
"Tan---tante," ucap orang yang Al tadi tabrak dengan suara terbata.
Mommy Nina kini berdiri dari posisi jongkok dan segera maju beberapa langkah kedepan agar lebih dekat lagi dengan wanita yang sudah lancang memarahi cucu kesayangannya itu.
"Apakah disini ada yang merekam kejadian tadi? atau yang berkenan menceritakan kronologi kejadian tadi?" tanya Mommy Nina dengan lantang kepada seluruh orang yang masih berdiri mengintari mereka berempat tanpa mengalihkan tatapan tajamnya kearah wanita yang ditabrak Al.
"Maaf nyonya untuk video saya tak merekamnya. Tapi saya bisa menceritakan kronologi kejadian tadi yang saya lihat mulai dari anak ini berlari hingga menabrak nona ini," ucap wanita yang membantu Al sedari tadi.
"Baik, silahkan cerita semuanya dari awal hingga akhir," tutur Mommy Nina.
Saat wanita tadi ingin memulai menceritakan kejadian tadi, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengalihkan perhatian mereka semua yang ada diaana.
"Tunggu dulu tante!" Teriak seorang pria yang dikenal oleh Mommy Nina dan juga wanita yang menolong Al tadi.
Ia kini melangkahkan kakinya mendekati mereka berempat. Setelah sampai ia menatap sengit kearah wanita yang ditabrak Al.
"Lho Zidan, kamu juga ada disini," ucap Mommy Nina yang sempat terkejut sesaat karena sudah lama ia tak melihat wajah teman sewaktu kuliah Devano itu. Tak terkecuali dengan wanita yang menolong Al, ia juga sama terkejutnya melihat laki-laki yang penampilannya sangat berbeda sekali dari penampilannya dulu.
Zidan tampak tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehehe iya Tante." Mommy Nina tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Oh ya Tante. Daripada Nona ini menjelaskan dari awal kronologinya lebih baik Tante lihat sendiri lewat video ini," ucap Zidan sembari menyerahkan ponselnya yang ia gunakan untuk merekam semua kejadian tadi.
"Kamu merekamnya sendiri?" Zidan mengangguk.
"Haish gak belain Al malah asik ngerekam. Tapi Tante ucapkan terimakasih, setidaknya video yang kamu ambil ini bisa membuat Tante lebih percaya lagi gimana sifat busuk wanita ini," tutur Mommy Nina dengan menatap jijik kearah wanita yang ditabrak Al tadi yang sekarang tengah tertunduk dengan tangan terkepal.
"Siapa anak ini sebenarnya hingga banyak yang membelanya bahkan Tante Nina saja sampai terus mengumpat kepadaku," batin wanita tersebut yang sepertinya tadi tak memperhatikan percakapan antara Al juga Mommy Nina.
Sedangkan wanita yang membela Al tengah mundur dari samping Mommy Nina dengan muka yang tertunduk sembari mencoba menenangkan Al agar anak itu tak lagi takut seperti tadi.
"Apakah dia sudah lupa denganku?" batin wanita cantik itu penuh dengan tanya di otaknya. Tapi setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Haish, biarkan saja dia lupa, toh kita dulu juga tak terlalu mengenal satu sama lain," sambungnya.
Mommy Nina tambah geram sekarang setelah melihat video tadi sampai akhir.
