Young Mother

Young Mother
Kepolosan Rahel


__ADS_3

Bibir yang sedari tadi menyatu memberikan sensasi yang masih tenang dan kalem perlahan ciuman tersebut kini semakin dalam dan semakin panas saja. Tak hanya disitu, tangan Zidan yang sedari tadi berada disamping tubuh Rahel untuk menopang tubuhnya agar tak langsung menekan tubuh Rahel yang sekarang berada di bawahnya itu pun sudah mulai menyusuri setiap tubuh Rahel dengan perlahan. Yang awalnya hanya untuk mengelus pipi mulus Rahel, leher, lengan kini tangan itu ingin mencoba untuk menyingkirkan selimut yang masih membalut tubuh sang istri.


Tapi sayang saat ia ingin menyingkap selimut itu, tangan Rahel dengan erat menahan selimut tadi agar usaha Zidan sia-sia. Karena ia benar-benar malu sekarang walaupun sebenarnya ia sudah mulai terpancing dengan setiap sentuhan yang Zidan berikan tadi.


Zidan kini melepaskan tautan bibirnya dan menatap wajah Rahel yang tampak sedang mengatur nafasnya.


"Aku mau sekarang Hel," ucap Zidan dengan suara seraknya. Rahel mengernyitkan keningnya, ia tak paham dengan apa yang di katakan oleh Zidan saat ini. Benar-benar otaknya tak bisa ia ajak kerja sama.


"Ma---mau apa?" tanya Rahel dengan nada bicara yang sangatlah terlihat gugup.


Zidan mendengus kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rahel dengan sesekali mencium dan menggigit leher tersebut. Hal itu pun berhasil membuat sebuah mahakarya yang pertama kali di tubuh Rahel.


"Zi, jangan gitu ih," ucap Rahel dengan bergeliat kegelian karena ulah Zidan yang masih sibuk menciumi lehernya.


"Hel. Udah gak tahan," tutur Zidan dengan menengadahkan wajahnya agar ia bisa melihat ekspresi wajah Rahel.


"Hah? gak tahan? maksud kamu gak tahan apanya?" tanyanya seperti orang idiot saja. Ya maklum saja, Rahel adalah wanita yang tak pernah mengerti urusan berhubungan badan dengan laki-laki sebelum dirinya menikah bahkan dulu saat dia pacaran saja, laki-laki yang menyandang status sebagai pacarnya akan ia izinkan untuk bergandeng tangan dan berpelukan saja tak ada yang lebih. Jadinya ia tak tau kode-perkodean yang di katakan oleh Zidan tadi.


Sedangkan Zidan, sudah jangan ditanya lagi. Siapapun yang berteman dengan Devano saat muda dulu sudah dipastikan bahwa laki-laki itu setidaknya telah merasakan badan seorang wanita tanpa adanya status yang pasti. Makanya dalam hubungan badan seluruh teman-teman Devano tak ada yang terbujur kaku karena memikirkan mau apa, dengan cara apa dan bagaimana melakukannya saat sudah bersama pasangan mereka untuk melakukan hubungan badan. Jadi sudah dipastikan, Zidan sudah sangat pro dalam melakukan hal itu. Tapi saat ini Zidan akan melakukannya dengan sangat beda, ia tak ingin memaksa kehendak sang istri, jika wanita itu belum siap memberikan haknya maka ia akan dengan sabar menunggu Rahel untuk menyerahkannya. Tapi tenang saja, Zidan tak akan meluapkan hal itu ke wanita lain. Karena dia sama halnya dengan Devano, dia sudah tobat sekarang dan akan fokus kepada istrinya tercinta saja tanpa melibatkan dan menyalurkan keinginannya kepada orang lain.


"Hel," rengek Zidan. Ia sudah mati-matian menahan gejolak yang sudah meronta-ronta, meminta ia agar segera mengeluarkannya. Tapi sepertinya kepolosan istrinya itu membuat dirinya geram sendiri. Kalau istrinya itu belum siap maka ia akan langsung menuntaskan keinginan itu dikamar mandi dan jika Rahel mengizinkan, ia akan langsung tancap gas sampai pagi. Membuat Rahel tak bisa berjalan, itulah tujuannya nanti.

__ADS_1


"Apa sih Zi? aku tuh gak paham apa yang kamu omongin dari tadi. Kamu mau apa aku juga gak tau dan apanya yang kamu tahan? kamu nahan berak, pipis atau lapar?" Rahel benar-benar sedang menguji keimanan seorang Zidan tampaknya.


"Lapar Hel."


"Kamu lapar? kalau lapar ya makan lah. Mau aku pesanin?"


"Gak perlu. Karena kamu udah ada disini maka aku mau makan kamu," tutur Zidan yang benar-benar sudah tak tahan.


