After Divorce

After Divorce
Gagal


__ADS_3

Cafe itu terlihat kecil tapi begitu masuk ke dalam ternyata di dalam cukup luas karena dilengkapi dengan kolam ikan dan juga taman bunga yang sangat indah. Sengaja Andre duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Suasananya tidak begitu ramai, Andre dan Shinta langsung duduk saling berhadapan. Tidak lama kemudian pegawai cafe itu datang menghampiri mereka sambil menyodorkan daftar menu makanan yang ada di cafe itu. Andre langsung memesan minuman dan makanan ringan sedangkan Shinta hanya memesan teh botol. Setelah pegawai itu pergi Shinta yang sudah tidak sabar dan langsung bertanya pada suaminya.


“Mas, kita mau ngapain di sini. Kenapa kamu ajak aku kemari?” tanya Shinta.


Terlihat Andre langsung menarik napas dalam seperti ada yang akan disampaikan tetapi masih berat rasanya. Akhirnya setelah didesak oleh Shinta, Andre langsung buka suara.


“Maafkan aku sebelumnya Shinta karena aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita.”


“Maksud Mas apa? tanya Shinta bingung.


“Aku akan mengakhiri rumah tangga kita.”


Shinta yang mendengar ucapan suaminya langsung terkejut. Seperti disambar petir di siang bolong rasanya.


“Mas, aku nggak mengerti maksud Mas.”


Mata Shinta langsung berembun mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka kalau ucapan itu akan keluar dari mulut suaminya. Akhirnya dengan perasaan berat Andre melanjutkan perkataannya.


“Sengaja aku tidak pulang ke Medan setelah acara kantor selesai karena aku ingin menenangkan diri sambil intropeksi diri atas kelakuanku selama ini. Aku berusaha untuk menyelamatkan rumah tangga kita Shinta, tapi sampai detik ini aku tidak bisa mempertahankannya. Rasanya aku sudah lelah untuk melanjutkan rumah tangga kita.”


“Jadi maksudnya Mas mau bercerai?” tanya Shinta sambil menangis.


Andre langsung menganggukkan kepalanya. Mendengar ucapan suaminya tangis Shinta langsung pecah. Perasaannya sangat sakit dan hancur. Emosinya langsung meluap seketika itu. Sambil menangis dia berkata pada suaminya.


“Kenapa Mas setega itu padaku. Apa karena wanita itu? Apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu sampai membuat Mas ingin bercerai dari aku? Mas nggak pernah menghargai perasaanku. Mas juga nggak pernah memikirkan perasaan Bastian. Bagaimana perkembangan jiwa Bastian kalau mengetahui kita bercerai Mas. Pasti jiwanya akan terguncang apalagi kalau dia tau Mas akan menikah dengan ibunya Noval. Pasti dia akan kecewa dan marah. Apa Mas nggak nggak kasihan pada Bastian?”


Sengaja Shinta menyebut nama Bastian dengan harapan Andre dapat merubah keputusannya karena Shinta tau Andre selalu menyayangi Bastian. Shinta yakin Andre akan merubah keputusannya jika memikirkan perasaan Bastian.


Andre yang mendengar ucapan istrinya merasa sangat sedih bila mengingat Bastian yang merupakan putra tunggal mereka. Salah satu pertimbangan Andre untuk bercerai dari cinta adalah karena Bastian. Dari awal perselingkuhan Shinta dengan kekasihnya Andre sudah ingin bercerai karena dia merasa dikhianati. Tapi memikirkan putra satu-satunya akhirnya Andre mengurungkan niatnya dengan harapan Shinta dapat merubah segala sifat jeleknya. Tapi kesempatan yang sudah diberikan oleh Andre agar Shinta dapat merubah kelakuannya selalu disia-siakan oleh Shinta. Hal ini membuat Andre semakin kecewa sehingga perasaan cintanya pada istrinya lama-kelamaan pudar dan sekarang perasaan cinta itu sudah tidak ada lagi.


Andre sekarang merasa tersiksa dengan kehidupannya. Hidup dalam satu rumah dengan istrinya tapi tidak ada rasa cinta sedikitpun karena rasa cintanya sudah hilang ditelan oleh penghianatan Shinta.


“Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Bastian, Mas?”


Shinta bertanya lagi pada Andre karena dilihatnya Andre hanya diam saja. Setelah diam beberapa saat, Andre langsung berkata.


“Masalah Bastian jauh sebelumnya sudah aku pikirkan. Karena memikirkan perasaan Bastian makanya baru sekarang aku mengemukakan perasaanku. Biar kamu tau Shinta, sebelum aku ketemu dengan Widya, aku sudah berencana mengakhiri rumah tangga kita. Aku rasanya sudah lelah hidup bersamamu dan aku juga yakin perpisahan kita adalah jalan yang terbaik. Kita hidup bersama dalam satu atap tetapi perasaan cintaku sudah tidak ada sama sekali. Semua ini karena perselingkuhanmu.”


Mendengar penjelasan suaminya air mata Shinta semakin deras jatuh menetes di pipinya. Dia sangat sedih sekaligus marah mendengar penjelasan suaminya. Bahkan dia tidak terima ketika suaminya mengatakan bahwa suaminya sudah tidak mencintai dirinya lagi karena Shinta berselingkuh.


“Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku akan merubah semua kelakuanku Mas. Tapi tolong beri aku waktu. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kelakuanku.”


“Shinta, aku sudah beberapa kali memberikan kesempatan pada kamu untuk berubah. Tapi sampai detik ini kamu tidak pernah berubah. Buktinya beberapa hari yang lalu aku menemukanmu berdua di kamar dengan pria itu.”


“Maaf Mas. Aku saat itu sedang galau sehingga aku menghubungi Bobby dan kami janjian ketemu di tempat itu. Aku juga tidak menyangka ternyata pertemuan itu dimanfaatkan oleh Bobby untuk menghancurkan rumah tangga kita. Aku khilaf Mas.”


“Shinta, yang namanya khilaf itu hanya sekali. Tapi kalau beberapa kali itu bukan khilaf lagi.”


“Tapi memang itu bukan keinginanku Mas. Tolong dengarkan aku sekali ini aja. Tolong kasih kesempatan aku sekali lagi. Aku janji akan merubah segala kelakuanku untuk lebih baik lagi.”


“Sayang Shinta karena kesempatan itu sudah tidak ada lagi karena aku akan menikahi Widya.”

__ADS_1


“Mas, apa maksud kamu menikahi wanita itu?”


“Ya karena aku sangat mencintainya.”


“Kamu tega ya Mas. Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Sanggup kamu mengatakan seperti itu di depanku.”


“Shinta, kamu juga harus intropeksi diri. Siapa yang lebih tega dalam masalah ini. Kamu sudah dua kali ketauan selingkuh dengan pria yang sama. Apa pernah kamu memikirkan perasaanku. Apa pernah kamu memikirkan aku akan sakit hati ataupun cemburu. Nggak pernah kan. Kenapa disaat aku ingin memutuskan hubungan denganmu kamu katakan seperti itu.”


“Pokoknya aku nggak terima Mas. Aku nggak terima kamu menikah dengan wanita itu.”


“Kamu setuju atau tidak setuju aku akan tetap menikahi Widya.”


“Tapi aku nggak mau dicerai Mas.”


“Terserah kalau kamu tidak mau dicerai, tapi aku tetap akan menikahi Widya.”


Akhirnya Shinta hanya diam saja walaupun perasaannya sangat sakit.


‘Ingat Widya, aku akan membuat perhitungan padamu. Aku yakin kamu tidak akan bisa menikah dengan mas Andre karena aku akan menghalangimu. Aku akan melakukan segala cara supaya kamu tidak bisa menikah dengan mas Andre,’ batin Shinta geram.


Setelah keduanya diam beberapa saat Andre langsung meneguk minumannya sampai habis.


“Aku akan menginap di rumah Vera. Kamu mau nginap di mana. Kalau mau menginap di rumah Vera, ayo sekarang ikut dengan aku,” ucap Andre.


Shinta berpikir sesaat dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut dengan Andre dan bermalam di rumah Vera.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Vera keduanya diam saja. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka. Andre terlihat santai, sedangkan Shinta cemberut saja. Perasaannya sangat sakit dan marah. Sakit dengan keputusan yang diambil Andre, sekaligus marah dengan Widya. Bahkan Shinta sudah bertekad akan menggagalkan keinginan Andre untuk menikahi Widya.


