
Kini Ciara, Al, Olive dan juga Dea sudah memesan beberapa menu makanan dari restauran tersebut. Mereka hanya tinggal menunggu pesanan mereka tadi datang.
"Oh ya Ci," ucap Olive sembari menatap wajah Ciara yang berada di depannya dengan intens.
Ciara pun yang tadinya memperhatikan Al tengah berceloteh dengan Dea yang sesekali menimpali ocehan tak jelas itu pun mengalihkan pandangannya kearah Olive.
"Kenapa Liv?" tanya Ciara penasaran pasalnya ucapan Olive tadi hanya menggantung begitu saja.
"Hmmm gimana ya," tutur Olive bingung sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ngomong aja sih Liv kayak sama siapa aja." Olive menghela nafas setelah itu ia kembali menatap serius kearah Ciara.
"Gini Ci. Perusahaan almarhum Papa yang di Jakarta lagi ada masalah. Mungkin untuk tahun ini aku belum bisa kesana tapi kalau satu tahun lagi kemungkinan aku dan juga kamu akan kesana kalau masalah kantor belum selesai," ucap Olive dengan hati-hati.
Ciara mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu kita akan ke Jakarta gitu?" tanya Ciara memastikan.
"Hmmm ya bisa jadi. Tapi kalau masalah disana bisa ditangani oleh tangan kanannya Papa mungkin kita gak perlu kesanan."
Ciara menghela nafas berat. Olive yang mengerti dengan ketakutan Ciara untuk kembali ke tanah kelahirannya pun kini meraih tangan Ciara yang berada di atas meja.
Olive menggenggam tangan Ciara guna menyalurkan ketenangan untuk sang sahabat.
"Itu belum tentu Ci. Aku tadi cuma ngomong dulu kalau-kalau nantinya kita benaran kesana biar kamu gak terlalu kaget banget. Aku tau kamu mungkin masih trauma dan semacamnya dengan tanah kelahiranmu itu. Tapi Ci, kamu juga perlu melangkah kedepan bukan cuma stay gini-gini aja. Apa kamu gak punya niatan buat ngunjungi orangtua kamu disana atau malah mempertemukan Al dengan Papanya? Al tadi sempat tanya ke aku dimana Papanya," ucap Olive sembari menatap Al dengan tatapan sedih.
Ciara yang tadi menundukkan kepalanya kini kembali menatap wajah Olive.
"A---pa Al tanya kamu?" tanya ciara memastikan.
Olive menganggukkan kepalanya.
"Iya."
"Terus kamu jawab gimana?" tanyanya.
"Aku bilang gak tau. Dan aku suruh tanya ke kamu dan kata Al kamu gak jawab-jawab pertanyaannya," jawabnya.
__ADS_1
Ciara menghela nafas.
"Aku bingung Ci. Mau kasih alasan apa ke Al. Otak aku belum memikirkan itu," ujar Ciara.
"Tapi Ci. Semakin besar Al akan semakin membutuhkan sosok Papa buat dirinya. Atau jangan-jangan kamu udah dapat kandidat Papa baru buat Al lagi." Olive menatap Ciara dengan mata intimidasinya.
Ciara memelototkan matanya dan dengan cepat ia memukul pelan tangan Olive yang masih menggenggam salah satu tangannya.
"AW sakit," rintih Olive sembari mengibaskan tangannya tadi yang kena pukulan Ciara.
"Sukurin siapa suruh kalau ngomong gak difilter dulu. Aku belum punya pikiran buat cariin Al Papa baru. Untuk sekarang biar aku sendiri yang ngerawat Al, menjadi sosok Mama baginya sekaligus Papa juga," tutur Ciara. Olive memutar bola matanya malas.
"Terserah kamu lah."
Setelah perbincangan kecil tersebut kini makanan yang mereka pesan telah diantara ke meja mereka berempat. Dengan semangat Al menatap makanan di depannya dengan mata berbinar.
"Al makan pasta dulu ya sayang. Makan eskrimnya nanti kalau Al udah selesai dengan pasta ini. Oke," ucap Ciara sembari memakaikan celemek makan buat Al yang sudah ia latih untuk makan sendiri.
