After Divorce

After Divorce
Egois


__ADS_3

Setelah puas keliling di taman bunga sambil mengenang memori ketika kuliah dulu, akhirnya Widya pun mengajak Andre untuk pulang.


“Andre, kita pulang sekarang ya. Aku sudah lelah sejak tadi belum ada istirahat.”


“Kamu nginap di rumah Vera aja ya bersama aku,” ajak Andre.


“Aku nggak enak Ndre sama Vera. Lebih baik aku nginap di losmen aja yang ada di dekat bandara. Jadi kalau besok aku pulang udah lebih dekat,” jelas Widya.


“Kamu mau pulang besok Widya?” tanya Andre.


“Iya Ndre, aku permisi hanya dua hari dan lusa aku harus masuk kerja.”


“Apa tidak bisa kamu tambah lagi cuti kamu.”


“Nggak enak Ndre karena aku udah permisi dua hari. Kan nggak mungkin aku tambah lagi.”


“Maksud aku kita pulangnya hari Minggu aja biar kita pulang sama-sama.”


“Kalau pulang hari Minggu berarti aku harus ngambil satu hari lagi Ndre. Aku jadi nggak enak sama Rika teman aku.”


“Kan nggak apa-apa Widya hanya nambah satu hari aja biar kita sama pulangnya. Aku masih ingin mengajak kamu jalan-jalan Widya,” jelas Andre berharap.


“Hari ini kan kita udah puas jalan-jalan.”


“Tapi aku belum mau pulang. Aku ingin nambah satu hari lagi.”


Akhirnya Andre pun mengalah dan berencana besok akan kembali bersama Widya.


***


Begitu keluar dari bandara Shinta langsung memesan grab-car untuk pergi ke rumah Vera adik iparnya. Setelah setengah jam perjalanan Shinta sampai di depan rumah Vera. Begitu melihat mobil Vera tidak ada di garasi Shinta semakin takut.


‘Pasti mas Andre sedang keluar bersama wanita itu,’ batin Shinta saat akan mengetuk pintu rumah Vera.


Perasaan Shinta tidak tenang dan khawatir sekaligus cemburu. Begitu pintu dibuka terlihat Vera berdiri di depan pintu. Vera langsung terkejut melihat kedatangan kakak iparnya. Ada perasaan takut yang menghinggapi perasaan Vera karena tiba-tiba kakak iparnya datang ke Jakarta. Wajah Vera langsung pucat melihat kedatangan kakak iparnya yang pastinya akan membuat masalah besar.


‘Pasti kak Shinta tau kalau bang Andre ketemuan dengan mbak Widya di Jakarta ini. Aku harus ngomong apa kalau kak Shinta menanyakan keberadaan bang Andre,’ batin Vera bingung.


“Eh kak Shinta, ayo silakan masuk Kak.” Vera langsung memeluk kakak iparnya.


Terlihat dari wajah Shinta menggambarkan suasana hatinya sedang tidak enak. Shinta hanya tersenyum tipis dan kemudian dia masuk tanpa berbicara sepatah kata pun.


“Ayo silakan duduk Kak,” ucap Vera dan akan berjalan ke dapur.


“Vera sini dulu ada yang mau kakak tanyakan,” pinta kakak iparnya.


Vera yang sudah takut sejak tadi wajahnya langsung merah padam karena dia bisa menebak apa yang akan ditanyakan kakak iparnya itu. Vera kemudian duduk di depan Shinta tanpa berani menatap wajah kakak iparnya.


“Ada apa Kak?” tanya Vera pura-pura tidak tau permasalahan yang dihadapi kakak iparnya.


“Vera, apa mas Andre nginap di rumah kamu?” tanya Shinta.


“Benar Kak, bang Andre tadi malam nginap di rumah Vera dan sekarang sedang keluar,” jelas Vera sangat hati-hati.


“Udah berapa malam mas Andre menginap di rumah kamu?” tanya Shinta lagi.


“Baru tadi malam Kak. Semalam sore urusan kantornya selesai bang Andre langsung kemari dan sekarang sedang keluar.”


“Keluar naik mobil kamu?”


“Iya Kak.”


“Andre keluar untuk menemui wanita itu kan?” ucap Shinta dengan nada sinis.


“Maksud Kakak wanita mana ya. Vera nggak paham.”


“Ya wanita mantan kekasihnya dulu.”


“Maksud Kakak, mbak Widya?”


Shinta langsung membulatkan matanya sempurna.