Widya dan Vera langsung masuk ke kamar. Sampai kamar penginapan Widya langsung meluapkan tangisnya.


“Mbak Widya yang sabar ya,” ucap Vera menenangkan Widya yang sedang sedih.


“Mbak bingung dengan keputusan Andre, Vera. Andre berkeinginan keras untuk menikahi Mbak. Mbak nggak mau merusak rumah tangga mereka. Pasti semua orang akan menganggap mbak sebagai pelakor,” ucap Widya sambil menangis.


“Mbak jangan terlalu khawatir karena kami sudah tau masalah yang sebenarnya.”


“Maksud kamu apa Vera?” tanya Widya heran.


“Bang Andre sudah cerita semuanya sama kami dan kami juga maklum dengan kondisi jiwa bang Andre. Menurut kami wajar aja kalau bang Andre mau menikahi mbak Widya. Kami selalu mendukung Mbak. Yang penting bang Andre bahagia.”


“Tapi mbak sendiri merasa nggak enak Vera karena ada yang terluka dalam hal ini yaitu istrinya Andre,” jelas Widya bingung.


“Tapi semua ini kan karena kesalahan kak Shinta. Dialah yang membuat masalah ini. Kalau dia tidak berkhianat dan selalu setia, mungkin bang Andre lama-kelamaan aku mencintainya. Sekarang setelah bang Andre menemukan cinta sejatinya yaitu mbak Widya, Kak Shinta ribut dan tidak terima.”


“Hati istri mana yang nggak akan sakit kalau melihat suaminya akan menikah lagi Vera.”


“Tapi kita seharusnya kan intropeksi diri Mbak. Kalau suami kita akan menikah lagi pasti ada alasan yang jelas dan kita cari tau apa penyebabnya. Begitu juga dengan kak Shinta. Seharusnya Kak Shinta bisa mengerti. Dia dia sudah pernah berselingkuh dengan seorang pria dan ketauan oleh bang Andre. Bang Andre kemudian memaafkannya dan memberi kesempatan pada kak Shinta untuk berubah. Tapi kesempatan yang di berikan bang Andre disia-siakan bahkan belakangan ini bang Andre memergoki langsung kak Shinta tidur dengan pria itu lagi di dalam kamar di diskotik.”


“Maksud kamu, Andre melihat sendiri istrinya sedang di kamar bersama pria lain?” tanya Widya tidak percaya.


“Benar Mbak. Karena bang Andre sudah tidak mencintai kak Shinta makanya saat melihat sendiri kak Shinta sedang berdua di dalam kamar, bang Andre nggak marah. Bang Andre langsung mengajak kak Shinta untuk pulang.”

__ADS_1


Widya pun terdiam memikirkan ucapan Vera. Dia tidak menyangka kalau masalah Andre sebesar itu.


“Itulah salah satu alasan bang Andre untuk meninggalkan kak Shinta.”


‘Kasihan kali Andre. Ternyata kehidupan rumah tangganya jauh lebih berat dari pada rumah tanggaku.’


“Bukan hanya itu saja Mbak yang jadi pertimbangan bang Andre. Bang Andre juga merasa tertekan dengan sikap ayah mertuanya.”


“Memangnya sikap ayah mertuanya gimana?” tanya Widya ingin tau.


“Kalau menurut cerita bang Andre, ayah mertuanya selalu menyalahkan dirinya dan selalu membela kak Shinta sementara kak Shinta terang-terangan telah berbuat salah. Dan ayah mertuanya selalu ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka sehingga kak Shinta selalu menganggarkan ayahnya. Masalah perusahaan juga ayah mertuanya selalu ikut campur padahal bang Andre sebagai pemimpin di perusahaan itu. Seharusnya semua keputusan bang Andre yang menentukan tapi ini semua ditentukan oleh ayah mertuanya.”


“Kasian juga Andre ya Vera. Mbak gak menyangka kalau masalah yang dihadapi Andre ternyata cukup berat.”


“Makanya Mbak, Vera dan kak Lina sangat mendukung bang Andre kalau berpisah dengan kak Shinta dan menikahi mbak Widya.”


