After Divorce

After Divorce
Cinta yang hilang


__ADS_3

Karena malas berdebat dengan Andre, akhirnya Widya diam saja di dalam mobil. Begitu sudah dekat di terminal Widya langsung minta diturunkan.


“Andre, aku turun di terminal aja ya biar nanti aku naik bus.”


Andre diam saja tidak merespon ucapan Widya. Bahkan ketika sampai di depan gerbang terminal Andre tidak masuk ke terminal tapi melajukan mobilnya terus menuju jalanan pulang ke kampung Widya.


“Andre, aku mau turun di terminal aja.”


Andre hanya melirik ke arah Widya dan kemudian dia tersenyum sambil tetap melajukan mobilnya. Widya pun akhirnya terdiam dan mengikuti Andre saja. Tiba di perempatan jalan tiba-tiba Andre membelokkan mobilnya ke kanan, sementara tempat tinggal Widya ke arah kiri. Widya merasa heran.


“Kita mau ke mana Ndre?” tanya Widya bingung.


“Kamu tenang aja ya, nanti pasti kamu tau kita akan pergi ke mana,” ucap Andre membuat Widya penasaran.


Ternyata Andre membawa Widya ke suatu tempat yang cukup jauh dan tenang. Widya tampak heran sambil mengingat-ingat kembali pantai itu.


‘Sepertinya tempat ini tidak asing bagiku. Tapi kapan ya aku kemari,’ batin Widya.


Andre langsung memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon beringin yang ada di pinggir pantai. Andre langsung turun dari mobil sedangkan Widya masih memperhatikan suasana di sekitarnya. Melihat Widya belum turun dari mobil Andre langsung membuka pintu mobil.


“Kenapa nggak turun Widya?” tanya Andre.


Widya kemudian turun dari mobil sambil melirik ke kanan dan ke kiri mengingat-ngingat tempat itu, sedangkan Andre tersenyum saja melihat Widya yang seperti orang bingung.


“Kenapa Widya, kamu kelihatannya bingung. Apa kamu sudah lupa dengan tempat ini?” tanya Andre.


“Sepertinya kita dulu pernah kemari ya Ndre.”


Andre pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Aku pikir kamu sudah lupa Widya.”


“Nggak Ndre. Tentu aku masih ingat akan kejadian itu,” ucap Widya berjalan mendekati pohon beringin tempat saksi bisu ketika pertama kali Andre menciumnya di bawah pohon beringin itu.

__ADS_1


Widya mengelilingi pohon beringin yang cukup besar itu sambil mencari sesuatu di batang pohon itu. Sedangkan Andre hanya memperhatikan tingkah Widya yang sibuk mencari sesuatu di batang pohon beringin itu.


“Andre, coba kamu lihat ini,” ucap Widya sambil menunjukkan tulisan yang ada di batang pohon beringin itu.


“Iya Widya. Aku masih ingat tulisan itu,” ucap Andre berdiri di samping Widya.


Widya langsung menoleh ke arah Andre sambil tersenyum senang.


“Andre, ternyata tulisan kamu belum hilang juga di pohon ini.”


Andre pun tersenyum sambil memandang tulisan tangannya yang telah dibuat empat belas tahun yang lalu. Andre kemudian mendekati Widya sambil memegang pundaknya.


“Kamu masih ingat kan akan kejadian saat itu.”


Widya tampak malu mengingat kejadian itu. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Syukurlah kalau kamu masih ingat. Aku pikir kamu sudah lupa.”


“Aku nggak akan pernah lupa dengan kejadian itu Ndre.”


“Ternyata kamu masih ingat juga ya jalan kemari, sementara sekarang sudah banyak yang berubah,” ucap Widya.


“Tentu aku tidak pernah lupa jalan kemari Widya karena tiga bulan sekali aku selalu pergi kemari.”


Mendengar ucapan Andre, Widya merasa heran.


“Kamu ngapain sering kemare Ndre?” tanya Widya.


“Aku kemari hanya untuk mengenang ketika kita masih berpacaran saat kuliah dulu,” ucap Andre sambil memandang ke arah laut yang jauh di sana.


‘Ternyata Andre masih selalu mengingat kenangan kami ketika kami masih pacaran dulu, sementara begitu menikah tidak pernah terpikir olehku untuk mendatangi tempat ini lagi,’ batin Widya.


