
Kini mobil yang dikemudikan Sean sudah sampai di Five Season Hotel.
Berhenti tepat di pintu utama lobby.
"Mommy harus cepat-cepat, sampai bertemu di rumah ya sayang," ucap Jia pada sang anak, Rayden pun mengangguk setuju. Sebuah ciuman sayang Jia berikan di pucuk kepala sang anak sebagai tanda perpisahan.
Lalu setelahnya Jia buru-buru hendak keluar dari dalam mobil, namun dengan segera pula Alex menahan tangannya. Merasa tidak rela jika Jia pergi tanpa berpamitan padanya.
Alex memasang wajah memelas saat Jia kembali menatap kearahnya.
"Tidak pamit denganku?" tanya Alex dengan tatapan yang entah, Jia bahkan bingung mengartikannya.
"Daddy mau dicium juga Mom," celetuk Rayden yang duduk ditengah, berada diantara Jia dan Alex.
Dan ucapan asal Rayden itu mampu membuat kedua mata Jia membola.
Cium? disini? di depan Rayden? dibelakang Sean? Jia langsung menelan ludahnya kasar.
Sampai akhirnya Alex memberikan pipinya, sebuah kode agar Jia mengecup pipi itu.
Dengan sedikit ragu akhirnya Jia mendekat, mulai mengikis jarak dan ingin segera mengakhiri ini semua. Dia harus segera masuk ke dalam hotel dan bekerja. Jia sangat yakin jika Lisa sudah menunggu.
Hingga di detik akhir bibirnya hendak menyentuh pipi itu, Alex malah menoleh hingga akhirnya bibir mereka yang saking mengecup. Jia mendelik, Alex bahkan menyempatkan diri untuk menyesap bibirnya sejenak. Lalu melepaskan diri tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Turunlah, nanti sore aku akan menjemput mu lagi," ucap alex, sementara Jia masih membeku.
Sean bahkan langsung bergemuruh dadanya, tidak menyangka sang tuan kini jadi semesyum itu. Mata nakalnya sempat mengintip kejadian di kursi tengah melalui kaca spion diatas kepalanya.
__ADS_1
"Mommy, cepat turun, katanya buru-buru," ucap Rayden, karena mommy nya hanya terpaku.
"Ah iya."
"Pergilah," ucap Alex lagi, sentuhan terakhir Alex mengelus puncak kepala Jia dengan sayang. Baru setelahnya Jia benar-benar turun dari dalam mobil.
Lalu sedikit berlari masuk ke dalam hotel dan menuju ruangan HK.
Rutinitas bekerja dia laksanakan dengan baik, sampai akhirnya Jia mendapat panggilan untuk datang ke ruang CEO.
Entah ada apa, tiba-tiba Daniel memanggilnya untuk datang.
Lisa bahkan langsung merasa cemas, takut ada sesuatu yang tidak beres.
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," ucap Jia, menenangkan sang sahabat.
"Aku akan menemani mu hingga ke depan ruang CEO."
Sebelum istirahat siang saat itu, Jia mendatangi ruang Daniel. Mengetuk pintu dan medapatkan izin, Jia masuk seorang diri.
Dia dan Daniel memang sudah berteman, namun dalam keadaan seperti ini Jia tetap saja merasa takut. Aura Daniel bahkan langsung berubah menjadi pemimpin yang dingin. Cukup membuat Jia gemetar. Namun sekuat tenaga Jia menguasai diri, berdiri dengan tegap dihadapan sang pemimpin.
"Maaf Tuan, ada perlu apa Anda memanggil saya?" ucap Jia, memulai pembicaraan.
Dan Daniel yang melihat Jia begitu takut pun mengulum senyum, semua yang dilakukan wanita ini selalu terlihat indah di matanya. Wajah takut Jia, kegugupannya, mata yang melebar itu, juga kedua tangan yang saling meremat untuk tetap terlihat tegar.
Semua nya terlihat begitu menggemaskan di mata Daniel.
__ADS_1
"Kenapa serius sekali, duduklah," jawab Daniel, namun Jia tidak langsung menuruti. Dia masih ingin tahu kenapa Daniel memanggilnya.
"Maaf Tuan, apa ada kesalahan yang saya lakukan?"
"Ada, kesalahan yang sangat banyak. Karena itu duduklah."
"Maaf Tuan, apa kesalahan saya? Apa saya akan dipecat?"
"Aku sangat ingin memecat mu."
Deg! Jia tersentak.
"Kesalahan apa yang saya lakukan? saya akan memperbaikinya." balas Jia, kini suaranya sudah bergetar.
Namun bukan jawaban yang Jia dapatkan, melainkan gelak tawa Daniel yang terdengar kencang.
Daniel bangkit dari duduknya, berdiri dihadapan Jia dan bersandar di meja kerjanya ssndiri.
"Kenapa kamu serius sekali, tidak bisakah kamu melihat jika aku hanya ingin kita dekat?"
Jia terdiam.
"Kesalahan mu adalah masuk ke dalam hatiku tanpa permisi. Aku sangat ingin memecat mu dan menjadikan mu kekasihku ..."
"Kenapa bersusah payah kembali berhubungan dengan orang-orang yang pernah menyakiti kamu, ayo kita hidup bahagia, aku bisa membahagiakan mu dan Rayden."
Tanpa sadar Jia mundur selangkah, melihat itu Daniel cukup tau jika Jia menolaknya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...