After Divorce

After Divorce
Bastian


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Widya banyak diam karena pikirannya sedang lelah memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


“Mulai sekarang kamu jangan banyak berpikir lagi ya. Mengenai masalah anak kita sudah selesai, jadi jangan kamu pikir-pikir lagi,” jelas Andre berusaha menenangkan Widya.


“Maafkan aku ya Ndre karena kelakuan Noval membuat istri kamu marah.”


“Kamu jangan khawatir tentang istri aku. Dia memang seperti itu.”


“Tapi aku merasa nggak enak aja.”


“Mudah-mudahan untuk kedepannya hubungan antara anak kita akan baik-baik saja ya,” ucap Andre.


“Iya Ndre, aku harap juga seperti itu.”


Sampai di persimpangan menuju ke rumah Widya, Widya langsung minta diturunkan di situ karena dia malu kalau ada orang yang melihatnya diantar oleh seorang lelaki maka akan menimbulkan fitnah nantinya. Namamya tinggal di kampung semua gerak kita pasti akan diperhatikan orang terutama Widya yang sudah menjadi janda.


***


Saat Widya sedang membereskan barang yang baru datang tba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung meraih ponsel yang ada di kantong celananya dan membaca isi pesan wa itu.


{“Siang ini aku ingin ketemu dengan kamu jadi kamu datang ke kantor aku karena ada yang akan aku bicarakan.”}


‘Ngapain mas Niko wa aku seperti ini. Apa yang akan dibicarakan,’ batin Widya heran.


Kemudian Widya memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya tanpa menjawab isi pesan wa itu.


***


Begitu pulang kerja Widya langsung pergi ke kantor Niko. Suasana kantor terlihat sudah sepi karena pegawai sebagian besar sudah pulang semua. Widya berjalan menyusuri ruang yang lumayan panjang untuk menuju ke ruang kerja Niko yang merupakan mantan suaminya.


“Tok, tok....” Widya mengetuk pintu ruang kerja mantan suaminya.


“Masuk....” Terdengar suara Niko dari dalam.


Widya langsung masuk dan duduk di depan Niko. Terlihat Niko hanya memperhatikan Widya tanpa berbicara apa pun membuat Widya langsung kesal.

__ADS_1


“Ada perlu apa Mas, kenapa aku disuruh kemari?” tanya Widya tanpa basa-basi.


“Aku hanya mau nanya sama kamu. Kenapa Noval aku telepon tidak mau menjawab, padahal aku ingin berbicara dengan dia.”


“Aku nggak tau Mas. Semalam saat aku telepon dia mau kok. Dia mengangkat telepon aku,” jelas Widya.


“Kamu kan ibunya, pasti kamu lebih tau masalah yang sedang dihadapinya,” jelas Niko.


Jantung Widya langsung berdetak kencang karena dia takut kalau suaminya mengetahui masalah yang dihadapi anaknya. Suaminya sudah pernah mengatakan padanya kalau Noval mengalami masalah di sekolahnya maka hak asuh atas Noval akan jatuh ke tangannya. Tentu hal ini membuat Widya sangat takut. Dia takut kalau nantinya hak asuh Noval jatuh ke tangan mantan suaminya.


“Sepanjang pengetahuan aku, Noval baik-baik aja. Dia tidak ada masalah di sekolah.”


“Ya udah kalau seperti itu, aku hanya mengingatkan saja kalau sampai Noval mengalami masalah di sekolah, kamu pasti ingat konsekuensinya. Hak asuh Noval akan jatuh ke tangan aku.”


“Aku tidak pernah lupa tentang hal itu Mas,” jawab Widya.


Keduanya pun langsung terdiam beberapa saat.


“Lalu apalagi yang akan kamu bicarakan?” tanya Widya sedikit kesal.


“Nggak ada, hanya itu aja,” jawab Niko.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, pikiran Widya tidak tenang. Dia sangat takut kalau hak asuh Noval akan jatuh ke tangan mantan suaminya.