"Berani-beraninya kamu memarahi cucuku sampai segitunya. Padahal dia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Tante gak habis pikir dengan sikap kamu yang seperti ini. Tante kira kamu wanita baik-baik tapi ternyata benar apa yang di katakan Devano tentang dirimu. Wanita yang dengan sombong dan angkuhnya menyalahkan seorang anak kecil yang tak sengaja menabrakmu bahkan Tante lihat dari ujung kaki sampai kepalamu tak ada sedikitpun luka yang disebabkan oleh cucuku. Bahkan sehelai rambut pun tak jatuh dari kulit kepalamu itu. Tapi kenapa seolah-olah cucuku membahayakan nyawa kamu. Emangnya bisa anak sekecil Al yang menabrak orang sebesar kamu ini sampai mati? Mungkin kalau Al dalam kondisi membawa pisau ditangannya dan tak sengaja dia menabrak kamu sehingga pisau itu nembus di perut kamu, kamu boleh mengatai dia dengan perkataan dia seolah-olah membahayakan nyawamu. Tapi dia saat ini tak membawa pisau atau senjata tajam lainnya, malah yang Tante lihat tadi Al yang terpental saat menabrak kamu dan dia langsung berdiri dan meminta maaf denganmu. Tapi apa respon yang dia peroleh darimu, hah? bukannya ia mendapat maaf dari kamu atau setidaknya mendapatkan pengertian yang halus dari kamu. Justru dia mendapat cacian dan makian dari kamu. Miris Tante melihat tingkah kamu ini, untung saja Devano tak jadi menikah sama kamu dulu, Tiara. Kalau sampai hal itu terjadi, entah bagaimana nasibnya sekarang," tutur Mommy Nina dengan emosi yang sudah meledak.
"Ini semua hanya salah paham Tante. Aku tak berniat seperti itu, ak---aku hanya kaget saja tadi. Dan video yang di rekam oleh orang ini pasti sudah diedit sedemikian rupa," sangkal Tiara.
"Heh, enak aja main tuduh gue tukang edit. Kalau pun video ini gue edit dulu, gak akan mungkin secepat ini jadinya anjing. Astagfirullah suka khilaf gini emang mulut gue kalau lagi emosi," tutur Zidan.
__ADS_1
Sedangkan Tiara sudah menatap tajam kearah Zidan tapi bukan Zidan namanya kalau takut dengan tatapan dari Tiara tadi. Ia malah menjulurkan lidahnya kearah Tiara, seperti seorang anak kecil saja yang tengah bertengkar tapi Zidan lah yang mendapat pembelaan dari orangtuanya.
"Kamu mau mengelak apa lagi hah? sudah cukup Tiara. Kamu sendiri yang membuka sifat kamu ini. Dan sekali lagi kalau kamu berani mengganggu cucuku lagi, Tante pastikan kamu tak akan selamat dari amukan Devano," geram Mommy Nina.
"Ayo Al kita pergi dari sini." Mommy Nina kini menggandeng tangan Al juga wanita yang menolong Al tadi dan segera meninggalkan tempat tadi yang sudah tak ramai lagi.
"Sebaik-baiknya bangkai yang Lo sembunyikan perlahan akan tercium juga. Nikmati penderitaan Lo setelah video ini gue kirim ke Devano. Gue pastiin hidup lo gak akan pernah aman," ucap Zidan sembari mengacungkan ponselnya
Tiara yang tak terima pun mendekati Zidan dan ingin mengambil ponsel Zidan dari tangan sang empu.
"Eh eh eh mau apa lo. Jangan dekat-dekat gue, Lo bau bangkai soalnya. Hus hus hus sana," tutur Zidan sembari mendorong tubuh Tiara menggunakan satu tangannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam erat ponselnya tak lupa ia menjunjung tinggi tangan kirinya agar tak bisa dijangkau oleh Tiara.
Setelah Tiara mulai menjauh, Zidan langsung menepuk-nepuk tubuhnya yang tadi sempat dipegang oleh Tiara. Seakan-akan wanita itu membawa virus bahaya. Tak lupa Zidan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Tiara yang menatapnya dengan kilatan dendam di matanya.
"Awas aja lo!" teriak Tiara.
Zidan yang mulai menjauh kini menolehkan kepalanya kearah Tiara.
"Gue gak takut sama lo ataupun sama ancaman lo," jawab Zidan dengan teriakan pula.
Tiara kini mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Jadi anak itu ternyata anak Devano. Pantas saja wajahnya sangat mirip dengan laki-laki itu. Arkh, Sial," geramnya. Kemudian ia beranjak keluar dari mall tersebut tanpa mengurangi rasa emosinya yang masih menggebu-gebu.