After Divorce

After Divorce
Padam


__ADS_3

Ketika Andre membandingkan sikap Bastian dan Noval sangat jauh berbeda. Noval terlihat sangat mandiri dan juga sangat sopan sedangkan Bastian sering berbohong bahkan tadi saat Andre bertanya pada Bastian tentang kejadian ketika dia berantem dengan Noval terlihat Bastian banyak berbohong untuk menutupi kesalahannya. Dari gerak-gerik dan cara bicara Bastian, Andre bisa melihat sendiri kalau anaknya banyak berbohong karena Bastian selalu menjawab pertanyaan ayahnya berbelit-belit membuat Andre merasa kesal sendiri. Sedangkan ketika Andre bertemu dengan Noval terlihat Noval sangat sopan dan hanya sedikit pendiam. Dari penampilan Noval, Andre bisa menilai bahwa Noval anaknya baik, jujur dan mandiri.


“Suami kamu tau kalau kamu ketinggalan bus?” tanya Andre lagi pura-pura tidak tau kalau Widya sudah berpisah.


Widya sempat terdiam beberapa saat karena dia sedang memikirkan jawaban apa yang harus diucapkan pada Andre.


“Aku sudah ngantuk Ndre. Aku ingin langsung tidur.”


“Ya udah, kalau kamu mau tidur di ranjang ini ya biar aku tidur di mobil.”


Kemudian Widya berjalan ke tempat tidur sedangkan Andre beranjak dari tempat tidur dan akan keluar untuk tidur di mobil. Tapi saat Widya berjalan ke tempat tidur tiba-tiba lampu padam membuat Widya sangat terkejut sehingga tanpa sengaja dia langsung menarik Andre dalam pelukannya.


Andre yang merasakan tubuhnya dipeluk Widya hanya bisa pasrah sambil tersenyum. Kemudian lampu menyala kembali dan terlihat wajah Widya merah padam karena merasa malu. Dia buru-buru melepaskan pelukannya sambil menundukkan kepala karena malu dilihat Andre.


“Maaf Ndre, aku nggak sengaja.”


Tiba-tiba lampu padam kembali dan kali ini Andre yang memeluk Widya karena tau Widya takut akan kegelapan.


Saat kuliah dulu Andre sudah mengetahui bahwa Widya sangat takut dengan kegelapan.


“Sabar ya, paling sebentar lagi lampu menyala lagi dan mungkin ini akibat hujan deras,” bisik Andre di telinga Widya.


Terlihat di luar hujan sangat deras dan cahaya kilat terlihat jelas dari balik jendela kaca membuat Widya semakin takut. Hujan yang sejak sore tadi turun sampai sekarang belum redah juga.


Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang dan Andre langsung berjalan pelan-pelan menuju ke arah pintu diikuti oleh Widya yang merasa takut. Tanpa sadar tangan Widya langsung menggenggam tangan Andre dan berjalan ke arah pintu. Begitu pintu dibuka terlihat seorang pemuda yang merupakan pekerja di penginapan itu memberikan sebuah lampu emergency.


“Mas, maaf mesin lampu di penginapan ini sedang rusak pula jadi untuk sementara waktu Mas bisa pakai lampu ini,” ucap pria itu memberikan lampu kecil.


“Terima kasih Mas,” jawab Andre sambil menerima lampu dari tangan pria itu.


Setelah kamar terang oleh lampu emergency itu Widya buru-buru melepaskan pegangannya. Dia kemudian duduk di tepi ranjang sedangkan Andre akan pergi ke mobil.


“Kamu berani kan di sini sendiri biar aku tidur di mobil.”


Widya yang sejak tadi memikirkan rasa takutnya akibat mati lampu dan hujan sangat deras membuat dia tidak malu lagi untuk melarang Andre agar jangan tidur di mobil.


“Andre, aku takut.”


“Takut kenapa?” tanya Andre.


“Aku takut tidur di sini sendiri.”


“Jadi?” tanya Andre heran.

__ADS_1


“Maksud aku gimana kalau kamu tidur di kamar ini aja.”


Andre langsung tersenyum menatap wajah Widya.


“Nanti kamu tidak nyaman aku tidur di kamar ini.”


Widya langsung menggelengkan kepalanya.


“Nggak Ndre aku pasti nyaman. Aku takut karena mati lampu dan hujan deras disertai petir,” jelas Widya tanpa malu-malu karena sudah terdesak keadaan.


“Ya udah, kalau kamu takut dan kamu percaya sama aku biar aku tidur di kamar ini,” ucap Andre langsung mengelus kepala Widya lembut.


