
Setelah 30 menit terhubung dengan Jia, akhirnya panggilan itu terputus. Alex kembali meletakkan ponsel sang anak di atas nakas.
Lalu membenahi posisi tidur mereka dan mulai siap-siap tidur.
"Siapa Uncle Niel?" tanya Alex sekali lagi pada sang anak, satu nama itu begitu menganggu hati dan pikirannya. Apalagi saat tadi dia melihat jelas wajah Jia yang gugup ketika membicarakan Niel Niel itu.
"Daddy ingat mobil ice cream di halaman rumah mommy waktu itu? itu adalah mobil kiriman Uncle Niel."
Alex sangat mengingat mobil ice cream itu, dan kini jadi semakin membencinya.
"Iya ingat, kenapa Uncle itu memberi kamu ice cream?"
"Karena dulu aku mengembalikan sapu tangan Uncle Niel yang jatuh."
"Hanya karena sapu tangan dan dia memberimu ice cream sebanyak itu?" tanya Alex seolah tak percaya dan Rayden hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Daddy juga bisa membelikan ice cream sebanyak itu untuk Rayden, jadi tidak perlu lagi minta pada Uncle itu."
"Rayden tahu Dad, tapi kan Rayden tidak minta, Rayden dikasih begitu saja."
"Lain kali tolak apapun pemberian Uncle itu."
"Baiklah," jawab Rayden patuh.
Setelahnya mereka kembali memeluk, pelukan yang semakin dibuat erat.
__ADS_1
"Siapa yang lebih tampan diantara daddy dan Uncle Niel?" tanya Alex lagi.
"Mau jawaban jujur atau bohong?"
"Tentu saja jujur." Alex menggelitik perut Rayden hinga anak laki-lakinya ini tertawa terbahak merasa geli.
"Tentu saja tampan daddy!" balas Rayden akhirnya, karena di mata Rayden memang yang paling tampan adalah daddynya.
"Bagus, sekarang ayo kita tidur."
"Itulah yang sedang aku lakukan Dad, tapi Daddy selalu mengganggu ku dengan banyak pertanyaan."
"Daddy baru tahu satu hal."
"Apa?" tanya Rayden, dia mendongak.
Keduanya terkekeh, Rayden pun mengakui itu. Tapi dia dan mommy nya hanya cerewet pada orang-orang tertentu dan terlihat pendiam jika bertemu dengan orang asing.
"Apa sekarang kita benar-benar tidur Dad?" tanya Rayden.
"Sebenarnya daddy masih ingin mengajak mu bicara, tapi sepertinya Rayden sudah mengantuk."
"Katakan saja Dad, aku akan menganggapnya itu sebagai dongeng."
"Bagaimana mommy selama 1 bulan ini? apa dia terlihat bahagia?"
__ADS_1
"Iya, mommy memang sering mengeluh tentang pekerjaannya, tapi itu terlihat lebih baik daripada dia hanya diam, iya kan?"
"Kamu benar, mommy memang butuh kesibukan seperti itu untuk mempertahankan cerewetnya."
Lagi-lagi mereka berdua terkekeh, Jia selalu menjadi bahan pembicaraan yang paling asik bagi mereka berdua.
"Dad?"
"Apa?"
"Kenapa kita tidak pernah tidur bertiga? dulu di rumah nenek, daddy dan mommy juga tidak pernah mengajakku tidur di kamar kalian. Mommy dan Daddy selalu tidur di kamar ku secara bergantian."
Alex tidak langsung menjawab, masih merasakan dadanya yang tiba-tiba sesak.
Maafkan Daddy Ray.
"Maafkan Daddy Ray, semua itu memang salah daddy, bisakah Rayden memberi daddy kesempatan kedua?"
"Kesempatan kedua?" ulang Rayden dan Alex mengangguk.
"Iya, kesempatan kedua untuk memulai semuanya dari awal. Daddy akan membawa mommy pulang dan kita bisa tinggal bersama."
"Benarkah?" tanya Rayden antusias dan saat dia melihat sang daddy yang menganggu, Rayden langsung memeluk erat sang ayah. Bibirnya juga tersenyum lebar sekali.
Dan Alex pun membalas pelukan itu lagi. Alex benar-benar merasa kehilangan Jia, dan semakin takut jika Jia tidak bisa dia miliki lagi.
__ADS_1
Karena itulah, Alex akan melakukan segala cara untuk membawa mantan istrinya kembali. Demi cintanya dan demi Rayden.