Di dekat pohon beringin itu ada sebuah bangku kayu dan Widya langsung duduk di bangku itu diikuti oleh Andre yang duduk di sampingnya. Keduanya duduk sambil memandang ke laut sambil mengenang masa lalu mereka. Tanpa terasa bulir-bulir hangat keluar dari sudut mata Widya saat mengingat kebersamaannya bersama Andre.

__ADS_1


Masih ingat dalam pikiran Widya saat mereka bermain kejar-kejaran di pinggiran pantai. Setelah lelah berkejar-kejaran mereka pasti mampir ke warung di dekat situ untuk menyantap Indomie goreng kesukaan Andre. Keduanya terlihat sangat mesra.


Andre selalu menunjukkan perhatiannya pada Widya, begitu juga dengan Widya yang selalu memperhatikan Andre. Keduanya seperti tidak dapat dipisahkan karena ke mana-mana selalu bersama.


Widya yang tidak dapat mengontrol emosi sehingga tangisnya yang sempat ditahannya akhirnya keluar juga. Andre langsung melirik ke arah Widya dan melihat Widya menangis Andre langsung merangkul pundak Widya dari belakang.


“Kamu masih ingat kan impian kita pada saat itu?” tanya Andre pada Widya.


Widya langsung menganggukkan kepalanya.


“Aku berjanji akan mewujudkan impian kita Widya,” ucap Andre di telinga Widya.


“Nggak Ndre. Kamu nggak boleh mewujudkan mimpi kita.”


“Kenapa Widya?” tanya Andre.


“Kamu sudah punya istri dan sudah punya anak. Jadi jangan kamu harap lagi impian kita dapat terwujud.”


“Tapi cintaku hanya untukmu seorang Widya. Aku ingin menikah dengan kamu,” ucap Andre sambil menggenggam erat tangan Widya.


Widya hanya pasrah dan dia diam saja bahkan saat Andre menenggelamkan kepala Widya di dada Andre, Widya tidak menolak. Keduanya hanyut dengan kenangan di masa lalu mereka.


“Mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu Widya dan aku akan mewujudkan impian kita.”


“Nggak Ndre. Nggak boleh. Aku nggak mau ada yang terluka dalam hal ini, karena aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya perasaan ini ketika kita dikhianati. Aku bisa merasakan bagaimana sakitnya hati istri kamu ketika melihat kamu menghianatinya.”


Andre kemudian mengelus kepala Widya lembut.


“Aku nggak peduli dengan semua itu Widya. Bagiku yang terpenting sekarang adalah cinta. Apa artinya tinggal serumah tanpa rasa cinta. Itulah yang aku alami selama ini Widya,” jelas Andre.


“Kalau kamu tidak mencintai istri kamu, kenapa kamu nikahi?”


“Aku sempat mencintai istri aku, tapi hanya sebentar karena cintaku yang tulus dikhianati membuat rasa cintaku langsung hilang seketika. Sampai sekarang aku tidak pernah bisa mencintainya lagi. Yang selalu aku ingat hanya dirimu Widya,” ucap Andre.

__ADS_1


“Kita harus bangun dari mimpi kita Ndre. Kita telah salah melangka Ndre. Kita hanya mengenang masa lalu kita tanpa kita pikirkan masa depan anak-anak kita. Kamu harus memikirkan masa depan Bastian. Kebahagiaan Bastian harus lebih kamu utamakan. Begitu juga dengan aku. Walaupun aku sudah bercerai dari suamiku, tapi sedikitpun tidak ada keinginan di hatiku untuk merebutmu kembali Ndre. Kamu adalah masa laluku yang tidak mungkin kembali lagi karena kita sudah mempunyai kehidupan kita yang baru yaitu kita sudah punya anak dan keluarga,” jelas Widya.


Andre yang masih tergila-gila dengan Widya tidak menghiraukan nasehat Widya. Dia sudah bertekad untuk menikahi Widya meski pun dia harus kehilangan pekerjaannya dan kekayaan yang dimilikinya sekarang bersama istrinya. Yang ada dalam pikiran Andre bagaimana dia mendapat kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Bahkan Andre sudah berencana akan meninggalkan istrinya kalau Widya mau dinikahinya karena Andre sudah merasakan bagaimana hidupnya selama berumah tangga dengan istrinya tanpa rasa cinta, yang ada hanyalah hampa semata.


__ADS_2