
Setelah air hangat yang sudah selesai Zidan siapkan, ia keluar dari kamar mandi dan mendekati Rahel yang terduduk manis di atas ranjang dengan tangan yang asik mengotak-atik ponselnya hingga ia tak merasakan kehadiran Zidan yang sudah berada di sebelahnya dengan mata yang mengintip kearah ponsel Rahel. Ia sangat penasaran apa yang membuat Rahel terlalu fokus dan juga sesekali tersenyum itu.
"Ehemmm," dehem Zidan yang membuat Rahel terperanjat kaget bahkan ponsel yang tadinya berada di tangannya kini sudah jatuh kelantai kamar itu.
"Astaga, ngagetin aja sih," geram Rahel. Kemudian ia membelalakkan matanya saat melihat ponselnya sudah di bawah lantai dan dengan segera ia mengambil ponsel tadi.
"Ponsel aku jadi jatuh kan. Ck, kalau nanti rusak gimana coba," sambung Rahel dengan kerucutan di bibirnya dan tangannya kini sibuk meneliti setiap sudut ponselnya, takut-takut ada yang retak.
Zidan mencebikkan bibirnya saat mendengar omelan dari Rahel, harusnya kan dirinya yang marah karena diabaikan oleh istrinya bukan malah sebaliknya seperti ini.
"Salah siapa fokus terus ke hp sampai gak tau kalau aku udah disamping kamu. Pakai senyum-senyum sendiri segala lagi. Emang lagi chatan sama siapa sih?" kepo Zidan.
"Kepo banget sih," jawab Rahel cuek bebek.
"Ya harus dong. Kamu kan sekarang jadi istri aku, jadi gak ada yang boleh kamu sembunyiin dari aku walaupun hanya sekedar pesan dari operator pun aku harus tau." Rahel memijit pangkal hidungnya, ia baru tau ternyata suaminya itu sangatlah posesif dan overprotektif.
Rahel kini menghela nafas kemudian ia menengadahkan wajahnya agar bisa melihat wajah Zidan yang beralih di depannya.
"Kamu mau tau aku chatan sama siapa?" Zidan mengangguk antusias. Rahel yang melihat anggukan dari Zidan pun langsung memberikan ponselnya agar si empu bisa mengeceknya sendiri dan tanpa berucap ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tapi sebelum masuk kedalam, ia sempatkan untuk mengambil paper bag yang di berikan oleh mertuanya tadi.
Zidan mengernyitkan keningnya, tak tau maksud dari istrinya tadi.
__ADS_1
"Kamu cek aja sendiri. Sandi ponsel itu tanggal ulang tahun kamu," tutur Rahel sebelum menutup pintu kamar mandi.
Zidan pun menganggukkan kepalanya dan dengan santai ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang itu kemudian tangannya mulai aktif membuka seluruh sosial media milik Rahel, membaca satu persatu pesan yang masuk lewat aplikasi WA, DM, Inbox dan setiap komentar di postingan Rahel selalu ia baca. Dan ternyata banyak juga yang mengidam-idamkan sosok Rahel sebagai pasangan warga sosial media itu.
Ia menggeram kesal saat ada banyak laki-laki yang secara terang-terangan menyatakan cinta kepada Rahel dan tanpa perasaan Zidan yang sudah geram dan rasa cemburu sudah di ubun-ubun, Zidan langsung memblokir siapapun laki-laki yang menyatakan perasaan mereka ke istrinya. Walaupun pada kenyataannya Rahel tak pernah menggubris salah satu laki-laki yang menurut Rahel hanya modus saja, makanya Rahel hanya membiarkan pesan orang-orang itu menumpuk begitu saja tanpa berniat membaca atau hanya sekedar membukanya saja.
Kini sudah setengah jam lebih, Zidan terus mengotak-atik isi ponsel milik istrinya. Bahkan anak buahnya tadi juga sudah mengantar baju ganti untuk dirinya juga Rahel. Tapi karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Zidan tak menyerahkan baju ganti tadi ke Rahel yang masih di dalam kamar mandi. Sedangkan Rahel yang sudah selesai dengan ritual mandinya pun kini menatap jijik kearah baju yang ia pegang itu.
"Ini baju apaan sih? Menjijikkan sekali," gumam Rahel.
