
"Mommy!" teriak Rayden diantara suara riuh yang tercipta di dalam aula.
Dan seperti sebuah ikatan batin yang kuat, Jia mampu mendengar suara itu. Dia melepaskan pelukannya dengan Daniel dan menghadap ke arah sumber suara.
Deg! betapa terkejutnya Jia saat disana dia melihat Alex yang menatapnya lekat.
Sesaat Alex memang menatapnya dengan tatapannya yang entah, namun tak berselang lama Alex tersenyum dan Jia pun mengukirkan senyum yang sama.
Jia buru-buru berjongkok, lalu melepas ikatan tali di kakinya dan kaki Daniel.
"Tuan, saya permisi dulu. Ada Rayden disana," pamit Jia.
Dan dengan anggukan kecil Daniel, Jia langsung berlari menuju sang anak. Sementara Daniel melambaikan tangannya pada Rayden, bocah berusia 4 tahun itu pun membalas tak kalah antusias. Melambai dengan tubuhnya yang melompat-lompat.
Rayden suka sekali keramaian seperti ini.
"Mommy!" panggil Rayden sekali lagi saat ibunya sudah semakin dekat, Alex melepaskan pegangannya pada Rayden dan membiarkan anaknya ini memeluk ibunya erat.
"Mommy senang sekali Rayden datang, apa Rayden ingin bermain juga? ada lomba anak-anak disebelah sana," tawar Jia, beberapa perlombaan untuk anak-anak para karyawan hotel pun disediakan dalam gathering kali ini. Benar-benar acara gathering yang erat akan kekeluargaan.
"Benarkah? Rayden mau!!" jawabnya antusias.
__ADS_1
Dan Jia langsung melirik Alex untuk meminta persetujuan. Dilihatnya Alex yang mengangguk kecil.
Jia bangkit, kini dia yang menggandeng tangan Rayden.
"Kamu juga ikut, kita berdua menemani Rayden," ucap Jia setelah dia berdiri sempurna, menatap Alex hingga tatapan mereka berdua saling terkunci.
Aula ini bising sekali, namun telinga mereka seolah jadi tuli. Tidak mendengar apapun dan hanya tenggelam di dalam tatapan itu.
"Tapi aku harus pergi, ada proyek yang harus aku datangi bersama Sean."
"Iya Mom, daddy memang mau pergi, nanti aku akan pulang ke apartemen daddy bersama Ina." Rayden juga ikut menjelaskan.
Namun sebelum benar-benar pergi, tiba-tiba Alex merunduk lalu berjongkok dibawah kaki Jia. Wanita ini sontak mundur perlahan dan terhenti saat melihat Alex menjangkau tali sepatunya yang terlepas.
Alex mengikatnya kembali, tidak ingin Jia sampai terjatuh karena tali ini.
Hati Alex kembali terenyuh diantara kedua tangannya yang terus mengikat tali itu. Alex sadar betul selama ini dia tidak pernah memperlakukan Jia dengan baik, tidak bisa membuat Jia tertawa lepas seperti saat bersama pria tadi.
Alex sangat ingin memutar waktu dan memperbaiki semuanya.
Namun lagi-lagi Alex sadar jika itu tidak akan mungkin.
__ADS_1
Yang bisa Alex lakukan hanya satu, menunjukkan pada Jia tentang ketulusan hatinya saat ini.
Sementara Jia pun terpaku, tidak menyangka Alex akan melakukan itu. Dia hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar.
Setelah tali itu terikat sempurna, Alex kembali bangkit.
"Berhati-hati lah, jangan sampai jatuh," ucap Alex penuh perhatian, sedangkan Jia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan kikuk.
"Nikmati hari ini, bersenang-senanglah," ucap Alex lagi dan Jia mengangguk lagi.
"Daddy tidak cium mommy dulu? biasanya kan sebelum pergi cium Rayden dan Mommy," cetus Rayden.
Itu kebiasan mereka dulu, saat Alex terpaksa melakukannya dihadapan Rayden.
Namun sungguh, kini Alex ingin mengulanginya lagi.
Tapi tidak bisa.
Alex hanya mencium kepala Rayden, lalu menyentuh lengan Jia sebagai tanda pamit.
Namun seperti itu saja sudah mampu membuat Jia tersipu, tapi sayang Alex tidak melihat pipinya yang merona, karena dia sudah berlalu.
__ADS_1