
Saat kedua bodyguard Al tadi sudah membawa pergi Kiya dari depan ruang ICU itu dan Devano juga tengah keluar untuk membeli makan siang untuk mereka berdua, Ciara kini justru tengah menjenguk Al didalam ruangan tersebut.
Dan kini ia tengah menatap wajah Al yang tampak tenang dalam tidur panjangnya itu.
"Hay sayang. Mama disamping Al sekarang," ucap Ciara sembari meraih tangan Al dan mengelus tangan tersebut.
"Al, kamu kapan sadarnya nak? Mama, Papa, Kiya dan semua orang sekarang tengah menunggu kamu untuk sadar. Kita semua rindu tingkah kamu, rindu suara kamu dan rindu semua yang selalu kamu lakukan. Hiks," tutur Ciara dengan air mata yang sekarang menetes deras membasahi pipinya.
"Kamu tau sayang, Kiya sekarang jadi pendiam saat kamu tidak ada disampingnya. Dia tidak seaktif dan seceria dulu. Dia benar-benar merasa kesepian sendiri dirumah walaupun Mama sama Papa sudah mengajak dia untuk bermain tapi dia tidak menunjukkan ekspresi apapun ke kita berdua. Jadi Mama mohon segeralah kembali sayang," ucap Ciara dengan menatap lekat wajah pucat Al.
Dan semua ucapnya tadi sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari Al. Dan hal itu membuat Ciara kini menghela nafas. Kemudian sebelum dirinya pergi dari ruangan Al, ia menyempatkan untuk mencium kening Al dengan usapan lembut di kepala anak laki-lakinya itu.
"I Miss you," bisik Ciara lalu setelahnya barulah ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan tersebut.
Tapi baru saja ia ingin meraih kenop pintu tersebut, samar-samar Ciara mendengar suara seseorang yang tengah mengucapakan kata Mama di ruangan tersebut.
"Mama." Suara itu semakin jelas Ciara dengar. Hingga membuat Ciara kini memutar tubuhnya kearah Al kembali.
Dan sesuai dengan perkiraannya tadi, ternyata suara yang ia dengar tersebut merupakan suara dari anak laki-lakinya yang sudah lama tak ia dengar.
Ciara kini berlari menuju ke brankar Al.
"Mama ada disini sayang," ucap Ciara dengan sesekali mengecup kening Al.
"Mama," gumam Al lagi tapi anak itu sama sekali tak membuka matanya.
"Iya sayang. Mama disini," ucap Ciara lagi dan dengan perasaan campur aduk, Ciara kini menekan tombol untuk memanggil dokter ke ruangan tersebut.
Dan baru saja ia selesai menekan tombol tadi, ia di kejutkan dengan suara teriakan keras dari Al.
"Yura!!" teriak Al dan bersamaan dengan itu mata Al terbuka lebar.
Dan hal tersebut membuat Ciara kini terpaku di tempatnya tadi saat Al menyebut nama Yura yang sekaligus membuat dirinya kini tersadar dari komanya. Tapi beberapa detik setelahnya, Ciara kini bergerak untuk memeluk tubuh Al yang masih berbaring diatas brankar tadi.
"Hey sayang. Mama ada disini nak," ucap Ciara.
__ADS_1
"Ma---Mama," tutur Al yang membuat Ciara kini melepaskan pelukannya dan beralih menatap wajah Al dengan senyum lebarnya.
"Iya sayang. Mama disini," ucap Ciara.
"Ma," panggil Al dengan lemah.
"Iya sayang. Ada apa hmmmm?" tanya Ciara.
"Yura mana?"
Boom, pertanyaan Al tadi benar-benar membuat Ciara kini tak bisa berkutik sama sekali. Ia tak tau caranya untuk memberitahu Al tentang keadaan Yura sekarang.
"Ma," panggilan dari Al tadi membuat Ciara kini mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Yura mana?" tanya ulang Al yang membuat Ciara kini menggigit bibir bawahnya.
"Ma, jawab pertanyaan Al. Yura mana?" ucapnya lagi.
"Kamu tenang dulu ya sayang. Yura ada kok," ucap Ciara berbohong.
"Eh dokter sudah datang. Mama keluar dulu sebentar ya nak, biar dokter bisa memeriksa Al dengan leluasa," ujar Ciara diakhiri dengan ia mengecup kening Al lagi, sebelum akhirnya ia berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Al yang tengah di periksa keadaannya oleh dokter tersebut.