"Oce Mama," ucapnya. Ciara tersenyum, setelah memakaikan celemek makan tersebut, Ciara mengambilkan satu piring pasta khusus untuk Al dan menaruhnya tepat didepan Al.
Dengan sedikit kesusahan Al menyendokkan pasta tersebut dan memakannya kedalam mulut perlahan.
Kini mereka bertiga tengah menikmati makanan mereka masing-masing hingga di tengah makan mereka, Al tiba-tiba menarik lengan baju Ciara. Ciara yang masih sibuk dengan makanan di mulutnya pun terpaksa menengok kearah anaknya yang sudah sangat kotor dengan makanan yang menempel di pinggir mulutnya.
Dengan segera Ciara mengambil tisu untuk mengelap bibir Al. Setelah itu ia baru bertanya keinginan anaknya tadi sehingga membuat Al menarik lengannya.
"Al tadi mau minta apa sayang?" tanyanya.
"Mama, Where is my Daddy?" Ciara yang tadinya tersenyum manis kearah Al kini wajahnya ia tekuk. Ia tak menjawab ucapan Al dan memilih untuk kembali melanjutkan makannya.
"Mama!" rengek Al.
Ciara menghela nafasnya lagi dan lagi.
"Kenapa sih sayang?"
"Where is my Daddy?" teriak Al melengking. Banyak pasang mata yang kini melihat kearah meja tersebut. Dengan segera Ciara meminta maaf atas teriakan Al yang mengganggu pengunjung lainnya.
__ADS_1
Setelah tak ada lagi yang melihat kearah mereka berempat, kini Ciara kembali menatap Al yang ingin menumpahkan air matanya.
"Al. Al mau tau Papa Al?" tanya Ciara. Dengan gemas Al mengangguk.
"Papa Al sekarang sudah disurga sayang. Bersama dengan Allah," ucap Ciara dengan halus.
Olive maupun Dea yang tadi masih asik mengunyah makanannya pun kini menyemburkan makanan tersebut ke depan kala mendengar ucapan Ciara tadi.
Dan semburan dari keduanya tepat mengenai muka dan tubuh Ciara.
"Astagfirullah," geram Ciara.
"Astaga maaf-maaf aku gak sengaja," ucap Olive.
"Maaf Kak, aku gak sengaja," kini Dea yang giliran meminta maaf.
"Haish kalian tuh ya. Jorok banget," tutur Ciara sembari mengambil beberapa tisu untuk membersihkan mukanya.
"Kita tuh gak jorok tau tapi tadi kita tersedak gara-gara ucapan kamu."
"Ck bodoamat. Kalian pulang dulu aja nanti. Aku mau ke kamar mandi buat bersihin ini semua. Buat makanannya biar aku aja yang bayar. Titip Al," ucapnya.
Sebelum pergi Ciara mengelus rambut Al yang sudah selesai dengan makanannya dan juga eskrimnya tadi.
"Al, Mama ke kamar mandi dulu ya. Kamu nanti tungguin Mama di mobil sama aunty," pamit Ciara. Al pun kembali mengangguk setelah itu Ciara segera berjalan meninggalkan ketiga orang beda usia tersebut yang juga tengah bersiap-siap untuk pergi dari restauran tersebut.
...*****...
Disisi lain, Devano dan juga Rafa baru saja memasuki restauran yang diinginkan Rafa.
"Pesan aja yang lo mau. Gue yang akan bayar tenang aja," ucap Rafa sombong.
Devano tak menimpali ucapan dari sahabatnya itu. Ia lebih memilih untuk segera memesan makanan. Walaupun ia tak ditraktir oleh Rafa pun dia juga bisa bayar sendiri.
Tak berselang lama pesanan mereka pun akhirnya datang. Saat Devano ingin mengucapkan terimakasih ke pelayan restauran tersebut, matanya tak segaja mentap sosok wanita yang familiar dimatanya.
Devano menajamkan kembali matanya kearah wanita yang saat ini masih berdiri didepan kasir. Hingga wanita tersebut membalikkan badannya untuk keluar dari restauran tersebut.
__ADS_1
Kini Devano membelalakkan matanya kala melihat sosok wanita yang beberapa tahun ini ia cari keberadaannya tengah berada didepan matanya saat ini.
"Ciara," panggilannya lirih.