia akan selalu saja muncul saat dia ingin melakukan hal yang akan sangat membuat semua orang pusing karena ulahnya. Dan Papa sama Mama perlu ingat jika Kiya itu titisan kancil yang benar-benar licik," tutur Al.


"Jadi lebih baik Mama ngawasin Kiya daripada Al," ujar Al yang membuat kedua orangtuanya itu tampak berpikir sesaat.

__ADS_1


"Ahhhhh diamnya Mama sama Papa, Al artikan setuju. Jadi kalau gitu, berhubungan Al sudah selesai makan malam dan Al sudah ngantuk. Al mau kembali ke kamar dulu. Good night Pa, Ma. Terimakasih atas izinnya tadi," tutur Al yang mulai beranjak dari kursinya dan setelah ia mengucapkan hal tadi, ia langsung berlari menuju ke kamarnya. Tanpa memperdulikan apapun yang Ciara ataupun Devano ucapkan.


__ADS_2