
Kedua mata Jia melebar, dengan hatinya yang tiba-tiba berdebar.
Bisakah kita kembali bersama?
Ucapan Alex itu bisa Jia dengar dengan jelas. Terlebih sorot mata Alex yang menatapnya lekat, membuat dia tenggelam dalam tatapan itu.
Jia tahu, dia masih sangat mencintai Alex dan berharap pula mereka kembali bersama.
Namun telinganya pun tidak tuli, dengan jelas juga dia mendengar jika Sofia tidak menginginkan dia menjadi menantunya, cukup menjadi ibu Rayden.
Hatinya yang berdebar mendadak berubah sesak. Dia ingin menjawab IYA namun tertahan di ujung lidah.
Bahkan kepingan-kepingan kenangan buruk dalam rumah tangga mereka pun kembali berputar dengan jelas. Tentang Sofia dan juga Alex yang selalu membandingkannya dengan Amora. Tentang percintaan mereka yang selalu dibayangi Amora.
Jia mundur selangkah, tiba-tiba dia begitu pusing seolah ingin terhuyung.
Namun belum sempat benar-benar menjauh, Alex lebih dulu menarik pinggangnya dan menjatuhkan sebuah ciuman di atas bibir ranum Jia.
Kesadarannya kembali pulih, Jia dapat merasakan sentuhan lembut yang menyapu bibirnya. Sentuhan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan, karena dulu Alex selalu memperlakukannya dengan kasar.
__ADS_1
Tidak hanya ciuman itu, namun pelukan Alex di tubuhnya pun terasa begitu hangat, membuatnya menutup mata dan membuka sedikit bibirnya.
Hingga akhirnya pagutan itu terlepas. Alex menghapus salivanya di bibir itu menggunakan ibu jari tangan kanannya.
Alex tahu Jia akan menolak untuk kembali kepadanya dan dia tidak ingin mendengar penolakan itu.
"Jangan di jawab," ucap Alex dengan kedua tangannya yang masih mendekap Jia, jarak mereka pun begitu dekat, hingga bisa merasakan detak jantung satu sama lain, dan merasakan debarannya.
"Aku mengusir seseorang yang selalu aku sebut buruk rupa, berharap setelah kepergiannya hidupku akan bahagia ..." ucap Alex, dia menjeda ucapannya sendiri, lebih dulu mengambil nafas panjang.
"Tapi apa kamu tahu? selepas dia pergi aku seperti orang gila. Beberapa hari aku mungkin merasa bahagia, tapi setelahnya aku selalu melihat sisi kosong di samping tempat tidur ku ..."
Air mata Jia jatuh dari ujung matanya, namun dengan cepat Alex menghapus.
"Sekarang aku menyadarinya, bahwa aku sangat mencintai wanita buruk rupa itu." jelas Alex lagi.
"Maafkan aku Ji, aku tidak akan memaksa mu untuk kembali padaku. Tapi beri aku kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan ku kali ini ..."
"Bukan hanya demi Rayden, tapi juga demi hidupku sendiri ..."
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu ..."
"Dan satu lagi, maaf untuk ini." Alex kembali mencium bibir Jia. Kini dia melumaatnya dengan lebih berani. Seolah membuat tanda jika Jia hanyalah miliknya.
Karena Jia pun merasa, bukan hanya ketulusan yang dia dapat dari ciuman itu, namun juga rasa takut.
Jia kembali menutup matanya, satu tangannya bahkan naik dan mengelus kepala Alex diantara ciuman mereka.
Setelah ini mereka sama-sama yakin jika tidak akan ada yang berani untuk kembali memulai sentuhan. Maka baik Alex atau pun Jia merasa jika ini akan jadi ciuman pertama dan terakhir mereka.
Jia pun ingin egois, ingin memiliki Alex untuk dia seorang.
Tapi Jia sangat sadar jika keegoisannya itu hanya akan kembali membuatnya tersiksa. Maka biarlah semuanya seperti ini dulu, biarkan waktu memberi kesempatan mereka untuk terus semakin dekat.
Biarkan waktu yang menuntun mereka untuk kelak kembali bersama dengan keadaan yang lebih baik.
Terutama tentang restu Sofia.
Ciuman itu kembali terlepas, saat Alex sadar jika Jia sudah kehabisan nafas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Alex lirih.