
Pagi ini Ciara tak seperti hari-hari biasanya. Bahkan bangun tidurnya lebih siang dari pada sebelumnya.
Dengan langkah malas Ciara menghampiri Dea yang tengah memasak di dapur.
"Eh Kak Cia udah bangun," ucap Dea sembari tersenyum.
"Hehehehe iya nih. Kamu lagi masak apa?" tanya Ciara.
"Masak balado telur sama capcay," jawab Dea.
"Udah selesai?"
"Bentar lagi kok Kak. Kakak mandi aja sana, ini udah jam 6 lho." Ciara mengalihkan pandangannya menatap jam dinding dan benar saja apa yang diucapkan sang adik angkatnya itu.
"Ya ampun. Aku tinggal gak papa kan, De?" tanya Ciara.
"Gak papa Kak. Buruan sana mandi!" Ciara mengangguk dan ia bergegas kembali ke kamarnya.
Dengan secepat kilat Ciara membersihkan tubuhnya dan hanya butuh beberapa menit saja Ciara sudah siap dengan pakaian kantor.
Ciara menghampiri Al yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia mengusap kepala Al dengan pelan kemudian ia menciumi seluruh wajah Al dengan hati-hati.
Setelah itu ia baru kembali menuju dapur untuk berpamitan ke Dea.
"De, Kakak berangkat dulu ya. Titip Al. Kalau dia nangis nanti susulin aja ke kantor," ucap Ciara.
"Siap Kak. Tapi Kakak gak mau sarapan dulu?" tanya Dea yang sudah berada di depan televisi.
"Gak sempat kalau harus sarapan dulu De. Nanti aja di kantor. Kakak berangkat, assalamualaikum," pamit Ciara.
"Waalaikumsalam, hati-hati Kak!" teriak Dea saat Ciara sudah keluar dari rumah tersebut dengan berlari kecil.
Kini Ciara tengah berjalan sembari menunggu ada taksi yang melintas di jalan yang saat ini ia lalui namun nampaknya hari ini adalah hari yang sial baginya karena tak ada satupun taksi yang melintas di sana padahal ia sudah berjalan beberapa meter dari rumahnya.
"Ya ampun taksi pada kemana sih? kok hari ini bisa kompak gini gak ada satupun yang nongol," gumam Ciara sembari menengok ke kanan dan kirinya.
"Mana ini udah jam setengah 7 lagi, kalau mau pesan grap, ponselku habis baterainya. Arkh, masak iya aku jalan sampai kantor bisa-bisa ini kaki jadi kayak kaki gajah dan sampai sana jam 5. Huh sial," sambung Ciara.
Saat dirinya terus bergumam, ada salah satu mobil yang melaju dengan cepat disamping Ciara dan menyebabkan genangan air yang dihasilkan dari hujan tadi malam mengenai tubuh beserta pakaian Ciara.
Ciara menggeram kesal saat tubuhnya kini telah basah kuyup karena ulah mobil yang melaju dengan sangat cepat. Namun untungnya sang pengendara mobil menghentikan laju mobilnya dan segera turun dari dalam mobil. Ia langsung menghampiri Ciara yang masih berdiam ditempat.
__ADS_1
"Maaf," ucap orang tersebut saat sudah berada didepan Ciara. Ciara menghela nafas berat. Sebenarnya ia ingin sekali memarahi pria didepannya ini dengan kata-kata kasar yang mungkin akan membuat hati pria tersebut sakit. Namun untuk saat ini Ciara tak ingin berdebat.
"Iya gak papa," jawab Ciara santai sembari membersihkan mukanya menggunakan tisu yang ia peroleh dari pria tersebut.
"Thanks tisunya. Saya permisi dulu," pamit Ciara sembari berjalan kearah rumahnya kembali. Mungkin untuk hari ini Ciara akan izin tak masuk kerja karena banyak kejadian menyebalkan dipagi ini yang membuat mood Ciara semakin. hancur saja.
Namun baru ia ingin melangkah pergi, tangan Ciara lebih dulu dicekal oleh pria tersebut.
Ciara menatap kearah pria tadi dan juga lengannya yang dicekal secara bergantian.
"Eh hmmm maaf," ucapnya sembari melepaskan tangannya di lengan Ciara.
"Saya akan mengganti baju kamu," sambungnya.
"Tak perlu. Saya masih punya baju ganti dirumah," tolak Ciara.
Pria tadi terdiam dan beberapa saat setelahnya ia merogoh saku celananya dan mengambil beberapa uang dari dalam dompetnya.
"Kalau kamu tak mau saya ganti bajunya. Ambillah uang ini sebagai permintaan maaf saya." Pria tersebut menyodorkan beberapa uang kearah Ciara dan dengan sopan Ciara mendorong tangan pria tersebut.