“Kamu kenal dengan wanita itu?”


“Vera nggak kenal sama mbak Widya dan bahkan belum pernah bertemu langsung. Tapi Vera sering dengar cerita dari bang Andre tentang mbak Widya.”


“Memangnya mas Andre cerita apa tentang wanita itu?”


Sengaja Vera bercerita untuk memanas-manasi kakak iparnya.


“Bang Andre terlihat sangat mengagumi mbak Widya karena mbak Widya adalah cinta pertamanya.”


“Jadi sampai sekarang mas Andre sering menceritakan wanita itu?”


“Benar Kak. Sepertinya bang Andre tidak bisa melupakan mbak Widya karena bang Andre selalu memuji mbak Widya. Katanya mbak Widya baik, sopan dan tipe wanita yang setia.”


“Berarti mas Andre sering memuji-muji wanita itu dan menjelekkan saya?”

__ADS_1


“Bang Andre tidak pernah menjelekkan Kakak. Dia sering cerita hanya tentang mbak Widya. Bang Andre selalu cerita ketika masih kuliah dulu,” ucap Vera.


Vera merasa puas setelah membuat kakak iparnya emosi dan cemburu. Sebenarnya Vera tidak suka dengan kakak iparnya tapi dia tidak pernah menunjukkan rasa tidak sukanya.


Awal ketidaksukaan Vera terhadap kakak iparnya saat akan menikah dengan Andre. Di awal pernikahan itu Vera sudah melihat kelakuan Shinta yang tidak disenanginya. Shinta terlihat arogan dan sombong. Di depan Vera kakak iparnya mau memarahi Andre. Tentu hal ini membuat Vera dan juga Lina tidak menyukai kakak iparnya. Mereka kasihan dengan Andre yang selalu dimarah-marahi di depan adik-adiknya.


“Nggak mungkin kamu nggak tau Vera ke mana perginya abang kamu.”


“Benar Kak. Vera nggak tau abang pergi ke mana. Tadi hanya pamit katanya mau keliling kota Jakarta.”


“Iya memang dia keliling tapi dengan wanita itu kan? Kakak harap kamu jangan menutupi kelakuan kakak kamu yang bejat itu.”


Mendengar ucapan kakak iparnya yang menghina abangnya Vera langsung emosi.


“Kakak kenapa berbicara seperti itu. Memangnya apa yang udah dilakukan bang Andre sehingga Kakak bisa berbicara seperti itu.”


“Kamu kan nggak tau bagaimana bejatnya kakak kamu. Dia pergi ke Jakarta untuk urusan kantor. Tapi sekalian dia bersenang-senang dengan wanita itu.”


“Dari mana Kakak tau kalau bang Andre bersenang-senang dengan mbak Widya?”


“Ya taulah. Kakak sudah dengar sendiri dari tetangganya wanita itu tadi pagi. Wanita itu berangkat ke Jakarta, berarti dia ke Jakarta untuk menemui Mas Andre. Bukankah kelakuannya termasuk bejat karena masih punya istri tapi berhubungan dengan wanita lain.”


“Kak Shinta jangan hanya menyalahkan bang Andre saja. Tapi kak Shinta harus intropeksi diri juga. Apa yang udah Kakak lakukan terhadap bang Andre sehingga bang Andre bisa berbuat senekat itu,” jelas Vera.


“Memangnya kamu tau apa Vera,. Kamu kan nggak tau apa-apa tentang rumah tangga kami makanya kamu jangan ikut-ikutan bicara,” ucap Shinta dengan nada marah.”


“Vera memang nggak tau apa-apa tentang rumah tangga Kakak. Vera hanya mengajak Kakak untuk intropeksi diri aja agar jangan menyalahkan bang Andre,” ucap Vera yang mulai terpancing emosi.


“Jangan kamu bela-bela abang kamu karena nggak ada artinya. Sudah tau bersalah terang-terangan menemui mantannya ke Jakarta ini tapi masih kamu tutupi kelakuannya.”


Akhirnya Vera diam saja karena tidak mau berdebat dengan kakak iparnya yang terlihat sangat egois dan mau menang sendiri.


***


Wanita Kampungan


“Kamu bermalam di rumah Vera aja ya,” pinta Andre pada Widya.


“Nggak Ndre, aku biar nginap di dekat bandara aja. Homestay di sana kan banyak,” jelas Widya.


“Kenapa kamu tidak mau nginap di rumah Vera?”


