Young Mother

Young Mother
Tahap Awal Penyembuhan


__ADS_3

Mobil-mobil yang ditumpangi oleh keluarga kecil Devano dan para sahabatnya pun kini telah sampai di tempat latihan menembak.


Saat mereka telah keluar dari mobil, Al tampak bingung dengan lokasi disana.


"Ini dimana?" tanya Al kepada kedua orangtuanya yang sudah menggenggam tangannya.


"Nanti kalau kita masuk, Al juga akan tau. Yang pastinya tempat ini bakalan seru banget. Bahkan Papa sering kesini," jawab Devano.


"Apa tempat ini benar-benar seru banget sampai Papa sering kesini?" tanya Al lagi dengan kaki yang perlahan melangkah mengikuti kedua orangtuanya.


"Tentu saja. Dan Papa yakin, Al pasti akan suka," tutur Devano yang membuat Al mengangguk walaupun ia masih tak paham dimana dirinya sekarang.


Kini mereka semua telah masuk lebih dalam lagi di area tembak itu hingga mereka telah siap dengan peralatan yang disiapkan oleh pihak tempat itu dan baru mereka masuk ke sebuah lapangan yang tampak sepi.


"Kok tumben-tumbenan nih tempat sepi banget," ujar Rafa.


"Biasalah kan sultan mau kesini apalagi sama anak, bininya. Ya tentunya tempat ini di booking lah sama dia," ucap Zidan. Yang membuat semua orang kecuali keluarga Devano ber-oh riya.


Sedangkan Devano, Ciara dan Al hanya terdiam dan kini ketiganya telah berada di tempat yang berhadapan langsung dengan papan lingkaran yang nantinya akan menjadi obyek sasaran dari tembakan mereka.


Devano kini menghela nafas gusar saat tangannya perlahan mengambil sebuah pistol yang dibawakan langsung oleh karyawan yang bekerja disana. Dan pistol itu nantinya akan ia serahkan ke anak laki-lakinya itu.


"Al," panggil Devano yang membuat Al menengadahkan kepalanya menatap wajah Devano.

__ADS_1


"Al pakai ini untuk menjatuhkan papan itu." Devano kini menyodorkan sebuah pistol kearah Al yang membuat anak laki-laki itu membelalakkan matanya sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya mundur berada langkah sebelum akhirnya ia berniat untuk berlari menjauh dari tempat itu tapi untungnya dengan sigap Ciara membawa tubuh Al kedalam pelukannya. Ia memeluk tubuh anaknya itu dengan sangat erat saat Al terus memberontak.


"Lepas Mama!" teriak Al.


"Al dengar Mama. Benda itu gak akan nyakitin Al kok yang penting Al gak boleh takut dan Al juga harus berhati-hati," ucap Ciara menenangkan.


"Gak. Benda itu pasti nyakitin Al. Al takut Mama. Al mau pergi dari sini. Lepasin Al!" teriak Al kembali.


Ciara semakin mendekap erat tubuh Al bahkan air matanya kini telah menetes membasahi pipinya. Hancur, satu kata yang menggambarkan hati Ciara saat ini, ketika melihat Al yang ketakutan setengah mati akan benda yang dulu sangat ia sukai.


Olive, Dea, Kiara dan Rahel yang sedari tadi ikut memperhatikan dan natap Al dengan tatapan sedih pun kini mereka berempat mendekati Ciara dan Al.


"Al gak boleh takut. Disini ada Aunty dan Uncle yang akan terus di sisi Al dan tentunya jagain Al," ucap Olive dengan lembut bahkan tangannya kini terulur untuk mengelus kepala Al.


"Al juga kan anak laki-laki. Dan anak laki-laki itu tidak boleh takut dengan apapun didunia itu kecuali Tuhan. Al harus bisa melawan apapun yang membuat Al jadi takut seperti ini," sambung Dea.