“Tapi untuk saat ini mbak belum siap untuk menikah dengan Andre.”


“Memangnya kenapa Mbak?”


“Mbak masih memikirkan anak kami. Anak mbak dan anak Andre satu sekolahan dan bahkan satu kelas. Gimana reaksi mereka kalau nantinya kami menikah. Apalagi baru-baru ini anak mbak dan anak Andre berantem di kelas sehingga mereka bermusuhan. Pasti mereka akan semakin bermusuhan kalau kami menikah dan pastinya Bastian akan semakin membenci anak mbak karena menganggap mbak telah merebut ayahnya.”


Vera yang dengarkan penjelasan Widya merasa terkejut.


“Berarti saat ini hubungan antara anak Mbak dan Bastian enggak cocok?”


“Iya Vera. Baru-baru ini mereka bermasalah sehingga mbak dipanggil ke sekolah dan itulah awal mbak ketemu dengan Andre.”


“Yang Mbak katakan ada benarnya. Mbak masih memikirkan anak Mbak dan Bastian. Kalau saran Vera ya Mbak. Mulai dari sekarang Mbak dan bang Andre harus memberikan alasan kenapa mbak mau menikah dengan bang Andre.”


“Bener Vera. Makanya udah Mbak katakan sama Andre bawa mbak belum mau menikah untuk saat ini. Mbak masih fokus dengan Noval. Nanti kalau Noval dan Bastian sudah bisa menerima kami, barulah kami menikah. Itu pun kalau Andre sudah bercerai dengan istrinya. Jadi mbak nggak mau buru-buru menikah dengan Andre karena mbak enggak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang.”


“Kalau memang itu alasan Mbak, pasti bang Andre mengerti. Jadi Vera harap mbak Widya harus sabar dan jangan pernah takut dengan ancaman kak Shinta. Vera dan kak Lina pasti mendukung karena kami juga kasihan melihat nasib bang Andre. Vera juga minta maaf ya Mbak karena memberitau kak Shinta keberadaan bang Andre. Tadi kak Shinta marah-marah bahkan dia mengancam kalau tidak memberi tau keberadaan bang Andre, dia akan membuat keributan di rumah Vera.”


Vera yang tau sifat Shinta akhirnya menelpon Andre. “Vera takut kalau kak Shinta benar-benar membuat keributan di rumah Vera. Pasti Vera akan malu dengan tetangga Vera makanya Vera langsung menanyakan bang Andre sekarang di mana. setelah Bang Andre memberitau keberadaannya Vera langsung membawa kak Shinta menemui bang Andre di sini.”


“Nggak apa-apa Vera. Mbak maklum kok.”


“Ya udah, sekarang Mbak istirahat ya biar Vera pulang dulu. Kalau ada apa-apa cepat kabari Vera dan kalau besok ada waktu Vera akan datang kemari lagi.”


“Rencana besok mbak akan balik ke Medan.”


“Kenapa cepat kali Mbak?”


“Mbak hanya minta izin dua hari nggak masuk kerja. Makanya besok balik ke Medan.”


“Mbak pulang sendiri atau bersama bang Andre?”


“Rencananya sama Andre, tapi istrinya sudah menjemputnya. Mbak nggak tau lagi kapan Andre balik ke Medan. Makanya mbak besok pulang sendiri ke Medan. Mbak juga nggak enak kalau pulang sama Andre dan juga istrinya. Lebih baik mbak pulang sendiri aja.”


“Bener Mbak. Kan nggak mungkin Mbak ikut dengan mereka. Kalau memang mau pulang, ya udah Mbak besok pulang aja sendiri nggak perlu menunggu bang Andre. Hanya Vera ingatkan, Mbak harus mengutamakan perasaan Mbak. Mbak jangan pernah merasa sebagai pelakor karena Mbak bukan pelakor tapi Mbak adalah cinta sejati bang Andre. Makanya mbak harus menikah dengan bang Andre kalau pun tidak sekarang ya mungkin nanti setelah Noval dan Bastian sudah bisa menerimanya.”

__ADS_1


“Terima kasih Vera atas dukungannya dan akan mbak pertimbangkan ucapan kan.


__ADS_2