After Divorce

After Divorce
Benci


__ADS_3

“Sejak kapan aku tidak menganggap kamu sebagai suami aku?’ tanya Shinta.


“Selama ini kamu kan tidak pernah menganggap aku sebagai suami kamu. Kamu selalu bersenang-senang dengan teman-teman kamu bahkan dengan teman lelaki kamu. Kamu juga tidak sadar diri, sudah ketauan tidur dengan laki-laki lain tapi masih juga selalu menyalahkan aku. Kamu menyudutkan aku dan menuduh kalau aku sudah berselingkuh dengan Widya. Seharusnya kamu itu intropeksi diri.”


“Buktinya aku lihat sendiri barusan bahwa kamu bertemu dengan wanita itu tadi di taman bunga.”


“Kami ketemu itu secara kebetulan tidak ada disengaja.”


“Aku nggak percaya ucapan kamu Mas.”


“Terserah kamu percaya atau tidak, karena percuma aku ngomong sama kamu. Kamu tidak akan pernah percaya.”


Andre yang sejak tadi diam dan tidak terpancing emosi akhirnya emosinya meluap juga karena merasa dicurigai terus oleh istrinya. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar tapi langsung ditarik tangannya oleh Shinta.


“Mas, kamu jangan lari dari masalah ini. Kamu harus menjelaskan dulu semuanya.”


Andre yang merasa kesal dengan ucapan Shinta karena ucapannya itu itu aja yang sejak tadi diputar-putar, langsung membalikkan badannya dan menatap tajam pada istrinya.


“Mulai sekarang coba kamu banyak intropeksi diri dan jangan hanya tau melihat kesalahan orang lain. Dan perlu aku ingatkan sama kamu, seharusnya kamu bersyukur karena sampai detik ini aku belum meninggalkan kamu. Tapi aku nggak tau untuk ke depannya karena aku sudah muak dengan tingkah laku kamu,” ucap Andre penuh ketegasan dan langsung keluar kamar.


Mendengar ucapan suaminya Shinta sontak terkejut dan tidak membayangkan kalau suaminya akan mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu. Begitu suaminya keluar dari kamar, Shinta langsung meluapkan tangisnya di tempat tidur. Dia sangat sedih dan kesal pada suaminya.


Kekesalannya berawal dari saat melihat suaminya duduk bersama Widya, sedangkan kesedihan yang melanda perasaannya saat mendengar ucapan suaminya barusan. Shinta dapat merasakan bahwa suaminya sudah tidak mencintainya lagi bahkan dari ucapan suaminya sepertinya suaminya sudah tidak ingin mempertahankan rumah tangganya lagi. Tentu hal ini membuat Shinta merasa kesal, sedih dan juga takut akan kehilangan suaminya.


Shinta langsung mengepalkan tangannya karena kesal. ‘Ini semua karena kamu Widya. Aku akan membuat perhitungan pada kamu Widya. Tunggu aja pembalasanku. Kamu tidak akan pernah mendapatkan suamiku, karena aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati suamiku lagi.


***


Andre langsung masuk ke ruang kerjanya dan dia langsung rebahan di sofa. Badan dan pikirannya sangat lelah. Ucapan istrinya membuat otaknya seperti mau pecah. Dia rebahan di sofa sambil merenungi nasibnya.


Keinginannya untuk meninggalkan Shinta sudah bulat hanya saja yang menjadi penghalang saat ini adalah Bastian. Dia kasihan dengan Bastian. Apalagi Bastian sedang mengalami masa pertumbuhan dimana perasaannya sangat sensitif dan gampang terpengaruh oleh lingkungan. Andre takut kalau nantinya dia bercerai dengan Shinta akan mempengaruhi perkembangan mental Bastian. Hal inilah yang membuat Andre semakin bimbang.

__ADS_1


Dalam hatinya Andre sudah bertekad bulat untuk bercerai dengan Shinta karena dia sudah bosan hidup dengan Shinta yang selalu semena-mena padanya dan tidak pernah menghargainya sebagai suami. Kalau ngomong selalu mau menang sendiri tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain.


***


Begitu sampai rumah Noval langsung menanyakan pada ibunya.


“Bu, sebenarnya ada apa sih. Kenapa Ibu langsung mengajak Noval pulang?” tanya Noval heran.