"Tapi Zi, kalau kamu mau makan aku, jatuhnya kamu kanibal dong. Jangan gila ya kamu, Zi. Ingat aku ini istri kamu. Ya kali mau kamu makan." Sepertinya Zidan akan menangis sebentar lagi.


"Astaga sayang bukan itu yang aku maksud," geram Zidan. Saking geram dan lamanya acara negosiasi tadi, pusakanya yang sebelumnya sudah mulai naik kini turun kembali.


"Ya terus apa dong? Yang jelas dong Zi. Kapasitas otak aku lagi zonk ini. Jangan diajak mikir mulu, bisa stress aku nanti gara-gara banyak pikiran karena mikirin ucapan kamu itu," tutur Rahel.


"Ya Allah, ternyata gini rasanya punya bini polosnya kebangetan. Tahan-tahan deh, kasih kesabaran yang banyak aja," batin Zidan.


Tangan Zidan yang tadi sudah melemah dan berada di atas kepala Rahel, kini tangan itu mulai mendekati puncak kepala istrinya itu dan perlahan ia mengelusnya.


"Hel, aku mau hak aku sekarang. Kamu paham kan apa yang aku maksud hak itu?" Rahel mengerjakan matanya kemudian menggelengkan kepalanya. Sangat menyebalkan bagi Zidan tapi juga sangat menggemaskan.


"Kamu beneran gak tau?" Lagi-lagi Rahel menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Astaga benar-benar polos sekali. Untung sayang," gumam Zidan yang bisa di dengar oleh Rahel. Tapi sang empu hanya terdiam dengan mata yang terus terfokus ke arah wajah tampan Zidan yang senantiasa berada di atasnya. Jika dilihat-lihat dengan jarak dekat, wajah suaminya itu sangatlah tampan dengan hidung mancung, bulu mata lentik, alis yang lumayan tebal, bibir seksi dan jangan lupa dengan garis rahang yang tegas. Sungguh sempurna ciptaan yang maha kuasa ini.


Zidan kini mencium kembali bibir Rahel yang tampak menebal itu tapi hanya kecupan sekilas sebelum ia membisikan sesuatu tepat disamping telinga Rahel.


"Hak itu adalah tubuh kamu. Aku menginginkan tubuh kamu malam ini juga." Tubuh Rahel tersadar dan sedikit menegang saat merasakan tiupan angin di telinganya setelah Zidan menyelesaikan ucapannya tadi.


Tak ada jawaban dari sang empu yang membuat Zidan kembali menatap wajah Rahel dari atas.


"Boleh kan?" tanyanya. Rahel tampak terdiam dengan mengatur nafas serta detak jantungnya yang terpacu sangat cepat bahkan rasanya jantungnya sudah hampir lepas dari tempatnya.


1 detik, 2 detik, 20 detik akhirnya keputusan Rahel sudah ia dapatkan. Ia kini menatap lekat-lekat mata teduh dari Zidan dan dengan takut-takut ia melepaskan genggaman tangannya yang berada di selimut tadi dan beralih melingkarkan lengan tangannya ke leher Zidan. Setelah itu dengan memberanikan dirinya Rahel perlahan membawa kepala Zidan agar mengikis jarak diantara mereka berdua dan saat jarak sudah terkikis, Rahel langsung mengecup bibir Zidan sekilas kemudian menjauhkan kembali wajah Zidan dari bibirnya tapi tangan masih setia bertengger di leher Zidan.


"Jadi jawabannya?" tanya Zidan. Rahel tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


Zidan yang mendapat jawaban yang sangat memuaskan pun ia langsung menyambar bibir Rahel dan menciumnya dengan cukup dalam tak lupa tangannya kini sudah bergerak untuk melepaskan selimut yang menutupi tubuh Rahel. Menyingkirkan selimut tadi jauh-jauh dari tubuh Rahel agar ia bisa leluasa menjamah tubuh Istrinya tanpa halangan sedikitpun.


Kegiatan mereka sudah mulai panas bahkan pakaian yang menempel di tubuh keduanya kini sudah mereka singkirkan dan kini mereka berdua tak memakai sehelai benang pun di tubuh mereka masing-masing.


Zidan berdecak kagum melihat keindahan dari tubuh istrinya itu. Benar-benar berhasil membangkitkan pusakanya walaupun cukup melihatnya saja.


"Aku mulai ya," izin Zidan. Rahel yang sepertinya juga sudah menuntut hal yang lebih pun tanpa berpikir panjang seperti tadi, ia langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Zidan tersenyum kemudian perlahan ia mendekatkan pusakanya ke arah goa milik Rahel dan saat pusaka tersebut ingin masuk tiba-tiba....


__ADS_2