Young Mother

Young Mother
Kekacauan dari Tiga Gadis


__ADS_3

Ciara kini sudah berada di depan pintu kamar utama dan saat dirinya sudah membuka pintu itu, hal pertama kali yang ia lihat adalah dua laki-laki kesayangannya tengah tertidur dengan saling berpelukan. Hati Ciara tampak menghangat melihat pemandangan tersebut bahkan bibirnya melengkung membuat senyuman manis di wajahnya.


Kini ia perlahan mendekati keduanya dan saat berada disamping mereka, Ciara mengamati setiap inci wajah keduanya.


"Ck, benar-benar mirip. Pantesan dulu dia langsung ngenalin kalau Al anak kandungnya," gumam Ciara setelah itu ia menaruh tubuh Kiya berada di box baby lalu ia akan membiarkan mereka bertiga tetap tidur di kamar tersebut sedangkan dirinya akan kembali turun menemui ketiga gadis yang masih dirumahnya itu.


Dan ruangan pertama yang ia tuju saat dirinya sudah sampai di lantai bawah adalah ruang makan dan dapur karena ia yakini setelah kepergiannya tadi mereka bertiga siap menyerbu ruangan yang penuh makanan itu.


"Astagfirullah," ucap Ciara saat melihat situasi di dalam ruangan tersebut. Jika lauk pauk yang kosong dan habis tak tersisa pun ia tak masalah, tapi kali ini bukan hanya itu saja melainkan cemilan buat dirinya dan Al juga mereka makan, yang lebih parahnya lagi bungkus makanan ringan, kulit kuaci dan kulit kacang bertabur dimana-mana membuat kepala Ciara ingin pecah saja.


"Kalian ini!" geram Ciara sembari berkacak pinggang.


Ketiga gadis tadi kini terdiam dari canda tawa mereka dan menoleh kearah Ciara yang menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Kalian apa-apaan bikin rumah ini jadi kayak gini. Aku gak mau tau, pokoknya bersihkan sekarang juga!" perintah Ciara. Namun ketiganya tak langsung menuruti apa yang di perintahkan oleh sang empu dan kini mereka saling pandang sebelum akhirnya mereka lari dari tanggungjawab.


"Kalau kalian berani melangkahkan kaki kalian satu langkah pun keluar dari rumah ini, jangan harap setelahnya kalian aku kasih izin buat ketemu Al dan Kiya bahkan anggap saja kita gak pernah kenal satu sama lain, itu juga berlaku buat kamu, Kiara!" Ucapan tegas dari Ciara tadi mampu membuat ketiga orang tadi dengan serempak menghentikan lari mereka dan kini ia dengan terpaksa memutar kembali tubuh mereka kearah Ciara.


"Kesini kalian!" Ketiganya terdiam belum ada yang mau mendekati Ciara. Hingga Ciara kembali angkat suara.


"Dalam hitungan ketiga kalau kalian gak kesini berarti apa yang aku ucapkan sebelumnya mulai hari ini berlaku untuk kalian bertiga," ancam Ciara.


"Satu." Ketiganya masih tak bergerak.


"Dua."


"Ti..." Ketiga orang itu dengan cepat berlari kearah Ciara. Jika dilihat-lihat mereka bertiga sama seperti anak Ciara yang tengah melakukan kesalahan dan sedang mendapat hukuman dari orangtuanya.


"Maaf Ci. Kita gak sengaja lho," ucap Olive yang diangguki oleh kedua orang lainnya.

__ADS_1


"Gak sengaja apanya. Kamu lihat, ini ruangan udah kayak tempat pembuangan sampah. Bersihin sekarang juga!" Ketiganya menggelengkan kepalanya.


"Oh jadi kalian gak mau, oke kalau gitu---"


"Jangan. Oke baiklah kita bersihin ini semua sekarang," tutur Olive. Ia sebenarnya malas untuk bersih-bersih rumah apalagi rumah itu milik orang lain walaupun dialah yang membuat tempat itu kotor tapi karena ancaman dari Ciara yang tak pernah main-main itu, dengan terpaksa ia mensetujui perintah dari Ciara.


"Kak Olive kok gitu sih. Aku lagi malas buat bersih-bersih ini," gerutu Kiara dan lagi-lagi mendapat anggukan setuju oleh Dea.


"Ck, diem aja sih. Lakuin apa yang nyonya Rodriguez ini katakan. Karena ancaman dia itu sekali keluar dari mulutnya berarti ancaman itu tak akan segan-segan dia lakukan," balas Olive dengan suara lirihnya.


"Ngapain kalian bisik-bisik? Cepat kerjakan sekarang juga!" Ketiganya kini bergerak mencari alat-alat yang digunakan untuk membersihkan kekacauan di ruangan tersebut sedangkan Ciara, ia melangkahkan kakinya ke salah satu kursi di ruang makan dan setelah sampai ia mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut guna untuk mengawasi setiap pekerjaan ketiga orang tadi.