“Sekarang kamu tidur ya.”


Setelah Widya rebahan Andre langsung menyelimutinya.


“Kenapa kok belum tidur juga?” tanya Andre saat melihat mata Widya masih terbuka.


“Kamu sekarang tidur ya. Jangan khawatir aku nggak akan berbuat mesum,” ucap Andre.


Malam ini Widya hanya pasrah bahkan saat Andre menggenggam jemarinya erat dan mengelus ujung kepalanya Widya hanya diam saja. Dia seperti berada dalam mimpi yang indah karena tidak pernah dibayangkan akan bertemu Andre kembali setelah lama tidak bertemu.


Setelah beberapa saat akhirnya Widya pun tertidur pulas. Dilihat Widya sudah tertidur pulas Andre langsung mengecup kening Widya yang pernah mengisi hari-harinya dengan canda dan tawa. Tapi sekarang yang ada hanyalah tinggal kenangan belaka mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu membuat Andre merasa sedih karena kehidupan keduanya sekarang sudah jauh berbeda dimana keduanya sudah mempunyai kehidupan masing-masing.


Sinta langsung menelepon bapak kepala sekolah.


[“Hallo, Assalamualaikum Bu...”] ucap bapak kepala sekolah.


[“Waalaikumsalam Pak. Maaf Pak saya mau nanya. Kebetulan saya sekarang lagi tidak di rumah. Saya mau nanya gimana kelanjutan masalah anak saya, apakah sudah diproses Pak?”]


[“Maksud Ibu gimana ya?”]


[“Maksud saya apakah anak yang melukai Bastian sudah diberikan sanksi?”]


Bpak kepala sekolah pun terdiam karena bingung mendengar pertanyaan maminya Bastian.


[“Maaf Ibu, mengenai masalah itu sudah selesai.”]


[“Oh, gitu ya Pak. Berarti jadi donk anak itu pindah sekolah.”]


‘Pindah sekolah?’ batin bapak kepala sekolah bingung.


[“Pindah sekolah gimana Bu?”] tanya bapak kepala sekolah lagi.

__ADS_1


[“Anak yang melukai Bastian loh Pak. Apakah sudah jadi dikeluarkan dari sekolah itu.”]


[“Bukankah pak Andre sudah mencabut tuntutannya Bu?”]


[“Mencabut tuntutannya?”] Shinta pun merasa terkejut mendengar penjelasan bapak kepala sekolah.


[“Iya Bu. Apakah pak Andre tidak cerita sama Ibu kalau dia sudah mencabut tuntutannya pada Noval dan orang tua Noval juga sudah datang ke sekolah.”]


Shinta langsung marah karena dia tidak tau kalau suaminya telah mencabut tuntutannya.


[“Tapi tidak bisa seperti itu Pak. Saya yang menuntut anak itu agar dipindahkan dari sekolah ini.”]


[“Tapi suami Ibu yang mencabut kembali tuntutannya.”] jelas bapak kepala sekolah.


Akhirnya Shinta hanya diam saja dan tak mampu berbuat apa-apa walau pun dia merasa tidak terima dengan keputusan yang telah diambil suaminya tanpa kompromi lebih dahulu dengannya.


Kemudian Shinta langsung menelepon suaminya.


[“Hallo, ada apa Shin?”] tanya Andre.


[“Mas, kenapa Mas cabut kembali tuntutan pada anak yang telah mencelakai anak kita?”]


[“Memangnya kenapa?”] tanya Andre.


[“Mas nggak bisa gitu donk. Enak kali anak itu, sudah bersalah tidak dapat hukuman. Memangnya Mas nggak kasihan sama anak kita Bastian.”]


Andre yang mendengar ucapan istrinya merasa malas untuk menanggapinya.


[“Kalau tujuan kamu menelepon aku hanya untuk membicarakan hal itu, lebih baik kita bicarakan nanti di rumah kalau kamu sudah pulang dari Singapura. Sekarang aku lagi sibuk.”]


[“Mas tunggu dulu donk, aku kan belum selesai bicara.”]


[“Apalagi yang mau kamu bicarakan.”]


[“Ya masalah anak kita.”]


[“Tapi kan sudah selesai masalahnya, jadi nggak ada yang perlu lagi dibicarakan.”]


[“Kenapa Mas mengambil keputusan sendiri tanpa kompromi dengan aku.”]


[“Percuma kalau kompromi dengan kamu, yang ada hanya emosi saja.”]


[“Tapi Mas tidak menghargai aku sebagai istri.”]

__ADS_1


__ADS_2