
Daniel dan Jia keluar melalui pintu utama hotel, disana mobil Daniel sudah disiapkan oleh petugas valet parkir.
Sang asisten pribadi juga sudah menunggu, membuka kan pintu untuk sang tuan. Dia yang akan mengendarai mobil Daniel sore ini.
"Masuklah," ucap Daniel, ingin Jia masuk lebih dulu.
Dan Jia menurut, tidak ingin berdebat ketika mereka berada di depan tempat umum seperti ini. Setelah Jia masuk, Daniel mengitari mobil setengah lingkaran dan duduk pula di kursinya, di samping Jia di kursi tengah.
Tanpa disadari oleh mereka jika Alex yang baru datang melihat semuanya. Melihat Jia yang masuk ke dalam mobil Daniel.
Alex mencengkeram kemudinya kuat, menatap nanar pada mobil yang mulai melaju di hadapannya. Bukan maunya datang terlambat, hujan lebat mengakibatkan adanya kecelakaan, jalanan begitu macet hingga dia kesulitan datang kemari.
Dengan dadanya yang terasa sesak, Alex kembali menginjak gas dan mengikuti mobil mewah berwarna hitam itu.
Ponselnya habis daya, dia tidak bisa menghubungi Jia. Terlalu buru-buru ingin menjemput, dia sampai tidak ingat dimana charger nya.
Sepanjang perjalanan sepi itu Alex terus menatap ke depan, membayangkan Jia yang tertawa lepas bertukar cerita dengan Daniel.
Dadanya sesak, dia ingin marah, namun teringat akan apa yang dia lakukan dulu tentang Amora. Membuatnya hanya mampu memukul stir kemudinya sendiri.
Seolah yang terjadi kini adalah balasan kecil dari apa yang dia lakukan pada Jia dulu.
__ADS_1
Alex membuang nafasnya pelan, mencoba tidak marah dan terus mengikuti Jia.
Sementara di depan sana Daniel mengukir senyum kecil, taruhannya menang, Alex tidak datang menjemput dia.
"Jangan terlalu dipikirkan, tentang aku dan Alex jalani saja seperti ini," ucap Daniel, masih dengan senyum percaya dirinya.
"Siapa yang memikirkan mu? percaya diri sekali," jawab Jia, jawaban yang membuat Daniel langsung tergelak.
Cukup tahu jika Jia hanya memikirkan Alex, bukan dia.
"Huh, malang sekali nasibku," balas Daniel dengan membuang nafasnya berat.
Jia pun memperhatikan jalanan yang terlihat macet, bahkan genangan air mulai terlihat di jalanan.
Dia lalu mengambil ponselnya di dalam tas, berniat menghubungi Alex lebih dulu, tapi Daniel malah merebut ponselnya.
"Jangan hubungi pria itu."
"Aku cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Alex."
"Itulah kelemahan mu, hatimu terlalu lembut."
__ADS_1
Daniel kembali memberikan ponsel itu pada Jia, lalu melipat kedua tangannya didepan dada seolah sedang marah.
Sementara Jia hanya mendengus, lalu coba menghubungi daddy Rayden. Tapi sayang, nomor nya tidak bisa dihubungi.
Seketika kekecewaan kembali menelusup masuk ke dalam hatinya, dia menelan ludahnya dengan kasar.
"Lain kali dengarkan saat aku bicara, semua yang ku lakukan hanya untuk membuat mu kuat," ucap Daniel. Kini dia bicara serius sekali, bahkan suaranya terdengar lebih dingin.
Sedangkan Jia terdiam, dia tidak punya pembelaan apapun. Jia masih sangat mempercayai Ale×, tatapan pria itu, sentuhan nya, semuanya terasa begitu nyata dan bukan hanya harapannya semata.
Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, hingga mobil itu berhenti tepat di depan rumah Sofia.
Dan hujan masih turun dengan begitu lebatnya.
"Tunggu, aku akan turun lebih dulu," ucap Daniel, dengan membawa payung hitam di tangannya.
Namun pergerakan Daniel terhenti saat tiba-tiba pintu disebelah Jia dibuka dari luar.
Alex membuka nya dengan membawa payung pula.
"Maaf aku terlambat, ayo turun. Terima kasih Tuan Daniel," ucap Alex dengan bibirnya yang mengukir senyum tipis.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...