Dan setelah ia keluar dari ruangan itu, ia langsung menangis sejadi-jadinya.
"Hiks maafin Mama sayang. Mama sudah berbohong ke kamu," gumam Ciara.
Devano yang baru kembali setelah membeli makan siang untuk mereka berdua, dirinya dibuat khawatir saat melihat Ciara kini tengah menangis. Jangan sampai Ciara menangis gara-gara apa yang ia takutkan selama ini benar-benar terjadi. Jika sampai ketakutannya itu terjadi, bisa gila Devano nanti.
Devano kini mendekati Ciara saat ia sudah menaruh makanan tadi di atas kursi di depan ruang ICU tersebut.
"Sayang," panggil Devano yang membuat Ciara kini membuka kedua tangannya yang tadi sempat menutup wajahnya itu.
Dan saat Ciara melihat Devano dihadapannya, ia tak segan-segan menubruk tubuh Devano dan memeluk tubuh tersebut dengan sangat erat.
"Al, sayang," ucap Ciara.
__ADS_1
"Al kenapa hmmm?" tanya Devano sembari mengelus punggung Ciara.
"Al sudah sadar. Dia sudah kembali," ucap Ciara yang membuat Devano kini melepaskan pelukannya tadi dan beralih menatap lekat kearah wajah Ciara.
"Kamu serius sayang?" tanya Devano mematikan.
Dan pertanyaannya tadi diangguki oleh Ciara sebagai jawabannya.
"Huh, Alhamdulillah ya Allah," ucap Devano penuh dengan rasa syukur sekaligus lega karena Al telah tersadar dari tidur panjangnya.
"Tapi sayang." Ucapan dari Ciara tadi membuat Devano yang tadinya tersenyum lebar, kini senyuman tersebut perlahan menghilang.
"Tapi apa sayang? Jangan bilang dia lupa sama kamu lagi," tutur Devano yang mulai panik.
"Bukan, bukan itu. Al masih mengingat jika aku ini adalah Mamanya. Tapi saat dirinya tersadar tadi, hal pertama yang ia tanyakan adalah Yura," ucap Ciara.
Devano yang seakan-akan sudah bisa menebak semua itu pun kini ia hanya bisa menghela nafas.
"Kita harus bagaimana memberitahunya? Aku takut saat Al tau semuanya, dia akan kembali drop lagi," ucap Ciara.
"Aku juga bingung harus bagaimana. Tapi untuk waktu dekat ini kita sembunyikan dulu tentang Yura. Jangan ada yang memberitahu keadaan Yura yang sebenarnya ke Al. Hingga saat Al sudah benar-benar pulih, kita perlahan memberi tahu dirinya," tutur Devano sembari meraih tubuh Ciara untuk ia peluk lagi.
Ciara yang mendengar penuturan dari Devano tersebut, ia kini tampak tenang kembali. Hingga pelukan mereka terlepas saat dokter yang tadi memeriksa keadaan Al sudah keluar dari ruangan tersebut dengan senyum mengembang.
"Bagaimana Dok?" tanya Devano saat mereka berdua telah berhadapan dengan dokter tadi.
"Syukur, Alhamdulillah. Keadaan Al jauh lebih baik dari sebelumnya, dia juga sudah siuman dari komanya. Dan Al tidak mengalami amnesia seperti yang pernah saya katakan dulu. Jadi kalian berdua tidak perlu cemas dan khawatir lagi mengenai hal tersebut. Tapi untuk beberapa hari kedepan Al masih harus mendapat perawatan intensif di ruangan ini sebelum kondisi Al benar-benar stabil untuk kita pindah ke ruang kamar inap," ujar dokter tersebut.
"Lakukan yang terbaik buat anak saya dok. Dan terimakasih atas berita baik ini," ucap Devano yang mendapat anggukan dari dokter tadi.
"Satu lagi, saat Al masih didalam ruangan ini, kalian tetap harus bergantian untuk menjenguk Al," tutur dokter tersebut.
"Baik Dok. Kita mengerti," jawaban mereka berdua.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit undur diri dulu. Selamat siang," pamit dokter tersebut.
__ADS_1
"Selamat siang dan terimakasih," balas mereka berdua yang diangguki oleh dokter tadi dan setelahnya, dokter tersebut kini berjalan menjauh dari depan sepasang suami istri tersebut.