***


Sampai di rumah Shinta dan Andri ribut kembali.


“Bagaimana pun aku tidak terima kalau Mas membiarkan anak itu tetap sekolah di tempat anak kita. Aku akan memindahkan Bastian ke sekolah lain,” ucap Shinta marah.


“Kamu nggak perlu melakukan hal itu Shin. Ngapain sih masalah kecil dibesar-besarkan,” ucap Andre santai.


“Apa yang baru kamu katakan Mas? Masalah kecil?” ucap Shinta marah.


“Iya. Bukankah masalah Bastian, masalah kecil tapi kenapa harus kamu besar-besarkan dan Bastian harus kamu pindahkan segala.”

__ADS_1


“Karena aku merasa nggak nyaman kalau anak kita bersekolah dengan anak yang bandel itu.”


“Kamu jangan menuduh anak lain bandel. Coba kamu lihat anak kita sendiri. Bukankah Bastian yang bandel dan bodoh lagi.”


“Kenapa kamu menghina anak kita sendiri Mas?”


“Aku bukannya menghina, tapi aku bicara apa adanya. Bastian tidak ada apa-apanya dibandingkan Noval. Noval itu anaknya baik, jujur dan juara kelas lagi. Sementara anak kita apa yang bisa kamu banggakan dari Bastian,” jelas Andre.


“Oh gitu sekarang ya. Kamu lebih memuji anak orang lain dibandingkan anak sendiri. Atau jangan-jangan wanita itu mantan kekasih kamu kan?”


Mendapat pertanyaan dari Shinta seperti itu Andre langsung meninggalkan istrinya di ruang keluarga dan dia langsung masuk ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian pintu ruang kerja Andre diketuk oleh seseorang.


“Masuk...” ucap Andre dari dalam.


Terlihat bi Ijah dengan tergopoh-gopoh masuk ke ruang kerja Andre.


“Ada apa Bi?” tanya Andre melihat bi Ijah seperti orang ketakutan dengan nafas yang turun naik.


“Bapak dipanggil tuan besar.” ucap bi Ijah.


“Tolong sampaikan sebentar lagi saya ke sana.”


Bi Ija langsung pergi meninggalkan Andre yang masih termenung di ruang kerjanya. Yang dimaksud tuan besar oleh Bi Ijah adalah ayah mertuanya.


Sejak menikah sampai sekarang Andre beserta istri dan anaknya tinggal di rumah mertua yang begitu besar. Mertuanya tinggal sendiri, sedangkan ibu mertuanya sudah lama meninggal sebelum Andri menikah dengan Shinta. Ayah mertuanya tidak memperbolehkan Shinta jauh darinya karena sejak istrinya meninggal hanya Shintalah yang dimiliki ayahnya.


Andre langsung beranjak dari duduknya dan naik ke lantai dua menuju ke ruang istirahat ayah mertuanya. Ayah mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan selalu menghabiskan waktunya setiap hari di lantai dua di ruang yang cukup luas dengan taman bunga yang begitu indah. Selain ruang mertuanya untuk istirahat juga dibuat taman yang tidak terlalu luas dengan ditumbuhi bunga-bunga yang indah dan kolam ikan yang tidak terlalu besar. Setiap hari kerja ayah mertuanya melihat ikan di kolam itu sambil duduk-duduk di taman yang terletak di lantai dua.


Sampai di lantai dua ayah mertuanya sedang memberikan makan ikan yang ada di kolam.


“Ada apa ayah memanggil saya?” tanya Andre.


“Kamu duduk dulu karena ada yang mau ayah sampaikan.”


Andre langsung duduk di dekat kolam ikan sambil memperhatikan ayah mertuanya saat memberi makan ikan di kolam itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian ayah mertuanya duduk di depan Andre. Andre merasa tidak tenang karena tidak biasanya ayah mertuanya memanggilnya.


‘Pasti Shinta udah mengadu pada ayahnya tentang masalah Bastian di sekolah,’ batin Andre.


__ADS_2