"Tidak, tidak. Saya beneran sudah memaafkanmu. Tadi hanya insiden yang tak disengaja saja," ucap Ciara.
"Walaupun kamu memohon, saya tak akan mengambil uang itu," tolak Ciara untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah kalau begitu izinkan saya mengantar kamu kembali kerumahmu. Untuk yang ini saya mohon jangan menolaknya," ucap pria tersebut yang benar-benar merasa bersalah.
Ciara menimbang tawaran pria tersebut sembari menatap pria tadi dari atas sampai bawah untuk memastikan jika pria di depannya itu bukanlah seorang mucikari dan sebagainya yang hanya modus dengan cara seperti tadi. Namun ketika dilihat dari penampilannya yang super duper formal membuat pikiran buruk Ciara tentang pria tersebut hilang.
"Baiklah saya terima tawaran kamu yang ini," ucap Ciara. Ia sebenarnya takut satu mobil dengan pria yang baru saja ia temui namun rasa gatal pada kulitnya sudah tak tertahankan lagi ditambah jarak rumah dan dirinya lumayan jauh.
Pria tadi mengangguk dan tersenyum manis membuat Ciara terpaku sesaat melihat senyuman indah yang membuat wajah tampan dari pria tersebut semakin terpancar.
"Mari," ajaknya.
Pria tersebut berjalan lebih dulu kearah mobil BMW X5 yang ia gunakan tadi diikuti Ciara dibelakangnya.
Setelah sampai di samping mobil. Pria tadi membukakan pintu untuk Ciara.
"Silahkan," ucapnya.
"Terimakasih kasih." Ciara dengan perlahan masuk ke dalam mobil tersebut dengan membaca basmalah. Berharap semoga dirinya tak diculik oleh pria itu.
__ADS_1
Setelah memastikan Ciara aman didalam mobil, pria tadi memutari mobil untuk sampai di pintu yang lainnya dan setelah itu ia duduk disamping Ciara.
"Jalan sesuai arahan wanita ini!" perintah pria tadi kepada sang sopir yang sedari tadi menunggunya di belakang kemudi. Sopir itu pun mengangguk. Setelah mendapat perintah tersebut, ia kemudian bertanya ke Ciara mengenai alamat lengkap wanita yang diajak bosnya tersebut untuk berbagi mobil.
Setalah mendapatkan alamat lengkap Ciara, sopir tersebut langsung tancap gas menuju lokasi yang disebutkan Ciara tadi.
Di dalam perjalanan tak ada percakapan sama sekali diantara mereka bertiga hingga sampai di depan rumah Ciara.
Dengan segera Ciara turun dari mobil tersebut dengan mengucap hamdalah karena ia selamat sampai rumahnya. Saat ia turun ternyata pria berjas itu ikut turun dan memandangi rumah Ciara sebelum Ciara berdehem untuk mengalihkan perhatian dari pria tersebut.
"Ehem terimakasih atas tumpangan yang kamu berikan tadi," ucap Ciara.
Pria tersebut menoleh kearah Ciara dan tersenyum.
"Jangan berterimakasih. Oh ya kamu punya toko kue?" tanyanya.
"Seperti yang anda lihat sekarang," jawab Ciara.
"Boleh saya beli kue kamu?" Ciara mengerutkan keningnya. Kalau mau beli ya beli saja kenapa harus minta izin segala, batin Ciara. Namun ia tak mungkin mengucapkan hal tersebut ke orang lain, jatuhnya nanti ia tak sopan dan nama baiknya bisa tercoreng.
"Silahkan," ucap Ciara guna mengizinkan pria tersebut untuk membeli kue yang ia jual.
Ciara kini melangkah menuju tokonya yang lumayan ramai dikunjungi oleh pembeli.
"Hmmm ini masih lumayan ramai. Kamu menunggu sebentar tak apa?" tanya Ciara.
"Tak apa kok," jawab pria tersebut.
"Kalau begitu silahkan duduk. Saya pamit ke dalam dulu untuk mengganti pakaian saya," ucap Ciara. Pria tersebut mengangguk. Namun saat Ciara berbalik dan ingin masuk kedalam, ucapan pria tadi menghentikannya.
"Nama kamu siapa?"
Ciara kembali membalikan badannya.
"Panggil saja Ciara," jawab Ciara.
Pria tersebut mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Ciara.
"Saya Dafit," ucapnya. Ciara tersenyum setelah itu ia segera melepaskan tautan tangan mereka.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." Dafit pun mengangguk dan akhirnya Ciara masuk kedalam rumahnya guna untuk mengganti pakaian kotornya.
__ADS_1