Young Mother

Young Mother
Kondisi Tiara


__ADS_3

Ciara menatap Devano penuh dengan tanda tanya lebih tepatnya kepo dengan ucapan seseorang dari sebrang telepon tadi.


"Siapa?" tanya Ciara penasaran.


"Anak buahku yang jaga Tiara," jawab Devano yang membuat Ciara menganggukkan kepalanya. Setalah itu mereka melanjutkan jalannya menuju parkiran mobil. Lalu setelah sampai Devano langsung menjalankan mobilnya menuju rumah mereka.


"Hmmm, Dev," panggil Ciara. Devano mengalihkan pandangannya kearah Ciara dengan alis yang terangkat.


"Mau tanya boleh?" Devano tersenyum dan tangan kirinya kini terulur untuk mengelus kepala Ciara.


"Silahkan sayang. Mau tanya apa hmm?" tanyanya dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Ciara lalu ia mengecup singkat punggung tangan istrinya itu.


"Masalah telepon tadi. Aku masih penasaran. Apa terjadi sesuatu sama Tiara?" Devano terdiam namun beberapa detik kemudian ia menghela nafas. Lalu ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ciara.


"Tiara kenapa?"


"Aku juga belum tau pastinya sayang. Karena anak buah ku tadi hanya bilang kalau Tiara gak sadarkan diri," ucap Devano.


"Ya sudah sih sayang gak usah pikirin wanita sialan itu. Kalau dia mati ya bagus lah," sambung Devano yang mendapat geplakan maut dari Ciara.


"Ish gak boleh gitu mulutnya," ucap Ciara.


"Ya kan benar sayang dari pada disiksa terus sama orang-orang disana. Lebih baik kan mati sekalian, dia gak ngerasain penyiksaan lagi dan aku gak perlu bunuh dia juga," tutur Devano.


"Iya juga sih. Tapi kasihan tau sayang. Kamu juga nyiksanya keterlaluan harusnya kan kamu lapor polisi aja biar dia membusuk di penjara," ujar Ciara.


"Kamu yakin jika aku lapor polisi, Tiara bisa dihukum berat? aku rasa tidak sayang. Karena hukum di negara ini terlihat lucu, yang jadi korban biasanya akan menjadi pelaku utama. Sedangkan pelaku yang sebenarnya akan dilindungi jika dia memiliki uang untuk menyuap mereka. Walaupun dia dipenjara paling hanya beberapa bulan saja atau mungkin hanya beberapa hari dan dia akhirnya akan terbebas juga. Dan saat kebebasannya, aku yakin Tiara akan kembali menyakiti anak-anak kita atau malah kamu. Jadi untuk kedamaian kita semua, aku milih buat hukum dia sendiri," ujar Devano.


Ciara mendengus ketika mendengar penuturan dari Devano tadi.


"Tapi habis antar kamu sama Al, aku nanti izin ke markas buat lihat kondisi dia sebenarnya. Apa sudah mati atau hanya cuma sekedar gak sadarkan diri aja seperti biasanya."

__ADS_1


"Aku ikut. Gak ada penolakan pokoknya, titik. Dirumah juga ada banyak orang, jadi gak perlu khawatir kalau kita ninggalin Al dan Kiya sama mereka." Devano mengerutkan keningnya.


"Kamu yakin mau ikut? emang gak takut lihat kondisi Tiara nanti?" Ciara mengigit bibir bawahnya.


"Sebenarnya sih takut. Tapi aku mau ikut pokoknya," keukeh Ciara. Devano hanya bisa menghela nafas, ia tak bisa menolak jika Ciara sudah bersikap keras kepala seperti ini jika ia tak mau mendapat hukuman dari ratunya itu.


"Ya sudah. Terserah kamu saja," final Devano.


Kini mobil Devano telah sampai di lingkungan rumahnya. Dan saat mereka baru turun, ketiga orang tersebut langsung disambut oleh orang-orang disana yang menunggu hasil pemeriksaan dari Al tadi.


"Gimana perkembangannya?" tanya Rahel.


Ciara tersenyum begitu juga dengan Devano sedangkan Al sudah nyelonong masuk kedalam rumah begitu saja tak lupa dengan mainan barunya.


"Alhamdulillah, traumanya sudah mulai menghilang," ujar Devano. Semua orang disana dengan serempak mengucap syukur atas kesembuhan dari Al.


"Oh ya. Kita nitip anak-anak lagi ya. Ada urusan yang menyangkut Tiara di markas dan kita berdua mau lihat keadaan dia sekarang," sambung Devano.