"Masak iya aku harus pakai baju beginian. Mana aku di kamar ini sama Zidan lagi, mungkin kalau sendiri aku berani tapi kalau sekarang, cukup menantang nyali," sambungnya.
Ia menaruh kembali pakaian tadi kedalam paper bag lagi, setelah itu ia mengalihkan pandangannya kearah baju yang ia pakai tadi.
Ia terus memutar otaknya untuk mencari ide agar dia bisa berpakaian dengan layak malam ini karena jujur dia belum siap di terkam oleh Zidan. Ia masih sangat malu dan khawatir jika Zidan tak puas dengan bentuk tubuhnya. Padahal tubuh Rahel itu tipe tubuh yang sangat di idam-idamkan oleh kaum hawa. Dengan memiliki tubuh tinggi 168 cm, perut kecil, pinggang ramping, buah dada dan bokong yang lumayan berisi tapi masih standar tak kebesaran dan kekecilan ditambah dia memiliki kulit yang putih dan bersih. Terus apa yang ia khawatirkan sekarang? Kalau takut Zidan tak puas, sepertinya laki-laki itu kalau lihat secara langsung bakal berdecak kagum menatap keindahan yang dimiliki istrinya itu. Tapi ya begitulah seorang wanita tak insecure satu hari saja sepertinya tak bisa.
Setelah bergelut dengan pikirannya akhirnya dengan terpaksa Rahel memakai pakaian pemberian sang Mama mertua dari pada dia nanti akan masuk angin tapi tak lupa ia juga melapisi pakaian tadi menggunakan handuk untuk menutupi bagian dada sampai bagian berharganya.
Rahel menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi tersebut.
Ceklekk!!!
__ADS_1
Bunyi pintu terbuka itu mampu mengalihkan atensi Zidan. Sang empu kini menatap tubuh Rahel dari atas hingga bawah. Ia cukup heran dengan penampilan istrinya itu yang terbilang sangatlah aneh.
Sedangkan Rahel yang terus di perhatikan oleh Zidan pun langsung berlari hingga sampai ranjang lalu ia segera merebahkan tubuhnya disamping Zidan yang masih menatap dirinya dengan keterbingungannya. Dan setelah mencari posisi aman dengan membelakangi Zidan, Rahel langsung menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Kamu kenapa sih?" tanya Zidan dengan menatap Rahel yang masih bersembunyi. Ponsel yang sedari tadi ia pegang pun sudah ia taruh diatas nakas di sebelahnya.
Hening, tak ada jawaban dari sang empu yang membuat Zidan semakin penasaran dan dengan segera ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Rahel bahkan jarak diantara keduanya sangat-sangatlah dekat.
"Hel," panggil Zidan dengan mencoba menurunkan selimut yang berada di kepala Rahel.
"Jangan! Kamu mending sekarang mandi sana gih," ucap Rahel yang masih setia bersembunyi dibalik selimut.
"Nanti aja lah."
"Kenapa harus nanti. Mandi sekarang!" perintah Rahel tak terbantahkan. Zidan mencebikkan bibirnya kemudian ia menuruti ucapan dari Rahel tadi untuk segera mandi.
Dan saat terdengar pintu kamar mandi tertutup, Rahel bisa bernafas lega dan segara keluar dari selimut itu.
"Hufttt setidaknya untuk malam ini, aman," ucap Rahel dengan senyum senangnya. Kemudian ia memilih untuk mulai menjajaki alam mimpi.
Tapi baru saja ia bisa meraih mimpi indah tiba-tiba saja perutnya terasa begah, ia pun kembali membuka matanya dan mendapati tangan Zidan melingkar indah di perutnya. Tubuh Zidan juga sudah terbaring disampingnya bahkan mata suaminya itu kini menatap lekat dirinya. Detak jantung Rahel sudah tak bisa ia kontrol lagi, apalagi saat Zidan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rahel. Dan...
__ADS_1
Cup!
Zidan mencium sekilas bibir Rahel untuk menjadi pemanasan sebelum ciuman sekilas itu berubah menjadi ciuman yang sangat lama dan perlahan menuntut untuk berciuman yang lebih. Rahel hanya bisa pasrah saja, toh dia juga sudah sah menjadi suami istri. Sudah waktunya juga dia melepaskan first kissnya untuk sang suami.