
“Maksud Mas apa?” tanya Shinta tidak mengerti.
“Kamu minta pertanggungjawaban Bobby. Kamu cerita baik-baik pada dia dan katakan yang sejujurnya bahwa kamu telah mengandung anaknya.” Andre memberi saran.
“Tapi Bobby nggak mau menikahi aku, Mas.”
“Kenapa dia nggak mau.?”
“Dia masih ragu Mas. Katanya bayi ini bukan bayinya. Padahal aku udah menjelaskan sama dia karena akulah yang lebih tau ini anak siapa.”
“Kalau memang dia masih ragu dengan anak yang ada dalam kandungan kamu, kamu katakan pada dia. Setelah bayi ini lahir kamu harus tes DNA pada bayi kamu. Kemudian hasilnya kamu berikan pada dia.”
“Tapi dia tidak mau diajak bicara Mas. Dia selalu menghindar.”
“Inilah tugas kamu untuk menjelaskannya atau kamu datangi aja keluarganya dan katakan yang sebenarnya pada keluarganya. Keluarganya masih ada kan?”
“Ada Mas, tapi adik ayahnya.”
“Ya udah kalau gitu. Kamu datangi aja ke rumah familinya itu dan kamu katakan kalau kamu mengandung anak Bobby. Kalau memang Bobby tidak mau juga menikahi kamu, ya udah jalan satu-satunya kamu harus ikhlas merawat bayimu tanpa seorang ayah. Kamu jangan pernah menyesal, tapi kamu harus bertobat. Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi kamu.”
“Kenapa Mas tidak mau pura-pura mengakui kalau ini anak Mas?”
“Untuk apa aku melakukan itu sementara bayi itu masih ada ayahnya. Kecuali ayahnya sudah mati atau meninggal, aku bisa membantu kamu untuk mengakui bayi itu sebagai anakku. Tapi ini ayahnya masih ada kenapa aku harus mengakuinya. Ayahnya saja tidak peduli.”
“Tapi Mas, aku takut dengan ayah. Kalau ayah mengetahui hal ini pasti akan marah besar.”
“Sebelum kamu bertindak seharusnya kamu sudah memikirkan akibatnya. Jadi sekarang kamu harus bisa menanggung semua ini karena ini semua akibat kelakuan yang kamu lakukan sama dia. Bagaimana pun kamu harus siap dengan akibatnya walaupun menjadi masalah bagi kamu,” jelas Andre.
***
Atas saran Andre, akhirnya Shinta menemui keluarga Bobby dan berbicara baik-baik. Tapi Bobby tetap menolak dengan alasan anak yang dikandung Shinta bukan anaknya.
“Sekarang suami kamu sudah tidak mempedulikan kamu, sehingga kamu meminta pertanggungjawaban aku dan mengatakan kalau anak yang kamu kandung adalah anak aku.” Bobby langsung menolak.
__ADS_1
“Benar Bobby, ini anak kamu. Kalau kamu tidak percaya, nanti setelah bayi ini lahir aku akan tes DNA. Aku akan buktikan pada kamu bahwa bayi ini adalah anak kamu bukan anak mas Andre.”
“Ya udah kalau memang seperti itu, aku akan menikahi kamu kalau hasil tes DNA-nya menyatakan bahwa bayi itu adalah anakku.”
“Tapi aku mohon Bobby, nikahilah aku sekarang. Aku nggak mau ketika anak ini lahir tanpa seorang ayah.” Shinta berharap Bobby akan menikahinya.
“Kamu jangan lebay Shinta. Banyak wanita melahirkan anak tanpa seorang suami.”
“Tapi aku mau kamu menikahi aku, Bobby.”
“Kan udah aku katakan pada kamu. Aku akan menikahi kamu setelah hasil tes DNA-nya menyatakan itu anak aku. Kalau sekarang aku nggak mau menikahi kamu karena aku nggak yakin bahwa anak itu adalah anak aku.”
“Kamu kejam Bobby. Kamu tidak pernah menghargai perasaanku.”
“Gimana aku mau mengakui anak itu anak aku, sementara kamu masih mempunyai suami. Bisa jadi suami kamu juga ikut andil dalam hal ini.”
”Tapi aku sudah hampir dua bulan tidak disentuh oleh suami aku. Aku hanya tidur dengan kamu sebulan yang lalu dan kehamilanku juga baru berusia sebulan. Itu artinya ini anak kamu.”
“Pokoknya aku nggak mau menikahi kamu sebelum positif itu anak aku.”