“Aku sungkan dengan Vera Ndre.”


“Kenapa harus sungkan Widya. Vera itu kan adik aku.”


“Ya udah kalau memang kamu sungkan untuk bermalam di rumah Vera, sekarang biar aku carikan kamu untuk tempat penginapan.”


Andre langsung melajukan mobilnya di dekat bandara Soekarno Hatta. Kebetulan di dekat bandara itu ada penginapan yang dikenal oleh Andre sehingga Andre langsung membawa Widya ke sana.


Begitu turun dari mobil terlihat penginapan itu sangat sejuk dan indah. ‘Pasti penginapan ini mahal harganya,’ batin Widya.


“Andri\e, aku mau penginapan yang sederhana aja. Ini terlalu mewah bagi aku dan pasti harganya mahal.”


Andre langsung tersenyum mendengar ucapan Widya.


“Kamu tenang saja Widya. Sengaja aku mencari penginapan ini buat kamu supaya kamu bisa lebih tenang dan nyaman bermalam di sini.”


“Tapi tempat ini pasti mahal harganya,” ucap Widya lagi.


“Masalah harga jangan kamu pikirkan karena nanti aku yang bayar Widya.”


Widya yang tidak mau merepotkan Andre langsung menolaknya.


“Andre, aku nggak mau merepotkan kamu. Biar aku aja yang bayar. Walaupun aku nggak banyak uang tapi aku masih sanggup untuk membayarnya.”


“Kamu apa-apaan sih. Aku yang mengajak kamu ke Jakarta berarti ini semua tanggung jawab aku.”


“Ayo kita masuk.”


Andre langsung menarik tangan Widya dan membawanya masuk menuju resepsionis. Begitu sudah dekat resepsionis Andre berbisik di telinga Widya.


“Kalau kamu yang bayar penginapan ini, maka akan hilang harga diriku. Pasti dibilang orang aku suami yang pelit.”


“Kita kan belum menjadi suami istri Andre.”


“Memang sih iya, tapi kita berdua kemari pasti dikira petugas resepsionis kita suami istri. Kalau kamu yang bayar pasti aku dianggap rendah oleh mereka.”


Setelah mengatakan perkataan itu Andre langsung menemui petugas resepsionis untuk membooking kamar. Kemudian dia langsung membayarnya.


Begitu selesai dibayar Andre kembali mendekati Widya yang sedang duduk di lobby.


Tiba-tiba notifikasi ponsel Andre berbunyi. Terlihat ada pesan wa masuk dari Vera.


Selesai dibaca, Andre langsung membalas pesan itu. Ternyata Vera menanyakan keberadaan Andre sekarang ini dan Andre langsung memberitau bahwa dia sedang membooking penginapan buat Widya.


“Kamar nomor berapa Ndre?” tanya Widya.

__ADS_1


“Nomor tujuh tapi kita ngobrol dulu di sini ya. Jangan cepat kali masuk kamar atau kita jalan-jalan lagi, gimana?” tawar Andre.


“Nggak usah lah Ndre. Aku sudah lelah dan mau istirahat.”


“Widya, kamu kenapa nggak bawa baju ganti?” tanya Andre saat memperhatikan Widya hanya membawa tas kecil.


“Ini aku membawa baju ganti di dalam tas aku.”


“Tapi tas kamu kecil.”


“Iya, tapi cukup untuk satu potong,” jelas Widya.


“Lalu kamu besok pulang pakai baju apa lagi?”


“Pakai baju yang ada di dalam tas aku ini.”


“Jadi malam ini kamu pakai baju apa?”


“Aku pakai baju ini lagi, hanya baju ********** yang aku buka.”


“Kalau nggak kita pergi mencari baju sekarang ya, kebetulan di dekat sini ada jual baju tidur.”


“Nggak usah Ndre. Aku memang sengaja nggak mau bawa baju banyak makanya aku hanya bawa baju sepotong aja.”


Andre pun tersenyum mendengar penjelasan Widya. Kemudian keduanya asik ngobrol di lobby.


Tapi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Shinta.


“Mas Andre!” panggil Shinta saat melihat keduanya duduk di lobby.


Andre dan Widya langsung melihat ke arah Shinta. Keduanya langsung terkejut.


Dada Widya berdetak sangat kencang dan wajahnya langsung merah padam karena takut. Tapi bagaimana pun dia harus kuat dalam menghadapinya. Widya langsung menguatkan diri jika kemungkinan buruk terjadi pada dirinya.