Saat ditengah-tengah ketiganya membersihkan ruangan tersebut, datang Devano dengan wajah bantalnya masuk kedalam dapur.


Devano mengerutkan keningnya saat melihat ketiga orang tadi tengah bersih-bersih.


"Mereka tadi buat kekacauan di rumah ini dan apa yang mereka lakukan adalah hukuman bagi mereka," ucap Ciara saat melihat Devano tadi. Devano menganggukkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah kulkas mencari minuman dingin dan setelahnya ia ikut duduk disebelah Ciara.


"Gak buat kamu aja," tolak Ciara. Devano manggut-manggut lalu ia segera meminum susu itu.


"Cih, udah jadi bapak-bapak minumnya susu," cibir Olive.


"Mana susunya yang 5 ribuan lagi," sambungnya.


"Jadi kamu mau lihat aku minum susu yang asli dari sumbernya gitu?" Tanya Devano menantang.


"Coba aja kalau kamu berani," ujar Olive, tak tau saja Ciara kini tengah was-was atas tantangan dari dua orang itu.


"Berani lah. Ya kali gak berani," ucap Devano kemudian ia menghadap kearah Ciara.

__ADS_1


"Buka kancing baju kamu, sayang. Baby Kiya tadi belum minum ASI kan? kalau belum berarti ASI kamu masih banyak dan aku yang akan gantiin baby Kiya minum ASI kamu," sambung Devano tanpa tau malu sedikitpun. Sedangkan keempat orang itu termasuk Ciara, membelalakkan matanya mendengar ucapan Devano tadi.


"Astagfirullah, salah tangkap kamu, Dev. Astaga, yang aku maksud tadi dari sapinya langsung bukan dari Ciara. Goblok njir," tutur Olive.


"Hey, kamu tadi tidak bilang dimana mendapatkan susu yang kamu maksud. Sedangkan yang aku tangkap tadi ya susu dari sini lah." Devano menunjuk kearah dua gundukan didada Ciara yang membuat wajah Ciara memerah, menahan malu.


"Emang pikiran kamu aja itu," geram Olive.


"Udah stop. Obrolan yang gak bermutu masih aja di omongin," tutur Ciara.


Keduanya langsung tutup mulut tak lagi berbicara masalah yang sebelumnya mereka bicarakan.


"Kalian bertiga lanjutkan kerjaan kalian dan kamu, kenapa malah turun kebawah sedangkan anak-anak lagi tidur?"


"Haus sayang. Disana gak ada air kalau ada kamu mungkin aku gak akan turun kebawah karena aku pasti akan langsung minta ke sumber kamu itu. Nanti malam bisa kali kalau dua bocil udah tidur," ucap Devano yang benar-benar tak tau situasi.


"Kalau kalian mau ngomongin masalah ranjang jangan disini dong," tutur Kiara yang telinganya mulai memanas.


"Emangnya kenapa?" tanya Devano dan kini ia sudah memeluk tubuh Ciara dengan mesra.


"Disini kita bertiga masih lajang dan gak etis kalau kalian bicara begituan ada kita bertiga."


"Halah ngomong aja kalau kamu kepingin kan," ujar Devano menggoda adik iparnya itu.


"Makanya cepat cari pasangan terus nikah biar ngerasain nikmat dunia. Jomblo mulu sih, yang di pikirin dan di perhatikan cuma Memo. Kucing kamu itu," sambungnya yang membuat Kiara mengerucutkan bibirnya. Tak tau saja jika adik iparnya ini tengah patah hati karena ditinggal selingkuh oleh pujaan hatinya yang sudah lama menjalin kasih dengannya.


"Dia baru jomblo sayang. Habis di tinggal selingkuh. Lagian pacaran sampai 5 tahun. Itu pacaran apa kredit motor lama banget gak diajak ke pelaminan," tutur Ciara ikut menggoda sang Adik.


Kiara tambah mengerucutkan bibirnya dan sebisa mungkin ia menyelesaikan hukumnya itu kemudian pergi dari rumah ini, meninggalkan kedua orang yang dengan laknatnya mengejek dirinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dengan menahan setiap ejekan dari Devano dan Ciara akhirnya Kiara kini menghentakkan kakinya sebelum pergi dari ruangan tersebut setelah pekerjaannya selesai.


"Dasar laknat. Gak punya hati. Bukannya ditenangin atau dicariin penggantinya malah di ejek mulu. Sialan," geram Kiara sembari terus melangkah keluar rumah dan sebelum dirinya benar-benar pergi ia dengan sengaja membanting pintu rumah tersebut cukup keras yang membuat keempat orang yang masih stay di ruang makan pun terperanjat kaget tapi setelahnya mereka tertawa terbahak-bahak. Memang mengerjai seseorang yang tengah patah hati merupakan kesenangan tersendiri dari sepasang suami istri ini.


__ADS_2