Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 50


__ADS_3

"Jika anda ingin memenjarakan saya, silahkan. Karena hanya mengandalkan Yura untuk menjadi saksi saja tidak cukup, juga pihak kepolisian tak akan pernah percaya dengan omongan anak sekecil dia. Walaupun Anda masih kekeuh untuk mencari bukti itu dengan mengerahkan semua tenaga dan semua orang di seluruh dunia ini, anda tetap tidak akan mendapatkan bukti apapun yang memberatkan saya di pengadilan nanti karena CCTV disekolahan ini telah lama rusak dan belum juga di perbaiki," ujar kepala sekolah tersebut.


Devano mengerutkan keningnya, tak mungkin jika CCTV di sekolah elit ini sampai rusak berhari-hari karena yang menjadi pengawas CCTV itu bukan hanya kepala sekolah saja melainkan para guru juga bisa memantaunya.


"Apakah anda yakin jika CCTV disekolah ini rusak sudah berhari-hari?" tanya Devano.


"Kenapa saya harus tidak yakin dengan apa yang saya katakan tadi. Jika kalian tidak percaya cek saja sendiri," ujar kepala sekolah tersebut sembari berjalan menuju kursi kebesarannya. Dan setelah ia duduk, kakinya ia angkat naik keatas meja sembari tangan yang ia gerakkan untuk mengkode Henry supaya mendekatinya.


Devano yang juga penasaran dengan apa yang dikatakan oleh kepala sekolah tersebut pun kini ia menatap salah satu bodyguardnya untuk segera mengecek CCTV disekolah tersebut. Beberapa bodyguard yang mendapatkan tugas itu kini segera bergegas memeriksa setiap CCTV disana dengan membawa laptop yang terkoneksi dengan CCTV tersebut yang mereka ambil dari ruangan itu.


Saat beberapa bodyguard tadi sudah bergerak, Devano kembali menatap kearah kepala sekolah yang masih saja memperlihatkan keangkuhannya.


Ingin sekali Devano menghajar orang itu tapi sayangnya lagi-lagi aksinya itu harus di cegah oleh Bian.


"Sudahlah tak perlu kamu mengotori tanganmu itu dengan darah busuk dia. Biarkan dia bersenang-senang dulu, nanti dia juga akan nangis darah setelah ini," ujar Bian yang membuat Devano menghela nafas lalu setalahnya, ia kini menghadap kearah Yura.


"Yura, boleh ceritakan kejadian yang sebenarnya?" tanya Devano dengan suara lembut.


Yura yang masih cemberut pun dengan terpaksa ia harus menceritakan semua kronologi kenapa kejadian tadi bisa terjadi. Mulai dari ia di hadang oleh Henry beserta teman-temannya hingga akhirnya Al yang membuat dirinya.


"Nah, karena Yura bingung harus meminta bantuan kepada siapa, akhirnya Yura tadi telepon Papa untuk meminta bantuan," ujar Yura diakhir ceritanya.


"Bohong! Aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Justru kamu dan anak bengis itu yang melakukan hal seperti itu!" elak Henry.


"Kamu yang berbohong. Aku bercerita apa adanya. Bahkan ini bukan cuma sekali kamu melakukan tindakan seperti tadi, tapi sudah berulang kali dengan siswa-siswi lainnya tapi mereka semua tidak ada yang berani mengadu ke guru atau ke orang tua mereka gara-gara kamu mengancam ingin melukai mereka jika mereka mengadu perlakuanmu itu. Dan apa kamu tau, jika kamu itu sudah persis seperti preman saja yang suka menyakiti orang lain," ucap Yura.


"Sembarangan! Henry bukanlah preman! Dia anak yang sopan dan tau tata krama," sangkal kepala sekolah tersebut dengan menggebrak meja dengan keras hingga membuat semua orang yang disana terperanjat kaget.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan tadi memang benar Yura, karena sudah bisa dilihat dari orangtuanya saja dia tidak mencontohkan hal baik kepada anaknya. Jadi tidak heran jika anak itu sama persis seperti preman karena ayahnya juga seperti itu," ujar Bian yang berhasil membuat kepala sekolah kini memelototkan matanya.