"Kamu tenang aja. Ini bukan karena masalah baru yang dia lakukan. Hanya kata anak buahku tadi dia gak sadarkan diri saja. Dan doakan saat aku lihat kondisinya hari ini, nyawa dia sudah melayang. Biar anak buahku bisa istirahat, kasihan mereka yang terus menerus nyiksa dia tapi gak mati-mati," ucap Devano.


"Tenang aja. Gak kalian minta pun kita semua juga berdoa akan kematiannya," ujar Rafa.


"Ya sudah kalau gitu. Kita tinggal. Nitip anak-anak jangan sampai luka. Jika itu terjadi, bukan nyawa Tiara yang melayang melainkan nyawa kalian semua," ancam Devano yang membuat semua orang disana memutar bola matanya malas. Sudah dibantu bukannya berterimakasih malah mengancam mereka. Dasar bapak-bapak posesif, batin orang-orang itu.


Dan setelah mengatakan hal tersebut, pasangan suami istri itu segera masuk lagi kedalam mobil dan tak berselang lama, mobil itu melaju meninggalkan rumah mewah itu.


Dan butuh beberapa jam akhirnya mereka sampai di markas tersebut yang nampak sepi.


"Kemana anak buah kamu? kenapa didepan gak ada yang jaga?" tanya Ciara saat mereka berdua sudah keluar dari mobil yang hanya dijawab dengan gidikan bahu oleh Devano.


"Tetap di belakang. Jangan lepas tangan aku. Karena aku gak tau situasi di dalam bagiamana. Aku takutnya anak buah dari orangtua Tiara sudah tau markas kita dan sekarang tengah mengamuk didalam. Kamu paham kan?" Ciara menganggukkan kepalanya dan ia mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


Perlahan kedua orang tadi mulai membuka pintu utama dan saat pintu itu terbuka, lagi-lagi hanya kesunyian yang ia dapatkan. Tak ada satu orang pun yang ia lihat disana.


Tapi mereka masih melanjutkan langkah kakinya yang sekarang menuju ke ruangan bawah tanah dengan jalan yang sangat pelan. Bahkan mereka sekarang tengah mengendap-endap seperti orang yang ingin mencuri.


Dan saat dirinya ingin membuka pintu ruang bawah tanah, tiba-tiba saja suara seseorang terdengar di telinga mereka berdua.


"Tuan bos, nyonya bos. Ngapain jalannya gitu?" tanya orang tersebut dengan menatap kedua bosnya itu penuh dengan keheranan.


Devano dan Ciara kini menolehkan kepalanya kebelakang mereka setelahnya keduanya kini menegakkan kembali tubuh mereka.


Devano berdehem untuk menghilangkan rasa malunya karena kelakuannya tadi di pergoki oleh anak buahnya bahkan bukan hanya satu tapi 5 sekaligus.


"Ehemmm. Dimana dia sekarang?" tanya Devano mengalihkan perhatian mereka.


"Oh, wanita sialan itu masih didalam," jawab salah satu dari mereka.


"Gimana keadaannya?"


"Kita belum bisa memastikan keadaannya tuan. Tapi jika dilihat dari kasat mata, sepertinya wanita itu sudah tak bernyawa." Devano tersenyum miring saat mendengar penuturan dari anak buahnya itu.


"Baguslah kalau memang dia sudah mati. Tapi saya akan memastikan lagi," ujar Devano kemudian ia menggandeng tangan Ciara sebelum masuk kedalam ruang bawah tanah tersebut diikuti anak buahnya dibelakang.


Dan setalah masuk kedalam ruangan yang didalamnya terdapat Tiara, Devano langsung mendekati tubuh wanita itu yang tengah terkapar di lantai. Sedangkan Ciara memilih untuk melihat Tiara dari kejauhan ditemani oleh Nando disampingnya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ciara kepada Nando.


"Mungkin karena dia sudah mati, jadi semuanya baik-baik saja," jawab Nando dengan santai.


Sedangkan Devano yang sudah memeriksa kondisi Tiara pun tersenyum penuh kemenangan.


"Good bye Tiara. Akhirnya kamu menyerah juga dan terimakasih karena beberapa bulan belakangan kamu sudah mau menjadi tawananku dan menjadi samsak hidup bagi anak buahku. Semoga kamu tenang disana. Tapi ku rasa tidak, karena kamu tetap akan disiksa dineraka. Jadi nikmati saja siksaan kamu selanjutnya Tiara. Bye," tutur Devano diakhiri dengan menepuk-nepuk pipi Tiara yang sudah tak berbentuk itu.

__ADS_1


__ADS_2