“Dari awal aku udah nggak mau, ya nggak mau Shinta.”
“Kamu benar-benar kejam Bobby.” Shinta langsung meninggalkan Bobby.
***
Begitu masuk mobil dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sepertinya sudah tidak takut mati akibat kekesalannya terhadap Bobby. Sambil melajukan kendaraannya Shinta berpikir keras bagaimana mencari solusi yang terbaik.
Kemudian dia ingat akan keluarga Bobby. Shinta langsung melajukan mobilnya ke rumah keluarga Bobby.
Rumah itu tampak kecil dan sederhana. Terlihat ada seorang wanita separuh baya yang duduk di teras. Shinta langsung mengucapkan salam pada wanita itu. Wanita itu langsung menjawabnya dengan ramah dan mempersilakan Shinta untuk masuk.
Tidak lama kemudian keluarlah seorang wanita muda yang merupakan kakak sepupu Bobby. Kemudian Shinta menceritakan permasalahannya yang sedang menimpanya.
__ADS_1
“Kenapa Bobby tidak mau mengakui anak itu, anak dia?” tanya kakak sepupunya Bobby.
“Karena saya masih punya suami, Mbak. Makanya dia tidak mengakui ini anak dia. Dia tidak yakin kalau anak yang sedang saya kandung adalah anaknya. Dia beranggapan anak yang saya kandung adalah anak suami saya,” jelas Shinta dengan nada sedih.
“Yang dikatakan Bobby ada benarnya juga Shinta. Kamu kan punya suami, bisa jadi itu anak suami kamu karena kamu lebih sering berhubungan dengan suami kamu dari pada Bobby,” jelas kakak sepupunya Bobby.
“Pemikiran Mbak ada benarnya. Tapi sekarang yang jadi masalah sudah hampir dua bulan saya tidak tidur dengan dengan suami saya. Saya hanya pernah tidur dengan Bobby yaitu sebulan yang lalu dan kandungan saya baru berusia satu bulan. Berarti anak yang saya kandung adalah anak Bobby.”
“Tapi saya sebenarnya bingung dengan perkataan kamu barusan. Kamu mengatakan kalau punya suami, tapi kenapa kamu mau tidur dengan Bobby. Walaupun sudah hampir dua bulan kamu nggak disentuh sama suami kamu, bukan berarti kamu bisa tidur dengan pria lain. Itu namanya zinah.”
Kemudian budenya Bobby sedikit marah pada anaknya yang merupakan kakak sepupunya Bobby.
“Ani, jaga mulut kamu. Kamu jangan pernah ikut campur dengan urusan orang.”
Akhirnya kakak sepupunya yang bernama Ani diam saja. Sedangkan Shinta merasa malu sendiri.
“Shinta, maafkan Bobby ya. Mungkin Bobby terkejut mendengar semua ini makanya dia tidak mau menikahi kamu. Tapi nanti ibu akan berbicara sama dia pelan-pelan. Mudah-mudahan dia mau menikahi kamu. Ibu juga merasa malu dengan perbuatannya pada kamu. Jadi bagaimana dengan suami kamu mengetahui hal ini?”
Shinta langsung tertunduk sedih.
“Rumah tetangga kami memang sudah sejak lama retak Bu. Dan kami sudah tidak bersama lagi. Dia sekarang tinggal di Jakarta dan sebulan sekali pulang kemari untuk melihat anak kami.”
“Apa kalian sudah bercerai?” tanya budenya Bobby lagi.
“Sebenarnya suami saya ingin bercerai karena rumah tangga kami sudah lama retak, tapi saya yang belum siap menjadi janda. Saya menentang perceraian ini sehingga secara administrasi kami belum bercerai tapi kenyataannya kami sudah pisah rumah.”
“Jadi suami kamu sudah mengetahuinya?”
“Sudah Bu,” jawab Sinta.
“Lalu apa reaksi dia?”
“Dia biasa saja Bu. Sedikit pun tidak ada rasa cemburu atau marah. Sejak mengetahui saya mempunyai hubungan dengan Bobby, suami saya sudah tidak respect pada saya. Tapi demi anak kami, rumah tangga kami masih bisa bertahan.”
__ADS_1
“Berarti kamu sudah lama berhubungan dengan Bobby?”
Shinta langsung menganggukkan kepalanya penuh penyesalan. Dalam hatinya dia sangat menyesal karena menjalin hubungan dengan Bobby yang merupakan pria yang tidak bertanggung jawab.