"Kamu!" tutur kepala sekolah tersebut sembari menunjuk kearah Bian.


"Kenapa? Anda juga mau membenarkan apa yang saya ucapkan tadi?" ucap Bian menantang.


"Berani-beraninya!" geram kepala sekolah tersebut dan saat dirinya mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Bian untuk berniat memberikan pelajaran ke laki-laki itu, bertepatan dengan niatnya tadi, semua bodyguard Devano yang tadi mendapatkan tugas untuk mengecek CCTV di sekolah tersebut pun sudah kembali ke dalam ruangan tersebut.


"Lapor tuan. CCTV disekolahan ini telah rusak semua namun saat kita selidiki lebih lanjut, kerusakan pada CCTV ini bukanlah kerusakan alami melainkan sengaja dirusak seseorang. Dan kita tadi juga telah menyelidiki ke ruangan khusus untuk pengawas CCTV, kita menemukan kejanggalan," ujar salah satu bodyguard Devano.


"Sebutkan kejanggalan apa yang kalian temukan," ucap Devano sembari melirik kearah kepala sekolah yang sekarang tampak merubah ekspresinya yang tadinya sangat angkuh kini terlihat gerogi.


"Menurut rekaman salah satu CCTV yang kita lihat, ada seseorang memakai pakaian serba hitam pada sore hari dia masuk kedalam sekolahan ini dan kejadian selanjutnya anda bisa melihatnya sendiri tuan, saya sudah menyalin rekamannya tadi," tutur bodyguard tersebut yang langsung diangguki oleh Devano dan setalah mendapat persetujuan dari Devano, bodyguard tadi langsung memutar rekaman CCTV tersebut.


Devano dan Bian kini dengan seksama ia melihat apa yang tengah di lakukan oleh orang yang tertangkap kamera tersebut hingga akhirnya mereka tau yang tengah orang itu lakukan adalah merusak semua CCTV disekolah tersebut.


"Kenapa wajah anda pucat sekali? Apa anda sakit? Atau jangan-jangan Anda takut kalau sampai pihak kepolisian menyelidiki kasus ini dan berakhir anda nanti akan terseret?" tanya Devano meremehkan.


"Saya takut? hahahaha kata takut tidak ada didalam kamus saya. Saya tidak bersalah dan tidak tau masalah perusakan CCTV itu, jadi untuk apa saya takut," ujar kepala sekolah itu yang justru membuat Devano tersenyum karena ia tau jika CCTV itu dirusak oleh orang suruhan kepala sekolah tersebut atau entah malah dia sendiri yang melakukannya.


"Apa yang anda katakan tadi memang benar, jadi anda tidak perlu takut. Santai saja," tutur Devano sembari duduk di salah satu meja di ruangan tersebut.


"Kemari, kita mulai bicarakan masalah tadi. Abaikan saja perkara CCTV itu," sambung Devano sembari melambaikan tangannya kearah kepala sekolah tadi.


Kepala sekolah itu tampak menghela nafas gusar sebelum dirinya mulai mendekati Devano dan duduk didepannya.


"Begini, saya sebagai ayah dari anak yang telah anda tampar tadi, merasa sakit hati dengan perlakuan anda karena jujur dari Al kecil sampai detik ini saya tidak pernah memukul atau melukai anak saya. Saya juga mengerti perasaan anda tadi saat melihat Al memukul anak anda. Mungkin kalau saya ada di posisi anda, saya juga akan melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan tadi. Jadi lebih baik permasalahan ini kita selesaikan secara kekeluargaan saja. Karena disini saya juga tidak mempunyai bukti yang kuat untuk melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. Saya juga tak ingin melukai hati dan mempermalukan Om saya saat saya membawa masalah ini ke kantor polisi. Karena saya sering mendengar bahwa anda adalah salah satu orang yang beliau banggakan. Jika anda masuk sel tahanan, pasti Om saya akan sedih melihatnya. Jadi apakah anda setuju untuk berdamai saja?" tanya Devano.