Al tak peduli setiap ucapan yang terlontar dari bibir para auntynya itu. Karena yang ada di benaknya sekarang keluar dari pelukan sang Mama dan menjauh dari tempat itu.


Rahel yang sedari tadi memperhatikan wajah Al pun kini mulai mengusap pipi sang empu.


"Al denger kata aunty ya. Al coba pejamkan mata Al," tutur Rahel sembari mengusap kelopak mata Al perlahan dan saat itu pula Al memejamkan matanya bahkan gerakan tubuhnya terhenti.


"Al ambil nafas dan buang secara perlahan." Al menuruti apa yang diucapkan Rahel tadi.

__ADS_1


"Ulangi, ambil nafas, buang," perintah Rahel.


"Sekali lagi boy. Ambil nafas dan buang perlahan." Lagi-lagi Al terus mengikuti setiap instruksi yang di katakan oleh Rahel tadi.


"Jika Al sudah mulai tenang, Al boleh buka mata dan tatap mata aunty. Jika belum, Al boleh lakukan apa yang aunty katakan sebelumnya," ujar Rahel. Al belum juga membuka matanya dan anak itu berulang kali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya hingga sesaat kemudian Al membuka matanya dan menatap mata Rahel.


"Al dengar kata aunty. Al tidak boleh takut dengan benda yang namanya pistol atau dengan benda yang saat ini di pegang oleh Papa Dev. Al harus berusaha menghilangkan semua ketakutan didiri Al akan benda itu karena jika Al masih mempertahankan ketakutan Al akan benda yang bernama pistol, saat Al besar nanti Al gak bisa jagain Mama, Papa dan baby Kiya saat mereka diganggu oleh orang yang sangat-sangat jahat. Jadi Al mulai saat ini harus menghilangkan semua ketakutan didiri Al. Apa Al mengerti apa yang aunty katakan?" ucap Rahel dengan penuh kelembutan.


Perlahan Al menganggukkan kepalanya yang membuat Rahel tersenyum kemudian mengacak rambut anak laki-laki itu.


"Jadi Al hari ini harus buktiin ke aunty jika Al gak takut lagi dengan benda yang bernama pistol itu. Dan ayo, aunty antar Al sama Papa lagi ya buat latihan menembak. Al mau kan?" Dengan ajaibnya, Al menganggukkan kepalanya dan kini pelukan Ciara terlepas dari tubuh Al lalu tangan Al bergerak untuk menggenggam tangan Rahel.


Rahel tersenyum kemudian segera mengantar Al ke arah Devano yang tengah menatap mereka berdua tak percaya. Orang-orang disana pun sama halnya dengan Devano yang masih terbengong akan Al yang selalu menuruti apa yang di katakan oleh Rahel. Entah wanita itu tadi menggunakan jurus hipnotis atau yang lainnya sehingga dengan mudahnya membujuk Al.


Plakkk!!


Keterdiaman Devano tadi tersadar saat pukulan seseorang mendarat di lengannya.


"Malah diam terus. Nih anaknya udah mau. Buruan gih ajarin dia buat nembak, jangan lupa sesekali buka penutup telinganya supaya Al terbiasa dengan suara pistol," tutur Rahel. Devano hanya bisa menganggukkan kepalanya dan setelah Rahel menjauh darinya juga Al, Devano kini mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Al.


"Al siap?" tanya Devano memastikan dan dengan ragu-ragu Al menganggukkan kepalanya.


"Tenang saja boy. Papa ada di belakang kamu," tutur Devano dan ia segera memposisikan tanya Al ke pistol yang masih ia genggam itu. Dan setelah memastikan alat penutup kepala Al sedikit terbuka, Devano mulai menekan jari telunjuk Al yang berada di pelatuk pistol tersebut dan setelahnya suara nyaring dari pistol itu terdengar bertepatan dengan itu pula tubuh Al menengang bahkan ingatan akan kejadian penculikan itu kembali berputar di otaknya.

__ADS_1


__ADS_2