Melihat ibunya menangis sedih Noval merasa kasihan. Apalagi saat ibunya menceritakan padanya bahwa baru saja ibunya dilabrak oleh maminya Bastian karena melihat duduk bersama papinya Bastian.


“Kenapa tidak Ibu jelaskan pada maminya Bastian kalau papinya Bastian baru aja duduk di samping Ibu?” ucap Noval.


“Ibu belum sempat menjelaskan Noval karena maminya Bastian langsung marah-marah dan ibu malu dilihat orang banyak.”


“Ya udah, Ibu bersabar ya. Ibu jangan bersedih lagi. Noval nggak mau melihat ibu bersedih.”


Widya langsung tersenyum melihat putranya. Perasaan sedihnya langsung hilang ketika melihat senyum Noval.


“Bu, Nova mau bertanya,” ucap Noval terputus.


“Mau nanya apa Sayang?” Widya langsung mengelus kepala putranya lembut.


“Bu, kenapa papinya Bastian sangat baik, berbeda dengan maminya,” jelas Noval.


“Maksud kamu baik gimana Noval?” tanya Widya heran.


“Waktu papinya Bastian datang ke sekolah dan menemui Noval, terlihat kalau papinya Bastian sangat baik loh Bu. Ucapannya juga sangat lembut, berbeda dengan maminya.”


“Memangnya papinya Noval nanya apa aja?”


“Saat itu papinya Noval nanya kenapa Noval melukai Bastian.”

__ADS_1


“Lalu Noval ngomong apa?”


“Ya Noval jelaskan semuanya. Terus papinya Bastian mengelus kepala Noval. Katanya Noval harus rajin belajar dan jangan pernah mengecewakan Ibu. Itu kata papinya Bastian, Bu. Terus papinya Bastian nanya sama Noval, Noval rangking berapa di sekolah. Ya Noval kasih tau kalau Noval ranking satu dan papinya Bastian langsung heran. Pokoknya Noval perhatikan papinya Bastian sangat baik dan sayang loh Bu. Noval pingin punya ayah yang seperti papinya Bastian. Orangnya baik dan lembut tidak seperti ayah.”


Widya langsung tertawa mendengar penjelasan putranya.


“Memangnya ayah kamu kenapa, apa tidak baik?” tanya Widya lagi.


“Ayah sih baik sama Noval tapi jahat sama Ibu.”


“Kamu ada-ada aja Noval,” ucap Widya sambil tersenyum.


“Buktinya ayah sering membuat Ibu menangis.”


“Tapi ayah sebenarnya baik kok. Ibu aja yang selalu berbuat salah makanya ayah marah.”


Di depan Noval, Widya tidak mau memburukkan ayahnya supaya Noval tidak membenci ayahnya.


“Nggak Bu. Noval lihat sendiri bahwa ayah tidak sayang sama Ibu. Ayah hanya sayang sama Noval. Buktinya ayah suka memukul Ibu.”


“Ayah memukul ibu kan karena ibu yang salah,” jawab Widya membela ayahnya Noval.


“Tapi kan nggak harus dipukul Bu. Paling enggak dikasih tau. Ini langsung dipukul. Pokoknya Noval nggak suka sama ayah.”


“Kamu nggak boleh membenci ayah kamu, Noval. Bagaimana pun dia itu ayah kamu dan harus kamu hormati dan hargai.”


“Tapi Noval tetap nggak suka dengan kelakuan ayah, Bu yang suka mukul.”


Widya pun terdiam mendengarkan ucapan putranya. Noval walaupun belum dewasa tapi sudah pandai menilai ayahnya. Dian terlihat sangat membenci ayahnya dan juga neneknya karena Noval sering melihat sendiri bagaimana kelakuan ayah dan neneknya pada ibunya.


Melihat perlakuan ayah dan neneknya yang tidak baiik pada ibunya membuat Noval semakin membenci mereka. Bahkan kalau ayah dan neneknya mengunjunginya di pesantren Noval malas untuk menemui mereka. Ayahnya juga dapat merasakan kalau anaknya kurang menyukaianya. Bahkan Niko pernah menelpon Widya untuk menasehati Noval agar jangan membenci dirinya dan juga ibunya.

__ADS_1


Walaupun Widya sudah memberikan penjelasan pada putranya tapi Noval tetap saja membenci ayah dan neneknya.


__ADS_2