__ADS_1


Kepala sekolah tadi tampak tersenyum.


"Heh mudah sekali anda ingin berdamai dengan saya setelah semua yang anda lakukan tadi ke saya. Sudah menuduh tanpa bukti anak saya, sudah menuduh saya ikut campur dalam perusakan CCTV disini dan anda juga sudah menginjak-injak harga diri saya. Saya tidak terima itu semua. Saya akan menuntut Anda dengan tuduhan pencemaran nama baik. Saya sudah merekam semua perkataan tercela anda tadi di ponsel saya ini. Jadi anda tinggal tunggu saja pihak kepolisian menciduk anda nanti," ujar kepala sekolah tersebut dengan senyum kemenangannya.


"Apakah anda yakin ingin melaporkan saya?" tanya Devano dengan ekspresi wajah ketakutan yang ia buat-buat.


"Tentu saja. Kenapa anda takut?" tanya kepala sekolah tersebut.


"Takut? jelas saja saya takut. Tapi sepertinya anda telat untuk melaporkan saya ke pihak kepolisian karena saya lebih dulu melaporkan perlakuan anda tadi ke pihak berwajib. Coba anda dengar sirene mobil polisi sudah mendekat ke sini. Dan tandanya, anda harus bersiap-siap masuk ke sel tahanan," ujar Devano dengan senyum miringnya.


Kepala sekolah yang juga mendengar sirene mobil tersebut pun mulai panik sendiri.


"Kamu! bukanya anda ingin berdamai saja kenapa berubah pikiran dengan cepat? Dan ingat kalian tidak memiliki bukti yang kuat untuk memenjarakan saya!" ucap kepala sekolah tersebut.


"Berdamai? Mimpi anda terlalu tinggi. Anda terlalu bodoh dan cepat percaya dengan perkataan orang lain. Sehingga anda tidak bisa menilai, jika ucapan saya tadi hanya alibi semata agar anda tidak melakukan hal di luar dugaan, seperti ini contohnya," ujar Devano sembari bergerak cepat untuk mengambil pistol yang berada di balik jas yang tengah di pakai kepala sekolah tersebut.


"Senjata api seperti ini sepertinya tidak layak untuk dibawa di area sekolah," tutur Devano sembari mengacungkan pistol tadi yang sudah berada ditangannya.


Kepala sekolah yang tadi tampak terkejut dengan pergerakan Devano yang cukup gesit sehingga ia tak bisa menghindari perbuatan Devano itu pun kini ia tertegun ditempat. Hingga saat Devano menempelkan pistolnya tadi tepat di keningnya, kepala sekolah tersebut baru tersadar dari keterbengongannya itu.


"Anda terlalu menganggap saya remeh, tuan," ucap Devano dengan tatapan tajamnya. Dan hal itu membuat nyali kepala sekolah tersebut seketika menciut.


"Ketika anda pikir saya tidak memiliki bukti kuat, anda salah besar karena kenyataannya saya sudah mengantongi bukti itu. Apa anda mau melihatnya? Ah sepertinya memang anda harus melihatnya," ujar Devano sembari menjauhkan pistol tadi dari kening kepala sekolah tersebut. Walaupun tangannya sudah gatal untuk menembak kepala sekolah tersebut hingga nyawanya melayang. Tapi lagi-lagi ia harus benar-benar menahan keinginannya itu karena pihak kepolisian sudah mulai mendekati area sekolah tersebut. Dan setalah mengatakan hal tadi, Devano kini menatap kesalah satu bodyguardnya.


"Fiz, bawa laptop saya kesini," perintah Devano.


Bodyguard yang di panggil oleh Devano pun kini mulai menyerahkan laptop yang ia bawa ke tangan Devano. Dan setalah Devano mendapatkannya, tangannya langsung bergerak aktif mencari sesuatu yang akan menjadi bukti kuat laporannya itu. Lalu setalah mendapatkan apa yang ia ingin tunjukkan, Devano langsung memutar rekaman tadi kemudian menujukannya kepada kepala sekolah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2