Ternyata dugaannya benar terjadi. Shinta langsung mendekatinya dan ingin menarik tubuh Widya tapi langsung dicegah oleh Andre.


“Shinta, apa-apaan kamu?” Andre marah dan langsung menarik tubuh Widya sehingga Shinta terhalang untuk memukul Widya.


“Kamu jangan ikut campur Mas. Aku harus memberi pelajaran pada wanita ini,” ucap Shinta emosi.


“Sudah kak Shinta jangan buat keributan di sini.” Vera langsung turun tangan dan menarik tubuh Shinta.


Semua orang yang berada di dekat situ langsung melihat ke arah mereka.


“Dasar kamu wanita murahan bisanya hanya merebut suami orang,” ucap Shinta.


Dia tidak perduli walaupun diperhatikan orang di sekitarnya.


Vera tetap memegang tubuh kakak iparnya. Shinta yang merasa dihalangi oleh adik iparnya langsung memberontak dan menolak tubuh Vera. Dia sudah tidak sabar ingin menghajar Widya. Sedangkan Widya masih tetap berdiri di posisinya semula.


Begitu Shinta terlepas dari Vera, dia langsung berlari mendekati Widya. Saat tangannya akan menarik rambut Widya, langsung dihalangi oleh Andre.


“Mas jangan ikut campur. Aku harus memberi pelajaran pada wanita ini.”


Andre langsung memegang tubuh Shinta membuat Shinta semakin marah.


“Mas lepaskan aku. Kalau kamu tetap menghalangi aku, maka kamu akan tau akibatnya.”


“Vera, bawa Widya ke kamarnya,” pinta Andre pada adiknya.


Kemudian Vera buru-buru membawa Widya ke kamarnya. Sedangkan Andre langsung menarik tangan istrinya dan di bawahnya masuk ke dalam mobil.


Awalnya Shinta meronta dan berusaha melepaskan tangan Andre, tapi Andre semakin mempererat pegangan membuat Shinta tidak bisa berkutik lagi.


Begitu sampai di dalam mobil Shinta langsung meluapkan amarahnya pada suaminya.


“Kamu tega ya Mas menyakiti perasaanku. Diam-diam kamu janjian dengan wanita murahan itu. Ternyata kamu ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan wanita itu. Aku tidak menyangka ternyata mas yang ku anggap baik dan setia adalah tipe pria murahan yang gampang tergoda oleh wanita. Dan ternyata seleramu sangat rendah juga ya Mas. Buktinya wanita kampungan itu bisa kamu sukai bahkan kamu tergila-gila padanya. Kalau aku sih gampang aja. Berpisah dengan kamu, bisa aku dapatkan pria yang jauh lebih baik dari kamu. Tapi kamu berpisah dengan aku yang kamu dapatkan wanita kampung.”


Andre hanya diam saja mendengarkan perkataan istrinya. Dia tetap melajukan kendaraannya walaupun perasaannya sangat sedih karena Widya telah dihina oleh Shinta.


Andre tidak mau memperkeruh masalah. Kalau dia menjawab perkataan istrinya maka masalahnya akan semakin panjang sehingga dia hanya diam saja walaupun dalam hatinya sangat geram mendengar perkataan Shinta.


Shinta yang melihat ekspresi suaminya biasa saja sedikitpun tidak menunjukkan rasa marahnya akhirnya kesal sendiri.


***


Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu tempat dan Andre menghentikan laju mobilnya. Shinta merasa heran kenapa Andre membawanya ke tempat ini.


“Kita mau ke mana Mas?” tanya Shinta yang merasa heran karena Shinta mengira kalau mereka akan pulang ke rumah Vera.


“Ayo kita turun,” ucapan Andre mengajak istrinya.


“Tapi kita mau ke mana Mas?” tanya Shinta lagi.


“Kamu nggak perlu banyak tanya. Ayo ikut aja.”


Akhirnya Sinta pun turun dari mobil mengikuti ke mana suaminya pergi. Ternyata Andre membawa masuk ke sebuah cafe yang terlihat tidak begitu ramai.

__ADS_1


Andre langsung berjalan menuju ke suatu meja yang terletak di bawah pohon yang cukup rindang. Cafe itu sangat luas dan menghadap ke arah kolam ikan. Dari luar cafe itu terlihat kecil tapi begitu masuk ke dalam ternyata di dalam cukup luas.


__ADS_2