
Jam 4 sore Daniel memutuskan untuk datang ke kantor milik Jia yang baru. Ingin memastikan semuanya aman dan Jia bisa mulai bisa bekerja dengan baik.
Saat Daniel datang, bertepatan dengan Jia yang sudah mau pulang. Jia hampir saja memasang helm nya dikepala dan berhenti saat melihat mobil Daniel memasuki halaman parkir kantor miliknya.
Jia urung memakai helm itu dan menunggu Daniel menghampiri. Abbu yang juga sudah mengenal Daniel pun ikut menunggu pula.
"Sudah mau pulang?" tanya Daniel dan Jia mengangguk.
"Masuk sebentar, aku mau lihat kantor mu."
"Iya," balas Jia, dia kemudian pamit pada Abbu sebentar untuk kembali membuka kantor yang sudah dia kunci.
Kini Jia dan Daniel sudah masuk ke dalam kantor. Daniel memperhatikan dengan seksama tiap sudut ruangan ini, juga perabot yang disusun Jia di dalamnya.
Terlihat rapi dan begitu nyaman, Daniel cukup bangga saat melihatnya.
"Besok mulai buka?" tanya Daniel.
"Iya, satu karyawan yang akan membantu ku juga besok mulai masuk."
Daniel mengangguk, selama ini Jia sudah berusaha keras, belajar ekstra untuk ini semua.
__ADS_1
"Bagus, aku yakin kamu bisa."
Daniel kembali memperhatikan, bahkan berjalan kesana kemari untuk memeriksa.
Kemudian kembali menghampiri Jia yang seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ragu.
"Kenapa? ada yang ingin kamu katakan?" tanya Daniel.
Jia mengigit bibir bawahnya, ragu untuk mwnjawab. Namun karena Daniel datang, rasanya sekarang adalah waktu yang tepat untuk bicara. Jia ingin mengatakan jika sebaiknya dia dan Daniel mengambil jarak. Jia tidak ingin Alex menaruh rasa salah paham untuk hubungan mereka. Apalagi Jia baru saja memulai rumah tangganya kembali, Jia tidak ingin memancing masalah.
"Em sebenarnya iya."
"Sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu seperti ini." balas Jia dengan sedikit menunduk, sungguh dia merasa tidak enak hati ketika mengatakan ini. Daniel sudah terlalu banyak membantunya.
"Apa Alex melarang mu?"
Jia mengangguk dan Daniel langsung tertawa lepas. Tawa yang panjang hingga dia sulit untuk menghentikan.
"Sudah ku duga," balas Daniel kemudian, diantara kekehannya yang masih tersisa.
Namun tawanya benar-benar hilang saat dia melihat wajah Jia yang murung. Daniel jadi ikut murung juga.
__ADS_1
"Hei kenapa wajahmu seperti itu, aku tidak masalah jika kita mengambil jarak. Aku juga memahami rasanya jadi Alex, dia pasti cemburu," timpal Daniel kemudian.
"Maafkan aku, aku seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Selama ini kamu banyak membantu ku Niel."
"Begitulah teman, bisanya hanya membantu tidak bisa memiliki."
"Jawaban macam apa itu?"
Daniel terkekeh.
Sore itu adalah pertemuan terkahir mereka yang terasa begitu hangat. Lain kali saat bertemu mereka memutuskan untuk menjaga jarak.
Daniel sangat sadar kini Jia bukan wanita bebas lagi, dia sudah kembali bersuami. Karena itulah dia menghargai keputusan Jia untuk memberi jarak pada hubungan mereka.
Meskipun di mulutnya Daniel menjawab Iya untuk menjauh, namun di dalam hatinya dia masih akan terus memperhatikan Jia.
Entah sampai kapan akan seperti itu, namun rasa di hatinya untuk Jia benar-benar tulus. Bukan hanya sekedar ingin memiliki, namun ingin melindungi dan memastikan wanita yang dicintainya hidup bahagia.
Meski itu bukan dengan dia.
Daniel melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor Jia dan pulang lebih dulu. Setelahnya disusul oleh Jia yang pulang bersama Abbu.
__ADS_1